Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 92-94

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 92-94“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agamamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka beribadahlah kepada-Ku. (QS. 21:92) Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali. (QS.21:93) Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya. (QS. 21:94)” (al-Anbiyaa’: 92-94)

Ibnu `Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Qatadah dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firman-Nya: inna HaadziHii ummatukum ummataw waahidatan (“Sungguhnya ini adalah agamamu; agama yang satu,”) agama kalian adalah agama yang satu. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Di dalam ayat ini Allah menjelaskan kepada mereka apa-apa yang mereka takuti dan apa-apa yang mereka berikan.”

Kemudian Dia berfirman: inna HaadziHii ummatukum ummataw waahidatan (“Sungguhnya ini adalah agamamu; agama yang satu,”) yaitu sunnah kalian adalah sunnah yang satu. Firman-Nya: HaadziHii; adalah isim inna, sedangkan =ummatukum= adalah khabar inna, yaitu ini adalah syariat kalian yang telah dijelaskan dan ditegaskan kepada kalian.

Firman-Nya: ummataw waahidatan; dinashabkan sebagai haal (kata keterangan). Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: wa ana rabbukum fa’buduun (“Dan Aku adalah Rabb-mu maka beribadahlah kepada-Ku,’) yaitu bahwa yang dimaksud adalah beribadah kepada Allah, Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dengan berbagai syari’at kepada para Rasul-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maa-idah: 48)

Firman-Nya: wa qath-tha’uu bainHum amraHum (“Dan mereka telah memotong-motong urusan agama mereka di antara mereka,”) yaitu para umat berbeda pendapat dalam menghadapi para Rasul-Nya, yaitu antara orang yang membenarkan dan orang yang mendustakan mereka. Untuk itu, Dia berfirman: kullun ilainaa raaji’uun (“Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali,”) yaitu pada hari Kiamat, sehingga masing-masing orang akan dibalas sesuai amalnya. Jika baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan dan jika buruk, maka ia akan mendapatkan keburukan. Untuk itu Dia berfirman: famay ya’mal minash shaalihaati wa Huwa mu’min (“Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedangkan ia beriman,”) yaitu hatinya membenarkan dan mengerjakan amal shalih.

Falaa kuf-raana lisaa’yiHi (“Maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan-nya itu”) seperti firman-Nya: “Tentu Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik.” (QS. Al-Kahfi: 30). Yaitu, aktifitasnya yang berupa amal tidak akan dihapuskan, bahkan akan disyukuri (dihargai). Tidak ada seberat dzarrah pun yang akan didhalimi.

Untuk itu Dia berfirman: wa innaa laHuu kaatibuun (“Dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya,”) yaitu ditulis seluruh amalnya dan tidak ada sedikit pun yang disia-siakan.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: