Arsip | 23.49

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 3-4

4 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 3-4“Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat, (QS. 22:3) yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengannya, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke dalam adzab neraka. (QS. 22:4)” (al-Hajj: 3-4)

Allah Ta’ala berfirman mencela orang yang mendustakan hari berbangkit dan mengingkari kekuasaan Allah untuk menghidupkan orang mati sebagai upaya penolakan pembangkangan terhadap apa yang diturunkan oleh Allah kepada para Nabi-Nya. Serta dalam perkataan, pengingkaran dan kekufurannya mengikuti setiap syaitan, jin dan manusia yang amat jahat.

Wa minan naasi may yujaadilu fillaaHi bighairi ‘ilmin (“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan,”) yaitu tanpa ilmu yang benar; wa yattabi’u kulla syaithaanim mariidn kutiba ‘alaiHi (“Dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat, yang telah ditetapkan terhadapnya.”)

Mujahid berkata: “Yaitu syaitan, yang berarti telah ditetapkan terhadap syaitan dengan ketetapan qadar.” Bahwa barangsiapa yang berkawan dengannya, yaitu mengikuti dan mencontohnya; fa annaHuu yu-dlilluHu wa yaHdiiHi ilaa ‘adzaabis sa’iir (“Tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke dalam adzab neraka,”) yaitu dia akan menyesatkannya di dunia dan di akhirat. Dia akan mengantarkannya kepada adzab sa’ir (neraka) yaitu api yang panas, pedih, bergolak dan membara.”

As-Suddi berkata dari Abu Malik, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan an-Nadhr bin al-Harits, demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Juraij.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 108-112

4 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 108-112“Katakanlah: ‘Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah bahwasanya Ilahmu adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri [kepada-Nya].’ (QS. 21:108) Jika mereka berpaling, maka katakanlah: ‘Aku telah menyampaikan kepadamu sekalian [ajaran] yang sama [antara kita] dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?’ (QS. 21:109) Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan [yang kamu ucapkan] dengan terang-terangan dan Dia mengetahu siapa yang kamu rahasiakan. (QS. 21:110) Dan aku tiada mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagimu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu. (QS. 21:111) (Muhammad) berkata: ‘Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Mahapemurah lagi Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.’ (QS. 21:112)” (al-Anbiyaa’: 108-112)

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik: inna maa yuuhaa ilayya anna maa ilaaHukum ilaaHuw waahidun faHal antum muslimuun (“Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, bahwasanya Ilahmu adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri,”) yaitu hendaklah kalian mengikutinya dengan berserah diri dan tunduk kepadanya.

Fa in tawallau (“Jika mereka berpaling”) ,yaitu meninggalkan apa yang aku serukan kepada mereka; faqul aadzantukum ‘alaa sawaa-i (“Maka katakanlah: ‘Aku telah menyampaikan kepadamu sekalian,’”) yaitu aku beritahukan kepada kalian bahwasanya aku memerangi kalian, sebagaimana kalian memerangiku. Aku membebaskan diri dari kalian, sebagaimana kalian membebaskan diri dariku.

Dia berfirman: wa immaa takhaafanna min qaumin khiyaanatan fanbiddz ilaiHim ‘alaa sawaa-in (“Dan Jika kamu khawatir akan pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur,”) yaitu hendaklah pengetahuanmu dan pengetahuan mereka tentang pelanggaran berbagai perjanjian itu adalah sama.

Demikian pula di sini: Fa in tawallau faqul aadzantukum ‘alaa sawaa-i (“Jika mereka berpaling, maka katakanlah: ‘Aku telah menyampaikan kepadamu sekalian”) aku beritahukan kepada kalian tentang pembebasan diriku dari kalian dan pembebasan diri kalian dariku, karena pengetahuanku tentang hal itu.

Firman-Nya: wa in adrii aqariibun am ba’iidum maa tuu’aduun (“Dan aku tidak mengetahui, apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?”) Itu pasti terjadi, akan tetapi aku tidak tahu tentang dekat (cepat) dan jauhnya (lamanya).

innaHuu ya’lamul jaHra minal qauli wa ya’lamu maa taktumuun (“Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan,”) yaitu sesungguhnya Allah Mahamengetahui seluruh yang ghaib serta mengetahui apa yang ditampakkan dan disembunyikan hamba-hamba-Nya. Dia pun Mahamengetahui hal-hal yang dhahir dan tersembunyi, Mahamengetahui tentang rahasia dan apa yang disembunyikan, Mahamengetahui apa yang dikerjakan di saat terang-terangan atau sembunyi-sembunyi serta mereka akan dibalas, baik sedikit maupun banyak.

Firman-Nya: wa in adrii la’allaHu fitnatul lakum wa mataa’un ilaa hiin (“Dan aku tidak mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagimu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu,”) yaitu aku tidak tahu, boleh jadi ini fitnah bagi kalian dan kesenangan sampai batas waktu. Ibnu Jarir berkata: “Boleh jadi ditundanya hal itu menjadi fitnah bagi kalian dan kesenangan hingga batas waktu yang ditentukan. Demikian yang diceritakan oleh ‘Aun dari Ibnu `Abbas. Wallahu a’lam.”

Qaala rabbihkum bil haqqi (“Dia berkata: ‘Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil,’”) yaitu, putuskanlah di antara kami dan di antara kaum kami yang mendustakan kebenaran.

Qatadah berkata: “Para Nabi berkata: rabbanaftah bainanaa wa baina qauminaa bil haqqi wa anta khairul faatihiin (“Ya Rabb kami berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan haq dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.’”) (QS. Al-A’raaf: 89). Dan Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengucapkannya.”

Dari Malik, dari Zaid bin Aslam, Rasulullah saw. jika menyaksikan peperangan, “Dia berkata (berdo’a): Qaala rabbihkum bil haqqi (“Dia berkata: ‘Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil,’”)

Firman-Nya: wa rabbunar rahmaanul musta’aanu ‘alaa maa tashifuun (“Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Mahapemurah lagi Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.”) Yaitu, terhadap apa yang mereka katakan dan tuduhkan, dan mereka membuat berbagai kedustaan dan kebohongan. Allahlah tempat memohon pertolongan bagi kalian dalam masalah tersebut. Hanya milik Allah pujian dan nikmat.

selesai

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 105-107

4 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 104-107“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku Yang shalih.(QS. 21:105) Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang beribadah kepada Allah. (QS. 21:106) Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. 21:107)” (al-Anbiyaa’: 105-107)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang apa yang diwajibkan dan diputuskan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta mendapatkan warisan bumi di dunia dan di akhlrat, seperti firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raaf: 128)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa hal ini telah tertulis di dalam catatan-catatan syar’i dan qadar serta pasti akan terjadi. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami ticlis dalam LauhulMahfuzh. ”

Al-A’masy berkata, Aku bertanya kepada Said bin Jubair tentang firman Allah Ta’ala: wa laqad katabnaa fiz zabuuri mim ba’di dzikri (“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah [Kami tulis dalam] Lauhul Mahfuzh,”) maka ia berkata: “Taurat, Injil dan al-Qur’an.”
Ibnu `Abbas, asy-Sya’bi, al-Hasan, Qatadah dan lain-lain berkata: “Zabur adalah Kitab yang diturunkan kepada Dawud, sedangkan adz-Dzikr adalah Taurat.”

Dari Ibnu `Abbas pula bahwa adz-Dzikr adalah al-Qur’an. Sedangkan Mujahid berkata: “Zabur adalah kitab-kitab yang ada setelah adz-Dzikr. Sedangkan adz-Dzikr adalah Ummul Kitab di sisi Allah.”Itulah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir 0,. Demikian pula Zaid binAslam berkata: “Yaitu Kitab pertama.” Ats-Tsauri berkata: “Itulah al-Lauhal-Mahfuzh.”

Mujahid berkata dari Ibnu `Abbas: annal ardla yaritsuHaa ‘ibaadiyash shaalihuun (“Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih,”) yaitu tanah surga. Demikian yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, Mujahid, Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, Qatadah, as-Suddi, Abu Shalih, ar-Rabi’ bin Anas dan ats-Tsauri. Abud Darda berkata: “Kami adalah orang-orang yang shalih.” Sedangkan as-Suddi berkata: “Mereka adalah orang-orang yang beriman.”

Dan firman-Nya: inna fii Haadza labalaghal liqaumin ‘aabidiin (“Sesungguhnya [apa yang disebutkan] dalam [surat] ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang beribadah kepada Allah,”) yaitu sesungguhnya al-Qur’an yang telah Kami turunkan kepada Nabi Kami, Muhammad ini benar-benar menjadi penyampai dan mencukupi bagi kaum yang beribadah. Mereka adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang disyari’atkan, dicintai dan diridhai-Nya. Mereka pun lebih memilih ketaatan kepada Allah di atas ketaatan kepada syaitan dan hawa nafsu mereka.

Firman-Nya: wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil ‘aalamiin (“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”) Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menjadikan Muhammad sebagai rahmat bagi semesta alam. Yaitu, Dia mengutusnya sebagai rahmat untuk kalian semua. Barangsiapa yang menerima rahmat dan mensyukuri nikmat ini, niscaya dia akan berbahagia didunia dan di akhirat. Sedangkan barangsiapa yang menolak dan menentangnya, niscaya dia akan merugi di dunia dan di akhirat.

Muslim di dalam Shahihnya meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata: “Ya Rasulallah! Sumpahilah orang-orang musyrik itu.” Beliau ber-sabda: “Sesungguhnya Aku tidak diutus sebagai orang yang melaknat. Aku diutus hanyalah sebagai rahmat.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas: wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil ‘aalamiin (“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”) ia berkata: “Barangsiapa yang mengikutinya, niscaya hal itu menjadi rahmat di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang tidak mengikutinya, niscaya dia akan ditimpa suatu ujian yang mengenai seluruh umat berupa bencana alam, perubahan bentuk dan fitnah.”

Bersambung