Arsip | 22.35

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 14

5 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 14“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke alam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 14)

Ketika Allah telah menyebutkan para pelaku kesesatan yang celaka, Dia mengiringinya dengan menyebutkan orang-orang yang berbakti dengan yang berbahagia, serta membuktikan keimanan mereka dengan perilaku mereka, lalu mereka beramal shalih dengan seluruh bentuk-bentuk taqarrub dan meninggalkan perkara munkar. Maka Dia pun mewariskan mereka tempat tinggal yang derajatnya amat tinggi di taman-taman surga. Ketika Allah telah menyebutkan bahwa Dia menyesatkan mereka yang celaka dan memberikan petunjuk kepada yang bahagia, Dia pun berfirman: innallaaHa yaf’alu maa yuriid (“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 11-13

5 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 11-13“Dan di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. 22:11) Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS. 22:12) la menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat dari manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong dan sejahat-jahat kawan. (QS. 22:13)” (al-Hajj: 11-13)

Mujahid, Qatadah dan selain keduanya berkata: ‘alaa harfin (“Berada di tepi,”) yaitu di atas keraguan.” Sedangkan selain mereka berkata: “Yaitu berada di atas tepi, di antaranya ialah, yaitu tepi gunung.” Yakni, dia masuk ke dalam agama di tepinya, jika ia mendapatkan apa yang disenanginya maka dia tetap berada di dalamnya, dan jika tidak (disenanginya) dia pun berlalu.

Al-Bukhari berkata dari Ibnu `Abbas tentang ayat: wa minan naasi may ya’budullaaHa ‘alaa harfin (“Dan di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi.”) Yaitu, seorang laki-laki yang menuju Madinah. Jika isterinya melahirkan seorang anak laki-laki dan kudanya pun berkembangbiak, maka dia berkata: “Ini agama yang baik.” Jika isterinya tidak melahirkan serta kudanya tidak berkembang biak, maka dia berkata: “Ini agama yang buruk.” Mujahid berkata tentang firman-Nya: inqalaba ‘alaa wajHiHi (“Berbaliklah ia ke belakang,”) yaitu kembali kepada kekafiran.

Firman-Nya: khasirad-dun-yaa wal aakhiraH (“Rugilah dia di dunia dan di akhirat,”) yaitu, dia tidak meraih apa pun di dunia, sedangkan di akhirat saat dia berada dalam kekufuran kepada Allah Yang Mahaagung, maka dia berada di dalam puncak kecelakaan dan kehinaan.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: dzaalika Huwal khusraanul mubiin (“Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata,”) yaitu sebuah kerugian yang besar dan perdagangan yang merugi. Firman-Nya: yad’uuna min duunillaaHi maa laa ya-dlurruHum wa laa yanfa’uHum (“Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat,”) yaitu berhala-berhala dan patung-patung yang dimintakan bantuan, pertolongan dan rizki, padahal mereka tidak memberikan manfaat dan mudharat.
Dzaalika Huwadl-dlalaalul ba’iid (“Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”)

Firman-Nya: yad’uu laman dlar-ruHu aqrabu min naf’iHi (“Ia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat dari manfaatnya,”) yaitu bahayanya di dunia sebelum di akhirat lebih dekat dari pada manfaat yang didapatkan di dalamnya. Sedangkan di akhirat, maka bahayanya pasti dan yakin terjadi. Firman-Nya: labi’sal maulaa wa labi’sal ‘asyiir (“Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat jahat penolong dan sejahat jahat kawan.”) Mujahid berkata: “Berhala-berhala itu seburuk-buruk penolong yang diseru selain Allah.” Wa labi’sal ‘asyiir (“Dan sejahatjahat kawan,”) yaitu kawan dan keluarga.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 8-10

5 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 8-10“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya, (QS. 22:8) dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kebinaan di dunia, dan di hari Kiamat Kami merasakan kepadanya adzab neraka yang membakar. (QS.22:9) (Akan dikatakan kepadanya): ‘Yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya.’ (QS. 22:10)” (al-Hajj: 8-10)

Tatkala Allah menyebutkan kondisi sesatnya orang-orang bodoh yang taqlid dalam firman-Nya: wa minan naasi may yujaadilu fillaaHi bighairi ‘ilmiw wa yattabi’u kulla syaithaanim mariid (“Dan di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat. ” (QS. Al-Hajj: 3).

Dia menyebutkan di dalam ayat ini tentang kondisi para penyeru kesesatan di kalangan para pemimpin kekafiran dan bid’ah. Dia berfirman: wa minan naasi may yujaadilu fillaaHi bighairi ‘ilmiw walaa Hudaw walaa kitaabim muniir (“Dan di antara manusiaada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya,”) yaitu tanpa rasionalitas yang benar dan penukilan yang jelas, bahkan hanya semata-mata menggunakan ra’yu dan pikiran yang menyimpang.

Firman-Nya: tsaaniya ‘ith-fiHi (“Dengan memalingkan lambungnya.”) Ibnu`Abbas dan lain-lain berkata: “Yaitu orang yang sombong terhadap kebenaran yang diserukan kepadanya.” Mujahid, Qatadah dan Malik berkata dari Zaid bin Aslam: “Dengan memalingkan lambungnya,” yaitu memalingkan, yakni tengkuknya, dalam arti dia berpaling dari kebenaran yang diserukan kepadanya serta memalingkan tengkuknya dengan penuh kesombongan.

Luqman berkata kepada anaknya: wa laa tusha’-‘ir khadzaka lin naasi (“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia,”) (QS. Luqman: 18). Yaitu, engkau memalingkannya dari mereka karena menyombongkan diri terhadap mereka. Allah Ta’ala berfirman: wa idzaa tut-laa ‘alaiHi aayaatunaa wallaa mustakbiran (“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri.”) (QS Luqman: 7)

Firman-Nya: liyu-dlil-la ‘an sabiilillaaHi (“Untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah,”) sebagian mereka berkata: “Lam ini adalah lam akibat (dalam istilah bahasa), karena mereka tidak memiliki maksud demikian. Boleh jadi lamnya adalah lam ta’lil (lam sebab). Kemudian, adakalanya yang dimaksud adalah orang-orang yang menentang, atau yang dimaksud adalah bahwa si pelaku ini telah Kami bentuk dengan tabi’at buruk, agar Kami menjadikannya dalam golongan orang yang menyesatkan dari jalan Allah. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: laHuu fid-dun-yaa khiz-yun (“Ia mendapat kehinaan di dunia,”) yaitu kehinaan dan kerendahan. Sebagaimana ketika ia sombong dari ayat-ayat Allah, niscaya Allah melemparkannya dalam kehinaan di dunia. Diberinya hukuman itu di dunia sebelum di akhirat.

Wa nudziiquHu yaumal qiyaamati ‘adzaabal hariiqi dzaalika bimaa qad-damat yadaaka (“Dan di hari Kiamat Kami merasakan kepadanya adzab neraka yang membakar. Yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu.”) Yaitu, hal ini dikatakan kepadanya sebagai celaan dan ejekan. Wa annallaaHa laisa bi-dhallaamil lil ‘abiid (“Dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya.”)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 5-7

5 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 5-7“Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari seumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. 22:5) Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, (QS. 22:6) dan sesungguhnya hari Kiamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur. (QS. 22:7)” (al-Hajj: 5-7)

Tatkala Allah swt. telah menceritakan orang yang menentang terjadinya hari kebangkitan dan mengingkari hari akhirat, Dia menyebutkan bukti-bukti kekuasaan-Nya dalam menjadikan hari Kiamat, sebagaimana yang dapat disaksikan pada awal penciptaan.

Maka Dia berfirman: yaa ayyuHan naasu in kuntum fii raibin (“Hai manusia, jika kamu dalam kebimbangan,”) yaitu keraguan. Minal ba’tsi (“Tentang kebangkitan,”) yaitu hari kembali, berdirinya para ruh dan jasad, yaitu hari Kiamat.

Fa innaa khalaqnaakum min turaabin (“Maka ketahuilah, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu dari tanah,”) yaitu asal bibit kalian adalah dari debu. Dialah yang telah menciptakan Adam dari debu tersebut. Tsumma min tuth-fatin (“Kemudian dari setetes mani,”) yaitu, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari setetes air yang jijik. Tsumma min ‘alaqatin tsumma mim mudl-ghatin (“Kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging.”)

Hal itu adalah, ketika air mani telah bersarang di dalam rahim seorang wanita, ia akan tinggal di dalamnya selama 40 hari, demikian pula bersandarnya segala sesuatu yang bergabung kepada air tersebut. Kemudian, air itu berubah menjadi segumpal darah merah dengan izin Allah Ta’ala dan tinggal di dalamnya selama 40 hari. Kemudian, darah itu berkembang hingga menjadi mudl-ghah, yaitu segumpal daging yang belum memiliki bentuk dan garis-garis. Kemudian, Dia mulai membentuk dan menggarisnya, dibentuklah kepala, dua tangan, dada, perut, dua paha, dua kaki dan seluruh anggota badan. Terkadang, wanita menggugurkannya sebelum terbentuk dan bergaris-garis, serta terkadang pula digugurkannya sedangkan bayi itu sudah menjadi bentuk dan garis.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: tsumma mim mudl-ghatim mukhal-laqatiw wa ghairi mukhal-laqatin (“Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna,”) yaitu sebagaimana kalian saksikan. Linubayyana lakum wa nuqirru fil arhaami maa nasyaa-u ilaa ajalim musamman (“Agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan,”) yaitu terkadang air itu menetap di dalam rahim, tidak digugurkan dan tidak keguguran.

Sebagaimana Mujahid berkata tentang firman-Nya: mukhal-laqatiw wa ghairi mukhal-laqatin (“Yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna,”) yaitu keguguran itu bisa terjadi bagi yang sudah sempurna kejadiannya dan yang belum sempurna. Jika telah berlalu empat puluh hari dan dia dalam keadaan menjadi segumpal daging, maka Allah mengutus Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya serta mengokohkannya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah berupa ketampanan, kejelekan, laki-laki dan perempuan serta mencatat rizki dan ajalnya, celaka dan bahagianya.

Sebagaimana yang tercantum di dalam ash-Shahihain, dari hadits al-A’masy, dari Zaid bin Wahab, bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Rasulullah saw. bersabda dan dia orang jujur yang dipercaya: ‘Sesungguhnya masing-masing di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berbentuk nuthfah, kemudian menjadi segumpal darah selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi gumpalan seperti potongan daging selama empat puluh hari pula, kemudian diutuslah kepadanya Malaikat, lalu meniupkan kepadanya ruh dan diperintahkan untuk menulis empat perkara; ketentuan rizkinya, ketentuan ajalnya, ketentuan amalnya dan ketentuan ia akan celaka atau bahagia.’”

Firman-Nya: tsumma nukh-rijukum thiflan (“Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,”) yaitu bayi yang lemah badannya, pendengaran, penglihatan, perasaan, gerak dan akalnya. Kemudian Allah memberikan kepadanya kekuatan sedikit demi sedikit, serta menumbuhkan rasa kasih sayang kepada kedua orang tuanya di sepanjang siang dan malam.

Untuk itu Dia berfirman: tsumma litablughuu asyuddakum (“Kemudian kamu sampai pada kedewasaan”) yaitu kuatan itu semakin bertambah sempurna dan sampai kepada masa muda dan menjadi orang yang indah di pandang. Wa minkum may yutawaffaa (“Dan di antara kamu ada yang diwafatkan,”) yaitu di saat muda dan kuat. Wa minkum may yuraddu ilaa ardzalil ‘umuri (“Dan ada pula di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun,”) yaitu sampai tua, jompo, lemah kekuatannya, akalnya dan pemahamannya serta semakin berkurang kondisi aktifitasnya dan kelemahan berpikirnya.

Untuk itu Dia berfirman: likailaa ya’lama mim ba’di ‘ilmin syai-an (“Supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulutelah diketahuinya,”) sebagaimana Allah Ta’ala ber-firman: “Allah, Dialah yang mencdptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikanmu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikanmu sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Mahamengetahui lagi Mahakuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54)

Firman-Nya: wa taral ardla Haamidatan (“Dan kamu lihat bumi itu kering,”) ini merupakan bukti lain tentang kekuasaan Allah swt. untuk menghidupkan orang-orang yang mati, seperti Dia menghidupkan tanah yang mati dan kering, yaitu tanah tandus yang tidak memiliki tumbuhan sedikit pun. Qatadah berkata: “Tanah-tanah tandus dan gersang.” As-Suddi berkata: “Yaitu tanah mati.”

Faidzaa anzalnaa ‘alaiHal maa-aHtazzat wa rabat wa ambatat min kulli jauzim baHiij (“Kemudian apabila Kami telah turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah,”) yaitu kemudian jika Allah telah menurunkan hujan kepadanya, maka iHtazzat, yaitu dia bergerak pada tumbuh-tumbuhan serta menghidupkan dan mengembangkannya setelah kematian. Kemudian menumbuhkan apa-apa yang dikandungnya berupa warna, berbagai jenis buah-buahan dan tanam-tanaman. Berkembanglah tumbuh-tumbuhan itu dengan berbagai ragam warna, rasa, bau, bentuk dan manfaatnya.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: wa ambatat min kulli jauzim baHiij (“Dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah,”) yaitu indah dipandang dan harum baunya. Firman-Nya: dzaalika bi-annallaaHa Huwal haqqu (“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq,”) yaitu Mahapencipta, pengatur dan pelaku apa saja yang dikehendaki-Nya. Wa annaHuu yuhyil mautaa (“Dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati,”) yaitu, sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dan menumbuhkan darinya berbagai macam jenis.
“Sesungguhnya Rabb yang menghidupkannya tentu dapat nenghidupkan yang mati; Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39)

Wa annas saa’ata aatiyatul laa raiba fiiHaa (“Dan sesungguhnya hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya,”) yaitu suatu peristiwa yang tidak diragukan dan tidak disangsikan. Wa annallaaHa yab’atsu man fil qubuur (“Dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur,”) yaitu mengulang penciptaan mereka setelah mereka menjadi bangkai di dalam kubur serta mengadakan mereka kembali setelah lenyap.

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa Abu Rizin al-‘Uqaili berkata: “Aku mendatangi Rasulullah, lalu aku bertanya: ‘Ya Rasulullah, bagaimana Allah menghidupkan orang-orang yang mati?’ Beliau menjawab: `Apakah engkau pernah melewati satu tanah kaummu yang tandus, kemudian engkau melewati tanah yang subur?’ Dia menjawab: `Ya.’ Beliau berkata: `Demikianlah hari dikumpulkan.’”

Bersambung