Arsip | 23.16

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 30-31

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 30-31“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu kaharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta, (QS. 22:30) dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. 22:31)” (al-Hajj: 30-31)

Allah Ta’ala berfirman: “Inilah amal-amal taat dalam menunaikan haji yang telah Kami perintahkan serta pahala besar yang akan diberikan.” Wa may yu-‘adh-dhim hurumaatillaaHi (“Dan barangsiapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah,”) yaitu barangsiapa yang menjauhi maksiat dan hal-hal yang diharamkan-Nya, sedangkan ia tenggelam di dalam maksiat tersebut adalah masalah yang besar; fa Huwa khairul laHuu ‘inda rabbiHi (“Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya,”) yakni, atas semua itu dia akan meraih banyak kebaikan dan pahala yang besar. Sebagaimana dia mendapatkan balasan yang banyak dan pahala yang besar atas ketaatannya, maka dia pun akan mendapatkannya pula atas upayanya meninggalkan yang haram dan menjauhi yang dilarang.

Ibnu Juraij berkata, bahwa Qatadah berkata tentang firman-Nya: dzaalika Wa may yu-‘adh-dhim hurumaatillaaHi (“Demikianlah. Dan barangsiapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah,”) al-Hurumaat adalah Makkah, haji, umrah dan seluruh maksiat yang dilarang oleh Allah, demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Zaid.

Firman-Nya: wa uhillat lakumul an’aamu illaa maa yutlaa ‘alaikum (“Dan telah dihalalkan bagimu semua binatang ternak kecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya,”) yaitu Kami telah halalkan kepada kalian semua binatang ternak. Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saa-ibah, washiilahdan haam. Firman-Nya: illaa maa yutlaa ‘alaikum (“Kecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya,”) yaitu berupa diharamkannya bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih atas nama selain Allah, dan binatang yang mati tercekik. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Jarir, dan dia menceritakannya dari Qatadah.

Firman-Nya: fajtanibur rijsa minal autsaani wajtanibuu qaulaz zuur (“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan perkataan dusta,”) huruf min di dalam ayat ini adalah untuk menjelaskan jenis. Artinya, jauhilah oleh kalian hal-hal yang najis yang di antara jenisnya adalah berhala-berhala. Dia mengiringi penyebutan syirik kepada Allah dengan perkataan-perkataan dusta, dan di antaranya pula adalah sumpah palsu.

Di dalam ash-Shahihain dinyatakan: Dari Abi Bakrah, bahwa Rasulullah bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Kami menjawab: “Tentu, ya Rasulallah.” Beliau bersabda: “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua,” [pada waktu itu beliau duduk dengan bersandar, lalu beliau duduk dengan tegak, lalu meneruskan sabdanya]: “Hati-hatilah (terhadap) perkataan dusta dan sumpah palsu.” Beliau terus-menerus mengulang-ulangnya hingga kami berkata: “Semoga beliau diam.”

Firman-Nya: hunafaa-a lillaaHi (“Dengan ikhlas kepada Allah,”) yaitu mengikhlaskan ketundukan hanya kepada-Nya dengan berpaling dari kebathilan serta teguh dalam kebenaran. Untuk itu Dia berfirman: ghaira musy-rikiina biHii (“Tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.”)

Kemudian Allah membuat contoh tentang orang musyrik yang berada dalam kesesatan, kehancuran dan jauhnya mereka dari kebenaran. Dia berfirman: wa may yusy-rik billaaHi faka-annamaa kharra minas samaa-i (“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit,”) yakni jatuh dari langit; fa takh-thafuHuth thairu (“Lalu disambar oleh burung,”) yaitu burung yang ada di udara menyambarnya; aw taHwii biHir riihu fii makaanin sahiiq (“Atau diterbangkan angin ketempat yang jauh,”) yakni tinggi dan menghancurkan orang yang jatuh seperti itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 28-29

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 28-29“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizk iyang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebabagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. (QS. 22:28) Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan merekadan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS. 22:29)” (al-Hajj: 28-29)

Ibnu `Abbas berkata: wa liyasy-Haduu manaafi’a laHum (“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka,”) yaitu berbagai manfaat dunia dan akhirat. Adapun berbagai manfaat akhirat adalah keridhaan Allah Ta’ala, sedangkan manfaat dunia adalah apa saja yang mereka dapatkan berupa (manfaat) binatang, penyembelihan dan perdagangan.

Demikian pula Mujahid dan selain mereka berkata: “Yaitu berbagai manfaat dunia dan akhirat, seperti firman-Nya: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Rabbmu.” (QS. Al-Baqarah: 198).

Syu’bah dan Husyaim berkata dari Abu Basyar, dari Sa’id, dari Ibnu`Abbas: “Hari-hari itu adalah 10 hari Dzulhijjah.” (Dita’liq oleh al-Bukhari dengan sighat jazam) Itulah madzhab asy-Syafi’i dan pendapat masyhur dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Al-Bukhari meriwayatkan: Dari Ibnu `Abbas bahwa Nabi saw, beliau bersabda: “Tidak ada suatu amal pada hari-hari tersebut yang lebih utama dari hari ini.” Mereka bertanya: “Tidak juga jihad fii sabiilillaah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar mengorbankan jiwa dan hartanya dan tidak ada lagi yang kembali sedikit pun.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan gharib shahih.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari jabir secara marfu’ bahwa ini (hari yang dimaksud) adalah tanggal 10 yang disumpah oleh Allah dalam firman-Nya, “Demi fajar, dan malam yang sepuluh. ” (QS. Al-Fajr:1-2). Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa itulah yang dimaksud dengan firman-Nya, “Dan Kami sempurnakan jumlah malam itudengan sepuluh.” (QS. Al-A’raaf: 142)

Di dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa Rasulullah saw berpuasa pada tanggal 10 tersebut. Tanggal 10 tersebut meliputi hari `Arafah yang terdapat di dalam Shahih Muslim bahwa Abu Qatadah berkata: Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari `Arafah. Beliau menjawab: “Aku berharap kepada Allah bahwa puasa (`Arafah) itu menghapuskan dosa tahun yang lalu dan yang akan datang.” Serta mencakup pula hari haji yang disebut sebagai hari Haji Akbar.” Terdapat sebuah hadits yang menunjukkan bahwa hari itu adalah hari yang paling utama di sisi Allah.

(Pendapat kedua; tentang hari-hari tertentu) Al-Hakam berkata dari Miqsam, dari Ibnu `Abbas, hari-hari tertentu itu adalah hari penyembelihan dan tiga hari sesudahnya.

(Pendapat ketiga) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu `Umar ra. berkata: “Hari-hari tertentu dan terbatas itu adalah empat hari. Maka, hari-hari tertentu itu adalah hari penyembelihan dan dua hari setelahnya. Sedangkan hari-hari terbatas itu adalah tiga hari setelah hari penyembelihan.” (Isnad ini shahih).

As-Suddi berkata, inilah madzhab Imam Malik bin Anas. Pendapat ini dan yang sebelumnya diperkuat firman Allah Ta’ala: ‘alaa maa razaqaHum mim baHiimatil an’aam (“Atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”) yaitu menyebut nama Allah ketika menyembelihnya.

(Pendapat keempat) Hari-hari itu adalah hari `Arafah, hari raya penyembelihan dan hari-hari sesudahnya. Itulah madzhab Abu Hanifah. Firman-Nya: ‘alaa maa razaqaHum mim baHiimatil an’aam (“Atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”) yaitu unta, sapi dan kambing, sebagaimanadirinci oleh Allah swt. dalam surat al-An’aam: “Delapan binatangyang berpasangan. ” (QS. Al-An’ aam: 143)

Firman-Nya: fakuluu minHaa wa ath’imul baa-isal faqiir (“Maka makanlah sebagian daripadanya dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir,”) ayat ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat wajibnya memakan binatang udh-hiyyah (kurban hari raya), dan ini pendapat yang asing. Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ulama adalah, bahwa masalah itu adalah masalah rukhshah (keringanan) atau anjuran. Sebagaimana yang tercantum (dalam hadits) bahwa Rasulullah ketika menyembelih binatangnya, beliau memerintah setiap binatang itu satu bagian untuk dimasak, lalu beliau makan dagingnya dan mencicipi kuahnya.

`Abdullah bin Wahb berkata, Malik berkata kepadaku: “Aku senang dia memakan binatang kurbannya, karena Allah berfirman: fakuluu minHaa (“makanlah sebagian daripadanya.”) Ibnu Wahb berkata: “Aku bertanya kepada al-Laits, maka dia menjawab seperti itu pula.”

Sufyan berkata dari Manshur, dari Ibrahim, fakuluu minHaa (“Maka makanlah sebagian daripadanya,”) “Dahulu, orang-orang musyrik tidak memakan sembelihan-sembelihan mereka, lalu diringankan bagi kaum muslimin. Barang-siapa yang mau, dia dapat memakannya dan jika ia tidak mau, dia tidak harus memakannya.”

Firman-Nya: al baa-isal faqiir (“Orang-orang yang sengsara lagi fakir.”) `Ikrimah berkata: “Yaitu orang-orang yang terpaksa, yang tampak begitu sengsara, serta orang fakir yang menjaga dirinya untuk tidak meminta-minta,”
Tsummal yaqdluu tafatsaHum (“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka.”) Mujahid berkata: “Yaitu, orang yang (menjaga untuk) tidak meminta-minta.”

Firman-Nya: Tsummal yaqdluu tafatsaHum (“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Yaitu, membersihkan ihram dari mencukur rambut, memakai baju dan menggunting kuku dan yang sejenis dengan itu.” Mujahid dan `Atha’ meriwayatkannya juga. Demikian pula yang dikatakan oleh `Ikrimah dan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi.

Firman-Nya: wal yuufuu nudzuuraHum (“Dan hendaklah menyempurnakan nadzar-nadzar mereka.”) Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Yaitu, menyembelih binatang yang dinadzarkan.” Ibnu Abi Najih berkata dari Mujahid: “Yaitu, nadzar haji dan memotong hewan serta apa saja yang dinadzarkan manusia di saat haji. Al-Laits bin Abi Sulaim berkata dari Mujahid: “Dan hendaklah menyempurnakan nadzar-nadzar mereka,” yaitu setiap nadzar hingga batas tertentu.

Imam Ahmad dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, telah bercerita kepada kami Ubay, bercerita kepadaku Ibnu Abi `Umar dari Sufyan tentang firman-Nya, “Dan hendaklah menyempurnakan nadzar-nadzar mereka,” ia berkata: “Yaitu nadzar-nadzar haji. Setiap orang yang masuk melakukan haji, maka wajiblah dia melakukan thawaf di Baitullah, thawaf diantara Shafa dan Marwa (sa’i), wukuf di `Arafah, bermalam di Muzdalifah dan melempar jumrah sesuai yang diperintahkan kepada mereka.”

Pendapat yang serupa diriwayatkan dari Malik. Firman-Nya: wal yath-thawwafuu bil baitil ‘atiiq (“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu [Baitullah],”) Mujahid berkata: “Yaitu, thawaf wajib padahari raya penyembelihan.”

Di dalam ash-Shahihain, bahwa Ibnu `Abbas berkata: “Manusia diperintahkan untuk menjadikan akhir perjanjian mereka (dalam meninggalkan Makkah) adalah thawaf di Baitullah, kecuali diringankan bagi wanita yang haidh.” Firman-Nya: bil baitil ‘atiiq (“Rumah yang tua itu,”) ini menjadi dalil bagi orang yang berpendapat bahwasanya wajib thawaf dari belakang Hijir Isma’il, karena tempat itu adalah asal Baitullah yang dibangun oleh Ibrahim, sekalipun orang Quraisy telah mengeluarkannya dari Baitullah, ketika pembiayaan mereka berkurang. Untuk itu, Rasulullah melakukan thawaf daribelakang Hijir Isma’il dan Dia mengabarkan bahwa Hijir itu bagian dari Baitullah dan tidak istilam (menyentuh) dua rukun Syam (sudut-sudut Ka’bah yang menghadap Syam), karena keduanya tidak sempurna atas pondasi pertama Ibrahim.

Untuk itu, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, bahwa Ibnu `Abbas ber-kata: “Tatkala ayat ini turun: wal yath-thawwafuu bil baitil ‘atiiq (“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu [Baitullah],”) Rasulullah i thawaf dibelakangnya.”

Qatada berkata dari al-Hasan al-Bashri tentang firman-Nya: wal yath-thawwafuu bil baitil ‘atiiq (“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu [Baitullah],”) ia berkata: “Karena Baitullah adalah rumah pertama yang diletakkan bagi manusia.”

Abdullah bin az-Zubair berkata, Rasulullah bersabda: “Baitullah dinamakan Baitul ‘Atiq, karena tidak ada satu raja dhalim pun yang menguasainya.” (Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dan at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 26-27

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 26-27“Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu menyekutukan sesuatupun dengan-Ku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. (QS.22:26) Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. 22:27)” (al-Hajj: 26-27)

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia memberikan Ibrahim sebuah tempat di Baitullah. Hal ini dalam arti, Dia memberikan arahan kepadanya, menyerahkan dan mengizinkan untuk membangunnya. Dengan ayat ini, dijadikan dalil oleh kebanyakan orang yang berpendapat bahwa Ibrahim adalah orang pertama yang membangun Baitul ‘Atiq (Ka’bah) dan tidak ada orang lain yang membangun sebelumnya.

Sebagaimana yang tercantum di dalam ash-Shahihain: Dari Abu Dzar, ia berkata, aku bertanya: “Ya Rasulullah, masjid apa yang pertama kali diletakkan di bumi?” Beliau menjawab: “Masjidil Haram.” Aku bertanya kembali: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Masjidil Aqsha.” Aku bertanya: “Berapa jarak di antara keduanya?” Beliau menjawab: “Empat puluh tahun.” Sesungguhnya Allah berfirman: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Bakkah yang diberkahi.” (QS. Ali `Imraan: 96). Allah Ta’ala berfirman: “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma’il: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125).

Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman: allaa yusy-rikbii syai-an (“Jangan-lah kamu menyekutukan sesuatu pun dengan-Ku,”) yaitu bangunlah rumah itu atas nama-Ku Yang Esa saja. Wa thaH-Hir baitiya (“Dan sucikanlah rumah-Ku ini.”) Qatadah dan Mujahid berkata: “Dari syirik.” Lith-thaa-ifiina wal qaa-imiina war-rukka-‘is sujuud (“Untuk orang-orang yang thawaf, yang berdiri, yang ruku’ dan yang sujud,”) yaitu jadikanlah rumah itu bersih bagi orang-orang yang beribadah kepada Allah yang Mahaesa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Thawaf di sisi Ka’bah itu adalah suatu kebaikan. Dia merupakan ibadah khusus di sisi Baitullah, karena hal itu tidak boleh dilakukan di satu tempat mana pun di muka bumi ini selain Baitullah. Wal qaa-imiina (“Orang yang berdiri,”) yaitu di waktu shalat.

Untuk itu Dia berfirman: war rukka-is sujuud (“Yang ruku’ dan yang sujud.”) Thawaf diiringi dengan shalat, karena keduanya tidak disyari’atkan kecuali khusus untuk Baitullah. Thawaf langsung di sisinya, sedangkan shalat harus menghadapnya dalam banyak kesempatan, kecuali beberapa pengecualian pada waktu tersamarnya kiblat, dalam peperangan, dan shalat sunnah di saat safar.

Firman-Nya: wa adz-dzin fin naasi bil hajji (“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,”) yaitu yang menyeru manusia untuk berhaji serta mengajak mereka untuk haji ke rumah yang telah Kami perintahkan untuk membangunnya ini. Lalu, diceritakan bahwa Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, bagaimana aku menyampaikan hal ini kepada manusia sedangkan suaraku tidak dapat menjangkau mereka?” Allah berfirman: “Berserulah, dan Aku yang akan menyampaikan.” Maka, Ibrahim berdiri di maqamnya, [satu pendapat mengatakan] di atas sebuah batu, yang lain mengatakan, di atas bukit Shafa dan yang lain mengatakan di atas Jabal Abu Qubaisy. Ibrahim berseru: “Hai manusia, sesungguhnya Rabb kalian telah menjadikan sebuah rumah maka berhajilah kalian.”

Dikatakan, saat itu gunung pun tunduk, hingga suaranya sampai ke pelosok bumi dan Allah memperdengarkan (sampai) kepada anak yang masih ada di rahim ibunya dan di tulang sulbi ayahnya. Semua yang mendengarnya; berupa batu, pasir dan pohon-pohon serta siapa saja yang telah dicatat oleh Allah untuk pergi haji hingga hari Kiamat (telah menjawabnya). Labbaik Allahumma Labbaik. Inilah kandungan makna perkataan dari Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Sa’id bin Jubair dan banyak ulama Salaf lainnya.

Firman-Nya: ya’tuuka rijaalaw wa ‘alaa kulli dlaamirin (“Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”) ayat ini dijadikan dalil oleh ulama yang berpendapat bahwa haji dengan berjalan kaki bagi yang mampu melakukannya lebih afdhal dari pada haji dengan memakai kendaraan. Karena Allah mendahulukannya dalam penyebutan, maka hal itu menunjukkan perhatian besar mereka, kuatnya tekad mereka dan gigihnya maksud mereka.

Sedangkan pendapat yang dipegang oleh banyak ulama adalah bahwa haji dengan berkendaraan lebih afdhal karena mencontoh Rasulullah di-mana beliau berhaji dengan memakai kendaraan, padahal amat sempurna kekuatan beliau.

Firman-Nya: ya’tiina min kulli fajjin (“Yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”) yaitu dari setiap jalan, sebagaimana Dia berfirman: “Dan telah Kami jadikan di bumi itu jalan jalan yang luas.” (QS. Al-Anbiyaa’: 31). Firman-Nya, yaitu jauh, itulah yang dikatakan oleh Mujahid,`Atha’, as-Suddi, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, ats-Tsauri dan selain mereka.

Ayat ini seperti firman-Nya yang mengabarkan tentang Ibrahim yang berkata di dalam do’anya: faj’al af-idatam minan naasi taHwii ilaiHim (“Maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka,”) maka tidak ada seorangpun pemeluk agama Islam kecuali dia pasti amat senang melihat Ka’bah dan thawaf di sekitarnya, dan manusia mendatanginya dari seluruh arah dan pelosok.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 25

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 25“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)

Allah Ta’ala berfirman mengingkari orang-orang kafir yang berupaya menghalangi kaum mukminin dari mendatangi Masjidil Haram dan menunaikan ibadah di dalamnya serta pengakuan mereka bahwa mereka adalah para wali-Nya. wamaa kaanuu auliyaa-uHu in auliyaa-uHuu illal muttaquun (“Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasainya hanyalah orang-orang yang bertakwa.”) (QS. Al-Anfaal: 34)

Di dalam ayat ini terkandung dalil bahwa ayat ini termasuk ayat Madaniyyah. Di antara sifat mereka; dalam kekufuran, mereka menghalangi manusia dari jalan Allah dan juga menghalangi orang-orang beriman yang hendak pergi ke Masjidil Haram, padahal mereka adalah orang-orang yang berhak untuk itu dalam perintah tersebut.

Firman-Nya: alladzii ja’alnaaHu lin naasi sawaa-anil ‘aakifu fiiHi wal baad (“Yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir,”) yaitu mereka melarang manusia untuk sampai ke Masjidil Haram. Padahal, Allah telah menjadikan hal tersebut sebagai syari’at yang sama, tidak ada perbedaan antara yang bermukin di tempat tersebut maupun orang yang tinggal jauh dari tempat tersebut. “Baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.” Di antaranya ialah kesamaan manusia di wilayah seperempat Makkah dan tinggal di dalamnya.

Begitu pula yang dikatakan oleh`Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: “Baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir, “penduduk Makkah dan selain mereka singgah di Masjidil Haram.

Mujahid berkata: “Baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir,’ penduduk Makkah dan selain mereka memilik hak yang sama dalam tempat tinggal, demikianlah yang dikatakan oleh Abu Shalih,` Abdurrahman bin Sabith dan `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. ‘Abdurrazzaq berkata dari Ma’mar, dari Qatadah: “Dalam masalah itu sama saja, untuk penduduk kota Makkah maupun penduduk lainnya.”

Masalah ini diperselisihkan oleh Imam asy-Syafi’i dan Ishaq bin Rahawaih di Masjid al-Khif dan dihadiri oleh Ahmad bin Hanbal. Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa seperempat Makkah dapat dimiliki, diwarisi dan disewakan. Beliau berdalil dengan hadits az-Zuhri, dari `Ali bin al-Hasan, dari ‘Amrbin ‘Utsman, bahwa Usamah bin Zaid berkata: “Aku bertanya: `Ya Rasulullah, apakah besok engkau akan singgah di rumahmu di Makkah?’ Maka beliau bersabda: `Apakah `Aqil meninggalkan riba’ [keadaan yang baik] untuk kita?’ Kemudian beliau bersabda: `Seorang kafir tidak dapat mewarisi orang muslim dan orang yang muslim tidak dapat mewarisi orang yang kafir.’” (Hadits ini ditakhrij dalam ash-Shahihain)

Beliau pun berdalil dengan sebuah riwayat, bahwa `Umar bin al-Khaththab membeli sebuah rumah di kota Makkah dari Shafwan bin Umayyah. Lalu, dia menjadikan rumah itu sebagai tempat tahanan dengan biaya 4000 dirham. Itulah pendapat Thawus dan ‘Amr bin Dinar. Sedangkan Ishaq bin Rahawaih berpendapat bahwa seperempat Makkah tidak dapat diwarisi dan tidak dapat disewakan. Inilah yang menjadi madzhab sekelompok ulama salaf serta ditegaskan oleh Mujahid dan `Atha’.

Ishaq bin Rahawaih berdalil dengan hadits riwayat Ibnu Majah bahwa Alqamah bin Nadh-lah berkata: “Rasulullah, Abu Bakar dan`Umar wafat. Tidak ada yang mengakui ruba’ Makkah kecuali Para tawanan. Jika dia butuh,dia boleh tinggal dan jika dia tidak butuh, dia dapat memberikannya kepadaorang lain untuk tinggal. Berkata `Abdurrazzaq bin Mujahid dari ayahnya bahwa `Abdullah bin ‘Amr berkata: “Tidak halal menjual rumah-rumah dikota Makkah dan tidak halal pula untuk menyewakannya.” Dia berkata pula dari Ibnu Juraij bahwa ‘Atha melarang sewa-menyewa di tanah haram. Dia mengabarkan kepadaku bahwa `Umar bin al-Khaththab melarang membuat pintu-pintu di rumah-rumah kota Makkah agar orang yang haji singgah dihalamannya. Orang pertama yang membuat pintu-pintu rumahnya adalah Suhail bin ‘Amr. Lalu `Umar bin al-Khaththab mengirim utusan kepadanya untuk masalah itu dan berkata: “Lihatlah aku, hai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku adalah seorang pedagang dan aku ingin membuat dua pintu yang dapat menahan punggungku (untuk tidur).” Maka `Umar berkata: “Kalau demikian, boleh untukmu.”

`Abdurrazzaq berkata dari Ma’mar, dari Manshur, dari Mujahid, bahwa`Umar bin al-Khaththab berkata: “Hai penduduk Makkah, janganlah kalian membuat pintu pada rumah-rumah kalian, agar orang-orang desa tinggal dimana pun yang ia kehendaki.” Ma’mar mengabarkan kepada kami dari orang yang mendengar `Atha’ berkata (tentang ayat), “Baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir, ” mereka singgah dimana saja yang mereka kehendaki.

Ad-Daruquthni meriwayatkan dari hadits Ibnu Abu Najih, dari `Abdullah bin ‘Amr secara mauquf: “Barangsiapa yang memakan uang sewaan rumah-rumah Makkah, maka dia berarti makan api neraka.”

Imam Ahmad menengahi pendapat itu dengan berkata: “Dia dapat dimiliki, diwarisi dan tidak dapat disewakan sebagai upaya menggabungkan berbagai dalil.”

Firman-Nya: wa may yurid fiiHi bi-ilhaadi bidhulmin nudziqHu min ‘adzaabin aliim (“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.”) Sebagian ahli tafsir dari ahli bahasa berkata: “Huruf ba di sini adalah tambahan, seperti firman-Nya: tanbutu bid-duHni (“Yang menghasilkan minyak,”) yaitu menghasilkan minyak.”

Demikian pula firman-Nya: wa may yurid fiiHi bi-ilhaadi (“Dan siapa yang bermaksud didalamnya melakukan kejahatan,”) yang maksudnya berarti sebuah pengingkaran. Yaitu, menginginkan perkara cemar yang termasuk maksiat.

Firman-Nya: bidhulmin (“Secara zhalim,”) yaitu secara sengaja dan bermaksud secara dhalim tanpa adanya unsur yang memalingkan makna itu. Ibnu Juraij berkata dari Ibnu `Abbas: “Yaitu secara sengaja.”

Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Secara dhalim yaitu dengan berbuat syirik.” Mujahid berkata: “(Yaitu), beribadah kepada selain Allah di dalamnya.” Demikian yang dikatakan oleh Qatadah dan selainnya. Al-‘Aufi berkata dariIbnu `Abbas: “Secara dhalim yaitu menganggap halal sesuatu yang diharamkan oleh Allah kepadamu berupa keburukan atau pembunuhan, sehingga engkau medhalimi orang yang tidak berbuat dhalim kepadamu dan membunuh orang yang tidak membunuhmu. Jika ia melakukan hal tersebut, maka dia wajib mendapatkan adzab yang amat pedih.”

Mujahid berkata: “Secara dhalim yaitu dia beramal dengan suatu amal yang buruk.” Ini merupakan kekhususan tanah haram, yaitu bahwa orang yang tinggal di padang pasir akan dihukum karena keburukan jika ia bermaksud melakukannya, sekalipun belum terlaksana.

Ibnu Abi Hatim berkata dalam Tafsirnya dari `Abdullah bin Mas’ud tentang firman-Nya: wa may yurid fiiHi bi-ilhaadi bidhulmin (“Dan siapa yang bermaksud didalamnya melakukan kejahatan secara dhalim,”) seandainya seseorang hendak melakukan kejahatan di dalamnya secara dhalim, niscaya Allah akan merasakan kepadanya adzab yang amat pedih. Syu’bah berkata: “Dia menyampaikan ceritanya kepada kami dan aku tidak menyampaikan kepada kalian.” Yazid berkata: “Sungguh dia sudah menyampaikannya.” Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Harun, aku berkata: “Isnad ini shahih menurut syarat al-Bukhari, sedangkan memauqufkannya lebih tepat daripada memarfu’kannya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: “Ibnu `Abbas berkata tentang firman Allah Ta’ala: wa may yurid fiiHi bi-ilhaadi bidhulmin (“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim”) yaitu turun pada `Abdullah bin Unais bahwa Rasulullah mengutusnya bersama dua orang laki-laki, yang satu dari Muhajirin dan yang satu lagi dari Anshar. Lalu, mereka berbangga-bangga dengan keturunan, maka `Abdullah bin Unais begitu murka dan kemudian membunuh orang Anshar. Kemudian dia murtad dari Islam dan melarikan diri ke Makkah, maka turunlah ayat ini: wa may yurid fiiHi bi-ilhaadi bidhulmin (“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhilim,”) yaitu barang-siapa yang datang ke tanah haram melakukan kejahatan; yakni berpaling dari Islam.”

Atsar-atsar ini, sekalipun menunjukkan bahwa semua itu termasuk kejahatan, akan tetapi ayat ini lebih umum dari semua itu, bahkan di dalamnya mengandung peringatan bagi sesuatu yang lebih berat dari hal tersebut. Untuk itu, ketika pasukan gajah hendak merobohkan Baitullah, Allah mengutus kepada mereka burung-burung Ababil dengan melontari mereka batu-batuan dari Sijjil, hingga menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat. Yaitu menghancurkan mereka serta menjadikan mereka sebagai pelajaran dan ancaman bagi setiap orang yang ingin berbuat keburukan. Untuk itu, tercantum di dalam hadits bahwa Rasulullah bersabda: “Satu pasukan tentara berusaha memerangi Baitullah, hingga saat mereka berada di padang pasir, mereka ditenggelamkan seluruhnya.”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 23-24

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 23-24“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. (QS. 22:23) Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. (QS. 22:24)” (al-Hajj: 23-24)

Ketika Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang kondisi penghuni neraka [kita berlindung kepada Allah dari kondisi mereka], serta hukuman, kehinaan, pembakaran dan pembelengguan yang mereka dapatkan serta baju-baju api neraka yang dipersiapkan untuk mereka, Dia pun kemudian menyebutkan kondisi penghuni surga [kita meminta kepada Allah dari keutamaan dan kelebihan-Nya.]

Maka Dia berfirman: innallaaHa yudkhilul ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,”) yaitu alirannya menembus pada naungan, sisi-sisi dan pinggir-pinggirnya serta di bawah pohon-pohon dan istana-istananya yang dapat diarahkan kemana saja menurut apa yang mereka kehendaki dan inginkan.

Yuhallaauna fiiHaa (“Mereka diberi perhiasan di dalamnya,”) berupa beberapa perhiasan. Min asaawira min dzaHabiw wa lu’lu-an (“Dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara”) yaitu di tangan-tangan mereka, sebagaimana sabda Nabi dalam hadits Muttafaq `alaih: “Perhiasan orang mukmin itu akan mencapai anggota yang sampai kepadanya wudhu.”

Firman-Nya: wa libaasuHum fiiHaa hariirun (“Dan pakaian mereka adalah sutera,”) kontradiktif dengan pakaian penghuni neraka yang disandangkan kepada mereka. Pakaian penghuni surga adalah dari sutera, yang tipis dan yang tebal.

Di dalam hadits shahih: “Janganlah kalian memakai sutera dan sutera halus di dunia. Karena, barang-siapa yang memakainya di dunia, niscaya ia tidak akan memakainya di akhirat.” `Abdullah bin az-Zubair berkata: “Barangsiapa yang tidak memakai sutera di akhirat, maka berarti dia tidak masuk ke dalam Jannah.”

Firman-Nya: wa Huduu ilath-thayyibi minal qaul (“Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik,”) seperti firman Allah: tahiyyatuHum fiiHaa salaam (“Dan ucapan penghormatan mereka adalah salaam.”) (QS.Ibrahim:23). Maka mereka diberi petunjuk ke tempat yang di dalamnya mereka mendengar ucapan-ucapan yang baik. Firman-Nya: wa yulaqqauna fiiHaa tahiyyataw wa salaaman (“Dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,”) (QS. Al-Furqaan: 75), tidak sebagaimana dihinakannya penghuni neraka dengan ucapan-ucapan yang berisi hinaan dan ejekan. Lalu dikatakan kepada mereka: dzuuqul ‘adzaabal hariiq (“Rasakanlah olehmu adzab yang membakar.”) (QS. All ‘Imran: 181)

Firman-Nya: wa Huduu ilaa shiraathil hamiid (“Dan ditunjuki pula kepada jalan Allah yang terpuji,”) yaitu ke tempat yang di dalamnya mereka memuji Rabb mereka atas kebaikan, nikmat dan tuntunan yang diberikan-Nya kepada mereka. Sebagaimana yang diberitakan di dalam hadits shahih: “Sesungguhnya mereka mendapatkan ilham untuk bertasbih dan bertahmid sebagaimana mereka mendapatkan ilham untuk bernafas.”

Sebagian ahli tafsir berkata tentang firman-Nya: wa Huduu ilath-thayyibi minal qaul (“Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik,”) yaitu’al-Qur’an. Satu pendapat mengatakan: “Laa Ilaaha Illalaah.” Dan pendapat lain mengatakan: “Yaitu dzikir-dzikir yang disyari’atkan.”

wa Huduu ilaa shiraathil hamiid (“Dan ditunjuki pula kepada jalan Allah yang terpuji,”) yaitu jalan yang lurus di dunia. Semua ini tidak bertentangan dengan apa yang telah kami sebutkan. Wallahu a’lam.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 19-22

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 19-22“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar,mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. (QS. 22:19) Dengan air itu dihancur-luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). (QS. 22:20) Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. (QS. 22:21) Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): ‘Rasakanlah adzab yang membakar ini.’ (QS. 22:22)” (al-Hajj: 19-22)

Tercantum di dalam ash-Shahihain, Abu Dzar bersumpah bahwa ayat ini: Haadzaani khash-maanikh tashamuu fii rabbiHim (“Inilah dua golongan yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka,”) turun kepada Hamzah dan para sahabatnya serta ‘Utbah dan para sahabatnya pada hari mereka menampakkan diri di perang Badar. (Inilah lafazh al-Bukhari dalam Tafsirnya). Kemudian al-Bukhari berkata bahwa `Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku adalah orang pertama yang menggelar persengketaan di hadapan ar-Rahman pada hariKiamat.”

Qais berkata: “Pada merekalah turun: Haadzaani khash-maanikh tashamuu fii rabbiHim (“Inilah dua golongan yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka,”) mereka adalah orang-orang yang menampakkan diri di perang Badar, yaitu `Ali, Hamzah, ‘Ubaidah, Syaibah bin Rabi’ah dan al-Walid bin ‘Utbah. Al-Bukhari menyendiri dalam meriwayatkannya.

Ibnu Abi Najih berkata dari Mujahid tentang ayat ini: “Ini adalah perumpamaan orang kafir dan orang mukmin yang bertengkar tentang kebangkitan.”

Di dalam satu riwayat lain, Mujahid dan ‘Atha’ berkata tentang ayat ini: “Mereka adalah orang-orang yang kafir dan orang-orang yang beriman.” Perkataan Mujahid dan ‘Atha’ bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang-orang yang kafir dan orang-orang yang beriman, mencakup seluruh perkataan serta menyangkut kisah Badar dan peristiwa yang lainnya. Ini adalah pilihan Ibnu Jarir dan pendapat itu adalah baik.

Untuk itu Dia berfirman: fal ladziina kafaruu quth-thi’at laHum tsiyaabum min naar (“Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka,”) yaitu dibuatkan bagi mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Sa’id bin Jubair berkata: “Yaitu dari tembaga dan sesuatu yang amat panas jika dipanaskan.”

Yushabbu min fauqi ru-uusiHimul hamiimu yush-Haru biHii maa fii buthuuniHim wal juluud (“Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka,”) jika disiramkan di atas kepala-kepala mereka al-hamim, yaitu air panas yang amat panas. Sa’id bin Jubair berkata: “Dia adalah timah yang menghancur luluhkan gaji dan usus yang ada di dalam perut mereka.” Demikian yang dikatakan oleh Ibnu`Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair dan selain mereka. Demikian pula menghancur-luluhkan kulit-kulit mereka. Firman-Nya: wa laHum maqaami’u min hadiid (“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.”)

Imam Ahmad berkata dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah bersabda: “Seandainya cambuk-cambuk besi itu diletakkan di bumi, lalu dua makhluk berhimpun, niscaya mereka tidak dapat menguranginya dari bumi.”

Ibnu `Abbas berkata tentang firman-Nya: wa laHum maqaami’u min hadiid (“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.”) mereka dipukul dengannya, sehingga setiap anggota badan hancur berantakan, lalu mereka berteriak: “Celaka.”

Firman-Nya: kullamaa araaduu ay yakhrujuu minHaa min ghammin u-‘iiduu fiiHaa (“Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya.”) Al-A’masy berkata dari Abudz-Dzabyan, bahwa Salman berkata: “Api neraka itu hitam legam, kayu dan baranya tidak bersinar. Kemudian dia membaca: kullamaa araaduu ay yakhrujuu minHaa min ghammin u-‘iiduu fiiHaa (“Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya.”)

Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Demi Allah, mereka tidak akan dapat keluar, karena kaki-kaki mereka dibelenggu dan tangan-tangan mereka diikat. Akan tetapi, kayu api neraka mengangkat mereka dan cambuk-cambuk api neraka akan mengembalikan mereka.”

Firman-Nya: wa dzuuqul ‘adzaabal hariiq (“Rasakanlah adzab yang membakar ini,”) seperti firman-Nya: wa qiila laHum dzuuquu ‘adzaaban naaril ladzii kuntum biHii tukadz-dzibuun (“Dan dikatakan kepada mereka: ‘Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu dustakan.’”) (QS. As-Sajdah: 20)
Makna perkataan tersebut adalah bahwa mereka dihinakan dengan siksaan, perkataan atau dan perbuatan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 18

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 18“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan adzab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS al-Hajj: 18)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dialah yang berhak diibadahi, Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena segala sesuatu, baik secara taat atau terpaksa, harus sujud kepada keagungan-Nya. Dan sujudnya segala sesuatu secara taat atau terpaksa tersebut merupakan kekhususan bagi-Nya.

Alam tara annallaaHa yasjudlu laHuu man fis samaawaati wa man fil ardli (“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi,”) yaitu dari kalangan Malaikat yang berada di segala penjuru langit dan hewan-hewan di segala penjuru, yang terdiri dari manusia, jin, binatang-binatang melata dan burung; wa im min syai-in illaa yusabbihu bihamdiHi (“Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.”) (QS. Al Israa’: 44)

Firman-Nya: wasy-syamsu wal qamaru wan nujuum (“Matahari, bulan, bintang,”) hal ini disebut untuk menjadi dalil, di mana semua itu disembah selain Allah. Maka, Dia menjelaskan bahwa semua itu sujud kepada Penciptanya dan semuanya diatur dan dikendalikan oleh-Nya.

Di dalam ash-Shahihain dari Abu Dzar ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Apakah engkau tahu ke mana perginya matahari ini?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau pun menjawab: “Sesungguhnya dia pergi, lalu sujud di bawah ‘Arsy, kemudian dia meminta perintah dan dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah ke tempat semula kamu datang.’”

Di dalam al-Musnad, Sunan Abi Dawud, Sunan an-Nasa’i dan Sunan Ibni Majah tentang hadits kusuf (gerhana), dinyatakan: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua makhluk ciptaan Allah. Keduanya tidak mengalami peristiwa gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Akan tetapi, jika Allah menampakkan pada makhluk-Nya, maka makhluk tersebut akan tunduk dan patuh kepada-Nya.”

Sedangkan sujudnya gunung-gunung dan pohon-pohon adalah dengan miringnya bayangan keduanya ke kanan dan ke kiri. Ibnu `Abbas berkata: Seorang laki-laki datang dan bercerita: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku semalam bermimpi bahwa seakan-akan aku shalat di bawah sebuah pohon. Lalu aku sujud, maka pohon itu pun sujud karena sujudku dan aku mendengar dia berkata: ‘Ya Allah, catatlah untukku dengan amalan ini di sisi-Mu pahala yang dapat menghapuskan dosaku dan jadikanlah hal itu sebagai simpanan untukku di sisi-Mu serta terimalah dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu, Dawud.’”
Ibnu `Abbas berkata: “Lalu Rasulullah membaca ayat Sajdah, kemudian beliau pun sujud dan aku dengar beliau berdo’a seperti do’anya pohon yang diceritakan laki-laki itu.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Firman-Nya: wad dawaabbu (“Dan binatang-binatang yang melata”) yakni seluruh hewan. Telah tercantum di dalam hadits dari Imam Ahmad, bahwa Rasulullah saw. melarang membuat mimbar dari punggung binatang. Betapa banyak kendaraan yang ditunggangi lebih baik atau lebih banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala dari pada penunggangnya.

Firman-Nya: wa katsiirum minan naasi (“Dan banyak di antara manusia,”) yaitu sujud kepada Allah dalam mentaati-Nya dan ikhtiarnya dalam melaksanakan ibadah. Wa katsiirun haqqa ‘alaiHil ‘adzaab (“Yang telah ditetapkan adzab atasnya,”) yaitu di antara orang yang enggan, sombong dan membangkang. Wa may yuHinillaaHu famaa laHuu mim mukrimin innallaaHa yaf’alu maa yasyaa-u (“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguh-nya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”)

Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Jika Bani Adam membaca ayat Sajdah, syaitan pun menyingkir, menangis dan berkata: ‘Aduhai celakalah! Bani Adam diperintahkan untuk sujud, maka ia sujud dan ia pun mendapatkan surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk sujud, akan tetapi aku menolak, maka aku pun mendapatkan neraka.’” (HR.Muslim)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 17

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 17“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi-in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Hajj: 17)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang para penganut agama-agama yang berbeda dengan orang-orang yang beriman di kalangan Yahudi dan Shabi-in. Masalah ini telah kita bicarakan di surat al-Baqarah dalam mengenal mereka, perbedaan pendapat tentang mereka, Nasrani, Majusi dan orang-orang yang berbuat syirik. Lalu mereka beribadah kepada sesembahan yang lain bersama
Allah.

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: yaf-shilu bainaHum yaumal qiyaamati (“Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat,”) serta menghukum mereka dengan keadilan. Orang yang beriman akan masuk surga dan orang yang kafir akan masuk neraka. Sesungguhnya Allah Ta’ala Mahamelihat perbuatan-perbuatan mereka serta Mahamenjaga (mencatat) perkataan-perkataan mereka, Mahamengetahui rahasia-rahasia mereka, serta apa yang tersimpan di dalam dada mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 15-16

8 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 15-16“Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya. (QS. 22:15) Dan demikianlah Kami telah menurunkan al-Qur’an yang merupakan ayat-ayat yang nyata; dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (QS. 22:16)” (al-Hajj: 15-16)

Ibnu `Abbas berkata: “Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah tidak akan menolong Muhammad di dunia dan di akhirat; fal yamdud bisababin (“Maka hendaklah dia merentangkan sebab,”) yaitu tali. Ilas samaa-i (“Ke langit,”) yaitu, langit rumahnya. Tsummal yaqtha’ (“Kemudian hendaklah ia melaluinya,”) kemudian hendaklah dia mencekiknya.” Demikian yang dikatakan olehMujahid, ‘Ikrimah, ‘Atha’, Abul Jauza, Qatadah dan selain mereka.

Sedangkan perkataan Ibnu `Abbas dan para sahabatnya lebih utama dan lebih jelas maknanya serta lebih bagus untuk mengejek. Karena maknanya adalah, barangsiapa yang menyangka bahwa Allah tidak akan menolong Muhammad, Kitab dan agama-Nya, maka hendaklah dia pergi dan membunuh dirinya sendiri, jika hal itu menjadi pendirian kerasnya. Karena, Allah adalah penolong semua itu, bukan mustahil.

Allah Ta’ala berfirman: innaa lananshuru rusulanaa wal ladziina aamanuu fil hayaatid dun-yaa wa yauma yaquumul asy-Haad (“Sesungguhnya Kami menolong para Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.”) (QS. Al-Mu’min: 51). Untuk itu Dia berfirman: fal yandhur Hal yudz-Hibanna kaiduHuu maa yaghiidh (“Kemudian hendaklah ia pikirkanapakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.”)

As-Suddi berkata: “Yaitu tentang keadaan Muhammad.” ‘Atha’ al-Khurasani berkata: “Maka hendaklah ia pikirkan apakah hal itu dapat menyembuhkan rasa marah yang terdapat dalam dadanya.”

Firman-Nya: wa kadzaalika anzalnaaHu (“Dan demikianlah Kami telah menurunkannya,”) yaitu al-Qur’an. Aayaatim bayyinaatin (“Yang merupakan ayat-ayat yang nyata,”) yaitu jelas dalam lafazh dan maknanya sebagai hujjah dari Allah bagi manusia. Wa annallaaHa yaHdii may yuriid (“Dan Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki,”) yaitu Dia menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia memiliki hikmah yang sempurna dan hujjah yang qath’i di dalam hal tersebut.

Laa yus-alu ‘ammaa yaf’alu waHum yus-aluun (“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.”) (QS. Al-Anbiyaa’: 23)
Sedangkan bagi kebijaksanaan, rahmat, keadilan, ilmu, pemaksaan dan keagungan-Nya, tidak ada yang mampu menandingi dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya.

bersambung