Arsip | 20.33

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 55-57

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 55-57“Dan senantiasa-lah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur’an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka adzab hari Kiamat. (QS. 22:55) Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan. (QS. 22:56) Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka bagi mereka adzab yang menghinakan. (QS. 22:57)” (al-Hajj: 55-57)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang orang-orang kafir, bahwa mereka terus-menerus dalam miryah, yaitu keraguan dan kebimbangan terhadap al-Qur’an. Hal tersebut dikatakan oleh Ibnu Juraij dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Sa’id bin Jubair dan Ibnu Zaid berkata: minHu (“Terhadapnya,”) adalah terhadap apa-apa yang dibisikkan oleh syaitan.”

Hattaa ta’tiyaHumus saa’atu baghtatan (“Hingga datang kepada mereka saat kematiannya dengan tiba-tiba.”) Mujahid berkata: “Secara mendadak.” Qatadah berkata: baghtatan; yaitu, saat (kematian) kaum yang sombong terhadap perintah Allah. Allah tidak akan menyiksa suatu kaum sedikit pun kecuali ketika mereka dalam keadaan mabuk, tertipu dan senang. Maka, janganlah kalian menipu Allah, karena tidak ada yang menipu Allah kecuali kaum yang fasik.”

Firman-Nya: au ya’tiyaHum ‘adzaabu yaumin ‘aqiim (“Atau datang kepada mereka adzab hari Kiamat.”) `Ikrimah dan Mujahid dalam satu riwayat mengatakan, itulah hari Kiamat yang tidak ada malamnya. Demikian yang dikatakan oleh adh-Dhahhak dan al-Hasan al-Bashri.

Untuk itu, Dia berfirman: al mulku yauma-idzil lillaaHi yahkumu bainaHum falladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Kekuasaan pada hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal shalih,”) yaitu hati mereka beriman dan membenarkan Allah dan Rasul-Nya, serta mengamalkan apa yang mereka ketahui. Hati, perkataan dan amal-amal mereka konsisten.
Fii jannaatin na’iim (“Di dalam surga yang penuh kenikmatan,”) yaitu mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang penuh kenikmatan yang tidak berubah, hilang atau lenyap.

Walladziina kafaruu wa kadz-dzabuu bi-aayaatinaa (“Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami,”) yaitu, hati mereka kufur terhadap kebenaran, mengingkarinya dan mendustakannya serta menyelisihi para Rasul dan sombong untuk mengikuti mereka, fa ulaa-ika laHum ‘adzaabum muHiin (“Maka bagi mereka adzab yang menghinakan,”) yaitu sebagai balasan kesombongan dan pembangkangan mereka kepada kebenaran, seperti firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan dakhirin,” (QS. Al-Mu’min: 60). Yaitu hina dina.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 52-54

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 52-54“Dan Kami tidak mengutus sebelummu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana, (QS. 22:52) agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, (QS. 22:53) dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwasanya al-Qur’an itulah yang haq dari Rabbmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. 22:54)” (al-Hajj: 52-54)

Kebanyakan ahli tafsir menceritakan kisah Gharaniq dan peristiwa kembalinya orang-orang yang berhijrah ke negeri Habasyah karena mengira bahwa orang-orang musyrik Quraisy sudah masuk Islam. Akan tetapi seluruh jalan periwayatannya bersifat mursal dan aku (Ibnu Katsir) tidak melihat adanya sanad dengan jalur yang shahih. Wallahu a’lam.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, bahwasanya Sa’id bin Jubair berkata: Rasulullah saw. di kota Makkah membaca surat an-Najm. Ketika beliau sampai kepada ayat: afara-aitumul laata wal ‘uzzaa wa manaatats-tsaalitsatal ukhraa (“Maka apakah patut kamu menganggap al-Latta dan ‘Uzza dan Manat yang ketiga,”) beliau bersabda: “Lalu syaitan membisikkan pada lisannya: `Itulah kisah Gharaniq al-Ula.’ Sesungguh-nya syafa’at mereka diharapkan. Mereka menyebutkan, tidak pernah ilah kami disebut baik sebelum hari ini, lalu ia sujud dan mereka pun sujud, maka Allah menurunkan ayat ini:

Wa maa arsalnaa min qablika mir rasuulin walaa nabiyyin illaa idzaa tamannaa alqasy syaithaanu fii umniyyati fayansakhullaaHu maa yulqisy syaithaanu tsumma yuhkimullaaHu aayaatiHii wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Kami tidak mengutus sebelummu seorang Rasul pun dan tidak pula seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha-mengetahui lagi Mahabijaksana. ” Wallahu a’lam.

Demikianlah macam-macam jawaban mutakallimin tentang penetapan keshahihannya. Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan dalam kitab asy-Syifaa’ untuk masalah ini, dia menjawab yang hasilnya seperti itu, karena telah ada penetapannya.

Firman-Nya: illaa idzaa tamannaa alqasy syaithaanu fii umniyyati (“Melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu,”) ayat ini mengandung hiburan dari Allah kepada Rasul-Nya yaitu Allah tidak menakuti engkau. Sesungguhnya hal seperti itu telah menimpa pula kepada para Rasul dan Nabi sebelummu.

Al-Bukhari meriwayatkan, Ibnu `Abbas berkata: fii umniyyati (“Terhadap keinginan itu,”) jika ia bercerita, syaitan pun memasukkan sesuatu terhadap ceritanya itu. Maka Allah membatalkan apa yang dimasukkan syaitan; tsumma yuhkimullaaHu aayaatiHi (“Dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya,”) `Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: illaa idzaa tamannaa alqasy syaithaanu fii umniyyati (“Melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu,”) ia berkata: “Jika ia bercerita, syaitan pun memasukkan sesuatu terhadap ceritanya itu.” Mujahid berkata: idzaa tamannaa (“Apabila mempunyai suatu keinginan,”) yaitu jika ia berkata. Dikatakan “umniyyati” bacaannya; illaa amaaniyya (“Kecuali angan-angan,”) (QS. Al-Baqarah: 78), yang mereka baca dan tidak mereka catat.

Al-Baghawi dan kebanyakan ahli tafsir berkata, makna firman-Nya: tamannaa; yaitu mentilawahkan dan membaca Kitabullah; alqasy syaithaanu fii umniyyati (“Syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu,”) yaitu dalam bacaannya.

Seorang penya’ir berkata tentang `Utsman ketika dia terbunuh:
“Dia membaca Kitabullah di awal malam.
Dan di akhir malam, dia berjumpa dengan penguasa takdir.

Adh-Dhahhak berkata: idzaa tamannaa; artinya, jika (ia) membaca. Jarir berkata: “Pendapat ini lebih tepat dengan penafsiran kalimat.”

Firman-Nya: fayansakhullaaHu maa yulqisy syaithaanu (“Allah menghilangkan apa yang dimasukkan syaitan itu,”) hakekat nasakh menurut bahasa adalah menghilangkan dan mengangkat.

`Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Yaitu, lalu Allah membatalkan apa yang dimasukkan syaitan itu.” Adh-Dhahhak berkata: “Jibril menghilangkan apa yang dimasukkan syaitan itu dengan perintah Allah, Allah memperkuat ayat-ayat-Nya.”

Firman-Nya: wallaaHu ‘aliimun (“Dan Allah Mahamengetahui,”) berbagai perkara dan peristiwa yang terjadi dan tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya. hakiimun (“Lagi Mahabijaksana,”) yaitu dalam ketetapan, penciptaan dan perintah-Nya. Dia memiliki kebijaksanaan yang sempurna dan bukti-bukti yang akurat.

Untuk itu Dia berfirman: liyaj’ala maa yulqisy-syaithaanu fitnatal lilladziina fii quluubiHim maradlun (“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit,”) yaitu keraguan, syirik, kekufuran dan kemunafikan, seperti orang-orang musyrik ketika mereka bergembira karenanya dan berkeyakinan bahwa hal itu benar dari sisi Allah, padahal semua itu dari godaan syaitan.

Ibnu Juraij berkata: lilladziina fii quluubiHim maradlun (“Bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit,”) yaitu orang-orang munafik; wal qaasiyati quluubuHum (“Dan yang kasar hatinya,”) yaitu orang-orang musyrik.” Muqatil bin Hayyan berkata: “Yaitu orang Yahudi.”

Wa innadh-dhaalimiina lafii syiqaaqim ba’iid (“Dan sesunggguhnya orang-orang yang dhalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat,”) yaitu dalam kesesatan, perbedaan dan pembangkangan yang serius terhadap kebenaran (al-haq).,

Wa liya’lamal ladziina uutul ‘ilma annaHul haqqu mir rabbika fayu’minuu biHi (“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwasanya al-Qur’an itulah yang haq dari Rabbmu, lalu mereka beriman,”) yaitu agar orang-orang yang telah diberikan ilmu yangbermanfaat mampu membedakan antara haq dan bathil serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengetahui bahwa apa yang telah Kami wahyukan kepadamu adalah kebenaran dari Rabbmu yang menurunkan hal itu dengan ilmu, pemeliharaan dan penjagaan-Nya dari pencampur bauran dengan yang lainnya.

Bahkan, itulah Kitab yang mulia:
Laa ya’tiiHi baathilu mim baini yadaiHi walaa min khalfiHi tanziilam min hakiimin hamiid (“Yang tidak didatangi kebathilan dari hadapan dan belakangnya serta diturunkan dari Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.”) (QS. Fushshilat: 42).

Dan firman-Nya: fayu’minuu biHii (“Lalu mereka beriman,”) yaitu membenarkan dan mematuhinya; fatukhbita laHuu quluubuHum (“Dan tunduk hati mereka kepadanya,”) yaitu hati mereka tunduk dan patuh. Wa innallaaHa laHaadil ladziina aamanuu ilaa shiraathim mustaqiim (“Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus,”) yaitu di dunia dan di akhirat. Adapun di dunia, Dia memberikan mereka petunjuk kepada kebenaran dan mengikutinya serta memberikan taufiq kepada mereka untuk menyelisihi dan menjauhi kebathilan. Sedangkan di akhirat, Dia memberikan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus yang menyampaikannya kepada derajat surga serta menyelamatkan
mereka dari adzab yang pedih dan kerak api neraka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 49-51

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 49-51“Katakanlab: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepadamu.’ (QS. 22:49) Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia. (QS. 22:50) Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni penghuni neraka. (QS. 22:51)” (al-Hajj: 49-51)

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya ketika orang-orang kafir meminta dijatuhkan siksaan dan disegerakan adzab kepada mereka. Qul yaa ayyuHan naasu innamaa ana lakum nadziirum mubiin (“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepadamu,”) yaitu Allah mengutusku kepada kalian hanya sebagai pemberi peringatan dari Pemilik adzab yang amat pedih, bukan untuk menghitung pertanggung jawaban kalian sedikit pun. Urusan kalian hanya kepada Allah, jika Dia menghendaki, Dia akan menyegerakan adzab untuk kalian. Jika Dia menghendaki, Dia akan menundanya dari kalian. Jika Dia menghendaki, Dia akan menerima taubatnya orang yang bertaubat dan jika Dia kehendaki, Dia akan menyesatkan orangyang tercatat sebagai orang yang celaka. Dia Mahaberbuat apa yang Dia di-kehendaki, Dia inginkan dan Dia pilih.

Laa mu’aqqiba lihukmiHi wa Huwa sarii’ul hisaab (“Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; Dan Dialah yang Mahacepat hisab-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41).

Innamaa ana lakum nadziirum mubiinun fal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepadamu. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih,”) yaitu hati mereka beriman dan mereka membuktikan keimanan mereka dengan berbuat amal. laHum maghfiratuw wa rizqun kariim (“Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia,”) yaitu ampunan terhadap kesalahan-kesalahan yang lalu serta membalas kebaikan sekecil apa pun.

Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata: “Apabila engkau mendengar firman Allah Ta’ala: wa rizkun kariim (“Dan rizki yang mulia,”) maka rizki yang mulia itu adalah surga.”

Firman-Nya: wal ladziina sa’au fii aayaatinaa mu’aajiziina (“Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan.”) Mujahid berkata: “Melemahkan manusia dari mengikuti Nabi,” begitu juga `Abdullah bin az-Zubair berkata: “Dengan melemahkan.” Sedangkan Ibnu `Abbas berkata: mu’aajiziina; yaitu, saling mendesak.”

Ulaa-ika ash-haabul jahiim (“Mereka itu adalah penghuni penghuni neraka,”) yaitu neraka yang panas, menyakitkan dan amat dahsyat adzab dan siksaannya, semoga Allah melindungi kita darinya.

Allah Ta’ala berfirman: alladziina kafaruu wa shadduu ‘an sabiilillaaHi zidnaaHum ‘adzaaban fauqal ‘adzaabi bimaa kaanuu yufsiduun (“Orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (QS. An-Nahl: 88)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 47-48

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 47-48“Dan mereka meminta kepadamu agar adzab disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. 22:47) Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (adzab-Ku) kepada-nya, yang penduduknya berbuat dhalim, kemudian Aku adzab mereka, dan hanya kepada-Ku-lah kembalinya (segala sesuatu). (QS. 22:48)” (al-Hajj: 47-48)

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya: wa yasta’jiluunaka bil ‘adzaab (“Dan mereka meminta kepadamu agar adzab itu disegerakan,”) yaitu mereka adalah orang-orang kafir yang menentang dan mendustakan Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan hari akhir, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, cepatkanlah untuk kami adzab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab.’” (QS. Shaad: 16)

Firman-Nya: walay yukh-lifallaaHu wa’daHu (“Padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya.”) Yakni, yang dijanjikan-Nya berupa terjadinya hari Kiamat, menghukum musuh-musuh-Nya dan memuliakan wali-wali-Nya.

Firman-Nya: wa inna yauman ‘inda rabbika ka-alfi sanatim mimmaa ta-‘udduun (“Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu,”) yaitu Allah tidak akan menyegerakannya, karena ukuran seribu tahun di sisi makhluk-Nya adalah seperti satu hari di sisi-Nya. Dilihat kepada kebijaksanaan ilmu-Nya, Dia Mahakuasa untuk mengadzab dan tidak ada sesuatu pun yang terlepas dari adzab-Nya, sekalipun dibatasi waktu dan ditunda.

Karena itu, setelah ini Dia berfirman: wa ka-ayyim min qaryatin amlaitu laHaa wa Hiya dhaalimatun tsumma akhadz-tuHaa wa ilayyal mashiir (“Dan berapalah banyaknya kota yang aku tangguhkan adzab-Ku kepadanya, yang penduduknya berbuat dhalim. Kemudian Aku adzab mereka, dan hanya kepada-Ku-lah kembalinya [segala sesuatu].”)

Ibnu Abi Hatim berkata dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Para fuqara’ kaum muslimin (terdahulu) memasuki surga sebelum orang-orang yang kaya dengan jarak setengah hari yang perhitungannya sama dengan lima ratus tahun.” (HR. At-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 42-46

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 42-46“Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakanmu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, ‘Aad dan Tsamud, (QS. 22:42) dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, (QS. 22:43) dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (adzab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku adzab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu). (QS. 22:44) Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkandan istana yang tinggi, (QS. 22:45) maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS. 22:46)” (al-Hajj: 42-46)

Allah Ta’ala berfirman menghibur Nabi-Nya, Muhammad saw, atas pendustaan kaumnya yang menentangnya.

Wa iy yukadz-dzibuuka faqad kadz-dzabat qablaHum qaumu nuuhiw wa ‘aaduw wa tsamuudu wa qaumu ibraaHiima wa qaumu luuthiw wa ash-haabu madyana wa kudz-dzabu muusaa (“Dan jika mereka mendustakanmu, maka sesungguhnya telah mendustakan sebelum mereka kaum Nuh, Aad dan Tsamud dan kaum Ibrahim dan kaum Luth dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa,”) yaitu, padahal mereka membawa ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata.

Fa amlaitu lil kaafiriina (“Lalu Aku tangguhkan [adzab-Ku] untuk orang-orang kafir,”) yaitu Aku tunda dan Aku undurkan kepada mereka; Tsumma akhadz-tuHum fakaifa kaana nakiir (“Kemudian Aku adzab mereka, maka bagaimana besarnya kebencian-Ku [kepada mereka itu]”) yaitu bagaimana pengingkaran-Ku dan hukuman-Ku terhadap mereka.

Dalam ash-Shahihain dinyatakan: Dari Abu Musa, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menangguhkan (adzab) kepada orang zhalim, hingga jika Dia menindaknya Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian beliau membaca: “Dan begitulah adzab Rabbmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dhalim. Sesungguhnya adzabnya itu sangat pedih lagi keras.” (QS. Huud: 102)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: wa ka-ayyim min qaryatin aHlaknaaHaa (“Berapalah banyaknya kota yang Kami telah binasakan,”) yaitu berapa banyak kota yang telah Aku hancurkan; wa Hiya dhaalimatun (“Yang penduduknya dalam keadaan zhalim,”) yaitu mendustakan para Rasul-Nya; wa Hiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruusyiHaa (“Maka kota Itu roboh menutupi atap-atapnya.”) Adh-Dhahhak berkata: “Yaitu atap-atapnya. Artinya, rumah-rumahnya roboh dan bangunan-bangunannya sia-sia.”

Wa bi’rim mu’ath-thalatin (“Dan sumur yang telah ditinggalkan,”) yaitu, airnya tidak diminum dan tidak ada seorang pun mengambilnya setelah banyaknya orang yang mengambil dan berdesak-desakan karenanya. Wa qash-rim masyiid (“Dan istana yang tinggi,”) `Ikrimah berkata: “Yaitu, batu-bata putih.” Pendapat serupa diriwayatkan dari `Ali bin Abi Thalib, Mujahid, `Atha’, Sa’id bin Jubair, Abul Malih dan adh-Dhahhak. Ulama lain berpendapat, yaitu bangunan yang tinggi. Sedangkan yang lainnya berpendapat, bangunan yang dijaga dan kokoh.

Firman-Nya: afalam yasiiruu fil ardli (“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,”) yaitu dengan badan dan pemikiran mereka, dan itu mencukupi. Ibnu Abid Dun-ya berkata: “Sebagian ahli hikmah berkata, “Hidupkanlah hatimu dengan berbagai nasehat, sinarilah dengan tafakkur, matikanlah dengan zuhud, kuatkanlah dengan keyakinan, hinakanlah dengan kematian, tetapkanlah dengan fana, pandanglah bencana-bencana dunia, waspadalah permainan masa, hati-hatilah dengan perubahan hari, tampilkanlah kepadanya kisah-kisah orang terdahulu, ingatkanlah apa yang menimpa orang yang terdahulu, berjalanlah pada negeri-negeri dan peninggalan-peninggalan mereka, serta lihatlah apa yang mereka lakukan, dimana mereka berada dan karena apa mereka berubah.”‘ Yaitu, telitilah apa yang menimpa umat-umat yang mendustakan, berupa bencana dan kehancuran.”

Fatakuuna laHum quluubuy ya’qiluuna biHaa aw aadzaanuy yasma’uuna biHaa (“Lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?”) Yaitu, mereka dapat mengambil pelajaran dari semua itu.

Fa innaHaa laa ta’mal abshaaru walaakin ta’mal quluubul latii fish shuduur (“Karena sesungguhnya, bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada,”) yakni, kebutaan itu bukanlah kebutaan mata. Akan tetapi kebutaan itu hanyalah kebutaan mata hati, sekalipun daya penglihatannya cukup bagus, karena hal itu tidak dapat menembus pelajaran dan tidak dapat mengetahui apa yang tersimpan dalam sebuah berita. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh sebagian ahli syi’ir dalam makna ini. Yaitu Abu Muhammad `Abdullah bin Muhammad bin Hayyan al-Andalusi, yang wafat tahun 517:

Hai manusia yang mendengarkan seruan kecelakaan.
Telah memanggilmu dua tanda kematian; uban dan kerentaan.
Jika engkau tak mau mendengar peringatan, apa saja yang engkau lihat
dari kepalamu yang mempunyai dua sumber pemerhati, pendengaran dan penglihatan.
Tidak dikatakan buta dan tuli kecuali hanya pada manusia.
yang tak dapat menggunakan dua juru petunjuknya, mata dan pengalaman.
Tidak ada masa yang kekal, demikian juga dunia, falak yang tinggi
dan juga dua sumber cahaya, matahari dan bulan.
Pasti semuanya berlalu dari dunia walau tak disukai
tak mau berpisahnya kedua tempat, desa dan kota.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 41

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 41“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allahlah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 41)

Abul ‘Aliyah berkata: “Mereka adalah para Sahabat Muhammad saw.” Athiyyah al-‘Aufi berkata tentan ayat ini, seperti firman-Nya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.” (QS. An-Nuur: 55).
Dan firman-Nya: wa lillaaHi ‘aaqibatul umuur (“Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan,”) seperti firman Allah Ta’ala: “Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raaf: 128).
Zaid bin Aslam berkata: wa lillaaHi ‘aaqibatul umuur (“Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan,”) dan di sisi Allah-lah pahala apa yang telah mereka kerjakan.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 39-40

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 39-40“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar menolong mereka itu, (QS. 22:39) (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Rabb kami hanyalah Allah.’ Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. 22:40)” (al-Hajj: 39-40)

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu `Abbas: “Ayat ini turun tentang Muhammad dan para Sahabatnya ketika mereka dikeluarkan dari kota Makkah.” Mujahid, adh-Dhahhak dan ulama Salaf lainnya seperti Ibnu `Abbas, ‘Urwah binZubair, Zaid bin Aslam, Muqatil bin Hayyan, Qatadah dan lain-lain, mereka berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun tentang jihad.” Ayat ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa surat tersebut adalah Madaniyyah.

Udzina lilladziina yuqaataluuna bi-annaHum dhulimuu wa innallaaHa ‘alaa nash-riHim laqadiir (“Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu.”) Abu Bakar berkata: “Aku mengetahui bahwa akan terjadi peperangan.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ishaq bin Yusuf al-Azraq. Dia menambahkan: “Ibnu `Abbas berkata, itulah ayat pertama yang turun berkenaan dengan perang.” (HR. At-Tirmidzi dan an-Nasa’i di dalam tafsirnya dari kedua sunannya. At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan.”)

Firman-Nya: wa innallaaHa ‘alaa nash-riHim laqadiir (“Dan sesungguhnya Allah Mahakuasa menolong mereka itu,”) yaitu Dia Mahakuasa menolong hamba-Nya yang beriman tanpa peperangan. Akan tetapi, Dia menghendaki hamba-hamba-Nya untuk mengerahkan kemampuan semaksimal mungkin dalam rangka taat kepada-Nya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir di medan perang, maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah bendak menguji sebagianmu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).

Ayat-ayat dalam masalah ini cukup banyak.

Ibnu `Abbas berkata tentang firman-Nya: wa innallaaHa ‘alaa nash-riHim laqadiir (“Dan sesungguhnya Allah Mahakuasa menolong mereka itu,”) sungguh Dia telah melakukannya. Allah telah mensyari’atkan jihad waktu yang tepat. Karena dahulu, saat mereka berada di kota Makkah orang-orang musyrik lebih banyak jumlahnya. Seandainya orang-orang Muslim diperintahkan berperang dengan kaum mayoritas, padahal saat itu mereka kurang dari 10 persen, niscaya hal itu menyulitkan mereka. Ketika orang-orang musyrik berbuat dhalim, mengusir Nabi dari lingkungan mereka, berniat membunuhnya dan menyiksa para Sahabatnya, maka sebagian antara mereka pergi ke negeri Habasyah dan sebagian yang lain pergi ke Madinah. Ketika mereka telah menetap Madinah, mereka berkumpul bersama Rasulullah saw. dan tegak menolongnya, maka jadilah Madinah itu sebagai negeri Islam bagi mereka dan tempat berlindung mereka. Lalu Allah mensyari’atkan jihad terhadap musuh-musuh mereka. Maka ayat ini adalah ayat yang pertama turun untuk tujuan itu.

Allah Ta’ala berfirman: Udzina lilladziina yuqaataluuna bi-annaHum dhulimuu wa innallaaHa ‘alaa nash-riHim laqadiir (“Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu.”) Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar.” Al-‘Aufi berkata dari Ibnu `Abbas: “Mereka dikeluarkan dari kota Makkah ke kota Madinah tanpa alasan yang benar, yaitu Muhammad dan para Sahabatnya.”

Illaa ay yaquuluu rabbunallaaHu (“Kecuali karena mereka berkata: ‘Rabb kami hanya-lah Allah,’”) yaitu mereka sama sekali tidak berlaku buruk kepada kaum mereka serta tidak memiliki dosa, kecuali dikarenakan mereka mengesakan dan beribadah kepada Allah Yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Ini adalah istitsna’munqathi’ (pengecualian terputus) dihubungkan dengan hakekat yang sebenarnya. Sedangkan menurut penilaian orang-orang musyrik, mereka telah melakukan dosa besar.

Untuk itu, ketika orang-orang muslim bergotong-royong membangun parit Khandaq mereka bersenandung:
“Bukan mereka. Seandainya tidak ada engkau, tidaklah kami shadaqah dan shalat.
Turunkanlah ketenteraman kepada kami dan kokohkan pendirian kami, jika kami berjumpa.
Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas jika berbuat fitnah
kepada kami, enyahkanlah dari kami.”

Rasulullah saw. mengikuti mereka dan berkata bersama mereka pada setiap akhir kata sya’ir. Saat mereka mengatakan: “idza araaduu fitnatan abainaa”, beliau memanjangkan suaranya pada kata “abainaa” (suara kedua). Kemudian Allah berfirman: wa lau laa daf’ullaaHin naasa ba’dlaHum biba’dlin (“Dan sekiranya Allah tiada menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain,”) seandainya Dia tidak menolak sebagian kaum dengan bagian kaum yang lain serta menahan keburukan sebagian manusia dari yang lainnya dengan sebab-sebab yang diciptakan dan ditentukan-Nya, niscaya rusaklah bumi, dan orang yang kuat akan membinasakan orang yang lemah. laHuddimat shawaami’u (“Tentulah telah dirobohkan shawami,”) yaitu tempat-tempat ibadah kecil untuk para rahib. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu `Abbas, Mujahid, Abul `Aliyah, `Ikrimah, adh-Dhahhak dan lain-lain.

Wa bii’un (“Dan biya”) yaitu tempat yang lebih luas dan lebih banyak rahib-rahibnya, yang menjadi tempat ibadah orang-orang Nasrani. Itulah yang di-katakan oleh Abul ‘Aliyah, Qatadah, adh-Dhahhak, Ibnu Shakhr, Muqatil bin Hayyan, Khushaif dan lain-lain. Wallahu a’lam.
Firman-Nya: wa shalawaatun (“Dan shalawat,”) al-‘Aufi berkata dari Ibnu`Abbas bahwa shalawat yaitu gereja.

`Ikrimah, adh-Dhahhak dan Qatadah berkata: “Sesungguhnya itua dalah gereja-gereja Yahudi dan mereka menamakannya shalawat. Sedangkan masjid-masjid adalah untuk kaum muslimin. Firman-Nya: yudzkaru fiiHas mullaaHi katsiiran (“Yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.”)

Sesungguhnya, dikatakan bahwa dhamir dalam firman-Nya “yudzkaru fiiHaa” kembali kepada masjid, karena kalimat itulah kalimat yang terdekat. Sedangkan adh-Dhahhak berkata: “Semua tempat peribadahan itu banyak menyebutkan nama Allah di dalamnya.”

Firman-Nya: wa layanshuran nallaaHu may yanshuruHu (“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya.”) Firman-Nya: innallaaHa laqawiyyun ‘aziiz (“Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa,”) Dia memberikan sifat kepada diri-Nya sendiri dengan kekuatan dan keperkasaan. Dengan kekuatan-Nya Dia menciptakan segala sesuatu serta menetapkan ukurannya. Dengan ke-perkasaan-Nya tidak ada satu kekuatan pun yang dapat memaksa-Nya. Bahkan, segala sesuatu tunduk di hadapan-Nya dan faqir (amat membutuh-kan)-Nya. Yang Mahamemiliki kekuatan dan keperkasaan itulah yang menjadi penolongnya dan dia yang akan ditolong. Sedangkan musuh-musuhnya adalah yang akan dikalahkan.

kataballaaHu la-aghlibanna ana wa rusulii innallaaHa qawiyyun ‘aziiz (“Allah telah menetapkan: ‘Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti menang, Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.’”)(al-Mujaadilah: 21)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 38

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 38“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguh-nya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj: 38)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia membela hamba-hamba-Nya yang bertawakkal dan kembali kepada-Nya dari keburukan orang-orang yang jahat dan tipu daya orang-orang yang dhalim, serta menjaga dan menolong mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: alaisallaaHu bikaafin ‘abdaHu (“Bukankah Allah Mahamencukupi hamba-Nya?”) Dan firman-Nya: innallaaHa laa yuhibbu kulla khawwaanin kafuur (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat,”) yaitu Dia tidak menyukai hamba-hamba-Nya yang bersifat seperti itu. Yakni berkhianat kepada berbagai perjanjian dan perikatan dengan tidak menunaikan apa yang ia katakan. Sedangkan al-kufru adalah pengingkaran terhadap berbagai nikmat, dengan tidak mengakuinya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 37

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 37“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia mensyari’atkan penyembelihan unta-unta ini, binatang hadiah untuk kurban adalah agar mereka mengingat-Nya ketika menyembelih, karena Dia Mahapencipta dan Mahapemberi rizki. Tidak sedikit pun daging dan darahnya yang akan sampai kepada-Nya. Karena Allah swt. Mahakaya (tidak membutuhkan) dari selain-Nya. Sesungguhnya dahulu di masa Jahiliyyah, jika mereka menyembelih binatang untuk ilah-ilah mereka, mereka meletakkan daging-daging binatang kurban dan melumurkan darahnya itu kepada berhala-berhala tersebut. Maka Allah Ta’ala berfirman: lay yanaalallaaHa luhuumuHaa walaa dimaa-uHaa (“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah.”)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, bahwa Ibnu Juraij berkata: “Dahulu, penduduk Jahiliyyah melumurkan daging dan darah kurban ke Baitullah.” Lalu para Sahabat Rasulullah saw. berkata: “Kami lebih berhak untuk melumurkannya.”
Maka Allah menurunkan: lay yanaalallaaHa luhuumuHaa walaa dimaa-uHaa wa laakiy yanaaluhut taqwaa minkum (“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai [keridhaan] Allah, tetapi ketakwaan darimu-lah yang dapat mencapinya”) yaitu menerima dan membalasnya. Sebagaimana yang tercantum di dalam hadits shahih: “Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk (tubuh) dan tidak juga harta kalian. Akan tetapi, Dia memandang kepada hati dan amal kalian.”

Waki’ berkata dari Yahya bin Muslim [Abi adh-Dhahhak]: “Aku bertanya kepada ‘Amir asy-Sya’bi tentang kulit binatang kurban, maka dia menjawab: ‘Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah,’ jika engkau mau, juallah. Jika engkau mau, tahanlah dan jika engkau mau sedekahkanlah.

Firman-Nya: kadzaalika sakh-kharaHaa lakum (“Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu, karena itulah Dia menundukkan unta-unta itu untuk kalian: litukabbirullaaHa maa Hadaakum (“Supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu,”) yaitu agar kalian mengagungkan-Nya, sebagaimana Dia telah menunjuki kalian kepada agama dan syari’at-Nya serta sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Dia pun melarang kalian untuk melakukan apa yang dibenci dan tidak disukai-Nya.

Finman-Nya: wa basy-syiril muhsiniin (“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik,”) yaitu berilah kabar gembira ya Muhammad, kepada orang-orang yang berbuat baik dalam amal-amal mereka, konsisten dalam batasan-batasan Allah, mengikuti apa yang disyari’atkan-Nya kepada mereka serta membenarkan risalah yang disampaikan dan dibawa oleh Rasul dari Rabb.

BEBERAPA PERMASALAHAN

Abu Hanifah, Malik dan ats-Tsauri berpendapat tentang wajibnya berkurban bagi orang yang telah memiliki nishab, sedangkan Abu Hanifah menambahkan dengan adanya syarat tinggal di tempat. Dia berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang rijal-rijalnya tsiqat dari Abu Hurairah secara marfu’: “Barangsiapa yang memiliki keluasan, lalu dia tidak berkurban, maka jangan-lah dia mendekati tempat shalat kami.” Tetapi di dalamnya terdapat perawi yang gharib dan dianggap munkar oleh Imam Ahmad.

Ibnu `Umar berkata: “Rasulullah berkurban ketika (semenjak) beliau tinggal selama sepuluh tahun.” (HR. At-Tirmidzi).

Asy-Syafi’i dan Ahmad berkata: “Berkurban itu tidak wajib, akan tetapi hanya dianjurkan.” Sedangkan ukuran umur binatang kurban, Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyembelih kurban kecuali musinnah (yang umurnya telah mencapai dua tahun dan menginjak tahun ketiga), kecuali jika kesulitan mendapatkannya, maka sembelihlah jadza’ah (umurnya kurang dari dua tahun) dari domba.”

Pendapat yang dipegang oleh Jumhur adalah binatang unta dan sapi yang tsunni; al-ma’az atau jadza’ah dari domba cukup untuk binatang kurban. Unta yang tsunni adalah unta yang telah berumur lima tahun dan menginjak tahun keenam. Sapi yang tsunni adalah sapi yang berumur dua tahun dan menginjak tahun ketiga, pendapat lain mengatakan, yaitu sapi yang umurnya mencapi tiga tahun dan menginjak tahun keempat. Al-ma’adz adalah yang berumur dua tahun. Sedangkan jadza ah dari domba, satu pendapat mengatakan, yang telah mencapai satu tahun; pendapat lain mengatakan, yang berumur sepuluh bulan; pendapat lain lagi delapan bulan dan pendapat satu lagi enam bulan atau kurang.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 36

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 36“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al-Hajj: 36)

Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada hamba-Nya berupa budna yang diciptakan untuk mereka dan menjadikannya sebagai syi’ar. Dia menjadikan budna sebagai hadiah menuju Baitul Haram, bahkan hal tersebut merupakan hadiah yang paling utama.

Ibnu Turaij berkata, ‘Atha’ berkata tentang firman-Nya: wal budna ja’alnaaHaa lakum min sya’aa-irillaaHi (“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bahagian dari syi’ar Allah,”) yaitu sapi dan unta, demiikian yang diriwayatkan Ibnu `Umar, Sa’id bin al-Musayyab dan al-Hasan al-Bashri. Mujahid berkata: “Budna hanyalah unta.” (Aku berkata), sedangkan penyebutan al-Budnah disebut untuk unta betina, telah disepakati. Mereka berbeda pendapat tentang kebenaran penyebutan al-Budnah dengan sapi. Dalam hal ini terdapat dua pendapat; Pendapat yang paling shahih, bahwa dapat dibenarkan penyebutan al-Budnah untuk binatang sapi secara hukum syar’i, sebagaimana yang tercantum dalam hadits shahih.

Kemudian, Jumhur ulama berpendapat bahwa al-Budnah dapat mencukupi untuk tujuh orang, dan sapi pun dapat mencukupi untuk tujuh orang, sebagaimana yang tercantum dalam hadits Shahih bahwa Jabir bin `Abdillah berkata: “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk bersekutu dalam binatang kurban, unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.” Ishaq Rahawaih dan yang lainnya berkata: “Bahkan sapi dan unta dapat mencukupi sepuluh orang.” Haditsnya telah tercantum di dalam Musnad Ahmad, Sunan an-Nasa’i dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: lakum fiiHaa khairun (“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya,”) yaitu pahala di negeri akhirat. Mujahid berkata: “Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya,” yaitu pahala dan berbagai manfaat. Firman-Nya: fadzkurus mallaaHi ‘alaiHaa shawaaffa (“Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri.”)

Dari al-Muththalib bin `Abdillah bin Hanthab, dari Jabir bin ‘Abdillah: “Aku shalat bersama Rasulullah pada hari raya Adh-ha. Ketika beliau selesai, beliau diberikan satu kambing dan disembelihnya dengan berucap: “Dengan nama Allah, dan Allah Mahabesar. Ya Allah, ini adalah dariku dan dari umatku yang tidak mampu berkurban.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmiidzi)

Al-A’masy berkata dari Abu Dzabyan, dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: fadzkurus mallaaHi ‘alaiHaa shawaaffa (“Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri.”) yaitu dalam keadaan berdiri diatas tiga tiang yang diikat oleh tangan kirinya sambil berkata: bismillaaHi wallaaHu akbar, laa ilaaHa illaallaaHu allaaHumma minka wa laka (“Dengan nama Allah, dan Allah Mahabesar. Tidak ada Ilah [yang haq] kecuali Allah, Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.”) Pendapat yang serupa diriwayatkan dari Mujahid, `Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas.

Di dalam ash-Shahihain diriwayatkan bahwa Ibnu `Umar mendatangi seorang laki-laki yang sedang menyembelih unta, lalu dia berkata: “Kirimlah dia dalam keadaan berdiri terikat menurut Sunnah Abul Qasim saw.”

Di dalam Shahih Muslim yang berasal dari Jabir, tentang sifat haji Wada’, ia berkata: “Rasulullah saw. menyembelih 63 unta dengan tangannya, menyembelih dengan pedang yang ada pada tangannya.”

Firman-Nya: fa idzaa wajabat junuubuHaa (“Kemudian apabila telah mati.”) Ibnu Abi Najih berkata dari Mujahid: “Yaitu tersungkur jatuh ke bumi.” Itulah satu riwayat dari pendapat Ibnu `Abbas, juga perkataan Muqatil bin Hayyan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: fa idzaa wajabat junuubuHaa (“Kemudian apabila telah mati.”) yaitu telah mati.” Pendapat inilah yang dimaksud oleh Ibnu ‘Abbas dan Mujahid, karena tidak boleh memakan unta yang disembelih sampai unta itu mati dan tidak lagi bergerak.

Hal tersebut didukung oleh hadits Syadad bin Aus yang tercantum di dalam Shahih Muslim: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara terbaik dan jika kalian menyembelih, menyembelihlah dengan cara terbaik. Dan hendaklah salah seorang kalian mempertajam mata pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.

Abu Waqid al-Laitsi berkata, Rasulullah bersabda: “Bagian mana saja binatang yang terputus dan dia dalam keadaan hidup, maka bagian terputus itu adalah bangkai.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi serta dishahihkannya).

Firman-Nya: fakuluu minHaa wa ath’imul qaani’a wal mu’tarra (“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta,”) sebagian ulama Salaf berkata tentang firman-Nya: “Maka makanlah sebagiannya,” adalah perintah penghalalan (mubah). Malik berkata: “Hal itu dianjurkan.” Sedangkan ulama lainnya mengatakan wajib, dan ini adalah satu pendapat dari madzhab Syafi’iyyah. Mereka berbeda pendapat tentang maksud dari al-Qaani’ dan al-Mu’tarr. `Alibin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Al-Qaani’ adalah orang-orang yang menjaga diri (dengan tidak meminta-minta) dan al-Mu’tarr adalah orang yang meminta.” Inilah pendapat Qatadah, Ibrahim an-Nakha’i dan Mujahid dalam satu riwayatnya.

Sedangkan Ibnu `Abbas, `Ikrimah, Zaid bin Aslam, al-Kalbi, al-Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan dan Malik bin Anas berkata: “Al-Qaani’ adalah orang yang rela kepadamu dan meminta kepadamu, sedangkan al-Mu’tarr adalah orang yang merendahkan diri dan tidak meminta kepadamu.” Ini adalah lafazh al-Hasan.

Said bin Jubair berkata: “Al-Qaani’ adalah orang yang meminta, dia berkata: `Tidakkah engkau mendengar perkataan asy-Syamakh: Harta seseorang memberikan kebaikan bagi dirinya, maka ia punmemberikan kecukupan dari kebutuhan-kebutuhannya, mensucikan dari meminta. Dia tidak butuh meminta, itulah perkataan Ibnu Zaid. Ayat ini dijadikan hujjah oleh ulama yang berpendapat bahwa binatang kurban mencukupi tiga bagian; Sepertiga untuk dimakan pemiliknya, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga lagi untuk dishadaqahkan kepada para fuqara’, karena AllahTa’ala berfirman, “Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta. ”

Di dalam hadits shahih tercantum bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada manusia: “Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian untuk menyimpan daging binatang kurban lebih dari tiga hari, maka makanlah dan simpanlah sesuai perkiraan kalian.” Di dalam satu riwayat: “Makanlah, simpanlah dan shadaqahkanlah oleh kalian.” Di dalam riwayat lain: “Maka makanlah sebagiannya dan beri makan-lah orang fakir yang sangat membutuhkan.”

Berdasarkan sabdanya dalam hadits: “Makanlah, simpanlah dan shadaqah-kanlah oleh kalian,” jika dia makan semuanya, satu pendapat mengatakan, dia tidak menjamin sedikit pun, itulah yang dikatakan oleh Ibnu Suraij dikalangan Syafi’iyyah. Sebagian mereka berkata: “Dia harus menjamin seluruh-nya dengan yang serupa atau dengan harganya.” Pendapat lain mengatakan menjamin setengahnya, pendapat lain mengatakan sepertiganya dan pendapat lain mengatakan memilih bagian yang paling rendah. Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi’i. Sedangkan kulit, tercantum di dalam Musnad Ahmad dari Qatadah bin an-Nu’man dalam hadits tentang binatang kurban: “Makanlah, shadaqahkanlah dan manfaatkanlah kulitnya dan jangan dijual.” Sebagian ulama ada yang meringankan tentang menjualnya dan sebagian lain berkata, dibagikan kepada orang-orang fakir. Wallahu a’lam.

BEBERAPA PERMASALAHAN:

Al-Barra’ bin ‘Azib berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya hal yang pertama kali kami mulai pada hari ini (hari `Idul Adh-ha) adalah shalat, kemudian kami kembali dan menyembelih binatang kurban. Barangsiapa yang melakukannya, maka berarti ia telah tepat dalam sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka itu hanyalah daging yang diberikan kepada keluarganya dan sedikit pun tidak termasuk kurban.”

Untuk itu, Imam asy-Syafi’i dan jama’ah ulama berkata: “Sesungguhnya awal waktu menyembelih binatang kurban adalah di saat matahari terbit dihari raya ‘Idul Adh-ha setelah berlalunya shalat ‘Id dan dua khutbah.” Ahmad menambahkan: “Sebaiknya Imam menyembelihnya setelah itu.” Sesuai dengan hadits dalam Shahih Muslim: “Janganlah kalian menyembelih, hingga imam menyembelihnya.”

Abu Hanifah berkata: “Adapun sebagian besar penduduk kampong dan yang seperti mereka, hendaknya (mereka) menyembelih setelah terbit fajar, karena tidak disyari’atkan shalat ‘Id bagi mereka. Sedangkan penduduk kota, hendaklah mereka tidak menyembelih sebelum imam menyembelih.” Wallahu a’lam.

Satu pendapat mengatakan: “Penyembelihan kurban tidak disyari’atkan kecuali pada hari ‘Idul Adh-ha-nya saja.” Satu pendapat mengatakan: “Penyembelihan pada hari raya untuk penduduk kota agar memudahkan mereka, dan untuk penduduk desa yaitu hari raya dan hari-hari tasyriq sesudahnya,” itulah pendapat Sa’id bin Jubair. Satu pendapat lain mengatakan, penyembelihan dilakukan pada hari rayanya dan satu hari sesudahnya. Pendapat lain mengatakan: “Dua hari sesudahnya,” inilah pendapat Imam Ahmad. Pendapat lain mengatakan: “Hari raya dan tiga hari tasyriq sesudahnya,” itulah pendapat Imam asy-Syafi’i berdasarkan hadits Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah bersabda: “Hari-hari Tasyriq seluruhnya adalah hari penyembelihan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Firman-Nya: Kadzaalika sakh-kharnaaHaa lakum la’allakum tasykuruun (“Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”) Allah Ta’ala berfirman, karena ini sakh-kharnaaHaa lakum (“Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu,”) yaitu Kami telah menundukkannya untuk kalian dan Kami menjadikannya tunduk dan patuh kepada kalian. Jika kalian suka kalian dapat mengendarainya. Jika kalian suka, kalian dapat memerah susunya dan jika kalian suka kalian dapat menyembelihnya.

Bersambung