Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 42-46

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 42-46“Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakanmu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, ‘Aad dan Tsamud, (QS. 22:42) dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, (QS. 22:43) dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (adzab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku adzab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu). (QS. 22:44) Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkandan istana yang tinggi, (QS. 22:45) maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS. 22:46)” (al-Hajj: 42-46)

Allah Ta’ala berfirman menghibur Nabi-Nya, Muhammad saw, atas pendustaan kaumnya yang menentangnya.

Wa iy yukadz-dzibuuka faqad kadz-dzabat qablaHum qaumu nuuhiw wa ‘aaduw wa tsamuudu wa qaumu ibraaHiima wa qaumu luuthiw wa ash-haabu madyana wa kudz-dzabu muusaa (“Dan jika mereka mendustakanmu, maka sesungguhnya telah mendustakan sebelum mereka kaum Nuh, Aad dan Tsamud dan kaum Ibrahim dan kaum Luth dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa,”) yaitu, padahal mereka membawa ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata.

Fa amlaitu lil kaafiriina (“Lalu Aku tangguhkan [adzab-Ku] untuk orang-orang kafir,”) yaitu Aku tunda dan Aku undurkan kepada mereka; Tsumma akhadz-tuHum fakaifa kaana nakiir (“Kemudian Aku adzab mereka, maka bagaimana besarnya kebencian-Ku [kepada mereka itu]”) yaitu bagaimana pengingkaran-Ku dan hukuman-Ku terhadap mereka.

Dalam ash-Shahihain dinyatakan: Dari Abu Musa, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menangguhkan (adzab) kepada orang zhalim, hingga jika Dia menindaknya Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian beliau membaca: “Dan begitulah adzab Rabbmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dhalim. Sesungguhnya adzabnya itu sangat pedih lagi keras.” (QS. Huud: 102)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: wa ka-ayyim min qaryatin aHlaknaaHaa (“Berapalah banyaknya kota yang Kami telah binasakan,”) yaitu berapa banyak kota yang telah Aku hancurkan; wa Hiya dhaalimatun (“Yang penduduknya dalam keadaan zhalim,”) yaitu mendustakan para Rasul-Nya; wa Hiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruusyiHaa (“Maka kota Itu roboh menutupi atap-atapnya.”) Adh-Dhahhak berkata: “Yaitu atap-atapnya. Artinya, rumah-rumahnya roboh dan bangunan-bangunannya sia-sia.”

Wa bi’rim mu’ath-thalatin (“Dan sumur yang telah ditinggalkan,”) yaitu, airnya tidak diminum dan tidak ada seorang pun mengambilnya setelah banyaknya orang yang mengambil dan berdesak-desakan karenanya. Wa qash-rim masyiid (“Dan istana yang tinggi,”) `Ikrimah berkata: “Yaitu, batu-bata putih.” Pendapat serupa diriwayatkan dari `Ali bin Abi Thalib, Mujahid, `Atha’, Sa’id bin Jubair, Abul Malih dan adh-Dhahhak. Ulama lain berpendapat, yaitu bangunan yang tinggi. Sedangkan yang lainnya berpendapat, bangunan yang dijaga dan kokoh.

Firman-Nya: afalam yasiiruu fil ardli (“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,”) yaitu dengan badan dan pemikiran mereka, dan itu mencukupi. Ibnu Abid Dun-ya berkata: “Sebagian ahli hikmah berkata, “Hidupkanlah hatimu dengan berbagai nasehat, sinarilah dengan tafakkur, matikanlah dengan zuhud, kuatkanlah dengan keyakinan, hinakanlah dengan kematian, tetapkanlah dengan fana, pandanglah bencana-bencana dunia, waspadalah permainan masa, hati-hatilah dengan perubahan hari, tampilkanlah kepadanya kisah-kisah orang terdahulu, ingatkanlah apa yang menimpa orang yang terdahulu, berjalanlah pada negeri-negeri dan peninggalan-peninggalan mereka, serta lihatlah apa yang mereka lakukan, dimana mereka berada dan karena apa mereka berubah.”‘ Yaitu, telitilah apa yang menimpa umat-umat yang mendustakan, berupa bencana dan kehancuran.”

Fatakuuna laHum quluubuy ya’qiluuna biHaa aw aadzaanuy yasma’uuna biHaa (“Lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?”) Yaitu, mereka dapat mengambil pelajaran dari semua itu.

Fa innaHaa laa ta’mal abshaaru walaakin ta’mal quluubul latii fish shuduur (“Karena sesungguhnya, bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada,”) yakni, kebutaan itu bukanlah kebutaan mata. Akan tetapi kebutaan itu hanyalah kebutaan mata hati, sekalipun daya penglihatannya cukup bagus, karena hal itu tidak dapat menembus pelajaran dan tidak dapat mengetahui apa yang tersimpan dalam sebuah berita. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh sebagian ahli syi’ir dalam makna ini. Yaitu Abu Muhammad `Abdullah bin Muhammad bin Hayyan al-Andalusi, yang wafat tahun 517:

Hai manusia yang mendengarkan seruan kecelakaan.
Telah memanggilmu dua tanda kematian; uban dan kerentaan.
Jika engkau tak mau mendengar peringatan, apa saja yang engkau lihat
dari kepalamu yang mempunyai dua sumber pemerhati, pendengaran dan penglihatan.
Tidak dikatakan buta dan tuli kecuali hanya pada manusia.
yang tak dapat menggunakan dua juru petunjuknya, mata dan pengalaman.
Tidak ada masa yang kekal, demikian juga dunia, falak yang tinggi
dan juga dua sumber cahaya, matahari dan bulan.
Pasti semuanya berlalu dari dunia walau tak disukai
tak mau berpisahnya kedua tempat, desa dan kota.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: