Arsip | 23.44

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 70

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 70“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauhul Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang kesempurnaan ilmu-Nya kepada para makhluk dan Dia Mahameliputi apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada seberat biji dzarrah pun yang tersembunyi dari-Nya, di bumi dan di langit, yang lebih kecil atau yang lebih besar dari itu semua. Dia Allah Ta’ala Mahamengetahui seluruh kejadian sebelum terwujud serta telah mencatatnya di dalam Kitab-Nya, Lauhul Mahfuzh. Sebagaimana yang tercantum di dalam Shahih Muslim, bahwa `Abdullah bin ‘Amr ra. berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menentukan berbagai ketentuan makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sedangkan ‘Arsy-Nya di atas air.”

Di dalam kitab-kitab sunan dari hadits yang diriwayatkan oleh jama’ah sahabat, bahwa Rasulullah bersabda: “Awal sesuatu yang diciptakan oleh Allah adalah al-Qalam. Dia berfirman: ‘Catatlah!’ Al-Qalam itu bertanya: `Apa yang harus aku catat?’ Allah berfirman: `Segala sesuatu yang terjadi.’ Maka, al-Qalam pun mencatat apa saja yang terjadi hingga hari Kiamat.”

Itulah yang difirmankan Allah kepada Nabi-Nya: alam ta’lam annallaaHa ya’lamu maa fis samaawaati wal ardli (“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?”) Ini merupakan kesempurnaan ilmu-Nya. Dia Mahamengetahui segala sesuatu sebelum diadakan, ditetapkan dan dicatat. Apa saja yang dilakukan oleh para hamba, sungguh telah diketahui oleh Allah sebelum hal itu (terjadi), menurut cara yang mereka lakukan. Dia Mahamengetahui sebelum tercipta bahwa yang ini taat dengan ikhtiarnya dan yang itu maksiat dengan ikhtiarnya, serta dicatatnya hal itu di sisi-Nya. Ilmu-Nya Mahameliputi terhadap segala sesuatu dan hal itu amat mudah dan ringan bagi-Nya. Untuk itu Allah Ta’alaberfirman: inna dzaalika fii kitaabin inna dzaalika ‘alallaaHi yasiir (“Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 67-69

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 67-69“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantahmu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (QS. 22:67) Dan jika mereka membantah maka katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.’ (QS. 22:68) Allah akan mengadili di antara kamu pada hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. (QS.22:69)” (al-Hajj: 67-69)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menjadikan mansak untuk setiap kaum. Ibnu Jarir berkata, yaitu bagi setiap kaum ada seorang Nabi yang mansak. Dia berkata: “Asal mansak dalam bahasa Arab adalah tempat perhentian dan bolak-baliknya manusia, baik untuk kebaikan maupun untuk keburukan.” Untuk itu, dinamakan manasik haji (terhadap hal itu) dikarenakan bolak-balik dan berdiamnya manusia di tempat itu.

Jika hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Jarir tentang maksud setiap umat memiliki Nabi yang dijadikan mansak, maka maksud firman-Nya, “Maka janganlah sekali-kali mereka membantahmu dalam urusan ini.” Yaitu, orang-orang musyrik, dan jika yang dimaksud ayat, “Tiap umat telah Kami tetapkan mansak,” maka artinya, Kami telah jadikan sebagai ketentuan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, wa likulli wijHatun Huwa muwalliiHaa (“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya [sendiri] yang ia menghadap kepadanya.”) (QS. Al-Baqarah: 148).

Untuk itu Allah berfirman di sini: Hum naasikuuHu (“Yang mereka kerjakan,”) yang mereka lakukan. Dhamir (kata ganti) di sini kembali kepada mereka yang memiliki manasik dan cara-cara tertentu. Yaitu mereka melakukan ini karena ketentuan Allah dan kehendak-Nya, maka janganlah engkau terpengaruh oleh bantahan mereka kepadamu serta hendaklah hal tersebut tidak memalingkanmu dari kebenaran yang engkau anut.

Untuk itu Dia berfirman: wad’u ilaa rabbika innaka la-‘alaa Hudam mustaqiim (“Dan serulah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus,”) yaitu jalan yang jelas lagi lurus dan menyampaikan kepada tujuan.
Firman-Nya: wa in jaadaluuka faqulillaaHu a’lamu bimaa ta’maluun (“Dan Jika mereka membantahmu, maka katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan,’”) sebuah peringatan yang sangat tegas dan ancaman yang sangat.

Untuk itu Dia berfirman: allaaHu yahkumu bainakum yaumal qiyaamati fiimaa kuntum fiiHi takhtalifuun (“Allah akan mengadili di antara kamu pada hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya.”)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 63-66

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 63-66“Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahamengetahui. (QS. 22:63) Kepunyaan Allah-lah segala yang ada dilangit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya lagi Mahaterpuji. (QS. 22:64) Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengasih lagi Mahapenyayang kepada manusia. (QS. 22:65) Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (lagi), sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat. (QS. 22:66)” (al-Hajj: 63-66)

Ayat ini pun merupakan petunjuk tentang ketetapan dan keagungan kekuasaan-Nya. Dia mengirim angin yang menggiring awan, lalu turunlah hujan di atas tanah gersang yang tidak ada tumbuhan di atasnya, yaitu tanah kering dan hitam legam. Fa idzaa anzalnaa ‘alaiHal maa-aH tazzat wa rabat (“Kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah.”) (QS. Al-Hajj: 5).
Dan firman-Nya: fatush-bihul ardlu mukh-dlarratan (“Lalu jadilah bumi itu hijau.”)

Huruf fa (maka) dalam ayat ini untuk ta’gib (penjelasan setelahnya). Ta’qib adalah suatu akibat dari sebelumnya, sebagaimana Allah berfirman: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.” (QS.Al-Mu’minuun: 14).

Telah dinyatakan di dalam ash-Shahihain, bahwasanya antara dua hal itu adalah 40 hari. Karenanya, Dia mengiringinya dengan fa. Demikianlah, di sini Allah berfirman: fatush-bihul ardlu mukh-dlarratan (“Lalu jadilah bumi itu hijau.”) setelah kering dan gersang. Sesungguhnya diceritakan dari sebagian penduduk Hijaz, bahwa jadilah bumi itu hijau setelah turunnya hujan. Wallahu a’am.

Firman-Nya: innallaaHa lathiifun khabiir (“Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha-mengetahul,”) yaitu Mahamengetahui apa saja yang ada di permukaan, sudut dan bagian bumi; berupa biji, walaupun kecil, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Firman-Nya: laHuu maa fis samaawaati wamaa fil ardli (“Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di bumi dan segala yang ada di langit,”) yaitu milik-Nyalah segala sesuatu dan Dia tidak butuh kepada selain-Nya. Sedangkan segala sesuatu adalah abdi-Nya serta amat butuh kepada-Nya.

Firman-Nya: alam tara annallaaHa sakh-khara lakum maa fil ardli (“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi,”) yaitu berupa hewan-hewan, benda-benda padat; tanam-tanaman dan buah-buahan sebagaimana firman-Nya: “Dan Dia telah menundukkan lautan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari pada-Nya,” (QS. Al jaatsiyah: 13) , Yakni berupa kebaikan, kelebihan dan anugerah-Nya,
Wal fulka tajrii fil bahri bi-amriHi (“Dan bahtera yang berlayar di laut dengan perintah-Nya,”) yaitu dengan aturan dan kemudahan-Nya. Yakni, di lautan yang luas dan getaran ombak, bahtera itu berlayar dengan para penumpangnya dengan angin yang baik dan tenang. Mereka membawa di dalamnya apa yang mereka kehendaki berupa barang-barang dagangan, benda-benda dan jasa dari satu kota ke kota lain dan dari satu benua benua yang lain. Mereka membawa apa yang mereka miliki kepada yang lain serta membawa hasil yang mereka peroleh dari yang lain pula, sesuatu yang mereka butuhkan, mereka cari dan mereka inginkan.

Wa yumsikus samaa-a an taqa’a ‘alal ardli illaa bi-idz-niHi (“Dan Dia menahan benda-benda langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya,”) seandainya Dia mau, niscaya Dia mengizinkan langit untuk jatuh ke bumi, sehingga membinasakan penghuninya. Akan tetapi, karena kelembutan, rahmat dan ketetapan-Nya, Dia menahan langit untuk tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya. Untuk itu Dia berfirman: innallaaHa bin naasi lara-uufur rahiim (“Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengasih lagi Mahapenyayang kepada manusia,”) yaitu, di samping kedhaliman mereka.

Wa Huwal ladzii ahyaakum (“Dan Dia-lah Allah yang telah menghidupkanmu,”) yaitu menciptakan kalian dan sebelumnya kalian tidak ada. Tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum (“Kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu lagi,”) yaitu pada hari Kiamat.

Innal insaana lakafuur (“Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat,”) yaitu membangkang.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 61-62

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 61-62“Yang demikian itu adalah, karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat. (QS. 22:61) (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Rabb) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Maha-besar. (QS. 22:62)” (al-Hajj: 61-62)

Allah Ta’ala berfirman, menyadarkan bahwa Dia adalah Mahapencipta yang mengatur makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya. Makna `ilajnya malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam adalah masuknya malam ke dalam siang dan masuknya siang ke dalam malam. Terkadang, malam lebih panjang dan siang lebih pendek seperti di musim dingin, serta siang lebih panjang dan malam lebih pendek seperti di musim panas.

Firman-Nya: wa annallaaHa samii’um bashiir (“Dan bahwasanya Allah Maha-mendengar lagi Mahamelihat,”) yaitu Mahamendengar perkataan-perkataan hamba-Nya serta Mahamelihat mereka. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya dalam kondisi, gerakan dan diamnya mereka.

Tatkala sudah jelas bahwa Dia yang Mahamengatur wujud ini lagi Mahabijaksana yang tidak ada yang mampu menandingi kebijaksanaan-Nya, Dia berfirman: dzaalika bi-annallaaHa Huwal haqqu (“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Rabb yang haq,”) yaitu Ilaahul haqq yang tidak ada peribadatan yang layak kecuali hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah pemilik kekuasaan yangagung, apa saja yang dikehendaki-Nya pasti ada, dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya niscaya tidak akan ada. Sedangkan seluruhnya amat butuh dan berserah diri kepada-Nya.

Wa anna maa yad’uuna min duuniHii Huwal baathilu (“Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil,”) yaitu berupa patung-patung, tandingan-tandingan dan berhala-berhala. Segala sesuatu yang disembah selain Allah, itulah yang bathil. Karena hal itu tidak memiliki mudharat dan manfaat.

Firman-Nya: wa annallaaHa Huwa ‘aliyyul kabiir (“Dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”) Maka, segala sesuatu berada di bawah kekuasaan, kerajaan dan keagungan-Nya. Tidak ada Ilah (yang berhak di-ibadahi dengan benar) kecuali Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 58-60

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 58-60“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yangbaik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki.(QS. 22:58) Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha-mengetahui lagi Mahapenyantun. (QS. 22:59) Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapemaaf lagi Mahapengampun. (QS. 22:60)” (al-Hajj: 58-60)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang yang keluar untuk berhijrah di jalan-Nya dalam rangka mencari keridhaan Allah dan mencari balasan disisi-Nya, meninggalkan tanah air, keluarga dan rekan-rekan, serta meninggalkan negerinya karena Allah, Rasul-Nya dan menolong agama-Nya. Kemudian mereka terbunuh di dalam jihad atau mereka wafat di pembaringan, bukan terjun ke dalam peperangan, maka mereka meraih pahala besar dan pujian indah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” (QS. An-Nisaa’: 100).

Firman-Nya: layarzuqanna HumullaaHu rizqan hasanan (“Benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik,”) yaitu sesungguhnya Dia akan membalas mereka dengan rahmat dan rizki-Nya di dalam surga, sesuatu yang menyejukan mata-mata mereka. Wa innalaaHa laHuwa khairur raaziqiina. Layud-khilannaHum mud-khalay yardlaunaHu (“Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rizky. Sesungguhnya Allah memasukkan mereka ke dalam suatu tempat yang mereka menyukainya,”) yaitu surga.

Kemudian Dia berfirman: wa innallaaHa la-‘ilmun (“Dan sesungguhnya Allah Mahamengetahui,”) orang yang betul-betul berhijrah dan berjihad di jalan-Nya serta orang yang berhak melakukan itu.
Haliimun (“Lagi Mahapenyantun,”) yaitu menyantuni, memaafkan dan mengampuni dosa-dosa mereka serta menghapuskannya dengan hijrah dan tawakkal mereka kepada-Nya. Sedangkan orang yang mati terbunuh di jalan Allah di antara orang yang hijrah dan orang yang tidak berhijrah, maka sesungguhnya dia akan hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rizki, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali `Imran: 169).

Hadits-hadits dalam masalah ini cukup banyak, sebagaimana telah lalu. Sedangkan orang yang wafat di jalan Allah di antara orang yang berhijrah dan orang yang bukan berhijrah, maka ayat-ayat yang mulia dan hadits-hadits shahih mengandung pemberian rizki dan besarnya kebaikan Allah kepadanya.

Firman-Nya: dzaalika wa man ‘aaqaba bimits-li maa’uuqiba biHi tsumma bughiya ‘alaiHi layanshuran-naHullaaHu innallaaHa la’afuwwun ghafuur (“Demikianlah dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah derita kemudian dia dianiaya [lagi], pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapemaaf lagi Mahapengampun.”)

Muqatil bin Hayyandan Ibnu Jarir menyebutkan bahwa ayat ini turun tentang pasukan perang Sahabat yang bertemu dengan sekelompok pasukan kaum musyrikin di Muharram. Lalu kaum muslimin menyerukan mereka (orang-orang musyrik) agar tidak memerangi mereka di bulan haram. Akan tetapi orang-orang musyrik menolak seruan itu dan mereka tetap memeranginya, serta berbuat dhalim. Maka kaum muslimin memerangi mereka dan Allah pun menolong mereka.

innallaaHa la-‘afuwwun ghafuur (“Sesungguhnya Allah Mahapemaaf lagi Ma”apengampun”)

bersambung