Arsip | 16.31

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 77-78

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 77-78“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. 22:77) Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilihmu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu Pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. 22:78)” (al-Hajj: 77-78)

Para imam rahimahumullah berbeda pendapat tentang ayat sujud yang kedua dalam surat al-Hajj ini, apakah disyari’atkan sujud atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Firman-Nya: wa jaaHiduu fillaaHi haqqa jiHaadiHi (“Dan beijihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya,”) yaitu dengan harta, lisan dan jiwa-jiwa kalian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Firman-Nya: Huwajtabaakum (“Dia telah memilihmu,”) yaitu, wahai umat ini! Allah telah memisahkan dan memilih kalian atas seluruh umat serta mengutamakan, memuliakan dan mengistimewakan kalian dengan Rasul-Nya yang termulia dan syari’at-Nya yang amat sempurna. Wa maa ja’ala ‘alaikum fid diini min haraj (“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,”) yaitu, Dia tidak membebani kalian dengan sesuatu yang kalian tidak mampu, serta tidak mengharuskan kalian dengan sesuatu yang memberatkan kalian, kecuali Dia menjadikan untuk kalian kelapangan dan jalan keluar. Shalat yangmerupakan rukun Islam yang paling besar setelah dua kalimat syahadat, diwajibkan dalam keadaan hadir empat raka’at dan di dalam keadaan safar dengan diqashar menjadi dua raka’at. Di waktu rasa takut (perang), sebagian imam melakukan shalat satu raka’at, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits.

Dia pun dapat shalat dalam (keadaan) berjalan dan berkendaraan (berkuda), menghadap kiblat atau tidak menghadap kiblat. Demikian pula dalam shalatsunnah di waktu safar, dia dapat menghadap kiblat atau tidak menghadapnya. Berdiri di dalam shalat dapat gugur karena udzur penyakit, di mana orang yang sakit dapat melakukan shalat dalam keadaan duduk, jika tidak mampu dia dapat melakukannya dengan berbaring di atas lambung kanannya serta rukhshah dan keringanan lain dalam seluruh fardhu dan kewajiban. Untuk itu Nabi bersabda: “Aku diutus dengan agama yang hanif dan kasih. Hadits-hadits dalam masalah ini cukup banyak.

Ibnu `Abbas berkata tentang firman-Nya: Wa maa ja’ala ‘alaikum fid diini min haraj (“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,”) yaitu suatu kesempitan.” Firman-Nya: millata abiikum ibraaHiim (“[Ikutilah] agama orang tuamu, Ibrahim.”) Ibnu Jarir berkata: “Dibaca nashab dengan takdir,” Dan Dia sekali-kali lak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,” yang berarti kesulitan, bahkan Dia memberikan keluasan bagi kalian seperti agama bapak kalian, Ibrahim as. Ibnu Jarir pun berkata: “Boleh jadi pula dibaca manshub atas takdir, ikutilah agama bapak kalian, Ibrahim.” (Aku berkata) Makna yang terkandung di dalam ayat ini seperti firman-Nya: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus.” dan ayat seterusnya. (QS. Al-An’ aam: 161).

Firman-Nya: Huwa sammaakumul muslimiina min qablu (“Dia telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu.”) Dalam masalah ini, Imam `Abdullah Ibnul Mubarak berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya ini, yaitu Allah. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, `Atha’, adh-Dhahhak, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan dan Qatadah. Mujahid berkata: “Allah telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu dalam kitab-kitab terdahulu dan di dalam adz-Dzikr.”

Wa fii Haadzaa (“Dan begitu pula dalam [al-Qur’an] ini,”) yaitu al-Qur’an, demikian yang dikatakan oleh yang lainnya. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: liyakuunar rasuulu syaHiidan ‘alaikum wa takuunu syuHadaa-a ‘alan naasi (“Agar Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu menjadi saksi atas segenap manusia,”) yaitu Kami menjadikan kalian seperti itu sebagai umat yang wasath (pertengahan), adil, terpilih dan menjadi saksi bagi seluruh umat dengan keadilan kalian agar pada hari Kiamat, kalian menjadi: syuHadaa-a ‘alan naasi (“saksi bagi seluruh manusia”) Karena pada waktu itu, seluruh umat mengakui kepemimpinan dan keutamaan mereka dibandingkan dengan umat yang lain. Untuk itu, persaksian mereka diterima pada hari Kiamat, yaitu tentang kenyataan bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah Rabb mereka. Rasul (Muhammad saw) pun menjadi saksi atas umat ini bahwa dia telah menyampaikannya kepada mereka. Masalah ini telah dibahas terdahulu pada firman-Nya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikanmu umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas diri-mu, ” (QS. Al-Baqarah: 143).

Firman-Nya: fa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata (“Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat,”) yaitu terimalah oleh kalian nikmat yang besar ini dengan mensyukurinya secara benar, maka tunaikanlah hak Allah oleh kalian dengan melaksanakan apa saja yang difardhukan, mentaati apa saja yang diwajibkan dan meninggalkan apa saja yang diharamkan. Di antara hal tersebut yang paling penting adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat, yaitu berbuat baik kepada sesama makhluk Allah dengan sesuatu yang diwajibkan kepada orang kaya untuk orang yang fakir dengan mengeluarkan satu bagian hartanya dalam satu tahun untuk orang-orang yang lemah dan orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana telah dijelaskan dan dirinci dalam pembahasan yang lalu dalam ayat zakat di surat at-Taubah.

Dan firman-Nya: wa’tashimuu billaaHi (“Dan berpeganglah kamu pada tali Allah,”) yaitu berpegang teguh kepada Allah, minta tolonglah, bertawakkal dan mintalah dukungan kepada-Nya. Huwa maulaakum (“Dia adalah pelindungmu,”) yaitu pemelihara, penolong dan pemberi kemenangan bagi kalian dari musuh-musuh kalian. Fani’mal maulaa wa ni’mal wakiil (“Maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong,”) yaitu sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dari musuh-musuh kalian. Wallahu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 75-76

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 75-76“Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari Malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat. (QS. 22:75) Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan. (QS. 22:76)” (al-Hajj: 75-76)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia memilih beberapa utusan diantara para Malaikat untuk menyampaikan apa saja yang dikehendaki-Nya berupa syari’at dan ketentuan-Nya, serta memilih beberapa utusan di antara manusia untuk menyampaikan risalah-Nya. innallaaHa samii’um bashiir (“Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat,”) yaitu Mahamendengar seluruh perkataan hamba-hamba-Nya serta Mahamelihat mereka lagi Mahamengetahui siapa di antara mereka yang berhak menerima hal tersebut. Sebagaimana Dia berfiman: allaaHu a’lamu haitsu yaj’alu risaalataHu (“Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.”) (QS. Al-An’aam: 124).

Firman-Nya: ya’lamu maa baina aidiiHim wa maa khalfaHum wa ilallaaHi turja’ul umuur (“Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.”) Yaitu Mahamengetahui apa yang dilakukan oleh para Rasul-Nya tentang risalah yang mereka emban. Tidak ada sesuatu pun perkara yang tersembunyi. Karena Dia Mahamengawasi mereka serta menyaksikan apa yang dikatakan mereka serta menolong dan memelihara mereka.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maa-idah: 67)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 73-74

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 73-74“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS. 22:73) Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. 22:74)” (al-Hajj: 73-74)

Allah Ta’ala berfirman memperingatkan tentang rendahnya berhala-berhala dan kebodohan akal para penyembahnya. yaa ayyuHan naasu dluriba matsalun (“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan,”) tentang apa yang disembah oleh orang-orang yang jahil kepada Allah lagi menyekutukan-Nya. Fastaimi’uulaHu (“Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu”) yaitu dengar dan fahamilah oleh kalian.

Innal ladziina yad’uuna min duunillaaHi lay yakhluquu dzubaabaw wa lawij-tama’uu laHu (“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya,”) yaitu jikalau seluruh berhala dan tandingan yang kalian sembah itu bersatu untuk menciptakan seekor lalat pun, niscaya mereka tidak akan sanggup.

Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’: “Siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang menciptakan sesuatu seperti ciptaan-Ku. Maka, hendaklah dia menciptakan dzarrah, lalat atau biji seperti ciptaan-Ku.” (Ditakhrij oleh penyusun dua kitab shahih).

Kemudian, Allah Ta’ala berfirman pula: wa iy yaslub-Humudz dzubaabu syai-al laa yastanqidzuuHu minHu (“Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu,”) yaitu mereka amat lemah untuk menciptakan seekor lalat pun, bahkan yang lebih sangat lemah lagi dari itu, mereka lemah untuk menantangnya dan menolong diri darinya seandainya lalat itu merampas sesuatu dari wewangian yang ada di atasnya, kemudian dia ingin menyelamatkannya, niscaya dia tidak akan sanggup. Padahal lalat itu makhluk Aah yang paling lemah dan paling rendah.

Untuk itu Allah berfirman: dla’ufath-thaalibu wal math-luubu (“Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pulalah yang disembah.”) Ibnu `Abbas berkata: “ath-thaalibu” adalah patung dan “al-math-luubu” adalah lalat.” Inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir dan itu adalah rangkaian kalimat yang paling jelas. As-Suddi dan selainnya berkata: “ath-thaalibu” adalah yang menyembah dan “al-math-libu” adalah berhala.”

Kemudian Diaberfirman: maa qadarullaaHa haqqa qadriHi (“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya,”) yaitu mereka tidak mengenal kedudukan dan keagungan Allah disaat mereka menyembah selain-Nya yang tidak mampu melawan seekor lalatpun karena kelemahannya.
innallaaHa laqawiyyun ‘aziiz (“Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa,”) yaitu Dia Mahakuat di mana dengan ketetapan dan kekuatan-Nya, Dia telah menciptakan segala sesuatu.

Firman-Nya: ‘aziiz (“Mahaperkasa,”) yaitu Dia perkasa atas segala sesuatu, menundukkan dan mengalahkannya. Tidak ada yang mencegah dan mengalahkan-Nya karena keagungan dan kekuasaan-Nya, Dialah yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 71-72

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 71-72“Dan mereka beribadah kepada selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang dhalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun. (QS. 22:71) Dan apabila dibacakan dihadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami dihadapan mereka. Katakanlah: ‘Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?’ Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 22:72)” (al-Hajj: 71-72)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan orang-orang musyrik tentang kebodohan, kekafiran dan sikap mereka yang beribadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak diturunkan sulthan tentangnya, yaitu hujjah dan bukti. Untuk itu Dia berfirman: maa lam yunazzil biHii sulthaanaw wa maa laisa laHum biHii ‘ilmun (“Apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya,”) yaitu apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya tentang apa yang mereka buat dan dustakan. Semua itu hanyalah perkara yang mereka terima dari orang tua dan nenek moyang mereka tanpa dalil dan hujjah, dan asalnya adalah dari tipu daya syaitan dan sesuatu yang dihiasinya.

Untuk itu, Allah Ta’ala mengancam mereka dengan firman-Nya: wa maa lidh-dhaalimiina min anshaar (“Dan bagi orang-orang yang dhalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun,”) yaitu seorang penolong yang menolong mereka dari Allah yang menimpakan adzab dan hukuman, yang mereka derita. Kemudian Dia berfirman: wa idzaa tutlaa ‘alaiHim aayaatinaa bayyinaatin (“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang,”) yaitu apabila disebutkan kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an, dalil-dalil dan bukti-bukti yang jelas tentang keesaan Allah dan sesungguhnya tidak ada Ilah (yang haq) kecuali Dia serta seluruh Rasul-Nya yang mulia adalah benar dan jujur.

Yakaaduuna yasthuuna bil-ladziina yat-luuna ‘alaiHim aayaatinaa (“Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat kami di hadapan mereka,”) yaitu, hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang berhujjah dengan dalil-dalil yang shahih dari al-Qur’an serta berusaha menyerang mereka dengan kejahatan melalui tangan dan lisan mereka.

Qul (“Katakanlah,”) hai Muhammad kepada mereka: afa unab-bi-ukum bisyarrim min dzaalikumun naara wa ‘adaHallaaHul ladziina kafaruu (“Apakah mau aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk dari pada itu, yaitu neraka? Allah telah mengancamkannya kepada Qrang-orang yang kafir,”) yaitu adzab dan siksa neraka lebih dahsyat, lebih berat, lebih keras dan lebih besar dari apa yang kalian ancamkan kepada para wali Allah di dunia.

Firman-Nya: wa bi’sal mashiir (“Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali,”) yakni neraka itu seburuk-buruk tempat tinggal, tempat singgah, tempat kembali, dan tempat berdiam. “Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqaan: 66).

Bersambung