Arsip | 23.01

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 26-30

18 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 26-30“Nub berdo’a: ‘Ya Rabbku, tolonglah aku, karena mereka mendustakanku.’ (QS. 23:26) Lalu Kami wahyukan kepadanya: ‘Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa adzab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang dhalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. 23:27) Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang dhalim.’ (QS. 23:28) Dan berdo’alah: ‘Ya Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat.’ (QS. 23:29) Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan sesungguhnya Kami menimpakan adzab (kepada kaum Nub itu). (QS. 23:30)” (al-Mu’minuun: 26-30)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang Nuh as, di mana dia pernah memanjatkan do’a kepada Rabbnya agar Dia memberikan pertolongan kepadanya dalam menghadapi kaumnya: rabbin shurnii bimaa kadz-dzabuun (“Ya Rabbku, tolonglah aku karena mereka telah mendustakan aku.”) pada saat itu Allah memerintahkannya untuk membuat perahu besar, mengatur dan menekuninya. Dia diperintahkan agar mengangkut setiap pasangan; laki-laki dan perempuan, dari setiap jenis hewan, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan lain-lainnya, serta mengangkut juga keluarganya; illaa man sabaqa ‘alaiHil qaulu minHum (“Kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan [akan ditimpa adzab] di antara mereka.”) Maksudnya, sudah mendapat ketetapan lebih awal dari Allah Ta’ala, berupa kebinasaan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman kepadanya dari kalangan keluarganya sendiri, seperti puteranya dan juga isterinya sendiri. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: walaa tukhaathibnii fil ladziina dhalamuu innaHum mugh-raquun (“Dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang dhalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”) Yakni, pada saat diturunkannya hujan lebat, dan janganlah kamu sekali-kali menaruh iba dan kasihan terhadap kaummu dan ingin memberi tangguh kepada mereka agar mereka beriman, karenasesungguhnya Aku telah menetapkan bahwa mereka akan ditenggelamkan disebabkan oleh kekufuran dan kesewenangan mereka. Dan kisah ini telah disampaikan pada pembahasan surat Huud.

Firman Allah Ta’ala: fa idzas tawaita anta wa mam ma’aka ‘alal fulki faqulil hamdu lillaaHil ladzii najjaanaa minal qaumidh-dhaalimiin (“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zhalim.’”) Nabi Nuh as. telah melakukan hal tersebut. Sebagaimana
yang difirmankan Allah Ta’ala: “Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu semua ke dalamnya dengan menyebut nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya.’”) (QS. Huud: 41). Maka Nuh as. pun menyebut nama Allah pada saat memulai perjalanan dan pada waktu mengakhirinya.

Firman Allah Ta’ala: wa qur rabbi anzilnii munzalam mubaarakaw wa anta khairul munziliin (“Dan berdo’alah: ‘Ya Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat.’”)
Dan firman-Nya: inna fii dzaalika la-aayaatin (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan],”) artinya, sesungguhnya pada tindakan tersebut, yakni penyelematan orang-orang yang beriman dan pembinasaan orang-orang kafir, merupakan tanda-tanda atau hujjah-hujjah sekaligus bukti-bukti yang nyata atas kebenaran para Nabi dalam mengemban apa yang mereka bawa dari Allah Ta’ala. Dan sesungguhnyaAllah Ta’ala akan berbuat apa saja yang Dia kehendaki, Mahakuasa atas segala sesuatu dan Mahamengetahui terhadap segala hal.

Firman-Nya: wa in kunnaa lamubtaliin (“Dan sesungguhnya Kami menimpakan adzab [kepada kaum Nuh itu].”) Maksudnya, Kami akan menguji hamba-hamba-Ku melalui pengutusan para Rasul.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 23-25

18 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 23-25“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: ‘Hai kaumku, ibadahi-lah olehmu Allah, (karena) sekali-kali tidakada Ilah (yang berhak diibadahi) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ (QS. 23:23) Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia sepertimu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi darimu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa Malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. (QS. 23:24) la tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu.’” (QS. 23:25) (al-Mu’minuun: 23-25)

Faqaala yaa qaumi’ budullaaHa maa lakum min ilaaHin ghairuHuu afalaa tattaquun (“Lalu dia berkata: `Hai kaumku, ibadahilah olehmu Allah, [karena] sekali-kali tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]?’”‘) Maksudnya, apakah kalian tidak merasa takut kepada Allah dengan tindakan kalian menyekutukan-Nya?

Kemudian para pemuka dan pembesar di antara mereka berkata: maa Haadzaa illaa basyarum mitslukum yuriidu ay yatafadl-dlala ‘alaikum (“Orang ini tidak lain hanyalah manusia sepertimu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi darimu.”) Mereka mengartikan, bahwa dia lebih tinggi dari kalian serta lebih agung dengan pengakuan kenabian, padahal dia hanyalah manusia biasa seperti kalian, lalu bagaimana Allah telah memberikan wahyu kepadanya sedangkan tidak kepada kalian?

Wa lau syaa-allaaHu la-anzala malaa-ikatan (“Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa Malaikat.”) Maksudnya, jika Dia hendak mengutus seorang Nabi, niscaya Dia akan mengutus satu Malaikat dari sisi-Nya, bukan seorang manusia. Dan kita tidak pernah mendengar hal seperti itu, yakni tentang pengutusan seorang manusia pada nenek moyang kami yang pertama. Yang mereka maksudkan adalah para pendahulu dan nenek moyang mereka pada masa-masa yang telah lalu.

Firman-Nya: in Huwa illaa rajulum biHii jinnatun (“Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila,”) yakni, gila atas apa yang diakuinya, bahwa Allah telah mengutusnya kepada kalian dan hanya mengkhususkan pemberian wahyu kepadanya saja di antara kalian.

Fatarab-bashuu biHii hattaa hiin (“Maka tunggulah [sabarlah] terhadapnya sampai suatu waktu.”) Maksudnya, tunggulah dan bersabarlah atasnya sejenak, sehingga kalian merasa tenang darinya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 18-22

18 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 18-22“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lain Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. (QS. 23:18) Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan, (QS. 23:19) dan pohon kayu ke luar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan menjadi kuah bagi orang-orang yang makan. (QS. 23:20) Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagimu, Kami memberimu minum dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan, (QS. 23:21) dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut. (QS. 23:22)” (al-Mu’minuun: 18-22)

Allah Ta’ala menyebutkan berbagai macam nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada hamba-Nya yang tiada terhingga jumlahnya dan tidak juga dapat dihitung tetesan air yang diturunkan dari langit; biqadarin (“Menurut suatu ukuran.”) Yakni, sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan yang hanya akan merusak bumi dan pembangunan, dan tidak juga terlalu sedikit sehingga tidak cukup untuk mengairi tanaman dan buah-buahan, tetapi sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Firman-Nya: fa askannaaHu fil ardli (“Lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi,”) yakni, Kami tempatkan air itu tetap di bumi jika turun dari awan, dan Kami jadikan apa yang di bumi tersebut mau menerimanya, meminum dan memakannya, baik itu berupa biji-bijian maupun benih.

Firman-Nya: fa innaa ‘alaa dzaHabim biHii laqaadiruun (“Dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.”) Maksudnya, jika Kami menghendaki untuk menurunkan hujan, niscaya Kami pasti akan menurunkannya. Dan jika Kami menghendaki untuk tidak menurunkannya kepada kalian pasti Kami akan melakukannya. Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami akan menjadikannya [jika turun] akan banjir setinggi yang kalian tidak sampai kepadanya dan kalian pun tidak dapat mengambil manfaat darinya, niscaya Kami dapat melakukannya. Tetapi berkat kelembutan dan rahmat-Nya, Dia menurunkan kepada kalian air dari awan yang jernih lagi tawar, lalu menetap di bumi dengan mengaliri sumber-sumber air yang terdapat di bumi, sehingga air-air itu membuka banyak mata air dan sungai. Alhamdulillah.

Firman Allah Ta’ala: fa ansya’naa lakum biHii jannaatim min nakhliw wa a’naab (“Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur.”) Yakni Kami keluarkan bagi kalian melalui apa yang Kami turunkan dari langit, aneka macam kebun dan taman. Firman-Nya, min nakhliw wa a’naab (“Kebun-kebun kurma dan anggur,”) maksudnya, di dalamnya terdapat pohon kurma dan anggur.

Firman-Nya: lakum fiiHaa fawaakiHu katsiiratun (“Di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak,”) yakni, dari seluruh macam buah-buahan. Firman-Nya: wa minHaa ta’kuluun (“Dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan.”) Seakan-akan diperikutkan pada sesuatu yang telah ditetapkan, yang kira-kira bermakna: “Kalian melihat kepada keindahan dan kematangannya, dan ada di antara buah-buahan itu yang kalian makan.”

Firman-Nya lebih Ianjut: wa syajaratan takhruju min thuuri syai-naa-a (“Dan pohon kayu ke luar dari Thursina,”) yakni pohon zaitun. Thur adalah nama gunung. Sebagian mereka mengatakan: “Disebut Thur karena di dalamnya terdapat pohon. Jika tidak terdapat pepohonan sama sekali, maka tempat itu disebut Jabal, bukan Thur, wallahu a’lam.
Thursina adalah Thursinin yang ia adalah gunung, tempat dimana Allah berfirman langsung kepada Musa bin `Imran as. dan gunung-gunung yang ada di sekitarnya, yang di dalamnya terdapat pohon zaitun.”

Firman-Nya: tanbutu bid-duHni (“Yang menghasilkan minyak.”) Sebagian mereka mengatakan: “Huruf ba’ merupakan tambahan yang perkiraan artinya sebagai berikut: `Yang mengeluarkan minyak.’ Oleh karena itu, Dia berfirman: wa shibghin (“Dan menjadi kuah,”) yakni lauk pauk. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah. Lil aakiliin (“Bagi orang-orang yang makan,”) yakni, di dalamnya terdapat sesuatu yang dapat dimanfaatkan, baik itu berupa minyak maupun lauk pauk.

Firman-Nya: wa inna lakum fil an’aami la’ibratan nusqiikum mimmaa fii buthuuniHaa falakum fiiHaa manaafi’u katsiiratuw wa minHaa ta’kuluuna wa ‘alaiHaa wa ‘alal fulki tuhmaluun (“Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagimu, Kami memberimu minum dari air susu yang ada dalam perutnya, dan [juga] pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untukmu, dan sebagian darinya kamu makan, dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan [juga] di atas perahu-perahu kamu diangkut.”)

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa apa yang telah Dia ciptakan bagi makhluk-Nya pada binatang ternak terdapat berbagai manfaat, di mana mereka dapat meminum dari susu-susunya yang keluar dari saluran antara tempat kotoran dan saluran darah, mereka memakan dagingnya, membuat pakaian dari kulit dan juga bulu-bulunya, dan mereka juga menaiki punggung binatang-binatang tersebut, bahkan mereka juga membebani binatang-binatang itu dengan berbagai beban berat menuju ke negara yang jauh.

Bersambung

Nama-nama penyakit tubuh dalam Bahasa Arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

nama-nama penyakit tubuh dalam bahasa arab

Nama-nama musim dalam Bahasa Arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

nama-nama musim dalam bahasa arab

 

&

Nama-nama bagian tubuh manusia dalam Bahasa Arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

nama-nama bagian tubuh manusia dalam bahasa arab

Istilah Waktu dalam Bahasa Arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

istilah waktu dalam bahasa arab

Istilah Keluarga dalam Bahasa Arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

istilah keluarga dalam bahasa arab

Contoh preposisi dan adverbia dalam hiwar bahasa arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

contoh preposisi dan adverbia dalam hiwar bahasa arab1 contoh preposisi dan adverbia dalam hiwar bahasa arab2

Contoh Nama-nama Bulan Kalender dalam Bahasa Arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

contoh nama-nama bulan dalam bahasa arab