Arsip | 20.50

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 57-61

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 57-61“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka, (QS. 23:57) dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, (QS. 23:58) dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apa pun), (QS. 23:59) dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, (QS. 23:60) mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS.23:61)” (al-Mu’minuun: 57-61)

Allah Ta’ala berfirman: innal ladziinaHum min khasy-yati rabbiHim musy-fiquun (“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka.”) Maksudnya, dengan kebaikan, keimanan, dan amal shalih mereka, mereka takut kepada Allah Ta’ala dan merasa khawatir akan kebencian-Nya terhadap mereka. Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri: “Sesungguhnya orang mukmin mengumpulkan kebaikan dan rasa khawatir, sedangkan orang munafik mengumpulkan keburukan dan rasa aman.”

Wal ladziina Hum bi-aayaati rabbiHim yu’minuun (“Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka.”) Yakni, mereka beriman kepada ayat-ayat kauniyyah dan syar’iyyah. Yang demikian itu sama seperti firman-Nya dalam menceritakan tentang Maryam: “Dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”(QS. At-Tahriim: 12). Maksudnya, dia meyakini bahwa apa yang telah terjadi merupakan takdir dan ketetapan Allah. Apa yang disyari’at-kan, jika itu berupa perintah, maka ia termasuk yang disukai dan diridhai-Nya.Jika berupa larangan, maka ia termasuk yang dibenci dan ditolak-Nya. Dan jika baik, maka yang demikian itu merupakan suatu yang haq.

Sebagaimana yang difirmankan Allah’Ta’ala: wal ladziina Hum birabbiHim laa yusy-rikuun (“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apa pun). ” Yakni, mereka tidak beribadah kepada yang lain bersama-Nya, tetapi mereka meng-esakan-Nya seraya mengetahui bahwasanya tidak ada Rabb selain Allah, yang Mahaesa lagi menjadi tempat bergantung. Dia tidak mengambil isteri dantidak juga mempunyai anak. Dan bahwasanya tidak ada tandingan bagi-Nya serta tidak ada pula yang setara dengan-Nya.

Firman-Nya: wal ladziina yu’tuuna maa aatau wa quluubuHum wajilatun annaHum ilaa rabbiHim raaji’uun (“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, [karena mereka tahu babwa] sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”) Maksudnya, mereka memberikan suatu pemberian, sedang mereka merasa takut lagi penuh kekhawatiran kalau pemberian itu tidak diterima, karena mereka takut (akan) kekurangan dalam memenuhi berbagai persraratan. Yang demikian itu termasuk bab kekhawatiran dan kehati-hatian.
Ulaaika yusaari’uuna fil khairaati wa Hum laHaa saabiquun (“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”)

Dengan demikian, Dia telah menjadikan mereka termasuk orang-orang yang segera memperolehnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 51-56

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 51-56“Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 23:51) Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (QS. 23:52) Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (QS. 23:53) Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. (QS. 23:54) Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), (QS.23:55) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. 23:56)” (al-Mu’minuun: 51-56)

Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang diutus sebagai Rasul untuk memakan makanan yang halal dan mengerjakan amal shalih. Dan hal itu menunjukkan bahwa makanan yang halal itu bisa membantu untuk mengerjakan amal shalih. Kemudian para Nabi pun melaksanakan perintah tersebut dengan sebaik-baiknya dan menggabungkan setiap kebaikan; baik berupa ucapan, perbuatan, petunjuk, maupun nasihat. Mudah-mudahan Allah membalas mereka dengan kebaikan. Sa’id bin Jubair dan adh-Dhahhak mengemukakan: kuluu minath thayyibaati (“Makanlah dari makanan yang baik-baik,”) yakni, yang halal. Dan dalam haditsh disebutkan: “Tidak ada seorang Nabi pun melainkan menggembalakan kambing.” Sahabat bertanya: “Termasuk juga engkau, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, dan aku juga menggembalakan kambing dengan upah beberapa dinar milik penduduk Makkah.”

Dalam hadits shahih juga disebutkan: “Sesungguhnya Dawud as. makan dari hasil jerih payah tangannya sendiri.”

Dalam Shahih Muslim dan Jaami’ at-Tirmidzi serta Musnad Imam Ahmad, dan lafazh ini miliknya (Ahmad), dari Abu Hurairah Rasulullah telah bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin apa yang diperintahkan juga kepada para Rasul, di mana Dia berfirman: ‘Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakan amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Mu’minuun).

Dan Dia juga berfirman: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. (Al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menceritakan seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan rambut kusut penuh debu, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya pun haram, dan dia memakan makanan haram, dia menengadahkan tangannya ke langit (seraya berkata): `Ya Rabbku, ya Rabbku. Bagaimana mungkin do’anya dikabulkan?” (At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini hasan gharib, yang kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Fudhail bin Marzuq.”)

Firman Allah Ta’ala: wa inna HaadziHii ummatukum ummataw waahidatan (“Sesungguhnya [agama tauhid] ini adalah agama kamu semua, agama yang satu.”) Maksudnya, wahai sekalian para Nabi, agama kalian adalah agama yang satu dan juga millah yang satu pula, yakni dakwah untuk beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman: wa ana rabbukum fattaquun (“Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”) Pembahasan masalah ini telah dikemukakan pada surat al-Anbiyaa’.

Firman-Nya: “Ummatan waahidatan,” adalah manshub (berharakat fat-hah) yang menunjukkan haal (keadaan). Firman-Nya: fataqath-tha’uu amraHum bainaHum zuburan (“Kemudian mereka [pengikut-pengikut Rasul itu] menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan.”) Yakni, umat-umat yang para Nabi diutus kepada mereka: kullu hizbim bimaa ladaiHim farihuun (“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka [masing-masing].”) Maksudnya, mereka merasa gembira dengan kesesatan yang mereka alami, karena mereka mengira bahwa mereka itu mendapat petunjuk. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman seraya memberikan peringatan dan ancaman: fadzarHum fii ghamratiHim (“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya,”) yakni, dalam kelengahan dan kesesatan mereka: hattaa hiin (“Sampai suatu waktu.”) Yakni, sampai saat kehancuran dan kebinasaan mereka.

Firman-Nya lebih lanjut: a yahsabuuna anna maa numidduHum biHii mim maaliw wa baniina nusaari’u laHum fil khairaati ballaa yash-‘uruun (“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu [berarti bahwa], Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka. Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.”) Artinya, apakah orang-orang yang tertipu itu mengira bahwa apa yang Kami (Allah) berikan kepada mereka itu; baik berupa harta kekayaan maupun anak, merupakan penghormatan Kami terhadap mereka dan kemuliaan mereka dalam pandangan Kami? Tidak, sama sekali tidak. Kenyataannya tidak seperti yang mereka akui, tetapi Kami melakukan hal tersebut terhadap mereka sebagai penguluran dan penundaan.

Oleh karena itu, Dia berfirman: ballaa yasy’uruun (“Tetapi sebenarnya mereka tidak sadar.”) Dia juga berfirman: innamaa numlii laHum liyaz-daaduu itsman (“Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka.”) (QS. All `Imran: 178).

Imam Ahmad meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah membagi penciptaan di antara kalian, sebagaimana Dia telah membagikan rizki di antara kalian. Dan sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai, tetapi Dia tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Oleh karena itu, barangsiapa yang diberi agama oleh Allah, berarti Dia telah mencintainya. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba selamat sehingga hati dan lisannya selamat. Dan tidaklah dia beriman sehingga tetangganya merasa aman dari tindakannya yang menyakitkan.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apa tindakannya yang menyakitkan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Penganiayaan dan kedhalimannya. Dan tidaklah seseorang mencari harta dari hasil yang haram, lalu dia menginfakkan sebagian darinya, lalu Allah memberikan berkah kepadanya pada harta tersebut dan dia tidak menyedekahkannya, lalu diterima darinya dan tidak dia tinggalkan di belakang punggungnya melainkan hal itu menambahnya masuk ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan keburukan dengan keburukan, tetapi Dia akan menghapuskan keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya kejahatan itu tidak akan dihapuskan oleh kejahatan.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 50

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 50“Dan telah Kami jadikan (`Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (QS. Al-Mu’mnuun: 50)

Allah Ta’ala berfirman seraya memberitahukan tentang hamba dan Rasul-Nya, `Isa putera Maryam as, di mana Dia telah menjadikan keduanya sebagai salah satu tanda bagi umat manusia, yakni sebagai hujjah yang pasti atas kekuasaan-Nya untuk melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Dia telah menciptakan Adam tanpa bapak dan ibu, lalu Dia menciptakan Hawa dari seorang laki-laki tanpa seorang perempuan, kemudian Dia menciptakan ‘Isa dari seorang perempuan tanpa laki-laki, dan Dia mencipatkan manusia yang melalui seorang laki-laki dan seorang perempuan (suami isteri).

Firman Allah Ta’ala: wa aawainaa Humaa ilaa rabwatin dzaati qaraariw wa ma’iin (“Dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.”) Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: “Ar-rabwah berarti tanah yang tinggi, yaitu tempat yang paling baik bagi tumbuhnya tumbuh-tumbuhan.” Mengenai firman-Nya: dzaati qaraarin (“Yang banyak terdapat padang padang rumput,”) IbnuAbbas mengatakan: “Yakni yang subur.”

Wa ma’iini (“Dan sumber-sumber bersih yang mengalir,”) yakni, air yang jernih. Mujahid mengatakan: “Yaitu tanah yang datar.” Mengenai firman-Nya: “Wa ma’iin,” Mujahid dan Qatadah mengatakan: “Yakni, air yang mengalir.”

Kemudian para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai tempat tanah yang tinggi ini, dan pendapat tentang hal itu yang paling mendekati kebenaran adalah apa yang diceritakan al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas, mengenai firman-Nya: “Dan Kami melindungi mereka di suatu tanah yang datar yang banyak terdapat padang padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir,” dia mengatakan: “Al-ma’iin berarti air yang mengalir, yaitu sungai, seperti yang difirmankan Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.’ (QS. Maryam: 24).”

Demikian juga yang dikemukakan oleh adh-Dhahhak dan Qatadah: Di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir, yaitu Baitul Maqdis.” Dan inilah yang lebih jelas, wallahu a’lam, karena dialah yang disebutkan di dalam ayat yang lain. Sedangkan al-Qur’an itu, sebagian ayatnya menafsirkan sebagian ayat yang lain. Dan ayat-ayat itulah yang lebih patut untuk menafsirkan, lalu hadits-hadits shahih, dan kemudian atsar.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 45-49

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 45-49“Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata, (QS. 23:45) kepada Fir’aun dan pembesar pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong. (QS. 23:46) Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (QS. 23:47) Maka (tetaplah) mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan. (QS. 23:48) Dan sesungguhnya telah Kami berikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk. (QS. 23:49)” (al-Mu’minuun: 45-49)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia telah mengutus Rasul-Nya, Musa as. dan juga saudaranya, Harun kepada Fir’aun dan para pengikutnya dengan membawa tanda-tanda kekuasaan, juga hujjah-hujjah yang kuat, dan bukti-bukti yang pasti. Dan bahwasanya Fir’aun dan para pengikutnya (berlaku) sombong seraya menolak untuk mengikuti dan tunduk kepada keduanya, karena keduanya hanyalah manusia biasa, sebagaimana umat-umat terdahulu telah mengingkari para Rasul dari kalangan manusia. Maka hati mereka pun menjadi ragu, sehingga Allah membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya serta Dia menenggelamkan mereka semua dalam satu hari. Dia menurunkan al-Kitab kepada Musa, yaitu Taurat, yang di dalamnya terdapat berbagai hukum-Nya, perintah dan larangan-Nya. Hal itu berlangsung setelah Allah membinasakan Fir’aun dan bangsa Qibthi serta mereka diberi adzab dari yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Dan setelah Allah menurunkan Taurat, Dia tidak membinasakan umat secara keseluruhan, tetapi Dia memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memerangi orang-orang kafir.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 42-44

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 42-44“Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain. (QS. 23:42) Tidak suatu umat pun dapat mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu). (QS. 23:43) Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) Para Rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang Rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 23:44)” (al-Mu’minuun: 42-44)

Allah Ta’ala berfirman: tsumma ansya’naa mim ba’diHim quruunan aakhariin (“Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain.”) Yakni, umat-umat dan juga berbagai macam makhluk. Maa tasbiqu min ummatin ajalaHaa wa maa yasta’khiruun (“Tidak suatu umatpun dapat mendahului ajalnya, dan tidak [dapat pula] mereka terlambat [dari ajalnya itu].”) Yakni, tetapi mereka akan dimatikan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah bagi mereka di dalam Kitab-Nya yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh) dan pengetahuan-Nya sebelum penciptaan mereka, dari satu umat ke umat berikutnya, dari satu kurun ke kurun berikutnya, dan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tsumma arsalnaa rusulanaa tatraa (“Kemudian Kami utus [kepada umat-umat itu] para Rasul Kami berturut-turut.”) Ibnu`Abbas mengatakan: “Yakni, sebagian mengikuti sebagian lainnya.” Kulla maa jaa-a ummatar rasuuluHaa kadz-dzabuuHu (“Setiap seorang Rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya,”) yakni, kebanyakan dari mereka.

Dan firman-Nya: fa atba’naa ba’dlaHum ba’dlan (“Maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain.”) Yakni, Kami binasakan mereka. Waja’alnaaHum ahaadiitsa (“Dan Kami jadikan mereka buah tutur [manusia],”) yakni berita dan bahan pembicaraan bagi umat manusia.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 31-41

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 31-41“Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain. (QS. 23:31) Lalu Kami utus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): ‘Ibadahilah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)? (QS. 23:32) Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia. ‘(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia sepertimu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.’ (QS. 23:33) Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang sepertimu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi. (QS. 23:34) Apakah ia menjanjikan kepadamu sekalian, bahwa bila kamu telab mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)? (QS. 23:35) Jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepadamu itu, (QS. 23:36) kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, (QS. 23:37) Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.’ (QS. 23:38) Rasul itu berdo’a: ‘Ya Rabbku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.’ (QS. 23:39) Allah berfirman: ‘Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.’ (QS. 23:40) Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan haq dan Kami jadikanmereka (sebagai) sampah banjir, maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang dhalim itu. (QS. 23:41)” (al-Mu’minuun: 31-41)

Allah Ta’ala memberitahukan, bahwasanya setelah (Dia menciptakan) kaum Nuh, Dia menciptakan umat yang lain. Ada yang berpendapat: “Yang dimaksud dengan umat tersebut adalah kaum `Aad, karena mereka itulah yang datang setelah mereka.” Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah kaum Tsamud. Hal itu didasarkan pada firman-Nya: fa akhadznaa Humush-shaihatu bil haqqi (“Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan haq.”) Allah Ta’ala juga telah mengutus seorang Rasul kepada mereka yang juga berasal dari kalangan mereka sendiri, lalu mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Tetapi mereka malah mendustakan dan menentangnya seraya menolak untuk mengikutinya karena dia hanya manusia biasa seperti mereka, dan mereka menolak untuk mengikuti Rasul yang berasal dari manusia biasa. Bahkan mereka mendustakan pertemuan dengan Allah pada hari Kiamat kelak, dan mereka juga mengingkari kebangkitan.

Mereka mengatakan: aya ‘idukum annakum idzaa mittum wa kuntum turaabaw wa ‘idhaaman annakum mukhrajuuna. HaiHaata HaiHaata limaa tuu’aduun (“Apakah ia menjanjikan kepadamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan [dari kuburmu]? Jauh, jauh sekali [dari kebenaran] apa yang diancamkan kepadamu itu.”) Yakni, setelah itu: in Huwa illaa rajuluniftaraa ‘alallaaHi kadziban (“Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”) Yakni, pada apa yang dibawanya; berupa risalah, peringatan, dan berita tentang kebangkitan.

Wa maa nahnu laHuu bimu’miniin. Qaala rabbinshurnii bimaa kadz-dzabuun (“’Dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.’ Rasul itu berdo’a: ‘Ya Rabbku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.’”) Sang Rasul itu meminta kepada Rabbnya agar mereka diberikan kemenangan seraya memohon bantuan kepada-Nya dalam menghadapi mereka, hingga akhirnya Allah mengabulkan do’anya.

Qaala ‘ammaa qaliilil layushbihunna naadimiin (“Allah berfirman: ‘Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.’”) Yakni, atas tindakan mereka menentangmu dan memusuhimu terhadap apa yang kamu bawa. Fa akhadzat Humush-shaihatu bil haqqi (“Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan haq,”) maksudnya, mereka memang berhak mendapatkan hal tersebut dari Allah Ta’ala atas kekufuran dan kesewenangan mereka. Yang tampak secara lahiriyah, telah berkumpul kepada mereka suara keras yang disertai angin kencang lagi dahsyat dan sangat dingin.

Faja’alnaaHum ghutsaa-an (“Dan Kami jadikan mereka [sebagai] sampah banjir,”) yakni, hancur binasa seperti buih ketika banjir, yang sangat hina, tidak berguna, lagi rusak binasa yang tiada lagi membawa manfaat sama sekali.

Fa bu’dal liqaumidh-dhaalimiin (“Maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang dhalim itu,”) akibat kekufuran, permusuhan, danpenentangan mereka terhadap Rasul Allah. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang yang mendengar berhati-hati agar tidak mendustakan Rasul mereka.

Bersambung