Arsip | 20.04

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 117-118

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 117-118“Dan barangsiapa menyembah ilah yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (QS. 23:117) Dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik.” (QS. 23:118)” (al-Mu’minuun: 117-118)

Allah Ta’ala berfirman seraya memberikan ancaman kepada orang yang menyekutukan diri-Nya dengan selain Dia dan menyembah yang lain selain-Nya, memberitahukan bahwa barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka tidak ada bukti dan dalil baginya atas ucapannya itu. Di mana Dia berfirman: wa may yad’u ilallaaHi ilaaHan aakhara laa burHaana laHuu biHii (“Dan barangsiapa menyembah ilah yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu.”) Kalimat ini merupakan kalimat mu’taridhah (kalimat sisipan) sekaligus sebagai jawaabusy syarthi pada firman-Nya: fa inna maa hisaabuHuu ‘inda rabbiHi (“Maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya.”) Yakni, Allah yang akan memperhitungkan hal tersebut.

Kemudian Dia juga memberitahukan: innaHuu laa yuflihul kaafiruun (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”) Yakni, di hadapan-Nya pada hari Kiamat kelak mereka orang-orang kafir itu tidak mendapatkan keberuntungan dan juga keselamatan.

Firman-Nya lebih lanjut: wa qur rabbighfir warham wa anta khairur raahimiin (“Dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik.’”) Yang demikian itu merupakan bimbingan dari Allah Ta’ala untuk memanjatkan do’a ini. Kata al-ghafru jika diucapkan dapat berarti penghapusan dosa dan menutupinya dari umat manusia. Dan ar-rahmah berarti meluruskan dan melembutkannya dalam ucapan dan per-buatan. WalaHu a’lam.

Selesai

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 112-116

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 112-116“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ (QS. 23:112) Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ (QS. 23:113) Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ (QS. 23:114) Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. 23:115) Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak ada Ilah (yangberhak diibadahi) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia. (QS. 23:116)” (al-Mu’minuun: 112-116)

Allah Ta’ala berfirman seraya memperingatkan mereka atas tindakan mereka menyia-nyaiakan umur mereka yang pendek di dunia ini yang tidak dipergunakan untuk berbuat taat kepada Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya semata. Seandainya mereka bersabar selama hidup di dunia yang pendek ini, niscaya mereka akan menang, sebagaimana para wali-Nya yang bertakwa:

Qaala kam labits-tum fil ardli ‘adada siniin (“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”) Maksudnya, berapa lama kalian tinggal di dunia ini?
Qaala labitsnaa yauman au ba’dla yaumin fas-alil ‘aaddiin (“Mereka menjawab: ‘Kami tinggal [di bumi] sehari atau setengah hari,’ Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”)

Qaala il labits-tum illaa qaliilan (“Allah berman: ‘Kalian tidak tinggal [di bumi] melainkan sebentar saja,’”) yakni, dalam waktu yang sangat sebentar sekali. Lau annakum kuntum ta’lamuun (“Kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”) Maksudnya, karena kalian lebih mengutamakan yang fana daripada yang abadi, dan karena kalian bertindak tidak baik terhadap diri kalian sendiri, dan kalian tidak mendapatkan murka selama waktu yang cukup pendek tersebut. Seandainya kalian bersabar untuk berbuat taat kepada Allah dan beribadah kepada-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang mukmin, niscaya kalian benar-benar menang, sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang mukmin.

Firman Allah Ta’ala: afa hasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsan (“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu secara main-main [saja],”) maksudnya, apakah kalian mengira bahwa kalian diciptakan secara sia-sia, tanpa tujuan dan tanpa kehendak pula, serta tanpa hikmah bagi kita. Ada juga yang berpendapat, yakni untuk hal yang tidak bermanfaat, yakni untuk bermain-main dan berbuat tanpa guna, sebagaimana diciptakannya binatang tanpa pahala dan juga tanpa siksaan. Tetapi Kami ciptakan kalian untuk beribadah dan mengerjakan semua perintah Allah.
Wa annakum ilainaa laa turja’uun (“Dan bahwasanya kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”) Maksudnya, kalian tidak dikembalikan ke alam akhirat?

Firman-Nya: fata’aalallaaHul malikul haqqu (“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya.”) Yakni, Mahasuci Allah dari menciptakan sesuatu tanpa guna, karena sesungguhnya Dia adalah Raja yang sebenarnya yang jauh dari semua-nya itu. Laa ilaaHa illaa Huwa rabbul ‘arsyil kariim (“Tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia, Rabb [Yang mempunyai Arsy yang mulia.”) Dia menyebutkan `Arsy, karena `Arsy merupakan atap bagi semua makhluk. Sekaligus memberikan penyifatan baginya bahwa `Arsy itu sebagai suatu yang sangat indah dipandang dan berbentuk sangat bagus, sebagaimana yang Dia firmankan: fa anabnaa fiiHaa min kulli zaujin kariim (“Lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”) (QS. Luqman: 10).

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 108-111

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 108-111“Allah berfirman: ‘Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku. (QS. 23:108) Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a (di dunia): ‘Ya Rabb kami, kami telah beriman maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik.’ (QS. 23:109) Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka menjadikanmu lupa mengingat-Ku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka, (QS. 23:110) Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. (QS. 23:111)” (al-Mu’minuun: 108-111)

Yang demikian ini merupakan jawaban dari Allah Ta’ala untuk orang-orang kafir jika mereka meminta keluar dari api neraka dan kembali ke dunia ini. Di mana Dia berfirman: ikh-sa-uu fiiHaa (“Tinggallah dengan hina di dalamnya,”) maksudnya, tetap tinggallah kalian di dalamnya dalam keadaan hina dina lagi penuh kerendahan. Walaa tukallimuun (“Dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku.”) Maksudnya, janganlah kalian kembali kepada permintaan kalian ini, karena tidak ada jawaban dari-Ku bagi kalian.

Selanjunya, Allah Ta’ala berfirman seraya mengingatkan mereka akan dosa-dosa mereka di dunia dan tindakan mereka yang dulu menghinakan ibadah orang-orang mukmin dan para wali-Nya, di mana Allah Ta’ala berfirman: innaHuu kaana fariiqum min ‘ibaadii yaquuluuna rabbanaa aamannaa faghfirlanaa warhamnaa wa anta khairur raahimiin. Fat-takhadz-tumuuHum sikh-riyyan (“Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo a [di dunia]: ‘Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik.’ Lalu kamu menjadikan mereka sebagai buah ejekan.”)

Maksudnya, kalian justru mencela tindakan mereka yang berdo’a kepada-Ku serta ketundukan mereka kepada diri-Ku: hattaa ansaukum dzikrii (“Sehingga [kesibukan] kamu mengejek mereka menjadikan kamu lupa mengingat-Ku.”) Yakni, sebagian mereka telah membuat kalian lupa untuk bermu’amalah dengan-Ku. Wa kuntum minHum yadl-hakuun (“Dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka.”) Yakni, mentertawakan apa yang mereka lakukan dan juga ibadah mereka.

Kemudian Allah Ta’ala menceritakan tentang balasan yang akan Dia berikan kepada para wali-Nya dan juga hamba-hamba-Nya yang shalih, dimana Dia berfirman: innii jazaitu Humul yauma bimaa shabaruu (“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka.”) Yakni, atas tindakan menyakitkan kalian terhadap mereka dan ejekan kalian terhadap mereka.

annaHum Humul faa-izuun (“Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.”) Yakni, Aku jadikan mereka sebagai orang-orang yang menang dengan mendapatkan kebahagiaan, keselamatan, surga, dan keselamatan dari api neraka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 105-107

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 105-107“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya? (QS. 23:105) Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang tersesat. (QS. 23:106) Ya Rabb kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim.” (QS.23:107)” (al-Mu’minuun: 105-107)

Ini adalah kecaman sekaligus celaan dari Allah bagi para penghuni neraka, di mana Allah Ta’ala berfirman: alam takun aayaatii tut-laa ‘alaikum fakuntum biHaa tukadz-dzibuun (“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?”) Maksudnya, Aku telah mengutus para Rasul kepada kalian dan telah Aku turunkan beberapa Kitab kepada kalian serta telah Aku hilangkan keraguan kalian, sehingga tidak ada lagi hujjah bagi kalian. Sebagaimana yang Dia firmankan yang artinya: “Supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Para Rasul itu.” (QS. An-Nisaa’: 165).

Oleh karena itu mereka berkata: rabbanaa ghalabat ‘alainaa syiqwatunaa wa kunnaa qauman dlaalliin (“Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang tersesat.”) Maksudnya, telah ada hujjah atas kami tetapi kami terlalu jahat untuk mau tunduk kepadanya, dan kami mengikutinya sehinga kami sesat.

Kemudian mereka juga berkata: rabbanaa akhrijnaa minHaa fa-in ‘udnaa fa innaa dhaalimuun (“Ya Rabb kami, keluarkanlah kami daripada-nya [dan kembalikanlah kami ke dunia], maka jika kami kembali [juga kepada kekafiran], sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.”) Maksudnya, kembalikanlah kami ke dunia, jika kami kembali kepada apa yang dulu kami lakukan sesungguhnya kami benar-benar sebagai orang dhalim yang berhak mendapatkan siksaan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 101-104

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 101-104“Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (QS. 23:101) Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. (QS. 23:102) Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (QS. 23:103) Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka didalam neraka itu dalam keadaan cacat. (QS. 23:104)” (al-Mu’minuun: 101-104)

Allah Ta’ala memberitahukan, jika sangkakala ditiupkan sebagai tanda pembangkitan makhluk, lalu orang-orang pun bangkit dari kubur mereka, falaa ansaaba bainaHum yama-idziw walaa yatasaa-aluun (“Maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.”) Maksudnya, pada hari itu, hubungan nasab tidak lagi berarti, orang tua tidak lagi bisa memberikan pertolongan dan perlindungan kepada anaknya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Miswar [yang dia adalah Ibnu Makhramah], dia bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku. Apa yang membuatnya marah juga membuatku marah, dan apa yang membuatnya semangat, maka membuatku semangat pula. Dan sesungguhnya hubungan nasab itu akan terputus pada hari Kiamat kecuali nasabku, (dan yang mempunyai hubungan) karenaku, serta semendaku.”

Hadits tersebut berasal dari kitab ash-Shahihain, dari al-Miswar bin Makhramah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya juga meragukanku, dan apa yang membuatnya sakit juga membuatku sakit.”

Firman Allah Ta’ala: faman tsaqulat mawaaziinuHuu fa-ulaa-ika Humul muflihuun (“Barangsiapa yang berat timbangan [kebaikan]nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.”) Maksudnya, barangsiapa yang kebaikannya mengungguli keburukannya meskipun hanya satu saja.”

Mengenai firman-Nya: fa-ulaa-ika Humul muflihuun (“Maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan,”) Ibnu `Abbas mengemukakan: “Yaitu, orang-orang yang mendapatkan kemenangan sehingga mereka selamat dari neraka dan dimasukkan ke surga.”

Wa man khaffat mawaaziinuHu (“Dan barangsiapa yang ringan timbangannya,”) yakni, bagi orang yang amal keburukannya lebih berat dari-pada amal kebaikannya, fa ulaa-ikal ladziina khasiruu anfusaHum (“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri,”) yakni, mereka itulah yang gagal, binasa, dan kembali dengan membawa kerugian. Fii jaHannama khaaliduun (“Mereka kekal didalam neraka Jahannam.”) Maksudnya, mereka akan tinggal di sana untuk selamanya, sehingga tidak akan angkat kaki darinya. Talfahuu wujuuHaHumun naaru (“Muka mereka dibakar api neraka.”) Penggalan ayat ini lama seperti yang difirmankan-Nya: wa taghsyaa wujuuHaHumun naar (“Dan muka mereka ditutup oleh api neraka.”) (QS.Ibrahim: 50)

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abud Darda’, dia bercerita, Rasulullah saw. bersabda mengenai firman Allah Ta’ala: talfahu wujuuHaHumun naaru (“Muka mereka dibakar api neraka,”) beliau bersabda: “Api neraka itu membakar dengan sekali bakaran yang membuat daging mereka meleleh sampai tumit mereka.”

Firman Allah Ta’ala: wa Hum fiiHaa kaalihuun (“Dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.”) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas:
“Yakni mereka bermuka masam.” Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Nabi saw, mengenai firman-Nya: wa Hum fiiHaa kaalihuun (“Dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.”) beliau bersabda: “Api neraka membakarnya sehingga bibir bagian atas mengelupas sampai pertengahan kepalanya. Sedangkan bibir bagian bawahnya menjulur sampai ke pusarnya.” (Dirwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan dia mengatakan: “Hasan gharib.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 99-100

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 99-100“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), (QS. 23:99) agar aku berbuat amal yang shalih terhadap (apa) yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah (hanya) perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan. (QS. 23:100)” (al-Mu’minuun: 99-100)

Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang yang naza’ (sekarat) pada saat menjelang kematian dari kalangan orang-orang kafir dan orang-orang yang lengah terhadap perintah Allah Ta’ala, di mana Dia berfirman: rabbir ji’uun. La’allii a’malu shaalihan fiimaa taraktu kallaa (“Ya Rabbku, kembalikanlah aku [kedunia], agar aku berbuat amal yang shalih terhadap [apa] yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.”)

Sama seperti yang Dia firmankan: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orangyang shalih?’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munaafiquun: 10-11).

Dan di sini, Dia berfirman: kallaa innaHaa kalimatun Huwa qaa-iluHaa (“Sekali-kali tidak, sesungguhnya hal itu adalah [hanya] perkataan yang diucapkan saja.”) Kallaa merupakan kata penolakan dan penghardikan. Artinya, Kami tidak memenuhi apa yang dimintanya dan tidak pula menerima apa yang berasal darinya. Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya itu adalah (hanya) perkataan yang diucapkan saja.”

`Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengemukakan: “Kata-kata itu merupakan suatu keharusan untuk diucapkan oleh setiap orang dhalim yang sedang berada dalam keadaan naza’. Mungkin saja hal itu merupakan `illat bagi ucapannya, `kalla’. Dengan kata lain, karena kata-kata atau permintaannya untuk kembali hidup agar bisa berbuat amal shalih tersebut merupakan ucapan darinya, sekaligus sebagai ucapan yang tidak disertai amalan. Kalau seandainya dia dikembalikan lagi ke dunia, niscaya dia tidak akan berbuat amal shalih, dan dengan demikian dia telah berbohong dalam ucapannya tersebut. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: “Sekiranya mereka dikembalikan kedunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.” (QS.Al-An’aam: 28).

Qatadah mengemukakan: “Demi Allah, dia tidak akan berharap untuk bisa kembali kepada keluarga, kelompok, serta tidak juga keinginan untuk mengumpulkan kekayaan dunia dan memenuhi hawa nafsu, tetapi dia hanya akan berharap bisa kembali hidup dan berbuat taat kepada Allah. Mudah-mudahan Allah merahmati seseorang yang mengerjakan apa yang diharapkan orang kafir tersebut jika melihat adzab neraka.”

Lebih lanjut Qatadah juga mengemukakan: “Demi Allah, dia tidak akan berangan-angan melainkan kembali hidup agar bisa berbuat taat kepadaAllah. Oleh karena itu, perhatikanlah angan-angan orang-orang kafir yang lengah tersebut, lalu kerjakanlah apa yang mereka angankan itu. Dan tidak ada kekuatan melainkan hanya milik Allah. Wa miw waraa-iHim barzakhun ilaa yaumi yub’atsuun (“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan.”)

Mengenai firman Allah Ta’ala, “wa miw waraa-iHim” yakni di hadapan mereka. Mujahid mengatakan: “Al-Barzakh berarti penghalang antara dunia dan akhirat.” Sedangkan Muhammad bin Ka’ab mengemukakan: “Al-Barzakh berarti keberadaan antara dunia dan akhirat, di mana penghuni dunia tidak makan dan tidak minum, dan tidak pula kepada penghuni akhirat diberikan balasan atas amal perbuatan mereka.”

Dalam firman Allah Ta’ala, “Dan di hadapan mereka ada dinding,” terdapat ancaman bagi orang-orang zhalim yang mengalami
naza’ berupa adzab alam barzakh. Sebagaimana yang difirmankan-Nya:”Dan di hadapan mereka ada jahannam. ”

Dan firman-Nya: ilaa yaumi yub’atsuun (“sampai hari mereka dibangkitan.”) Yakni, adzab itu akan berlangsung terus padanya sehingga datang hari kebangkitan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 93-98

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 93-98“Katakanlah: ‘Ya Rabb, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku adzab yang diancamkan kepada mereka. (QS. 23:93) Rabbku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang dhalim.’ (QS. 23:94) Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka. (QS. 23:95) Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. (QS. 23:96) katakanlah: ‘Ya Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. (QS. 23:97) Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku.’ (QS. 23:98)” (al-Mu’minuun: 93-98)

Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad saw. agar dia memanjatkan do’a dengan do’a ini ketika menghadapi malapetaka: rabbi imma turiyannii maa yu’aduun (“Ya Rabb, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku adzab yang diancamkan kepada mereka.”) Maksudnya, jika Engkau menyiksa mereka sedang aku menyaksikan hal itu, maka janganlah Engkau menjadikan aku termasuk golongan mereka.

Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan at-Turmudzi yang dia menshahihkannya: “Jika Engkau hendak menimpakan fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah aku menuju kepada-Mu dalam keadaan tidak terfitnah.”

Firman Allah Ta’ala: wa innaa ‘alaa an nuriyaika maa na’iduHum laqaadiruun (“Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka.”) Maksudnya, jika Kami menghendaki, niscaya Kami akan perlihatkan kepadamu malapetaka, kesengsaraan, dan cobaan yang Kami timpakan kepada mereka.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman seraya menunjukkan satu resep yang sangat bermanfaat dalam bergaul dengan umat manusia, yaitu berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya untuk mengambil hatinya sehingga permusuhannya itu bisa berubah menjadi persahabatan dan kebenciannya berubah menjadi kecintaan, di mana Dia berfirman: idfa’ bil latii Hiya ahsanus sayyi-ata (“Tolaklah perbutan buruk mereka dengan yang lebih baik.”)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman: wa qur rabbi a-‘uudzubika min Hamazatisy-syayaathiin (“Dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”) Allah Ta’ala memerintahkannya untuk berlindung dari syaitan, tipu daya mereka tidaklah berguna dan mereka tidak mau tunduk kepada kebaikan.

Firman-Nya: wa a-‘uudzubika rabbi ay yahdluruun (“Dan aku berlindung [pula] kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku.”) Maksudnya, dalam salah satu urusanku. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk berdzikir kepada-Nya pada setiap permulaan segala hal. Hal itu dimaksudkan untuk mengusir syaitan, baik pada saat akan makan, akan berhubungan badan, menyembelih hewan, dan lain-lainnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia bercerita, Rasulullah saw. mengajari kita beberapa kalimat yang beliau ucapkan pada saat akan tidur dari suatu ketakutan:

doa mohon perlindungan pd Allah“Dengan menyebut Nama Allah, aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka dan siksaan-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan syaitan, dan dari kedatangan mereka kepadaku.”

Dia bercerita, `Abdullah bin `Amr mengajarkan hal itu kepada anaknya yang sudah baligh dan menyuruh untuk mengucapkannya pada saat itu. Dan kepada anak yang masih kecil yang belum bisa berfikir untuk menghafalnya (menyimpannya), maka dia tuliskan dan kemudian mengalungkannya dileher. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i, dari hadits Muhammad bin Ishaq. At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan gharib.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 91-92

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 91-92“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah( yang lain) beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (QS. 23:91) Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Mahatinggi-lah Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 23:92)” (al-Mu’minuun: 91-92)

Mat takhadzallaaHu miw waladiw wa maa kaana ma’aHuu min ilaaHin idzal ladzaHaba kullu ilaaHim bimaa khalaqa wa la’alaa ba’dlaHum ‘alaa ba’dlin (“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah [yang lain] beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain.”)

Maksudnya, seandainya jumlah ilah itu lebih dari satu, maka masing-masing ilah akan menyendiri dengan apa yang telah diciptakan-nya, sehingga keberadaan ini tidak akan teratur. Tetapi, pemandangan menunjukkan bahwa keberadaan (wujud) ini tersusun rapi, yang masing-masing dari alam bagian atas dan bagian bawah saling sejalan, bahkan masing-masing saling berkaitan satu dengan yang lainnya dengan penuh kesempurnaan. Jika lebih dari satu, maka masing-masing dari ilah itu akan menuntut kemenangan dari ilah yang lain, sehingga sebagian mereka mengungguli sebagian lainnya.

Kaum teolog (mutakallim) telah menyebutkan makna ini dan mengungkapkannya dengan dalil pertentangan, yakni jika ada dua pencipta atau lebih, lalu salah satu darinya ingin menggerakkan tubuh seseorang, lalu yang lainnya ingin membuatnya diam, jika keinginan masing-masing dari mereka tidak terpenuhi, berarti keduanya itu lemah. Seharusnya ilah itu tidak boleh lemah, dan mestinya masing-masing bisa mencegah pertentangan keduanya. Hal mustahil ini tidak ada kecuali karena adanya pemberlakuan jumlah ilah lebih dari satu. Dan jika memang ada tujuan salah satu dari mereka yang tercapai, berarti yang unggul itulah yang wajib, sedangkan yang kalah itu masih bersifat mungkin (makhluk), sebab sifat wajib itu tidak pantas disandang oleh pihak yang masih bisa dikalahkan.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa la’alaa ba’dluHum ‘alaa ba’dlin subhaanallaaHi ‘ammaa yashifuun (“Dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,”) Yakni, benar-benar terlepas setinggi-tingginya dari apa yang dikatakan oleh orang-orang dhalim yang melampaui batas dalam dakwaan mereka bahwa Rabb mempunyai anak atau sekutu.

‘aalimil ghaibi wasy-syaHaadati (“Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nanapak,”) Yakni, mengetahui yang tersembunyi dari semua makhluk dan seluruh apa yang mereka saksikan. Fata’aalaa ‘ammaa yusyrikuun (“Maka Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”) Artinya, Dia Mahasuci, Mahabersih, Mahatinggi, Mahamulia, lagi Mahaperkasa dari apa yang dikatakan oleh orang-orang dhalim dan orang-orang yang ingkar.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 84-90

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 84-90“Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ (QS. 23:84) Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ (QS. 23:85) Katakanlah: ‘Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai Arsy yang besar [agung]?’ (QS. 23:86) Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ (QS. 23:87) Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ (QS. 23:88) Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’ (QS. 23:89) Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (QS. 23:90)” (al-Mu’minuun: 84-90)

Allah Ta’ala menetapkan ke-esaan dan kesendirian-Nya dalam menciptakan dan memegang kendali, di mana Dia berfirman: qul limanil ardlu wa man fiiHaa (“Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya?’”) Maksudnya, siapakah Raja pemilik bumi seisinya itu yang telah menciptakannya dan juga hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalamnya serta berbagai jenis makhluk yang ada.

In kuntum ta’lamuuna sayaquuluuna lillaaHi (“’Jika kamu mengetahui? Maka mereka akan mengatakan: ‘Kepunyaan Allah.’”) Maksudnya, mereka mengakui bahwa semuanya itu adalah milik Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Jika demikian keadaan-nya: qul afalaa tadzakkaruun (“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’”) bahwasanya tidak sepatutnya ibadah itu dijalankan kecuali hanya (ditujukan) bagi sang Khalik lagi Pemberi rizki, tidak kepada yang lainnya.

Qul mar rabbus samaawaatis sab’i wa rabbul ‘arsyil ‘adhiim (“Katakanlah: ‘Siapakah pemilik langit yang tujuh dan pemilik ‘Arsy yang besar [agung]?’”) Maksudnya, siapakah Pencipta alam yang tinggi ini yang di dalamnya terdapat bintang-bintang yang bersinar dan para Malaikat yang penuh ketundukan kepada-Nya di seluruh tempat dan penjurunya? Dan siapa pula Rabb pemilik `Arsy yang agung, yakni atap bagi seluruh makhluk, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Rasulullah, di mana beliau bersabda: “Keadaan Allah lebih agung dari itu, sesungguhnya `Arsy-Nya di atas langit-langit-Nya seperti ini.” Beliau memberikan isyarat dengan tangannya seperti kubah. Oleh karena itu, di sini Allah berfirman, wa rabbul ‘arsyil ‘adhiim (“pemilik Arsy yang agung?”) Yakni yang besar. Dan di akhir surat, Dia berfirman,”Pemilik Arsy yang mulia,” yakni, yang baik lagi indah. Dia telah menyatukan `Arsy dalam keagungan, keluasan, ketinggian, keindahan,dan kemegahan.

Firman-Nya lebih lanjut: sayaquuluuna lillaaHi qul afalaa tattaquun (“Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’”) Maksudnya, jika kalian mengakui bahwa Allah adalah pemilik langit dan pemilik `Arsy yang agung, maka apakah kalian tidak takut akan siksa-Nya dan tidak berusaha menghindari adzab-Nya dalam penyembahan kalian terhadap pihak lain selain Dia dan juga dalam penyekutuan kalian terhadap-Nya?

Qul mam biyadiHii malakuutu kulli syai-in (“Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu,”) yakni, di tangan-Nya terdapat kerajaan, Dia itulah Allah yang Mahasuci, sang Pencipta, Raja, dan Pemegang kendali. Wa Huwa yujiiru walaa yujaaru ‘alaiHi in kuntum ta’lamuun (“Sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari [adzab]-Nya, jika kamu mengetahui?”) Bangsa Arab dahulu, jika ada orang yang dipertuan di antara mereka, lalu dia memberikan perlindungan kepada seseorang, maka tidak ada penjagaan di sekitarnya dan orang-orang yang ada di bawahnya tidak boleh melindunginya agar dia tidak mengecilkannya.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa Huwa yujiiru walaa yujaaru ‘alaiHi (“Sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari [adzab]-Nya,”) Artinya, Dialah Rabb yang Mahaagung, tidak ada satu pun yang lebih agung dari-Nya, penciptaan dan perintah hanya ada di tangan-Nya serta tidak ada yang dapat menolak hukum-Nya, tidak ada yang dapat melarang dan menentang-Nya. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan pernah terjadi.

Firman-Nya: sayaquuluunallaaHi (“Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’”) Maksudnya, mereka akan mengakui bahwa Rabb yang Mahaagung yang memberi perlindungan dan tidak ada yang dapat dilindungi dari-Nya adalah Allah yang Mahatinggi saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Qul fa annaa tus-haruun (“Katakanlah, ‘[Kalau demikian], maka dari jalan manakah kamu ditipu?’”) Maksudnya, bagaimana bisa akal kalian hilang dalam penyembahan kalian terhadap selain Allah, padahal kalian mengakui dan mengetahui hal tersebut?

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: bal atainaaHum bil haqqi (“Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka,”) yaitu pemberitahuan bahwasanya tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah. Dan Kami juga telah memberikan dalil yang shahih lagi jelas dan pasti mengenai hal tersebut.
Wa innaHum lakaadzibuun (“Dansesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.”) Yakni, dalam penyembahan mereka terhadap Allah beserta (penyembahan terhadap) selain-Nya, sedang mereka tidak memiliki dalil tentang hal tersebut. Sesungguhnya mereka mengerjakan hal tersebut karena mengikuti nenek moyang dan para pendahulu mereka, sebagaimana yang difirmankan Allah swt. tentang mereka yang artinya: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 23)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 76-83

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 76-83“Dan sesungguhnya Kami pernah menimpakan adzab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri. (QS. 23:76) Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada adzab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa. (QS. 23:77) Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu sekalian, pendengaran, penglihatan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. 23:78) Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang-biakkanmu di bumi ini dan kepada-Nyalah kamu akan dihimpunkan. (QS. 23:79) Dan Dialah yang mengbidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (QS. 23:80) Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleb orang-orang dahulu kala. (QS. 23:81) Mereka berkata: ‘Apakah betul apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? (QS. 23:82) Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala. ‘ (QS. 23:83)” (al-Mu’minuun: 76-83)

Allah Ta’ala berfirman: walqad akhadnaaHum bil’adzaabi (“Dan sesungguhnya Kami pernah menimpakan adzab kepada mereka,”) yakni, Kami menguji mereka dengan berbagai musibah dan kesulitan. Fa mastakaanuu li rabbiHim wamaa yatadlarra’uun (“Maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan [juga] tidak memohon [kepada-Nya] dengan merendahkan diri.”) Maksudnya, hal itu tidak mencegah mereka dari kekufuran dan penentangan yang ada pada mereka, tetapi justru mereka terus pada penyimpangan dan kesesatan mereka, dan mereka tidak tunduk atau khusyu’.

Wa maa yatadlarra’uun (“Dan tidak pula memohon dengan merendahkan diri.”) Maksudnya, mereka tidak berdo’a, sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Al-An’aam: 43).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, di mana dia Abu Sufyan, pernah datang kepada Rasulullah saw, lalu dia berkata: “Hai Muhammad, mudah-mudahan Allah melimpahkan kebaikan dan rahmat kepadamu. Sesungguhnya kami telah memakan “alhaz” [yakni, bulu dan darah] lalu Allah menurunkan ayat ini: walqad akhadnaaHum bil’adzaabi Wa maa yatadlarra’uun (“sesungguhnya Kami pernah menimpakan adzab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk.”) Demikian pula yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i. Asal hadits itu terdapat dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Rasulullah saw. pernah mendo’a-kan keburukan kepada kaum Quraisy, yaitu ketika mereka berbuat durhaka, dimana beliau berdo’a: “Ya Allah, bantulah aku dalam menghadapi mereka dengan binatang buas seperti binatang buasnya Yusuf.”

Firman Allah Ta’ala: hattaa idzaa fatahnaa ‘alaiHim baaban dzaa ‘adzaabin syadiidin idzaa Hum fiiHi mublisuun (“Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada adzab yang amat sangat [di waktu itulah] tiba-tiba mereka menjadi putus asa.”) Maksudnya, sehingga apabila ketetapan Allah sampai kepada mereka dan hari Kiamat pun telah datang kepada mereka secara tiba-tiba, lalu Dia menimpakan kepada mereka adzab yang tiada pernah mereka sangka-sangka, maka pada saat itu mereka merasa putus asa dari segala bentuk kelepasan dan hilangnya harapan mereka.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan beberapa nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia telah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati, yaitu akal dan pemahaman yang dengan-nya mereka mengingat berbagai hal serta mengambil pelajaran dari alam berupa tanda-tanda yang menunjukkan keesaan Allah, dan bahwasanya Dia
Mahaberbuat dan memilih apa saja yang Dia kehendaki. Firman-Nya: qaliilam maa tasy-kuruun (“Amat sedikit kamu bersyukur.”) Maksudnya, sangat sedikit sekali rasa syukur kalian kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kalian.

Selanjutnya, Allah Ta’ala memberitahukan tentang kemampuan-Nya yang agung dan kekuasaan-Nya yang tangguh dalam menciptakan makhluk dan mengembang-biakkannya di seluruh belahan bumi ini dengan berbagai macam jenis dan aneka ragam bahasa dan sifat mereka. Kemudian pada hari Kiamat kelak, mereka akan dikumpulkan dari yang paling awal di antara mereka sampai yang paling akhir pada waktu yang telah ditentukan. Tidak ada satu orang pun yang ditinggalkan, baik kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan, mulia maupun hina, melainkan Dia mengembalikan hidup (mereka) secara keseluruhan sebagaimana Dia telah menciptakan pertama kali.

Oleh karena itu, Dia berfirman: wa Huwal ladzii yuhyii wa yumiitu (“Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan,”) yakni, menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur berantakan dan mematikan umat-umat yang hidup. Wa laHukh tilaaful laili wan naHaari (“Dan Dialah yang [mengatur pertukaran malam dan siang.”) Yakni, dan kuasa-Nya juga untuk mengendalikan malam dengan siang, masing-masing menuntut untuk saling silih berganti, tidak hilang dan tidak pula digantikan oleh masa yang lain selain keduanya.

Firman-Nya: afalaa ta’qiluun (“Maka apakah kamu tidak memahaminya?”) Maksudnya, apakah kalian tidak memiliki akal yang menunjukkan keberadaan Yang Mahamulia lagi Maha-mengetahui yang telah mengalahkan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu kepada-Nya?

Kemudian Allah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang orang-orang yang mengingkari adanya kebangkitan, yang mereka menyerupai pendahulu mereka dari kalangan kaum pendusta: bal qaaluu mitsla maa qaalal awwaluun. Qaaluu a idzaa mitnaa wa kunna turaabaw wa ‘idhaaman a innaa lamab’uutsuun (“Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala. Mereka berkata: ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?’”) Yakni, mereka menjauhi terjadinya kebangkitan tersebut setelah mereka menjadi hancur berantakan.

Laqad wu-‘idnaa nahnu wa aabaa-unaa Haadzaa min qablu in Haadzaa illaa asaathiirul awwaliin (“Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman [dengan] ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala.”) Yang mereka maksudkan, kebangkitan manusia itu merupakan suatu hal yang mustahil, sesungguhnya hal itu hanya diberitahukan oleh orang yang memperolehnya dari buku-buku orang-orang terdahulu dan peninggalan mereka.

Bersambung