Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minuun ayat 91-92

22 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun
(Orang-orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; surah ke 23: 118 ayat

tulisan arab alquran surat al mu'minuun ayat 91-92“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah( yang lain) beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (QS. 23:91) Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Mahatinggi-lah Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 23:92)” (al-Mu’minuun: 91-92)

Mat takhadzallaaHu miw waladiw wa maa kaana ma’aHuu min ilaaHin idzal ladzaHaba kullu ilaaHim bimaa khalaqa wa la’alaa ba’dlaHum ‘alaa ba’dlin (“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah [yang lain] beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain.”)

Maksudnya, seandainya jumlah ilah itu lebih dari satu, maka masing-masing ilah akan menyendiri dengan apa yang telah diciptakan-nya, sehingga keberadaan ini tidak akan teratur. Tetapi, pemandangan menunjukkan bahwa keberadaan (wujud) ini tersusun rapi, yang masing-masing dari alam bagian atas dan bagian bawah saling sejalan, bahkan masing-masing saling berkaitan satu dengan yang lainnya dengan penuh kesempurnaan. Jika lebih dari satu, maka masing-masing dari ilah itu akan menuntut kemenangan dari ilah yang lain, sehingga sebagian mereka mengungguli sebagian lainnya.

Kaum teolog (mutakallim) telah menyebutkan makna ini dan mengungkapkannya dengan dalil pertentangan, yakni jika ada dua pencipta atau lebih, lalu salah satu darinya ingin menggerakkan tubuh seseorang, lalu yang lainnya ingin membuatnya diam, jika keinginan masing-masing dari mereka tidak terpenuhi, berarti keduanya itu lemah. Seharusnya ilah itu tidak boleh lemah, dan mestinya masing-masing bisa mencegah pertentangan keduanya. Hal mustahil ini tidak ada kecuali karena adanya pemberlakuan jumlah ilah lebih dari satu. Dan jika memang ada tujuan salah satu dari mereka yang tercapai, berarti yang unggul itulah yang wajib, sedangkan yang kalah itu masih bersifat mungkin (makhluk), sebab sifat wajib itu tidak pantas disandang oleh pihak yang masih bisa dikalahkan.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa la’alaa ba’dluHum ‘alaa ba’dlin subhaanallaaHi ‘ammaa yashifuun (“Dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,”) Yakni, benar-benar terlepas setinggi-tingginya dari apa yang dikatakan oleh orang-orang dhalim yang melampaui batas dalam dakwaan mereka bahwa Rabb mempunyai anak atau sekutu.

‘aalimil ghaibi wasy-syaHaadati (“Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nanapak,”) Yakni, mengetahui yang tersembunyi dari semua makhluk dan seluruh apa yang mereka saksikan. Fata’aalaa ‘ammaa yusyrikuun (“Maka Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”) Artinya, Dia Mahasuci, Mahabersih, Mahatinggi, Mahamulia, lagi Mahaperkasa dari apa yang dikatakan oleh orang-orang dhalim dan orang-orang yang ingkar.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: