Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 9-10

23 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 9-10“Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu Malaikat yang datang bertutut-turut.’ (QS. 8:9) Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. 8:10)” (al-Anfaal: 9-10)

Imam Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Nuh Qurad, telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah bin ‘Ammar, telah menceritakan kepada kami Sammak al-Hanafi Abu Zumail, telah menceritakan kepadaku Ibnu `Abbas, telah menceritakan kepadaku `Umar Ibnul Khaththab ra. ia berkata:

“Pada hari perang Badar, Nabi saw. memandang kepada para sahabatnya dan mereka terdiri dari tiga ratus orang lebih, memandang kepada orang-orang musyrik, ternyata mereka lebih dari seribu orang, maka Nabi menghadap kiblat dan beliau memakai selendang dan sarung, kemudian beliau bersabda: “Ya Allah, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika sekelompok umat Islam ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di bumi selamanya.”

‘Umar ra. berkata: “Rasulullah terus-menerus memohon pertolongan kepada Rabbnya dan berdo’a kepada-Nya hingga selendangnya terjatuh dari pundaknya, maka Abu Bakar mengambil selendang itu, lalu memakaikannya kepada Nabi dan mendekapnya dari belakang, lalu berkata: “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu, lalu Allah menurunkan firman-Nya: Idz tastaghitsuuna rabbakum fastajaaba lakum annii mumiddukum bi-alfim minal malaa-ikati murdifiin (“[Ingatlah] ketika kamil memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu Malaikat yang datang bertutut-turut.’”)

Maka pada hari di saat mereka berhadapan, Allah mengalahkan orang-orang musyrik, di antara mereka ada 70 orang yang terbunuh dan 70 orang tertawan. Lalu Rasulullah meminta pendapat kepada Abu Bakar, `Umar dan `Ali, maka Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulallah, mereka adalah
sepupu, keluarga dan saudara kita dan sesungguhnya aku berpendapat agar engkau mengambil denda saja dari mereka, lalu jadilah apa yang kita ambil sebagai kekuatan kita atas orang-orang kafir dan semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, lalu mereka menjadi pendukung kita.”

Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana pandanganmu wahai Ibnul Khaththab?” ‘Umar berkata, aku berkata: “Demi Allah, aku tidak sependapat dengan Abu Bakar, akan tetapi aku berpendapat agar engkau memberi kesempatan penuh kepadaku, kepada si Fulan, salah seorang kerabat `Umar, lalu aku bisa memenggal lehernya. Engkau memberikan kesempatan penuh kepada `Ali, terhadap ‘Aqil, lalu ia memotong lehernya. Dan engkau memberikan kesempatan penuh kepada Hamzah terhadap Fulan saudara Hamzah, lalu ia memenggal lelernya; sehingga Allah mengetahui bahwasanya tidak ada lagi di dalam hati kita sedikit pun belas-kasihan kepada orang-orang musyrik; mereka adalah pemuka, tokoh dan pemimpin mereka.”

Kemudian Rasulullah cenderung kepada pendapat Abu Bakar dan tidak cenderung kepada pandanganku dan beliau pun mengambil tebusan dari mereka.

Keesokan harinya [lanjut `Umar] aku pergi menemui Rasulullah dan Abu Bakar, kedua duanya sedang menangis, lalu aku berkata: “Wahai Rasulallah, apa yang membuatmu dan sahabatmu menangis? Jika aku bisa menangis, aku akan menangis. Dan jika tidak dapat menangis, maka aku paksakan untuk menangis karena tangis engkau berdua.”

Nabi bersabda: “(Kami menangis) karena pendapat sahabat-sahabatmu untuk mengambil tebusan, itulah yang menyebabkan datangnya siksa kepada kalian lebih dekat daripada pohon itu.” Nabi menunjuk satu pohon terdekat dari beliau dan Allah swt. menurunkan firman-Nya yang artinya:
“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. [-sampai kepada firman-Nya-] Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik.” (QS. Al-Anfaal: 67-69).
Dengan ayat ini, Allah menghalalkan harta rampasan perang mereka.

Lalu pada hari terjadi perang Uhud pada tahun berikutnya, mereka d1hukum dengan sebab perbuatan mereka pada peristiwa Badar karena mereka telah mengambil tebusan, sehingga ada 70 sahabat Nabi yang terbunuh yang sebagiannya melarikan diri, ada empat gigi depan beliau yang patah, topi baja yang dikenakan pada kepala beliau pecah, sehingga darah mengalir
pada muka beliau, lalu Allah menurunkan firman-Nya yang artinya: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibab (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas gala sesuatu.” (QS. Ali’Imran:165).

Yang demikian ini karena pengambilan tebusan oleh kalian. Diriwayatkan Ala oleh Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih dan dishahihkan oleh `Ali Ibnul Madini dan at-Tirmidzi.

Firman Allah: bi alfim minal malaa-ikati murdifiin (“Dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.”) Maksudnya, sebagian mereka berada di belakang sebagian lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Harun bin Hubairah dari Ibnu ‘Abbas ra. yang mengatakan, bahwa murdifiin artinya mutatabi’in (terus berkelanjutan tanpa terputus). Mungkin juga yang dimaksud murdifiin adalah mereka berada belakang kalian, maksudnya, sebagai bantuan kepada kalian.

Imam al-Bukhari berkata: “Bab Kehadiran para Malaikat pada perang Badar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, telah menceritakan kami Jarir dari Yahya bin Sa’id, dari Mu’adz bin Rifa’ah bin Rafi’az-Zuraqi, dari bapaknya dan bapaknya adalah salah seorang yang hadir pada perang Badar, ia berkata: `Malaikat Jibril as. datang kepada Nabi, lalu berkata: `Bagaimana penilaian kalian terhadap orang yang ikut pada perang Badar di tengah-tengah kalian?’ Ia berkata: `Termasuk kaum muslimin yang utama.’ Atau beliau mengucapkan kalimat serupa. la berkata: ‘Demikian pula para Malaikat yang menghadirinya.’” Hanya Imam al-Bukhari sendirilah
yang mengeluarkan hadits ini.

Di dalam ash-shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), bahwa Rasulullah berkata kepada `Umar, pada saat `Umar memberikan pandangan untuk membunuh Hathib bin Abi Balta’ah: “Sesungguhnya ia telah menghadiri perang Badar dan tahukah engkau, boleh jadi Allah telah memberi maaf kepada orang-orang yang menghadiri perang Badar lalu berfirman: `Silahkan kalian berbuat apa saja, sebab Aku telah mengampuni kalian.’”

Firman Allah: wa maa ja’alaHullaahu illaa busyraa (“Dan Allah tidak menjadikannya [mengirim bala bantuan itu], sebagai kabar gembira.”) Maksudnya, dan tidaklah Allah menjadikan pengiriman para Malaikat an pemberitahuannya kepada kalian, selain sebagai berita gembira, wa litath-ma’inna biHii quluubukum (“Dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya.”) Jika tidak demikian, sesungguhnya Allah Mahamampu untuk memberikan kemenangan kepada kalian atas musuh-musuh kalian. wa litath-ma’inna biHii quluubukum waman nash-ru illaa min ‘indillaaHi (“Dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.”) Maksudnya, walaupun tanpa adanya bantuan dari para Malaikat, karena inilah Allah berfirman: waman nash-ru illaa min ‘indillaaHi (“Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah”)

Sebagaimaha firman-Nya yang artinya:
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perangj, maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Dan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).

Inilah hikmah-hikmah yang dimaksud oleh Allah dalam pensyari’atan jihad melawan orang-orang kafir dengan tangan orang-orang beriman, masa dahulu Allah menyiksa umat-umat terdahulu yang mendustakan Nabi dengan cara menurunkan bencana yang turun merata kepada umat-umat yang mendustakan, seperti; menghancurkan kaum Nuh dengan thufan, kaum Aad yang pertama dengan angin pembawa petaka, kaum Tsamud dengan sekali teriakan, kaum Luth dengan ditenggelamkan ke dalam tanah, dibalik dan dihujani batu as-sijjil (keras), dan kaum Syu’aib dengan adzab yang datang pada hari dinaungi awan.

Pada saat Allah Ta’ala mengutus Nabi Musa dan membinasakan musuh-Nya, yaitu Fir’aun dan kaumnya dengan cara menenggelamkannya ke dalam lautan, Allah menurunkan Taurat kepada Musa, maka dalam taurat itu isyari’atkanlah peperangan melawan orang-orang kafir dan hukum
tetap berlangsungnya setelahnya sebagaimana Firman Allah yang artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita.” (QS. Al-Qashash: 43)

Terbunuhnya orang-orang kafir oleh orang-orang beriman lebih menghinakan orang-orang kafir dan lebih melegakan dada orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah kepada orang-orang yang beriman dari umat ini. Firman Allah yang artinya: “Perangilah mereka, `niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolongmu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 14).

Karena inilah pembunuhan terhadap para pembesar Quraisy oleh tangan musuh-musuh mereka yang mereka pandang remeh, lebih menyakitkan mereka dan lebih melegakan dada para pendukung keimanan. Jadi, terbunuhnya Abu Jahal di tengah peperangan dan berkecamuknya pertempuran lebih menghinakannya daripada kematiannya di atas tempat tidur, karena adanya suatu bencana, halilintar atau semacamnya, sebagaimana halnya Abu Lahab [-semoga laknat Allah menimpanya-] yang meninggal karena terkena ‘adasah (titik-titik hitam yang muncul di muka seseorang yang menyebabkan kematian dan penyakit ini menular), sehingga tidak seorang pun dari keluarganya yang berani mendekat. Saat memandikannya, mereka hanya berani melemparkan air dari jauh dan saat menguburnya pun, mereka melakukannya dengan cara melemparinya dengan batu sehingga terkubur.

Karena inilah Allah berfirman: innallaaHa ‘aziizun (“Sesungguhnya Allah Mahamulia.”) Maksudnya, bagi Allahlah kemuliaan itu dan juga bagi Rasul-Nya dan orang-orang beriman di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Al-Mukmin: 51).

Firman Allah: hakiimun (“Mahabijaksana.”) Maksudnya, dalam segala hal yang disyari’atkan-Nya, berupa memerangi orang-orang kafir, meskipun Dia mampu menghancurkan dan membinasakan mereka dengan daya dan kekuatan-Nya.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: