Arsip | 23.04

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 19

25 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 19“Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang kepadamu; dan jika kamu berhenti, maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfaal: 19)

Allah swt. berfirman kepada orang-orang kafir: in tastaftihuu (“Jika kamu [orang-orang musyrikin] mencari keputusan.”) Maksudnya, meminta pertolongan dan meminta keputusan kepada Allah dan meminta hukum kepada-Nya, Dia memberikan keputusan antara kalian orang-orang mukminin dan musuh-musuh kalian, maka sesungguhnya telah datang kepada kalian apa yang kalian minta.

Imam Ahmad berkata dari `Abdullah bin Tsa’labah, bahwa Abu Jahal berkata saat bertemu kaum: “Ya Allah, dia (Muhammad) telah memutuskan hubungan persanak-saudaraan kita dan datang kepada kita dengan sesuatu yang tidak kita kenal, karenanya hancurkan dia besok.”

Dengan perkataan ini, jadilah Abu Jahal pihak yang meminta kemenangan. Dikeluarkan pula oleh an-Nasa’i dalam at-Tafsir. Demikian pula al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dan ia berkata: “Shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim tapi keduanya tidak mengeluarkannya.”

Firman Allah: wa in tantaHuu (“Dan jika kamu berhenti.”) Maksudnya dari kekufuran kepada Allah yang ada pada kalian dan pendustaan terhadap Rasul-Nya; fa Huwa khairul lakum (“Maka itulah yang lebih baik bagimu.”) Yaitu di dunia dan akhirat. Wa in ta’uuduu na-‘ud (“Dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali [pula]”) seperti firman-Nya: wa in ‘udtum ‘udnaa (“Dan sekiranya kamu kembali kepada [kedurhakaan], niscaya Kami kembali [mengadzabmu].”) (QS. Al-Israa’: 8) Maknanya, jika kalian kembali kepada kekufuran dan kesesatan yang telah ada pada kalian, niscaya Kami kembali kepada kalian dengan bencana yang seperti ini.

Wa lan tughniya ‘ankum fi-atukum syai-aw walau katsurat (“Dan angkatan perangmu sekali-kali
tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak.”) Maksudnya, seandainya kalian menghimpun sejumlah orang yang mungkin bisa kalian himpun, maka sesungguhnya siapa saja yang Allah bersamanya pastilah tidak seorang pun mampu mengalahkannya.

Wa annallaaHa ma’al mu’miniin (“Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.”) Mereka itu adalah golongan Nabi Muhammad saw. dan kelompok Rasul pilihan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 17-18

25 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 17-18“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah yang membunuh mereka dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah
Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. 8:17) Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu) dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang kafir. (QS. 8:18)” (al-Anfaal: 17-18)

Allah menjelaskan, bahwa Dialah yang Mahamenciptakan segala perbuatan hamba-Nya dan bahwasanya Dialah yang terpuji atas segala hal yang datang dari mereka yang berupa kebaikan, karena Dialah yang memberikan taufik untuk itu dan memberikan pertolongan kepada mereka atas hal itu.

Karena inilah Dia berfirman: fa lam taqtuluuHum wa laakinnallaaHa qatalaHum (“ Maka [sebenarnya] bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah yang membunuh mereka.”) Maksudnya, bukan karena daya dan kekuatan kalian, kalian bisa membunuh musuh-musuh kalian yang jumlahnya sangat banyak itu sementara kalian sedikit.

Akan tetapi Allahlah yang menjadikan kalian mampu menaklukkan mereka, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sungguh Allah telah menolongmu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.” (QS. Ali Imraan: 123).

Dan firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

Allah Tabaraka wa Ta’ala mengajarkan, bahwasanya kemenangan itu bukanlah pada banyaknya personil, juga bukan karena memakai baju besi dan peralatan, kemenangan tidak lain dari Allah. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “ Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249).

Kemudian Allah swt, berkata kepada Nabi-Nya juga, berkenaan dengan segenggam debu yang dilemparkan ke muka orang-orang kafir pada perang Badar, saat beliau keluar dari ‘arisy (tenda) setelah beliau dengan khusyu’ memanjatkan do’a, permohonan dan kepasrahannya kepada Allah, lalu beliau lemparkan segenggam debu itu kepada orang-orang kafir sambil bersabda: “Buruk sekali muka-muka mereka.” Kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk bersifat shidq (benar atau jujur) dalam melakukan penyerangan setelah itu, lalu mereka melakukannya, maka Allah swt. pun menyampaikan lemparan itu ke mata orang-orang musyrik, sehingga tidak seorang pun dari mereka kecuali terkena lemparan debu itu, sehingga mereka sibuk mengurusi matanya, lupa pada keadaannya.

Karena inilah Allah berfirman: wa maa ramaita idz ramaita wa laakinnallaaHa ramaa (“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar.”) Maksudnya, Dialah Allah yang menjadikan debu itu sampai kepada mereka dan Dialah yang menyibukkan mereka dengan debu itu, bukan kamu.

Muhammad bin Ishaq berkata dari’Urwah bin az-Zubair berkenaan dengan firman Allah: liyub-liyal mu’miniina minHu balaa-an hasanan (“[Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka] dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik.”) Maksudnya, agar orang-orang mukmin mengetahui hikmah-Nya atas mereka, berupa kemenangan mereka atas musuh mereka, padahal jumlah musuh sangat banyak sementara itu mereka sedikit, dengan demikian mereka akan mengetahui kebenaran Allah dan mensyukuri nikmat-Nya.

Demikian juga Ibnu Jarir mentafsirkan: innallaaHa samii’un ‘aliim (“Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”) Maksudnya, Mahamendengar dan mengabulkan do’a, Mahamengetahui siapa yang berhak mendapatkan pertolongan dan kemenangan.

Dzaalikum wa annallaaHa muHinu kaidil kaafiriin (“Itulah [karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu] dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir.”) Ini adalah bisyarah (berita gembira lain) di samping hasil yang dicapai berupa kemenangan, yaitu bahwasanya Allah swt. memberitahukan kepada mereka, bahwasanya Dia melemahkan tipu daya orang-orang kafir di waktu-waktu yang akan datang dan memperkecil urusan mereka dan bahwasanya seluruh yang mereka miliki berada pada kebinasaan dan kehancuran. Dan hanya milik Allahlah segala puji dan karunia.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 15-16

25 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 15-16“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (QS. 8:15) Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. 8:16)” (al-Anfaal: 15-16)

Allah berfirman, mengancam terhadap (siapa saja) yang lari dari peperangan, dengan ancaman neraka bagi siapa saja yang melakukan hal itu.
Yaa ayyuHal ladziina aamanuu idzaa laqiitumul ladziina kafaruu zahfan (“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang kafir yang menyerangmu.”) maksudnya jika kalian telah hampir sampai dan mendekati mereka.
Falaa tuwalluu Humul adbaar (“Maka janganlah kamu membelakangi mereka [mundur].”) maksudnya janganlah kalian berlari meninggalkan shahabat-shahabat kalian.

Wa may yuwalliHim yauma-idzin duburaHu illaa mutaharriqal liqitaalin (“Baransiapa yang membelakangi mereka [mundur] di waktu itu, kecuali berbelok untuk [siasat] perang.”) Maksudnya lari dari hadapan lawannya sebagai tipu daya untuk menunjukkan kepadanya bahwa dirinya takut, sehingga dia mengikutinya, kemudian berbalik dan membunuhnya, maka yang demikian ini tidak mengapa.

Hal seperti ini telah dinyatakan oleh Sa’id bin Jubair dan as-Suddi. Adh-Dhahhak berkata: “Yaitu
mendahului sahabat-sahabatnya untuk menjebak musuh, lalu membunuhnya.”

Au mutahayyizan ilaa fi-atin (“Atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain.”) Maksudnya, lari dari suatu tempat kepada kelompok muslimin lain untuk membantu mereka dan agar mereka pun membantunya, maka hal inipun diperbolehkan, sampai-sampai jika seandainya dia berada pada satu pasukan kecil, kemudian lari menuju komandannya, atau kepada pemimpin tertinggi. Hal ini pun masuk ke dalam rukhshah (keringanan) yang diperbolehkan.

Imam Ahmad berkata, dari `Abdullah bin `Umar radhiallaaHu ‘anHumaa ia berkata: “Aku berada pada suatu sariyyah (pasukan ekspedisi) dari beberapa pasukan oleh Rasulullah, lalu orang-orang lari menghindar dan aku termasuk yang lari, lalu kami berkata: ‘Bagaimana kita harus berbuat, sementara kita telah melarikan diri dari medan pertempuran dan kembali dengan mendapatkan murka?’ Lalu karni berkata: `Bagaimana kalau kita memasuki kota dan menginap?’ Lalu kami berkata: `Bagaimana kalau kita menampakkan kita kepada Rasulullah, mungkin saja kita mendapatkan taubat, jika tidak, kita pergi. Lalu kami mendatangi Rasulullah sebelum shalat Subuh, maka beliau keluar, beliau bersabda: `Siapakah orang-orang ini?’ Maka kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang melarikan diri.’ Maka Rasulullah bersabda: `Tidak, kalian adalah ‘akkarun (orang-orang yang akan kembali medan pertempuran), aku adalah fi-ah (golongan) kalian dan aku adalah fi-atul muslimin (golongan muslimin).”

Ibnu `Umar berkata: “Maka kami mendatangi beliau sehingga karni menciumi tangan beliau.” Demikianlah Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini derajatnya Hasan.”

Para ahli ilmu berkata: “Makna ‘akkarun adalah ‘arraafun (orang yang dikenal).” Mujahid berkata, `Umar berkata: “Aku adalah fi-ah bagi setiap muslim.”

Au mutahayyizan ilaa fi-atin (“Atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain.”) Adh-Dhahhak berkata: “Al-Mutahayyiz adalah orang yang lari kepada Nabi saw. dan para sahabatnya.”

Demikian juga orang yang hari ini (sekarang) lari kepada pemimpinnya tau para sahabatnya. Adapun jika pelarian itu bukan karena sebab-sebab ini, maka hukumnya haram dan merupakan salah satu dosa besar, karena hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam dua kitab shahih mereka dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang membinasakan.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah apakah tujuh hal itu?” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali secara haq, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri dari kancah pertempuran dan menuduh zina wanita suci lalai (lengah) dan beriman.”

Karena inilah Allah swt, berfirman: faqad baa-a (“Sesungguhnya orang itu kembali.”) Maksudnya, kembali atau pulang; bighadlabim minallaaHi wa ma’waaHu (“Dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya [adalah]….”) Masudnya, tempat akhirnya dan tempat kembalinya pada hari akhirat. jaHannamu wa bi’sal mashiir (“Adalah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.”)

Ath-Thabrani berkata, telah menceritakan kepada kami al-‘Abbas ibnu Muqatil al-Asfathi, telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, telahmenceritakan kepada kami Hafsh bin `Umar as-Sunni, telah menceritakan kepadaku ‘Amr bin Murrah, ia berkata, aku mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid, budak yang dimerdekakan Rasulullah, ia berkata, aku mendengar bapakku menceritakan dari kakekku, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

doa mohon ampun dari dosa besar“Siapa yang mengucapkan: `Aku meminta ampunan kepada Allah, yang tiada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Dia, yang Mahahidup ,Mahamengurus makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya,’ niscaya Allah mengampuninya, meskipun ia telah lari dari medan perang.” Demikian pula Dawud meriwayatkan.

Dan at-Tirmidzi pun meriwayatkan dari al-Bukhari, dari Musa Isma’il dengan lafal seperti ini. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini.”

Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Dan tidak diketahui hadits yang diriwayatkan Zaid, maula (bekas hamba) Rasulullah darinya selain hadits ini.” Dalam sunan Abu Dawud, sunan an-Nasa’i, Mustadrak al-Hakim, Tafsir Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih, dari Abu Sa’id, bahwasanya ia berkata dalam ayaat ini: wa may yuwal liHim yauma-idzin duburaHu (“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu.”) “Sesungguhnya ayat ini diturunkan pada ahli Badar (orang ikut perang Badar).”

Hal ini seluruhnya tidak menafikan, bahwa melarikan diri dari kancah peperangan adalah haram juga bagi selain ahli Badar, meskipun sebab nuzul (turunnya) ayat ini berkenaan dengan mereka, sebagaimana ditunjukkan hadits Abu Hurairah yang telah tersebut di muka, bahwa melarikan diri dari kancah pertempuran termasuk salah satu dosa yang membinasakan, sebagaimana madzhab jumhurul ulama. WallaHu a’lam.

Bersambung