Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 15-16

25 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 15-16“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (QS. 8:15) Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. 8:16)” (al-Anfaal: 15-16)

Allah berfirman, mengancam terhadap (siapa saja) yang lari dari peperangan, dengan ancaman neraka bagi siapa saja yang melakukan hal itu.
Yaa ayyuHal ladziina aamanuu idzaa laqiitumul ladziina kafaruu zahfan (“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang kafir yang menyerangmu.”) maksudnya jika kalian telah hampir sampai dan mendekati mereka.
Falaa tuwalluu Humul adbaar (“Maka janganlah kamu membelakangi mereka [mundur].”) maksudnya janganlah kalian berlari meninggalkan shahabat-shahabat kalian.

Wa may yuwalliHim yauma-idzin duburaHu illaa mutaharriqal liqitaalin (“Baransiapa yang membelakangi mereka [mundur] di waktu itu, kecuali berbelok untuk [siasat] perang.”) Maksudnya lari dari hadapan lawannya sebagai tipu daya untuk menunjukkan kepadanya bahwa dirinya takut, sehingga dia mengikutinya, kemudian berbalik dan membunuhnya, maka yang demikian ini tidak mengapa.

Hal seperti ini telah dinyatakan oleh Sa’id bin Jubair dan as-Suddi. Adh-Dhahhak berkata: “Yaitu
mendahului sahabat-sahabatnya untuk menjebak musuh, lalu membunuhnya.”

Au mutahayyizan ilaa fi-atin (“Atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain.”) Maksudnya, lari dari suatu tempat kepada kelompok muslimin lain untuk membantu mereka dan agar mereka pun membantunya, maka hal inipun diperbolehkan, sampai-sampai jika seandainya dia berada pada satu pasukan kecil, kemudian lari menuju komandannya, atau kepada pemimpin tertinggi. Hal ini pun masuk ke dalam rukhshah (keringanan) yang diperbolehkan.

Imam Ahmad berkata, dari `Abdullah bin `Umar radhiallaaHu ‘anHumaa ia berkata: “Aku berada pada suatu sariyyah (pasukan ekspedisi) dari beberapa pasukan oleh Rasulullah, lalu orang-orang lari menghindar dan aku termasuk yang lari, lalu kami berkata: ‘Bagaimana kita harus berbuat, sementara kita telah melarikan diri dari medan pertempuran dan kembali dengan mendapatkan murka?’ Lalu karni berkata: `Bagaimana kalau kita memasuki kota dan menginap?’ Lalu kami berkata: `Bagaimana kalau kita menampakkan kita kepada Rasulullah, mungkin saja kita mendapatkan taubat, jika tidak, kita pergi. Lalu kami mendatangi Rasulullah sebelum shalat Subuh, maka beliau keluar, beliau bersabda: `Siapakah orang-orang ini?’ Maka kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang melarikan diri.’ Maka Rasulullah bersabda: `Tidak, kalian adalah ‘akkarun (orang-orang yang akan kembali medan pertempuran), aku adalah fi-ah (golongan) kalian dan aku adalah fi-atul muslimin (golongan muslimin).”

Ibnu `Umar berkata: “Maka kami mendatangi beliau sehingga karni menciumi tangan beliau.” Demikianlah Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini derajatnya Hasan.”

Para ahli ilmu berkata: “Makna ‘akkarun adalah ‘arraafun (orang yang dikenal).” Mujahid berkata, `Umar berkata: “Aku adalah fi-ah bagi setiap muslim.”

Au mutahayyizan ilaa fi-atin (“Atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain.”) Adh-Dhahhak berkata: “Al-Mutahayyiz adalah orang yang lari kepada Nabi saw. dan para sahabatnya.”

Demikian juga orang yang hari ini (sekarang) lari kepada pemimpinnya tau para sahabatnya. Adapun jika pelarian itu bukan karena sebab-sebab ini, maka hukumnya haram dan merupakan salah satu dosa besar, karena hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam dua kitab shahih mereka dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang membinasakan.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah apakah tujuh hal itu?” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali secara haq, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri dari kancah pertempuran dan menuduh zina wanita suci lalai (lengah) dan beriman.”

Karena inilah Allah swt, berfirman: faqad baa-a (“Sesungguhnya orang itu kembali.”) Maksudnya, kembali atau pulang; bighadlabim minallaaHi wa ma’waaHu (“Dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya [adalah]….”) Masudnya, tempat akhirnya dan tempat kembalinya pada hari akhirat. jaHannamu wa bi’sal mashiir (“Adalah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.”)

Ath-Thabrani berkata, telah menceritakan kepada kami al-‘Abbas ibnu Muqatil al-Asfathi, telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, telahmenceritakan kepada kami Hafsh bin `Umar as-Sunni, telah menceritakan kepadaku ‘Amr bin Murrah, ia berkata, aku mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid, budak yang dimerdekakan Rasulullah, ia berkata, aku mendengar bapakku menceritakan dari kakekku, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

doa mohon ampun dari dosa besar“Siapa yang mengucapkan: `Aku meminta ampunan kepada Allah, yang tiada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Dia, yang Mahahidup ,Mahamengurus makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya,’ niscaya Allah mengampuninya, meskipun ia telah lari dari medan perang.” Demikian pula Dawud meriwayatkan.

Dan at-Tirmidzi pun meriwayatkan dari al-Bukhari, dari Musa Isma’il dengan lafal seperti ini. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini.”

Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Dan tidak diketahui hadits yang diriwayatkan Zaid, maula (bekas hamba) Rasulullah darinya selain hadits ini.” Dalam sunan Abu Dawud, sunan an-Nasa’i, Mustadrak al-Hakim, Tafsir Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih, dari Abu Sa’id, bahwasanya ia berkata dalam ayaat ini: wa may yuwal liHim yauma-idzin duburaHu (“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu.”) “Sesungguhnya ayat ini diturunkan pada ahli Badar (orang ikut perang Badar).”

Hal ini seluruhnya tidak menafikan, bahwa melarikan diri dari kancah peperangan adalah haram juga bagi selain ahli Badar, meskipun sebab nuzul (turunnya) ayat ini berkenaan dengan mereka, sebagaimana ditunjukkan hadits Abu Hurairah yang telah tersebut di muka, bahwa melarikan diri dari kancah pertempuran termasuk salah satu dosa yang membinasakan, sebagaimana madzhab jumhurul ulama. WallaHu a’lam.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: