Arsip | 22.39

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 26

26 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 26“Dan ingatlah (hai Para Muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculikmu, maka Allah memberimu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rizki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfaal: 26)

Dengan ayat ini Allah swt. mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman atas kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada mereka, serta kebaikan-kebaikan-Nya kepada mereka, di mana mereka masih sedikit, lalu Allah memperbanyak (jumlah) mereka, mereka lemah dan takut, lalu Allah menguatkan dan memberikan kemenangan kepada mereka, mereka fakir dan kekurangan, lalu Allah memberikan rizki kepada mereka dari yang baik-baik dan Dia meminta dari mereka agar bersyukur, lalu mereka mentaati-Nya dan melaksanakan segala hal yang diperintahkan-Nya.

Inilah keadaan orang-orang beriman saat mereka masih berada di Makkah sebagai kaum minoritas yang sembunyi-sembunyi dan tertekan, mereka takut kalau diculik satu-persatu oleh orang-orang yang musyrik, Majusi dan Romawi dari berbagai negeri mereka yang semuanya adalah musuh mereka, dikarenakan (jumlah) orang-orang beriman masih sedikit dan tidak ada kekuatan pada mereka.

Kondisi mereka tetaplah demikian dan tidak berubah, sehingga Allah mengizinkan kepada mereka untuk hijrah ke Madinah, lalu Allah memberikan tempat yang aman kepada mereka di Madinah. Allah persiapkan penduduknya untuk mereka, penduduk itu memberikan tempat yang aman dan pembelaan pada perang Badar dan perang-perang lainnya. Para penduduk Madinah itu menolong dengan harta mereka dan mengorbankan jiwa mereka dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 25

26 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 25“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dhalim saja di antaramu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 25)

Dengan ayat ini Allah swt. memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang adanya fitnah, yaitu ujian dan cobaan yang menimpa orang-orang yang berbuat keburukan dan yang tidak berbuat keburukan, ia tidak hanya khusus menimpa para pelaku maksiat, juga bukan hanya menimpa orang yang secara langsung melakukan dosa, akan tetapi menimpa kedua-duanya, sekiranya ujian itu tidak ditolak dan diangkat (dicabut).

Dari Ibnu `Abbas ra, dalam mentafsirkan ayat ini: “Allah swt memerintahkan orang-orang beriman agar mereka tidak membiarkan kemunkaran terjadi di hadapan mereka, sebab Allah bisa menimpakan adzab secara merata.” Ini adalah penafsiran yang baik sekali.

Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali tercakup ke dalam fitnah, sesungguhnya Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu).”(QS. At-Taghaabun: 15).

Maka, siapa saja yang meminta perlindungan, mintalah perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah yang menyesatkan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 24

26 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 24“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfaal: 24)

Imam al-Bukhari berkata: istajiibuu (“Penuhilah,”) sambutlah. Limaa yuhyiikum (“Kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.”) Berarti: limaa yushlihuukum (segala hal yang membawa maslahat bagi kalian).”

Telah menceritakan kepadaku Ishaq, telah menceritakan kepada kami Rauh, dari Abi Sa’ad bin al-Ma’la, ia berkata: “Aku sedang shalat, lalu Rasulullah saw. lewat, beliau memanggilku, lalu aku tidak mendatanginya sehingga aku selesai shalat, kemudian aku mendatangi beliau, lalu beliau bersabda: “Apa yang menghalangimu untuk datang kepadaku?” Bukankah Allah swt, telah berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanus tajiibuu lillaaHi wa lir rasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum (“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”)

Kemudian beliau bersabda: “Sungguh akan aku ajarkan kepadamu satu surat dalam al-Qur’an sebelum aku keluar.” Pembicaraan tentang hadits ini sanad-sanadnya telah dikemukakan pada awal tafsir Surat al-Fatihah.

Berkenaan dengan firman Allah: limaa yuhyiikum (“Kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,”) Mujahid berkata: “Yaitu, kepada kebenaran.”
Qatadah berkata: limaa yuhyiikum (“Kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,”) yaitu al-Qur’an ini, karena di dalamnya terdapat keselamatan, keabadian dan kehidupan.” As-Suddi berkata: “Yaitu, di dalam Islam terdapat sesuatu yang bisa menghidupkan mereka setelah kematian mereka yang dikarenakan kekufuran.”

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin ja’far bin az-Zubair, dari ‘Urwah bin az-Zubair: yaa ayyuHal ladziina aamanus tajiibuu lillaaHi wa lir rasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum (“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”) maksudnya adalah untuk berperang yang dengannya Allah ” memberikan ‘izzah (kehormatan) kepada kalian setelah kehinaan, menguatkan kalian setelah lemah, memberikan perlindungan yang kokoh kepada kalian dari musuh kalian setelah terkalahkan oleh mereka.”

Firman Allah: wa’lamuu annallaaHa yahuulu bainal mar’i wa qalbiHi (“Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu menghalangi seorang mukmin dari kekufuran dan seorang kafir dari keimanan.” Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak secara mauquf. Ia berkata: “(Hadits ini) shahih, sedang al-Bukhari serta Muslim tidak mengeluarya.” Demikian pula Mujahid, Sa’id, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, Abu Shalih, Athiyyah, Muqatil bin Hayyan dan as-Suddi berkata: “Dan banyak hadits yang datang dari Rasulullah yang sesuai dengan ayat ini.”

Imam Ahmad berkata [dengan sanadnya dari ‘Abdullah bin Amr] bahwasanya ia mendengar ‘Abdullah bin Amr bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya hati manusia seluruhnya ada di antara dua jemari Allah seperti satu hati, Dia berbuat (mengatur) terhadapnya sesuai dengan kehendak-Nya”

Kemudian Rasulullah berdo’a:

doa agar diberi hati yang selalu taat kepada Allah“Ya Allah yang menguasai hati, arahkanlah hati-hati kami untuk menaati-Mu.”

Imam Muslim meriwayatkan hadits ini sendiri tanpa Imam al-Bukhari, ia (Muslim) meriwayatkannya bersama an-Nasai’.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 20-23

26 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 20-23“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya), (QS. 8:20) dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata: ‘Kami mendengarkan,’ padahal mereka tidak mendengarkan. (QS. 8:21) Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak (tuli) dan bisu yang tidak mengerti apapun. (QS. 8:22) Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). (QS. 8:23)” (al-Anfaal: 20-23)

Allah swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya dan melarang mereka dari menyelisihi-Nya serta menyerupai orang-orang yang kafir yang menentangnya. Karena inilah Allah berfirman: walaa tawallau ‘anHu (“Da njangalah kamu berpaling daripada-Nya.”) Maksudnya, jangan kalian tidak mentaati-Nya, tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya dan tidak meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Wa antum tasma’uun (“Sedang kamu mendengar [perintah perintah-Nya].”) Maksudnya, setelah kalian mengetahui apa yang Dia serukan kepada kalian.
Wa laa takuunuu kalladziina qaaluu sami’naa waHum laa tasma’uun (“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang [munafk] yang berkata: ‘Kami mendengarkan,’ padahal mereka tidak mendengarkan.”)

Ada pendapat mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah orang-orang musyrik dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Ibnu Ishaq berkata: “Mereka adalah orang-orang munafik, sebab merekalah yang menampakkan, bahwa mereka telah mendengar dan merespon, padahal tidak demikian.”

Kemudian Allah swt. memberitahukan, bahwa manusia seperti ini adalah makhluk yang paling buruk dan juga termasuk perangai yang terburuk, karenanya Allah swt. berfirman: inna syarrad dawaabbi ‘indallaaHish shummu (“Sesungguhnya binatang [makhluk] yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang tuli.”)
Maksudnya, tuli mendengarkan kebenaran; albukmu (“bisu”) dari memahaminya. Karena inilah Allah berfirman: alladziina laa ya’qiluuna (“Yang tidak mengerti apa-apa.”) Maka merekalah seburuk-buruk makhluk, sebab seluruh yg melata selain mereka, taat kepada Allah sesuai dengan fungsi yang mana ia diciptakan untuknya, sementara itu mereka (orang-orang munafik) diperintahkan untuk beribadah lalu mereka kufur.

Pada ayat lain Allah berfirman yang artinya: “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf: 179).

Kemudian Allah memberitahukan, bahwasanya mereka tidak mempunyai pemahaman yang benar dan tidak mempunyai pula tujuan yang benar jika diandaikan bahwa mereka mempunyai pemahaman. Karenanya Allah berfirman: walau ‘alimallaaHu fiiHim khairal la-asma’aHum (“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar.”) Maksudnya, pastilah Allah memberikan pemahaman kepada mereka. Akan tetapi tidak ada kebaikan pada mereka, sehingga Allah tidak memberikan pemahaman kepada mereka, sebab Allah mengetahui bahwa: walau asma’aHum (“Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar.”) Kalau saja mereka dijadikan dapat memahami: latawallau (“Niscaya mereka pasti berpaling juga.”)
Darinya, dengan sengaja dan dengan membangkang setelah mereka memahaminya: wa Hum mu’ridluun (“Sedang mereka memalingkan diri”) darinya.

Bersambung