Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 34-35

29 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 34-35“Kenapa Allah tidak mengadzab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai (nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. 8:34) Shalat mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. 8:35)” (al-Anfaal: 34-35)

Allah memberitahukan, bahwasanya mereka layak disiksa, namun Allah tidak menimpakan siksa itu kepada mereka karena berkah keberadaan Rasulullah saw. di tengah-tengah mereka. Karena inilah saat Rasulullah keluar dari tengah-tengah mereka, Allah menimpakan siksanya kepada mereka pada perang Badar, sehingga para pembesar mereka terbunuh dan sebagiannya tertawan. Allah memberikan petunjuk kepada mereka untuk berisitighfar, meminta ampunan dari dosa-dosa yang mereka tenggelam di dalamnya, yaitu dari kemusyrikan dan tindak pengrusakan.

Qatadah, as-Suddi yang lainnya berkata: “Kaum itu tidak meminta ampunan. Seandainya mereka meminta ampunan, pastilah mereka tidak akan disiksa.” Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Kalau saja bukan karena adanya orang-orang lemah dari orang-orang yang beriman yang berisitighfar yang ada di tengah-tengah mereka, pastilah adzab itu akan datang dengan tanpa bisa ditolak, akan tetapi adzab itu tertolak karena keberadaan mereka.

Sebagaimana firman Allah pada peristiwa Hudaibiyyah yang artinya:
“Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil-haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafr di antara mereka dengan adzab yang pedih.” (QS. Al-Fath: 25).

Ibnu Jarir berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hamid, telah menceritakan kepada kami Ya’qub dari Ja’far bin Abil Mughirah, dari Ibnu Abza, ia berkata: “Dahulu Nabi Muhammad saw. berada di Makkah, kemudian Allah menurunkan: wa maa kaanallaaHu liyu-‘adz-dzibaHum wa anta fiiHim (“Dan Allah tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka.”) Ia berkata: Lalu Nabi saw. keluar ke Madinah, maka Allah menurunkan: wa maa kaanallaaHu mu’adz-dzaibaHum wa Hum yastaghfiruun (“Dan tidak [pula] Allah mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.”) Ia berkata: “Dan waktu itu kaum muslimin yang tersisa itu adalah orang-orang yang lemah.” Maksudnya orang-orang Islam yang masih ada di Makkah masih berisitighfar.

Maka pada saat mereka keluar, Allah menurunkan: wa maa laHum allaa yu-‘adz-dzibaHumullaaHu wa Hum yashudduuna ‘anil masjidil haraami wa maa kaanuu auliyaa-uHu in auliyaa-uHu illal muttaquun (“Kenapa Allah tidak mengadzab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk [mendatangi] Masjidil-haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai-[nya] hanyalah orang-orang yang bertakwa.”) Lalu Allah Ta’ala mengizinkan fathu Makkah, maka jadilah ia sebagai adzab yang dijanjikan kepada mereka.

Firman-Nya: wa maa laHum allaa yu-‘adz-dzibaHumullaaHu wa Hum yashudduuna ‘anil masjidil haraami wa maa kaanuu auliyaa-uHu in auliyaa-uHu illal muttaquun, wa laakinna aktsaraHum laa ya’lamuun (“Kenapa Allah tidak mengadzab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk [mendatangi] Masjidil-haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai-[nya] hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”)

Maksudnya, bagaimana Allah tidak menyiksa mereka, sementara mereka menghalangi orang untuk mendatangi Masjidil-haram. Maksudnya, orang-orang yang ada di Makkah menghalangi orang-orang beriman yang merupakan pemiliknya untuk melakukan shalat dan thawaf di dalamnya.

Karena inilah Allah berfirman: wa maa kaanuu auliyaa-uHu in auliyaa-uHu illal muttaquun (“Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang orang yang berhak menguasai-[nya], hanyalah orang-orang yang bertakwa.”) Maksudnya, mereka bukanlah pemilik Masjidil-haram, pemiliknya tidak lain adalah Nabi dan para sahabatnya.

Sebagaimana firman Allah swt yang artinya:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya dan mereka kekal di dalam neraka. Sesungguhnya yang makmurkan masjid-masjid Allah hayalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah: 17-18)

Mujahid berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berjihad, siapa pun mereka dan di mana pun mereka.”

Kemudian Allah menyebutkan apa yang mereka tuju, serta apa yang mereka lakukan di Masjidilharam.

Lalu Allah pun berfirman: wa maa kaana shalaataHum ‘indal baiti illaa mukaa-aw wa tash-diyatan (“Shalat mereka di sekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan.”)

Dari Ibnu `Abbas ra. ia berkata: “Dahulu orang-orang Quraisy berthawaf di sekeliling Ka’bah dalam keadaan telanjang sambil bersiul dan bertepuk tangan.” Arti dari kata “mukaa-u” adalah bersiul, sedangkan arti “at-tash-diyatu” adalah bertepuk tangan. Demikianlah `Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas ra. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Muhammad bin Ka’ab, Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman, adh-Dhahhak, Qatadah, ‘Athiyyah, al-‘Aufi, Hajar bin ‘Anbas dan Ibnu Abza dengan riwayat yang seperti ini.

Firman Allah: fadzuuqul ‘adzaaba bimaa kuntum takfuruun (“Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.”)Adh-Dhalihak, Ibnu Juraij dan Muhammad bin Ishaq berkata: “Yang dimaksud adzab itu adalah, apa yang menimpa mereka pada perang Badar, yang berupa pembunuhan dan penawanan.” Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan ia tidak menceritakan pendapat lainnya.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: