Arsip | 22.13

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 29-31

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 29-31“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. (QS. 4:29) Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam Neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. 4:30) Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga). (QS. 4:31)” (an-Nisaa’: 29-31)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian mereka tehadap sebagian lainnya dengan bathil, yaitu dengan berbagai macam usaha yang tidak syar’i seperti riba, Judi dan berbagai hal serupa yang penuh tipu daya, sekalipun pada lahiriahnya cara-cara tersebut berdasarkan keumuman hukum syar’i, tetapi diketahui oleh Allah dengan jelas bahwa pelakunya hendak melakukan tipu muslihat terhadap riba. Sehingga Ibnu Jarirberkata: “Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang seseorang yang membeli baju dari orang lain dengan mengatakan jika anda senang, anda dapat mengambilnya, dan jika tidak, anda dapat mengembalikannya dan tambahkan satu dirham.” Itulah yang difirmankan oleh Allah: laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili (“Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.”).”

`Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Ketika diturunkan oleh Allah: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili (“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil,”) kaum muslimin berkata, “Sesungguhnya Allah telah melarang kita untuk memakan harta di antara kita dengan bathil. Sedangkan makanan adalah harta kita yang paling utama, untuk itu tidak halal bagi kita makan di tempat orang lain, maka bagaimana dengan seluruh manusia?” Maka, Allah setelah itu menurunkan ayat yang artinya:
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumahmu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkati lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. An-Nuur: 61)
Demikianlah kata Qatadah.

Firman Allah: illaa an takuuna tijaaratan ‘an taraadlim minkum (“Kecuali dengan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka.”) Lafazd (tijaaratan) dibaca dengan rafa’ (dhammah) atau nashab (fathah) yaitu, menjadi istitsna munqathi’ (pengecualian terpisah). Seakan-akan Allah berfirman: “Janganlah kalian menjalankan (melakukan) sebab-sebab yang diharamkan dalam mencari harta, akan tetapi dengan perniagaan yang disyari’atkan, yang terjadi dengan saling meridhai antara penjual dan pembeli, maka lakukanlah hal itu dan jadikanlah hal itu sebagai sebab dalam memperoleh harta benda. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al-An’aam: 151)

Dari ayat yang mulia ini, asy-Syafi’i berhujjah bahwa jual-beli tidak sah kecuali dengan qabul (sikap menerima). Karena qabul itulah petunjuk nyata suka sama suka, berbeda dengan mu aathaat yang terkadang tidak menunjukkanadanya suka sama suka. Dalam hal ini Malik, Abu Hanifah dan Ahmad berbeda pendapat dengan Jumhur ulama, bahwa mereka melihat perkataan merupakan tanda suka sama suka, begitu pula dengan perbuatan, pada sebagian kondisi secara pasti menunjukkan keridhaan, sehingga mereka menilai sah jual-beli mu’aathaat. Mujahid berkata, “Kecuali perniagaan yang mengandung suka sama suka,” menjual atau membeli antara satu orang dengan yang lainnya. (Begitu juga Ibnu Jarir meriwayatkan).

Ba’i mu’aathaath: Jual-beli dengan cara memberikan barang dan menerima harga, tanpa ijab qabul oleh pihak penjual dan pembeli, seperti yang berlaku di masyarakat sekarang. (Pen-jualan secara tukar-menukar).

Di antara kesempurnaan suka sama suka adalah menetapkan khiyar majelis (memilih barang di tempat). Khiyar majelis: Hak untuk menjadikan suatu akad jual beli atau membatalkannya selama masih berada di tempat jual beli itu.

Sebagaimana terdapat dalam ash-Shahihain,bahwa Rasulullah bersabda: “Penjual dan pembeli berhak memilih (jadi atau batal jual belinya) selama keduanya belum berpisah.”
Di dalam lafazh al-Bukhari; “Jika dua orang melakukan jual-beli, maka masing-masing memiliki hak pilih selama keduanya belum berpisah.”

Di antara ulama yang berpendapat yang sesuai dengan kandungan hadits ini adalah Ahmad, asy-Syafi’i dan para pengikut keduanya serta Jumhur ulama Salaf dan Khalaf. Termasuk di dalamnya disyari’atkannya khiyar syarat (hak pilih dengan menetapkan syarat) hingga tiga hari setelah akad sesuai dengan kejelasan barang yang diperjual belikan, bahkan hingga satu tahun di lokasi, sebagaimana pendapat yang masyhur dari Malik. Mereka menilai sah jual-beli mu’aathaat secara mutlak, yaitu satu pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i.

Firman Allah: walaa taqtuluu anfusakum (“janganlah kamu membunuh dirimu.”) Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, sibuk melakukan kemaksiatan terhadap-Nya dan memakan harta di antara kalian dengan bathil.
innallaaHa kaana bikum rahiiman (“Sesungguhnya Allah Mahapenyayang terhadapmu,”) yaitu pada apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya untuk kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash ia berkata, “Ketika Rasulullah mengutusnya pada tahun Dzatus-Salasil, ia berkata: “Di malam yang sangat dingin menggigil aku pernah mimpi jima’, aku khawatir jika mandi aku akan binasa. Maka aku pun tayammum, kemudian shalat Shubuh dengan sahabat-sahabatku. Ketika kami menghadap Rasulullah, aku menceritakan hal tersebut kepada beliau.” Beliau pun bersabda: “Hai `Amr, engkau shalat dengan sahabat-sahabatmu dalam keadaan junub?” Aku menjawab: “Ya Rasulullah! Di malam yang dingin menggigil aku pernah mimpi jima’, lalu aku khawatir jika aku mandi, aku akan binasa. Lalu aku ingat firman Allah: walaa taqtuluu anfusakum innallaaHa kaana bikum rahiiman (“Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Mahapenyayang kepadamu.”) Maka aku pun tayammum, kemudian shalat. Maka Rasulullah saw. tertawa dan tidak berkata apa-apa lagi. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. (al-Bukhari meriwayatkannya secara mu’alaq)

Kemudian Ibnu Marudawaih ketika membahas ayat yang mulia ini mengemukakan hadits dari al-A’masy dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa bunuh diri dengan sebuah besi, maka besi itu akan ada di tangannya untuk merobek-robek perutnya pada hari Kiamat kelak di Neraka Jahannam kekal selamanya. Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan racun, niscaya racun itu berada di tangannya, dia meneguknya di Neraka Jahannam kekal selamanya.” (Hadits ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim).

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa may yaf’al dzaalika ‘udwaanaw wa dhulman (“Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan dhalim.”) Yaitu, barang-siapa yang melakukan apa yang dilarang oleh Allah dengan melampaui batas lagi dhalim dalam melakukannya, dalam arti mengetahui keharamannya tetapi berani melanggarnya; fasaufa nushliiHi naaran (“Maka kelak akan Kami masukkan kedalam Neraka.”) Ayat ini merupakan peringatan keras dan ancaman serius, maka hendaklah waspada setiap orang yang berakal yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.

Firman Allah: in tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu nukaffir ‘ankum sayyi-aatikum (“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu [dosa-dosamu yang kecil].”) Artinya, jika kalian menjauhi dosa-dosa besar, niscaya Kami hapuskan dosa-dosa kecil kalian dan Kami masukkan kalian ke dalam Surga. Karena itu, Allah berfirman: wa nud-khilkum mud-khalan kariiman (“Dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.”) Terdapat hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat yang mulia ini, kami akan menyebutkan beberapa di antaranya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salman al-Farisi, ia berkata, Nabi saw. bersabda kepadaku: “Apakah engkau tahu, apakah hari Jum’at itu?” Aku menjawab: “Yaitu hari di mana Allah himpunkan bapak-bapak kalian.” Beliau pun bersabda: “Akan tetapi, aku tahu apa itu hari Jum’at. Tidak ada seseorang yang bersuci, lalu membaguskan wudhunya dan pergi melaksanakan shalat Jum’at. Kemudian diam hingga imam menyelesaikan shalatnya, kecuali hal itu menjadi penghapus dosa baginya antara hari itu dan Jum’at sesudahnya selama ia menjauhi dosa-dosa besar.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari jalan lain, melalui Sahabat yang sama dengan hadits itu, yakni Salman al-Farisi. Abu Ja’far bin Jarir meriwayatkan dari Nu’aim al-Mujmir, telah mengabarkan kepadaku Shuhaib, maula ash-Shawari, bahwa dia mendengar Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra. berkata, suatu hari Rasulullah berkhutbah kepada kami: “Demi Rabb yang jiwaku di tangan-Nya,” kemudian Rasulullah saw. menunduk penuh tangis. Kami tidak tahu apa yang menyebabkan beliau bersumpah. Kemudian, beliau mengangkat kepala dan pada wajahnya tampak keceriaan yang bagi kami hal itu lebih kami senangi daripada unta merah, beliau bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang shalat lima waktu, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat dan menjauhi tujuh dosa besar, kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu Surga. Kemudian dikatakan padanya: ‘Masuklah dengan aman.’” Demikian riwayat an-Nasa’i, al-Hakim dalam al-Mustadrak dan Ibnu Hibban dalam shahihnya. Al-Hakim berkata, shahih atas syarat al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi keduanya tidak mengeluarkannya.

Penjelasan tentang Tujuh Dosa Besar

Tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Sulaiman bin Hilal, dari Tsaur bin Zaid, dari Salim Abil Mughits, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah apakah itu?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, sihir, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan peperangan, serta menuduh berbuat zina pada wanita mukminah yang baik-baik yang suci lagi beriman.”

Nash yang menetapkan tujuh macam ini sebagai dosa-dosa besar, tidak berarti meniadakan dosa-dosa lainnya. Wallahu a’lam.

(Hadits yang lain) dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari hadits `Abdurrahman bin Abi Bakar dari ayahnya, ia berkata, Nabi bersabda: “Maukah kuberitahu pada kalian tentang dosa-dosa besar?” Kami menjawab: “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu-berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka kepada orang tua.” [-Tadinya beliau bersandar, kemudian beliau duduk-] dan bersabda: “Hati-hatilah, dan juga persaksian palsu, hati-hatilah dan juga perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulangnya, hingga kami berkata mudah-mudahan beliau diam.

(Hadits lain yang di dalamnya terdapat pembunuhan anak). Di dalam kitab ash-Shahihain dari ‘Abdullah bin Masud, ia berkata: Aku bertanya: “Ya Rasulullah, apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Yaitu, engkau jadikan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu bunuh anakmu, karena takut makan bersamamu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu berzina dengan isteri tetanggamu.” Lalu beliau membaca: “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat-gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Furqaan: 68-70).

(Hadits lain) dari ‘Abdullah bin `Amr yang di dalamnya terdapat sumpah palsu. Imam Ahmad meriwayatkan, dari `Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi saw. bersabda: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, atau bunuh diri (dalam hal ini Syu’bah ragu) dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i).

(Hadits lain) dari `Abdullah bin ‘Amr, yang di dalamnya terdapat perilaku yang menyebabkan pencelaan kepada kedua orang tua. Ibnu AbiHatim meriwayatkan, dari `Abdullah bin ‘Amr yang dirafa’kan (disambungkan wayatnya) oleh Sufyan kepada Nabi. Sedangkan Mas’ar memauqufkannya (menghentikannya) pada `Abdullah bin ‘Amr: “Di antara dosa besar adalah seseorang yang mencaci-maki kedua orang tuanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang dapat mencaci-maki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “Yaitu seseorang mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci-maki ayahnya. Dan seseorang mencaci-maki ibu orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci-maki ibunya.”

Dikeluarkan oleh al-Bukhari dari `Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang lain itu mencaci kembali ayahnya. Dan seseorang mencaci ibu orang lain, lalu orang lain itupun mencaci kembali ibunya.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Muslim secara marfu’ (riwayatnya sampai pada Nabi saw) at-Tirmidzi berkata: “Shahih.”

Di dalam hadits shahih dikatakan, bahwa Rasulullah bersabda: “Mencaci orang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kafir.”

(Hadits lain tentang itu), Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-‘Alla bin `Abdurrahman, dari ayahnya dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah merampas (mencemarkan) kehormatan seseorang muslim dan dua orang yang saling mencaci dengan cacian.”

Demikian riwayat hadits ini, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunannya, kitab “al Adab”, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah (mendhalimi) melampaui batas terhadap kehormatan seorang muslim tanpa haq dan termasuk di antara dosa besar, dua orang yang saling mencaci-maki dengan cacian.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Qatadah al-‘Adwah, ia berkata: “Kami telah dibacakan surat `Umar yang di dalamnya tertulis; Di antara dosa besar adalah menjamak dua waktu shalat [-yaitu tanpa udzur-], lari dari pertempuran dan merampok,” dan riwayat ini isnadnya shahih. Maksudnya adalah, jika ancaman ditujukan terhadap orang yang menjamak dua waktu shalat, seperti Zhuhur dan `Ashar, baik takdim atau ta-khir, begitu pula Maghrib dan `Isya’, seperti menjamak dengan syar’i, orang yang melakukannya tanpa sebab-sebab tersebut, berarti ia pelaku dosa besar. Maka, bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat secara total. Untuk itu Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pemisah antara seorang hamba dengan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat.”

Di dalam kitab as-Sunan secara marfu’, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perjanjian yang memisahkan antara kami dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka ia kafir.” Beliau pun bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘Ashar, maka terhapuslah amalnya.” Sunan Ibni Majah kitab ash-Shalat: No. 694: 1/227 dan Musnad Ahmad dari Buraidah: 5/361.

“Barangsiapa yang tertinggal (kehabisan waktu) shalat `Ashar, maka seakan ia telah kurangi keluarga dan hartanya.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu ath-Thufail, ia berkata, Ibnu Masud berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, putus asa dari nikmat atau karunia Allah dan rahmat Allah, serta merasa aman dari tipu daya Allah.” Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan pula dari berbagai jalan yang berasal dari Abi ath-Thufail dari Ibnu Mas’ud. Dan tidak diragukan lagi, ini shahih dari beliau (Ibnu Mas’ud).

(Hadits lain) Imam Ahmad meriwayatkan dari Salamah bin Qais al-Asyja’i, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya dosa besar ada empat; Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesutu apapun, janganlah kalian membunuh jiwa yang di-haramkan oleh Allah kecuali dengan haq, jangan kalian berzina, dan jangan kalian mencuri.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Mardawaih).

Perkataan Para Ulama Salaf mengenai Dosa-Dosa Besar

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ali ra. ia berkata: “Dosa-dosa besar adalah: berbuat syirik kepada Allah, kembali tinggal di perkampungan (dusun) setelah hijrah, memisahkan diri dari jama’ah, dan melanggar perjanjian.”

Dan telah diketengahkan dari Ibnu Masud, ia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah; syirik kepada Allah, putus asa dari keluasan dan rahmat Allah, serta merasa aman dari makar Allah.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Ibnu Masud, ia berkata: “Dosa-dosa besar adalah dari awal an-Nisaa’ hingga 30 ayat.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, melarang kelebihan air (untuk diambil) setelah kenyang (mencukupinya) dan mencegah pemanfaatan hewan pejantan, kecuali dengan membayar upah.”

Di dalam kitab ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), bahwa Nabi bersabda: “Tidak boleh melarang (diambilnya) kelebihan air untuk mencegah tumbuhnya rumput.”

Di dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Nabi bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak dipandang oleh Allah pada han Kiamat, tidak disucikan dan akan mendapatkan adzab yang pedih (di antaranya): seseorang yang memiliki kelebihan air di sebuah gurun (tanah kosong), akan tetapi melarang (diambil) oleh Ibnu sabil (musafir).” Dan beliau menyebutkan kelanjutan hadits ini.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari `Aisyah, ia berkata: “Melanggar bai’at (janji setia) yang diambil atas para wanita adalah termasuk dosa-dosa besar.” Ibnu Abi Hatim berkata, yaitu firman Allah [yang artinya]: “Bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, dan tidak akan mencuri.”

Pendapat Ibnu `Abbas tentang Dosa-Dosa Besar:

Ibnu Abi Hatim meriwatkan dari Thawus, ia berkata, aku bertanya kepada Ibnu `Abbas: “Apakah tujuh dosa-dosa besar itu?” Ibnu `Abbas menjawab: “Dosa besar itu mencapai tujuh puluh macam, hal itu adalah lebih tepat dibandingkan hanya tujuh macam saja.” (HR. Ibnu Jarir)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu `Abbas: “Apakah dosa-dosa besar itu ada tujuh?” Beliau menjawab: “Dosa besar mencapai tujuh ratus macam lebih tepat(nya), di-bandingkan yang hanya berjumlah tujuh. Akan tetapi, tidak ada dosa besar jika disertai istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari hadits Syibl.

`Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang firman Allah: in tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu (“Dosa-dosa besar adalah setiap dosa yang diancam Allah dengan api Neraka, kemurkaan, laknat atau adzab.”) (HR. Ibnu Jarir).

Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Sirin, ia berkata, Aku diberi kabar bahwa Ibnu `Abbas berkata: “Setiap hal yang dilarang oleh Allah adalah bagian dari dosa besar.” Dia pun berkata, bahwa Abul Walid berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang dosa-dosa besar.” Beliau menjawab: “Setiap sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah adalah dosa besar.”

Beberapa Perkataan (Pendapat) Para Tabi’in:

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Mughirah, ia berkata: “Dikatakan bahwa mencela Abu bakar dan `Umar merupakan dosa besar.” (Aku berkata): “Sebagian ulama menilai kafir orang yang mencela para Sahabat.” Itulah satu riwayat pendapat dari Malik bin Anas ra. Muhammad bin Sirin berkata: “Aku tidak menduga ada seseorang yang benci kepada Abu Bakar dan `Umar dan bersamaan dengan itu ia mencintai Rasulullah.” (HR. At-Tirmidzi).

`Abdurrazzaq meriwayatkan, bahwa Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Tsabit, dari Anas, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Syafa’atku untuk para pelaku dosa besar di kalangan umatku.” (Isnadnya shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim dan diriwayatkan oleh Abu `Isa at-Tirmidzi, kemudian ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Di dalam hadits shahih terdapat penguat (saksi) bagi maknanya, yaitu sabda Rasulullah, setelah menyebutkan syafa’at: “Apakah engkau berpendapat bahwa syafa’at itu untuk orang-orang yang beriman lagi bertakwa? Tidak. Akan tetapi syafa’at adalah untuk orang-orang yang bergelimang dosa.”

Para ulama ushul dan furu’ berbeda pendapat tentang batasan dosa besar. Sebagian ada yang berpendapat bahwa batasan dosa besar ialah sesuatu yang memiliki hukuman hadd (yang ditentukan batasannya) dalam syari’at. Ada pula yang berpendapat bahwa dosa besar adalah sesuatu yang memiliki ancaman khusus dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Imam al-Haramain dalam kitab al-Irsyaad dan yang lainnya berkata: “Dosa besar adalah setiap pelanggaran yang menunjukkan minimnya perhatian pelakunya pada agama dan kurangnya sikap keber-agamaan, maka hal itu dapat membatalkan keistiqamahan.”
Furu’: cabang-cabang. Yang dimaksud ulama furu’ yaitu, ulama fiqih. Ulama ushul yaitu, ulama i’tiqad (tauhid) Pent.

Al-Qadhi Abu Said al-Harawi menyatakan: “Dosa besar adalah setiap perilaku yang secara nash oleh al-Qur’an diharamkan dan setiap maksiat yang mendapat konsekuensi hukuman hadd, seperti membunuh atau yang lainnya, meninggalkan setiap fardhu yang diperintahkan agar dilaksanakan dengan segera, serta berdusta dalam persaksian, riwayat dan sumpah.” Inilah yang mereka sebutkan secara akurat.

Al-Qadhi ar-Ruyani berkata secara rinci: “Dosa-dosa besar ada tujuh: Membunuh jiwa tanpa haq, zina, homoseks, minum khamr, mencuri, merampas harta dan menuduh zina.” Di dalam asy-Syaamil ia menambahkan dari yang tujuh tersebut, yaitu saksi palsu.

Pengarang al-‘Uddah menambahkan dengan memakan riba, berbuka puasa di bulan Ramadhan (sebelum waktunya) tanpa udzur, sumpah palsu, memutuskan silaturahmi, mendurhakai kedua orang tua, lari dari pertempuran, memakan harta anak yatim, khianat dalam timbangan dan takaran, mendahului shalat dari waktunya, mengakhirkan waktu shalat tanpa udzur, memukul orang muslim tanpa haq, berdusta dengan sengaja atas nama Rasulullah, mencaci para Sahabat beliau, menyembunyikan persaksian tanpa udzur, menerima suap, melokalisasi lelaki dan wanita (dalam zina/menjadi mucikari), memfitnah di hadapan raja, enggan menunaikan zakat, meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar padahal mampu, melupakan al-Qur’an setelah mempelajarinya, membakar hewan dengan api, penolakan isteri terhadap (ajakan untuk berhubungan dari) suaminya tanpa sebab, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar Allah.

Dikatakan pula (menurut pendapat yang lain): Menuduh (mencemarkan) ahli ilmu dan ahli al-Qur’an. Di antaranya juga yang dinilai termasuk dosa besar adalah zhihar, memakan daging babi dan bangkai kecuali karena darurat.
Zhihar: Perkataan suami kepada isteri, “Kamu bagiku seperti punggung ibuku,” dengan maksud, dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyyah, kalimat zhihar ini sama dengan mentalak (mencerai) isteri.

Jika dikatakan, sesungguhnya dosa besar itu adalah apa yang diancam oleh Allah dengan api Neraka secara khusus, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu`Abbas dan yang lainnya, maka hal tersebut akan terhimpun cukup banyak. Dan jika dikatakan, dosa besar itu adalah setiap yang dilarang oleh Allah, maka sangat banyak. Wallahu a’lam.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 26-28

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 26-28“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada sunnah-sunnah orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shaalihiin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. 4:26) Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya (dari kebenaran). (QS. 4:27) Allah bendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. 4:28)” (an-Nisaa’: 26-28)

Allah mengabarkan bahwa Dia hendak menjelaskan bagi kalian hai orang-orang yang beriman, apa yang dihalalkan dan diharamkan untuk kalian sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat ini dan surat-surat lainnya. Wa yaHdiyakum sunanal ladziina min qablikum (“Dan menunjukimu kepada sunah-sunah orang yang sebelum kamu.”) yaitu jalan-jalan mereka yang terpuji mengikuti syari’at yang dicintai dan diridhai-Nya. Wa yatuuba ‘alaikum (“dan hendak menerima taubatmu,”) dari dosa dan pelanggaran perkataan-perkataan-Nya.

Firman Allah: wa yuriidul ladziina yattaba’uunasy-syaHawaati an tamiiluu mailan ‘adhiiman (“Sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya.”) Yaitu, para pendukung syaitan dari golongan Yahudi, Nasrani, dan para pezina bermaksud agar kalian berpaling dari kebenaran menuju kebathilan sejauh-jauhnya.

yuriidullaaHu ay yukhaffifa ‘ankum (“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu”) dalam syari’at, perintah-perintah, larangan-larangan dan ketentuan-ketentuan-Nya bagi kalian. Untuk itu, dibolehkan menikahi para budak wanita dengan beberapa syarat, sebagaimana kata Mujahid dan lain-lain.

Wa khuliqal insaanu dla’iifan (“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”) Keringanan itu sesuai dengan kelemahan diri manusia, tekad dan kemauannya. Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Ibnu Thawus dari ayahnya, ia berkata tentang: Wa khuliqal insaanu dla’iifan (“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”) Yaitu, dalam urusan wanita. Waki’ berkata: “Akalnya (laki-laki) hilang ketika di sisi wanita.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 25

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 25“Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yangmengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatanyang keji (zina), maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman bagi wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. An-Nisaa’: 25)

Allah berfirman: wamal lam yastathi’ minkum thaulan (“Barangsiapa di antara kamu yang belum memiliki thaul.”) Yaitu, keluasan dan kemampuan; fa mimmaa malakat aimaanukum min fatayaatikumul mu’minaat (“Ia boleh mengawini wanita yang beriman,dari budak-budak yang kamu miliki.”) Artinya, maka kawinilah wanita beriman dari budak-budak yang dimiliki oleh kaum mukminin. Untuk itu Allah berfirman: min fatayaatikumul mu’minaat (“Dari budak-budak wanitamu yang beriman.”) Ibnu `Abbas dan lain-lain berkata: “Maka hendaklah ia menikahi budak-budak wanita milik orang-orang beriman.” Demikianlah yang dikatakan oleh as-Suddi dan Muqatil bin Hayyan.

Lalu Allah selingi dengan firman-Nya: wallaaHu a’lamu bi-iimaanikum ba’dlukum mim ba’dlin (“Allah Mahamengetahui keimananmu, sebagian kamu adalah dari sebagianyang lain.”) Artinya, Allah Mahamengetahui hakekat dan rahasia berbagai urusan. Sedangkan bagi kalian, wahai manusia, hanya mengetahui perkara yang lahir saja.
fankihuuHunna bi-idzniHi aHliHinna (“Karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka.”) HaI itu menunjukkan bahwa tuan adalah wali bagi budak-budak wanitanya yang tidak boleh dikawini kecuali dengan seizinnya. Begitupula ia menjadi wali bagi budak laki-lakinya di mana ia tidak boleh menikah kecuali dengan izinnya.

Firman Allah: wa aatuuHunna ujuuraHunna bil ma’ruuf (“Dan berilah maskawin mereka menurut yang patut.”) Artinya, serahkanlah mahar-mahar mereka dengan ma’ruf, yaitu dengan kebaikan jiwa kalian dan janganlah kalian kurangi sedikitpun karena merendahkan mereka, karena kedudukannya sebagai budak-budak wanita yang dimiliki. Firman Allah: muhshanaatin (“Wanita-wanita yang melihara diri.”) Artinya, wanita-wanita yang menjaga diri dari zina, tidak melakukannya. Untuk itu Allah berfirman: ghaira mushaafihaatin (“bukan wanita musaafihaat.”) Yaitu, bukan wanita-wanita pezina yang membiarkan dirinya dijamah oleh siapa saja.

Serta firman-Nya: walaa muttakhidzaati akhdaan (“Dan bukan wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya.”) Ibnu `Abbas berkata: almusaafihaati adalah wanita-wanita pezina terlaknat yang membiarkan dirinya dijamah oleh siapa saja. Dan ia berkata, muttakhidzaati akhdaan (al-akhdan) adalah laki-laki simpanan. Demikian pula pendapat yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Mujahid, asy-Sya’bi, adh-Dhahhak, `Atha’ al-Khurasani, Yahya Ibnu AbiKatsir, Muqatil bin Hayyan dan as-Suddi, yang semuanya mengatakan: muttakhidzaati akhdaan (al-akhdan) adalah laki-laki simpanan.

Allah telah melarang untuk menikahi wanita tersebut (yang mengambil laki-laki lain sebagai simpanan, selama mereka melakukan hal yang demikian itu.

Firman Allah: fa idzaa uhshinna fa in ataina bifaahisyatin fa’alaiHinna nishfu maa ‘alaa muhshanaati minal ‘adzaab (“Dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji [zina], maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.”) Para ahli qira-at berbeda dalam membaca uhshinna. Sebagian membacanya dengan mendhammahkan hamzah dan mengkasrahkan shad dengan mabni tatkala tidak disebut fa’ilnya. Dan ada yang membacanya dengan memfathahkan hamzah dan shad sebagai fi’il lazim (yang tidak membutuhkan obyek). Kemudian dikatakan bahwa dua qira-at itu me-miliki makna yang sama.

Abu Bakar, Hamzah dan Kisa-i membacanya dengan memfathahkan hamzah dan shad (ahshanna). Sedangkan yang lainnya membacanya dengan mendhammahkan hamzah dan mengkasrahkan shad (ahshinna).

Mereka berbeda pendapat tentang maknaal-ihshan, menjadi dua pendapat:
Pertama, yang dimaksud al-ihshan di sini adalah Islam. Pendapat ini diriwayatkan dari `Abdullah bin Mas’ud, Ibnu `Umar dan Anas.
Kedua, yang dimaksud dalam ayat ini adalah perkawinan, itulah pendap at Ibnu `Abbas ra.

Pendapat yang paling jelas -wallahu a’lam- bahwa yang dimaksud dengan al-ihshan di sini adalah perkawinan. Karena redaksi ayat tersebut menunjukkan demikian, dimana Allah swt. berfirman yang artinya:
“Barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki.” (Wallahu a’lam).

Redaksi ayat yang mulia tersebut adalah tentang budak-budak wanita yang mukminah, maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “fa idzaa uhshinna” adalah apabila mereka telah kawin, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu `Abbas dan lain-lain. Banyak hadits-hadits umum yang menjelaskan tentang ditegakkannya hukuman hadd terhadap budak.
(Hadd yang jamaknya hudud, adalah batasan atau peraturan yang sudah ditentukan bentuk hukumnya oleh Allah di antaranya hukum zina, qadzaf (menuduh zina), minum khamr, mencuri, mengganggu keamanan, murtad, dan durhaka kepada Allah.)

Di antaranya ialah hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya bahwa `Ali ra. dalam khutbahnya berkata: “Hai manusia! Tegakkanlah hadd kepada budak-budak kalian, yang sudah kawin atau yang belum. Karena salah seorang budak wanita Rasulullah pernah berzina, lalu aku (`Ali) diperintahkan untuk menderanya (mencambuknya). Akan tetapi, diketahui bahwa ia baru menempuh masa nifas. Jika aku menderanya, aku khawatir akan membunuhnya. Lalu hal itu kuceritakan kepada Nabi dan beliau bersabda: “Bagus, biarkanlah hingga ia bersih.”

Di dalam riwayat `Abdullah bin Ahmad, bukan dari ayahnya, tercantum: “Jika ia telah suci dari nifasnya, maka deralah (cambuklah) dia 50 kali.”
Sedangkan dalam riwayat Muslim tercantum: “Apabila ia berzina untuk yang ketiga kalinya, maka juallah pada (kasus zina) yang keempat kalinya.”

Firman Allah: dzaalika liman khasyiyal ‘anata minkum (“Hal itu adalah bagi orang-orang yang takut pada kesulitan menjaga diri.”) Artinya, menikahi wanita-wanita budak dengan syarat-syarat yang lalu itu, hanya dibolehkan bagi orang yang takut dirinya terjatuh pada zina, dan berat baginya untuk sabar dari jima’, serta semua itu sangat menyulitkannya, maka di saat itu bolehlah ia mengawini budak-budak wanita. Jika ia biarkan dininya untuk tidak mengawini budak-budak itu dan memperjuangkan dirinya untuk tidak terjerumus pada zina, maka itu lebih baik baginya. Karena jika ia menikahinya, maka anak-anaknya menjadi budak bagi tuan-tuannya, kecuali suaminya adalah kerabat tuannya, maka anak-anaknya tidak menjadi budak, menurut pendapat lama Imam asy-Syafi’i.

Untuk itu Allah berfirman: wa an tashbiruu khairul lakum wallaaHu ghafuurur rahiim (“Dan kesabaran itu lebih baik bagimu, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Dari ayat yang mulia ini, Jumhur ulama mengambil dalil tentang bolehnya menikahi budak-budak wanita dengan syarat tidak memiliki kemampuan menikahi wanita-wanita merdeka dan karena khawatir terjatuh dalam kemaksiatan. Karena dengan nikah tersebut mengandung bahaya, di mana anak-anaknya akan menjadi budak, serta merupakan kehinaan ketika meninggalkan menikahi wanita-wanita merdeka lalu memilih menikahi budak-budak. Dalam hal ini, Abu Hanifah dan para pengikutnya berbeda (pendapat) dengan pendapat Jumhur ulama dengan memberikan syarat dua hal; Jikaseseorang tidak menikah dengan wanita merdeka, maka dia dibolehkan menikahi budak mukminah dan seseorang wanita Ahli Kitab, baik ia memiliki kemampuan menikahi wanita merdeka atau tidak, serta takut terjatuh pada zina atau tidak.

Dalil mereka adalah firman Allah yang artinya: “(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatannya, di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelummu.” (QS. Al-Maa-idah: 5) Artinya, wanita-wanita iffah (menjaga diri) mencakup merdeka atau budak. Ayat ini bersifat umum, serta secara jelas menjadi dalil apa yang dikatakan oleh Jumhur ulama. WallaHu a’lam.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 23-24

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 23-24“Diharamkan atasmu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusuimu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu (tiri) dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum bercampur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. An-Nisaa’: 23) Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain yang demikian, (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidaklah mengapa bagimu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. An-Nisaa’: 24)

Ayat yang mulia ini adalah ayat yang menerangkan haramnya mahram berdasarkan nasab (keturunan) dan hal-hal yang mengikutinya berupa persusuan dan kemertuaan. hurrimat ‘alaikum ummaHaatukum wa banaatukum wa akhawaatukum (“Diharamkan atasmu [mengawini] ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan.”) Abu Sa’id bin Yahya bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Yang diharamkan karena nasab ada tujuh dan karena kemertuaan ada tujuh, kemudian ia membaca: hurrimat ‘alaikum ummaHaatukum wa banaatukum wa akhawaatukum wa ‘ammaatukum wa khaalaatukum wa banaatul akhi wa banaatul ukhti (“Di-haramkan atasmu [mengawini] ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudaramuyang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudaramu yang perempuan,”) merekalah [mahram dari] nasab.

Jumhur ulama menggunakan dalil tentang haramnya anak zina dengan keumuman firman Allah Ta’ala: wa banaatukum (“Dan anak-anak perempuanmu.”) Karena ia adalah anak perempuan, maka ia masuk dalam keumuman ayat tersebut, sebagaimana madzhab Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hanbal. Ada pendapat dari asy-Syafi’i yang membolehkannya, karena ia bukanlah anak menurut hukum syar’i. Sebagaimana ia tidak dapat masuk dalam firman: “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan,” (QS. An-Nisaa’: 11) sesungguhnya ia tidak mendapatkan warisan menurut ijma’, maka ia pun tidak termasuk ke dalam ayat ini. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: wa ummaHaatu kumul laatii ardla’nakum wa akhawaatukum minar radlaa’ati (“Ibu ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan.”) Artinya, sebagaimana kamu diharamkan terhadap ibu-ibu yang melahirkanmu, maka begitu pula kamu diharamkan dengan ibu-ibu yang menyusuimu.

Untuk itu, di dalam ash-Shahihain tercantum sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Malik bin Anas dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya persusuan itu dapat menjadikan mahram apa-apa yang dapat menjadikan mahram karena kelahiran.”

Dan dalam lafazh Muslim: “Diharamkan karena persusuan, apa-apa yang di haramkan karena nasab”.

Sebagian ahli fiqih berkata, “Setiap apa saja yang diharamkan karena nasab, maka diharamkan pula karena persusuan kecuali empat bentuk.” Sebagian lagi mengatakan, kecuali enam bentuk yang kesemuanya tersebut di dalam kitab-kitab furu’. Setelah diteliti, ternyata tidak ada pengecualian sedikitpun dalam masalah tersebut. Karena sebagian terdapat dalam nasab dan sebagian lagi terdapat dalam kemertuaan, maka secara (mendasar) tidak ada yang menolak hadits tersebut sedikitpun. Segala puji hanya milik Allah, dan kepercayaan hanya dengan-Nya.

Di antaranya yaitu: Ibu saudaramu yang laki-laki dan Ibu saudaramu yang perempuan karena sepersusuan. Jika ada seorang perempuan (lainnya) menyusui saudara laki-lakimu atau saudara perempuanmu, maka perempuan itu tidak haram bagimu karena penyusuan keduanya. Akan tetapi diharamkan bagimu ibu dan keduanya berdasarkan nasab, karena ibu dari keduanya itu adalah sebagai ibumu atau isteri ayahmu. Inilah yang menjadi sisa permasalahan tersebut.

Kemudian, para Imam berbeda pendapat tentang jumlah bilangan susuan yang diharamkan. Ada yang berpendapat hanya dengan (sekedar) menyusu dapat mengharamkan, berdasarkan keumuman ayat ini. Inilah pendapat Malik ,riwayat dari Ibnu `Umar, pendapat Sa’id bin al-Musayyab, `Urwah bin az-Zubair dan az-Zuhri. Ulama lain berkata, “Kurang dari tiga kali susuan tidak mengharamkan. Sebagaimana yang tercantum dalam Shahih Muslim dari jalan Hasyim bin `Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah bersabda: “Satu atau dua isapan (susuan) tidak mengharamkan.”

Qatadah berkata dari Abil Khalil, dari `Abdullah bin al-Harits bahwa Ummul Fadhl berkata, Rasulullah bersabda: “Satu dan dua susuan atau satu dan dua isapan tidak mengharamkan,” di dalam lafazh yang lain, “Satu dua sedotan tidaklah mengharamkan.” (HR. Muslim)

Dan di antara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abu `Ubaid dan Abu Tsaur; yaitu diriwayatkan dari `Ali, ‘Aisyah, Ummul Fadhl, Ibnuz-Zubair, Sulaiman bin Yasar dan Sa’id bin Jubair ra,. Ulama yang lain berkata “Kurang dari lima isapan tidak mengharamkan, berdasarkan hadits dalam Shahib Muslim dari riwayat Malik dari `Abdullah bin Abi Bakar, dari `Urwah dari `Aisyah W, ia berkata, dahulu (ayat ini) termasuk di antara ayat al-Qur’an: “Sepuluh kali susuan yang diketahui (dapat) mengharamkan.” Kemudian di-nasakh (dihapus hukum itu) dengan lima kali susuan yang diketahui. Di saat Nabi wafat, maka hal tersebut adalah ayat al-Qur’an yang dibaca.

`Abdurrazzaq meriwayatkan yang serupa dari Ma’mar, dari az-Zuhri, dari `Urwah, dari `Aisyah. Di dalam hadits Sahlah binti Suhail bahwasanya Rasulullah memerintahkannya untuk menyusui Salim, maula Abu Hudzaifah sebanyak lima kali susuan. Dan `Aisyah memerintahkan orang yang akan masuk kepadanya untuk menyusu lima kali. Inilah pendapat Imam asy-Syafi’i dan para pengikutnya. Kemudian, hendaklah diketahui bahwa susuan itu terjadi di masa kecil kurang dari dua tahun, menurut pendapat Jumhur. Masalah ini sudah dibahas sebelumnya dalam surat al-Baqarah pada firman-Nya,”Hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Kemudian, para ulama berbeda pendapat tentang apakah menjadi haram akibat air susu dari pihak ayah persusuan, sebagaimana yang dikatakan oleh Jumhur empat Imam dan lain-lain. Atau hanya dikhususkan dengan pihak ibu persusuan saja dan tidak merembet hingga pihak ayah persusuan, sebagaimana satu pendapat sebagian ulama Salaf yang sebenarnya terbagi pada dua golongan. Rincian masalah ini terdapat dalam kitab besar yang berisi hukum-hukum.

Firman-Nya: wa ummaHaatu nisaa-ikum wa rabaa-ikumul latii fii hujuurikum min nisaa-ikumul latii dakhaltum biHinna fail lam takuunuu dakhaltum biHinna falaa junaaha ‘alaikum (“Dan ibu-ibu isterimu serta anak-anak perempuan [tiri] yang berada di bawah pemeliharanmu dari isteri-isteri yang telah kamu gauli. Jika kamu belum menggauli mereka, maka tidak ada dosa bagimu.” Ibu mertua diharamkan dengan (hanya sekedar) akad terhadap puterinya, baik sudah digauli ataupun belum. Sedangkan rabibah yaitu anak isteri tidak diharamkan, hingga ibunya digauli. Jika ibunya dicerai sebelum digauli, maka ia boleh mengawini puterinya.

Untuk itu Allah berfirman: wa rabaa-ikumul latii fii hujuurikum min nisaa-ikumul latii dakhaltum biHinna fail lam takuunuu dakhaltum biHinna falaa junaaha ‘alaikum (“Serta anak-anak perempuan [tiri] yang berada di bahwa pemeliharanmu dari isteri-isteri yang telah kamu gauli. Jika kamu belum menggauli mereka, maka tidak ada dosa bagimu,”) dalam mengawini mereka.

Hal ini merupakan kekhususan bagi anak tiri. Dan Jumhur ulama berpendapat bahwa anak tiri tidak diharamkan dengan semata-mata akad terhadap ibunya, berbeda dengan ibu mertua yang diharamkan dengan semata-mata akad. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, bahwa ia berkata, “Apabila seorang suami menceraikan isteri sebelum menggaulinya atau ditinggal wafat, maka ibu mertua tetap haram baginya. Inilah madzhab empat Imam dan tujuh ahli fiqih serta Jumhur fuqaha, baik yang lalu maupun sekarang. Segala puji hanya milik Allah.

Adapun firman Allah: wa rabaa-ikumul latii fii hujuurikum (“Serta anak-anak perempuan [tiri] yang berada di bawah pemeliharanmu,”) menurut Jumhur ulama bahwa rabibah itu haram, baik berada di bawah pemeliharaannya atau tidak. Mereka mengatakan: “Firman Allah ini berdasarkan kebiasaan yang banyak terjadi dan tidak mengandung pengertian apa pun, seperti firman Allah yang artinya: “Dan budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian.” (QS. An-Nuur: 33)

Di dalam ash-Shahihain tercantum bahwa Ummu Habibah berkata, “Ya Rasulullah, nikahilah saudariku puteri Abu Sufyan -dalam lafazh Muslim disebutkan: `Izzah binti Abu Sufyan- Rasulullah bertanya, “Apakah engkau menyenangi demikian?” la menjawab, “Ya, aku tidak sombong padamu dan aku senang ada orang yang bergabung denganku untuk kebaikan saudariku.” Beliau bersabda, “Hal itu tidak halal bagiku.” Ia berkata, “Kami menceritakan bahwa engkau hendak menikahi puteri Abu Salamah.” Beliau bersabda, “Puteri Ummu Salamah?” la menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya seandainya ia bukan anak tiri yang ada dalam pemeliharaanku, niscaya ia pun tetap tidak halal bagiku. la adalah anak perempuan saudara lelaki sepersusuan-ku. Aku dan Abu Salamah disusukan oleh Tsuwaibah. Maka, janganlah engkau tawarkan anak-anak perempuan dan saudari-saudari kalian.”

Di dalam riwayat al-Bukhari, “Sesungguhnya sekalipun aku tidak mengawini Ummu Salamah, ia (puterinya Abu Salamah) tetap tidak halal bagiku.” Beliau menjadikan sebab keharamannya hanya sekedar perkawinan beliau dengan Ummu Salamah dan yang demikian itu dihukumi haram oleh beliau. Inilah madzhab empat Imam, tujuh ahli fiqih serta Jumhur ulama Salaf dan Khalaf. Satu pendapat mengatakan, anak tiri tidak diharamkan kecuali jika di bawah pemeliharaan si laki-laki tersebut. Jika tidak, maka tidak diharamkan. Inilah pendapat Dawud bin `Ali azh-Zhahiri dan para pengikutnya serta dipilih oleh Ibnu Hazm. Syaikh Abu `Umar bin `Abdil Barr berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwasanya tidak halal bagi seseorang untuk menggauli seorang budak wanita dan menggauli anak perempuan (budak tersebut) karena Allah telah mengharamkan hal itu dalam nikah.” Sebagaimana firman-Nya, ibu-ibu isterimu serta anak-anak perempuan (tiri) yang berada di bawah pemeliharaanmu.” Kepemilikan budak (milkul yamin) menurut mereka mengikuti (hukum-hukum) pernikahan, kecuali apa yang diriwayatkan dari `Umar dan Ibnu `Abbas. Namun, pendapat tersebut tidak didapatkan dari seorang ahli fatwa pun yang mengikuti mereka.

Makna firman-Nya: allatii dakhaltum biHinna (“Yang telah kamu campuri.”) Artinya kalian telah nikahi mereka. Hal itu dikatakan oleh Ibnu `Abbas dan lain-lain. Ibnu Juraij berkata dari `Atha’, “Bahwa yang dimaksud yaitu si isteri telah menyerahkan dirinya kepada suaminya, lalu si suami menyingkapnya, menelitinya dan menjima’nya. Aku bertanya, “Apa pendapatmu jika aku lakukan hal itu di rumah keluarganya?” Dia menjawab, “Hal itu sama saja, dengan dia berbuat demikian, maka sudah diharamkan menikahi puteri wanita itu.” Ibnu Jarir berkata, “Menurut ijma’ ulama bahwa khalwatnya seorang laki-laki dengan seorang wanita tidak mengharamkan bagi puterinya jika telah dicerai wanita itu sebelum digauli, dan sebelum farjinya dipandang dengan syahwat yang menunjukkan bahwasanya makna hal tersebut adalah untuk sampai padanya dengan jima’.”

Firman Allah: wa halaa-ilu abnaa-ikumul ladziina min ash-laabikum (“[Dan diharamkan bagimu] isteri-isteri anak kandungmu [menantu].”) Artinya, diharamkan bagi kalian isteri-isteri anak-anak yang kalian lahirkan dari sulbi kalian. Dan dikecualikan anak-anak angkat, yang mereka jadikan sebagai anak pada masa Jahiliyyah, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengannya supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka.” (QS. Al-Ahzab: 37)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Hasan bin Muhammad, bahwasanya ayat-ayat tersebut adalah mubham (tidak jelas maknanya). Yaitu ayat: wa halaa-ilu abnaa-ikumul; dan: wa ummaHaatu nisaa-akum. Kemudian ia berkata: “Hal itu diriwayatkan pula dari Thawus, Ibrahim, az-Zuhri dan Mak-hul. Saya (Ibnu Katsir) berpendapat makna mubhamat artinya umum untuk yang sudah digauli ataupun yang belum digauli, maka diharamkan dengan semata-mata akad dengannya. Dan hal ini yang disepakati.

Jika ada yang bertanya; dari segi apa diharamkannya isteri anak-anak dari sepersusuan sebagaimana yang dikatakan oleh Jumhur ulama, bahkan dihikayatkan sebagian orang bahwa hal ini sebagai ijma’, padahal anak dari sepersusuan itu bukan dari keturunannya? Maka jawabnya ialah berdasarkan sabda Rasulullah: “Diharamkan karena sepersusuan apa-apa yang diharamkan karena nasab.”

Firman Allah: wa antajma’uu bainal ukhtaini illaa maa qad salaf (“[Dan diharamkan bagimu] menghimpunkan [dalam perkawinan] dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang terjadi pada masa lampau.”) Dan ayat seterusnya. Artinya, diharamkan bagi kalian menghimpun dua perempuan bersaudara secara bersama-sama dalam perkawinan, begitu pula dalam (perbudakan), kecuali apa yang terjadi pada masa Jahiliyyah kalian, maka Kami telah maafkan dan ampuni. Hal itu menunjukkan tidak bolehnya menghimpun (dua bersaudara) untuk masa mendatang, karena hanya dikecualikan untuk masa lampau. Sebagaimana firman Allah: laa yadzuuquuna fiiHal mauta illal mautatal uulaa (“Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati yang pertama [di dunia].”) (QS. Ad-Dukhaan: 56)

Di mana hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak merasakan mati selama-lamanya. Para ulama di kalangan Sahabat, Tabi’in dan para Imam, baik yang terdahulu maupun yang sekarang, mereka sepakat bahwa menggabung dua wanita bersaudara dalam pernikahan itu diharamkan. Barangsiapa yang masuk Islam dan telah memiliki isteri dua orang perempuan bersaudara, maka ia harus memilih (di antara keduanya) lalu menetapkan satu isterinya dan harus menceraikan yang lainnya, tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari adh-Dhahhak bin Fairuz, dari ayah-nya, ia berkata; “Aku masuk Islam dan aku mempunyai dua isteri yang bersaudara, maka Nabi memerintahkanku untuk menceraikan salah satunya.” (HR. Ahmad).

Kemudian diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Lahi’ah serta dikeluarkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Di dalam lafazh at-Tirmidzi tercantum bahwa Nabi bersabda: “Pilihlah mana di antara keduanya yang kamu inginkan.”
Kemudian at-Tirmidzi berkata; “Hadits ini hasan dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dengan isnad lain.”

Sedangkan menggabungkan dua perempuan bersaudara dalam kepemilikan (perbudakan) juga diharamkan berdasarkan keumuman ayat tersebut. Inilah pendapat yang terkenal dari Jumhur ulama, empat Imam dan lain-nya. Sedangkan `Utsman berkata: “Tidak sepatutnya aku melarang hal itu.”

Dari Musa bin Ayyub al-Ghafiqi telah menceritakan kepadaku pamanku Iyas bin `Amir, ia berkata, aku bertanya kepada `Ali bin Abi Thalib: “Sesungguh-nya aku memiliki dua perempuan bersaudara dengan pemilikan (perbudakan). Salah satunya aku ambil dari tawanan dan sudah melahirkan beberapa anak, kemudian aku menyenangi yang lainnya. Maka, apakah yang harus aku lakukan?” `Ali berkata: “Engkau merdekakan wanita yang telah engkau gauli kemudian gaulilah yang lainnya.” Aku bertanya: “Sesungguhnya orang-orang mengatakan, engkau nikahi yang satunya dan gauli yang satunya lagi.” Maka, `Ali berkata: “Apa pendapatmu jika suaminya menceraikan atau ditinggal mati, bukankah dia (perempuan tersebut) kembali rujuk kepadamu? Sesungguhnya jika engkau memerdekakannya, lebih selamat bagimu.”

Kemudian `Ali menggenggam tanganku dan berkata: “Sesungguhnya haram bagimu yang dimiliki olehmu dengan perbudakan apa-apa yang diharamkan bagimu dalam Kitabullah terhadap wanita merdeka kecuali jumlahnya,” atau ia mengucapkan, “Kecuali empat isteri dan diharamkan bagimu karena persusuan apa yang diharamkan bagimu di dalam Kitabullah karena keturunan.”

Kemudian Abu `Umar berkata; “Hadits ini, seandainya seseorang berjalan dari ujung barat hingga ujung timur menuju Makkah, dia tidak akan mendapatkan (hadits dalam masalah ini) kecuali hadits ini saja, niscaya sia-sialah perjalanannya. Abu `Umar mengemukakan pendapat yang sama dengan`Utsman ‘, diriwayatkan pula dari sekelompok ulama Salaf; di antaranya Ibnu `Abbas, akan tetapi ia tidak sefaham terhadap mereka. Dan tidak ada seorang pun yang sependapat dengan pendapat tersebut di kalangan ahli fiqih (pada) beberapa negeri; Hijaz, Iraq, serta negeri-negeri sesudahnya, Syam dan juga Maroko, kecuali kelompok sempalan yang mengikuti dhahir ayat saja dan menghilangkan qiyas.

Sesungguhnya orang yang mengamalkan hal itu secara dhahir berarti telah meninggalkan apa yang telah kita sepakati. Dan para jama’ah ahli fiqih sepakat bahwasanya tidak halal menggabungkan dua orang perempuan bersaudara dengan perbudakan dalam berjima’ sebagaimana tidak halalnya hal tersebut dalam pernikahan. Kaum muslimin telah sepakat bahwa makna firman Allah: hurrimat ‘alaikum ummaHaatukum wa banaatukum wa akhawaatukum (“Diharamkan atasmu [mengawini] ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan”) bahwa pernikahan dan perbudakan pada mereka semuanya sama. Begitu pula, wajib menggunakan pandangan dan qiyas tentang menggabung dua wanita bersaudara, ibu-ibu isteri dan anak-anak tiri. Begitulah pendapat yang beredar di kalangan Jumhur dan merupakan dalil yang melemahkan pendapat yang menyelisihinya.

Firman Allah: wal muhshanaatu minan nisaa-i illaa maa malakat aimaanukum (“Dan diharamkan juga kamu mengawini wanita-wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki.”) Artinya, diharamkan bagi kalian mengawini wanita-wanita muhshan (yang bersuami), kecuali budak-budak yang kalian miliki, yaitu yang kalian miliki melalui penawanan.

Firman Allah: kitaaballaaHi ‘alaikum (“[Allah telah menetapkan hukum itu] sebagai ketetapan-Nya atasmu.”) Artinya, keharaman ini adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kalian, yaitu empat (isteri), maka teguhlah dengan ketentuan-Nya, dan janganlah kalian keluar dari batas-batas-Nya serta teguhlah dengan syari’at dan fardhu-fardhu-Nya. Ibrahim berkata, kitaaballaaHi ‘alaikum; yaitu apa yang diharamkan kepada kalian.

Firman-Nya: wa uhill lakum maa waraa-a dzaalikum (“Dan dihalalkan bagimu selain yang demikian”) artinya selain wanita-wanita yang disebutkan sebagai mahram, maka halal bagi kalian, demikian yang dikatakan ‘Atha’ dan lain-lainl. Dan firman Allah: an tabtaghuu bi-amwaalikum muhshiniina ghaira musaafihiin (“Yaitu mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini, bukan untuk berzina”) artinya carilah dengan harta-harta kalian, istri-istri hingga empat dengan cara syar’i, untuk itu Allah berfirman: muhshiniina ghaira musaafihiin (“untuk dikawini, bukan untuk berzina”)

Firman-Nya: famastamta’tum biHii minHunna fa aatuuHunna ujuuraHunna fariidlatan (“Maka istri-istri yang telah kamu nikmati [campuri] di antara mereka berikanlah kepada mereka maharnya [dengan sempurna] sebagai suatu kewajiban.”) sebagaimana kalian telah menikmati mereka maka berilah mahar-mahar mereka untuk menggantinya. Seperti firman Allah: yang artinya: “Berikanlah maskawin [mahar] kepada wanita [yang kamu nikahi] sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” (an-Nisaa’: 4)

Dengan keumuman ayat ini maka jadi dalil nikah mut’ah/ sementara/ kontrak. Bahwa hal itu pernah disyariatkan pada awal islam, kemudian telah dibatalkan.
Asy-Syafi’i dan sekelompok ulama berpendapat bahwa awalnya dibolehkan lalu dibatalkan, dibolehkan lalu dibatalkan lagi (sebanyak dua kali).

Ulama yang lain berkata, “Pembatalannya lebih dari itu.” Ulama lainnya berkata: “Pernah dibolehkan satu kali kemudian dibatalkan, dan setelah itu tidak dibolehkan sama sekali.”

Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas ra. dan sekelompok Sahabat yang berpendapat dibolehkannya nikah mut’ah karena darurat, dan inilah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad. Akan tetapi, Jumhur ulama berbeda dengan pendapat tersebut. Dalil yang dijadikan pegangan adalah hadits yang tercantum dalam ash-Shahihain bahwa Amirul Mukminin `Ali bin Abi Thalib ra. berkata: “Rasulullah melarang nikah mut’ah dan daging keledai piaraan pada perang Khaibar.” Untuk hadits ini terdapat banyak komentar yang menetapkan, yaitu di dalam kitab-kitab hukum.

Di dalam Shahih Muslim dari ar-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad al Juhni, bahwa ayahnya ikut berperang bersama Rasulullah pada Fathu Makkah, maka beliau bersabda: “Hai manusia! Dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk nikah mut’ah dengan wanita. Dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya hingga hari Kiamat. Barangsiapa yang telah memiliki perjanjian hal tersebut, maka biarkanlah jalannya, dan janganlah kalian mengambil kembali mahar yang telah kalian berikan.”

Firman Allah: walaa junaaha ‘alaikum fiimaa taraadlaitum biHii mim ba’dil fariidlati (“Dan tiadalah mengapa bagimu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.”) Maknanya adalah seperti firman-Nya yang artinya: “Berikanlah maskawin [mahar] kepada wanita [yang kamu nikahi] sebagai pemberian dengan penuh kerelaan,”) dan ayat seterusnya (QS. An-Nisaa’: 4) Artinya, jika kamu telah menentukan mahar untuknya, lalu ia bebaskan kamu semua mahar atau sebagiannya, maka tidaklah berdosa bagimu atau baginya.

Kemudian firman-Nya: innallaaHa kaana ‘aliiman hakiiman (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”) Penyebutan dua sifat Allah setelah ketetapan hal-hal yang diharamkan ini, adalah amat sesuai.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 19-22

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 19-22“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagimu mempusakai (mewarisi) wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An-Nisaa’: 19) Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain,sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka hartayang ban yak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanyabarang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali denganjalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? (QS. An-Nisaa’: 20) Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil darimu perjanjian yang kuat. (QS. An-Nisaa’: 21) Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (QS. An-Nisaa’: 22)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, asy-Syaibani berkata, Abul Hasan as-Sawa-i menyebutkannya dan aku tidak memiliki dugaan yang lain, kecuali penuturannya itu berasal dari Ibnu `Abbas (berkenaan dengan ayat ini): yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa yahillu lakum an taritsun nisaa-a karHan; ia berkata: “Dahulu jika seorang laki-laki meninggal, maka para walinya lebih berhak dengan isterinya. Jika sebagian mereka mau, mereka dapat mengawininya atau dapat pula mengawinkannya atau tidak sama sekali. Mereka adalah orang yang paling berhak dengan isterinya itu dibandingkan keluarganya, maka turunlah ayat ini: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa yahillu lakum an taritsun nisaa-a karHan (“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagimu mempusakai [mewarisi] wanita dengan jalan paksa.”) Demikianlah yang dikisahkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Mardawaih dan Ibnu Abi Hatim.

Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata tentang ayat ini: laa yahillu lakum an taritsun nisaa-a karHaw walaa ta’dluluuHunna litadzHabuu biba’dli maa aataitumuuHunna illaa ay ya’tiina bifaahisyatim mubayyinatin (“Tidak halal bagimu mempusakai [mewarisi] wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu mengusahakan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.”) yaitu, bahwa seorang laki-laki yang mewariskan isterinya untuk para kerabatnya, maka ia menghalanginya untuk kawin hingga ia mati atau mengembalikan maharya, maka Allah swt melarang hal tersebut. Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud sendiri dan diriwayatkan pula oleh ulama yang lain dari Ibnu `Abbas yang serupa dengan itu.

Ibnu Juraij berkata bahwa `Ikrimah berkata: “Ayat ini turun tentang Kubaisyah binti Ma’n bin `Ashim bin al-Aus yang ditinggal wafat oleh Abul Qais bin al-Aslat. Lalu putera suaminya menyukainya, maka ia mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku bukan warisan suamiku dan aku tidak mau dinikahi,” maka Allah menurunkan ayat ini.

As-Suddi berkata dari Abu Malik: “Dahulu, wanita di zaman Jahiliyyah jika ditinggal mati suaminya, maka akan didatangi oleh walinya, lalu diberikan sebuah baju. Jika suaminya memiliki anak laki-laki yang masih kecil atau saudara laki-laki, maka ia akan ditahan hingga si anak dewasa atau si wanita itu meninggal, lalu, si anak akan mewarisinya. Tetapi wanita itu melarikan diri dan mendatangi keluarganya serta belum diberikan baju, maka ia selamat, maka Allah swt. turunkan ayat: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa yahillu lakum an taritsun nisaa-a karHan (“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagimu mempusakai [mewarisi] wanita dengan jalan paksa.”) Mujahid berkata tentang ayat ini, “Ada seorang laki-laki yang meme-lihara anak yatim wanita dan ia menjadi walinya, lalu ia menahannya dengan harapan di saat isterinya itu meninggal, ia dapat mengawininya atau dikawinkan kepada anak laki-lakinya.” (HR. Ibnu Abi Hatim).

Kemudian ia (Ibnu Hatim) berkata: “Diwayatkan pula hal yang serupa dari asy-Sya’bi, `Atha’ bin Abi Rabah, Abu Mijlaz, adh-Dhahhak, az-Zuhri, `Atha’ al-Khurasani dan Muqatil bin Hayyan.

Aku (Ibnu Katsir) berpendapat, ayat tersebut berlaku umum untuk sesuatu yang dilakukan pada masa Jahiliyyah, juga untuk apa yang disebutkan oleh Mujahid dan para pendukungnya, serta untuk setiap jenis masalah tersebut.Wallahu a’lam.

Firman-Nya: walaa ta’dluluuHunna litadzHabuu biba’dli maa aataitumuuHunna (“Dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya.”) Artinya, janganlah kalian menyusahkan mereka dalam pergaulan karena hendak mengambil kembali seluruh atau sebagian mahar yang telah engkau berikan atau salah satu haknya atau sesuatu dari hal tersebut dengan jalan memaksa atau mencelakakannya.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Nya: walaa ta’dluluuHunna (“Dan janganlah kamu menghalagi mereka,”) ia berkata, “Janganlah kalian paksa mereka,” litadzHabuu biba’dli maa aataitumuuHunna (“Karena hendak mengambil kembali sebagian apa yang telah kamu berikan kepada mereka.”) Yaitu seorang laki-laki yang mempunyai seorang isteri dan ia benci menggaulinya. Sedangkan ia mempunyai hutang mahar, maka ia berusaha mencelakakannya agar ia (si isteri) menebusnya dengan mahar.

Demikianlah yang dikatakan oleh adh-Dhahhak, Qatadah dan yanglainnya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibnul Mubarak dan ‘Abdurrazzaq berkata, Ma’mar telah mengabarkan kepada kami bahwa Samak bin al-Fadhl mengabarkan kepadaku dari Ibnuas-Silmani, ia berkata, “Kedua ayat ini, salah satunya turun berkenaan dengan urusan pada masa Jahiliyyah dan ayat satunya lagi pada masa Islam.”

`Abdullah bin al-Mubarak berkata tentang firman Allah Firman Allah: laa yahillu lakum an taritsun nisaa-a karHan (“Tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa.”) adalah [sebagaimana terjadi] pada masa jahiliyyah. Walaa ta’dluluuHunna (“Dan janganlah kamu menghalangi mereka.”) pada masa Islam.

Illaa ay ya’tiina bifaahisyatim mubayyinatin (“Kecuali jika mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.”) Ibnu Mas’ud, Ibnu `Abbas, Sa’id bin al-Musayyab, asy-Sya’bi, al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Sa’id bin Jubair, Mujahid, `Ikrimah, `Atha’ al-Khurasani, adh-Dhahhak, Abu Qilabah, abu-Shalih, as-Suddi, Zaid bin Aslam dan Sa’id bin Abi Hilal berkata: “Yang dimaksudkan dengan hal itu (al-fahisyah) adalah zina.” Yaitu apabila isteri berzina, maka engkau berhak meminta kembali mahar yang telah engkau berikan dan berhak pula menjauhinya hingga ia membiarkan mahar itu diambil olehmu dan ia meminta cerai, sebagaimana firman Allah: “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (QS. Al-Baqarah: 229)

Ibnu `Abbas, `Ikrimah dan adh-Dhahhak berkata: “Pekerjaan keji yang nyata adalah Nusyuz (kedurhakaan) dan kemaksiatan.” Sedangkan Ibnu Jarir memilih, bahwa hal tersebut mencakup seluruhnya, baik zina, kemaksiatan, kedurhakaan, bermulut keji (kotor) atau-pun yang lainnya. Yaitu, sesungguhnya semua ini menyebabkan dibolehkannya menjauhi dia (si isteri) sampai ia membebaskan seluruh atau sebagian haknya lalu ia (si suami) menceraikannya. Pendapat ini cukup baik, wallahua’lam.

Firman-Nya: wa’aasyiruuHunna bil ma’ruuf (“Dan gaulilah mereka dengan cara yang ma’ruf.”) Artinya perhaluslah kata-katamu dan perindahlah perilaku dan sikapmu sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyenangi hal itu dari-nya, maka lakukanlah yang serupa untuknya. Sebagaimana firman Allah: “Dan wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 228)

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling berbuat baik kepada keluarga-nya. Dan aku adalah orang yang paling berbuat baik kepada keluargaku.” (HR. At-Timmidzi dari `Aisyah, al-Baihaqi dari Ibnu’Abbas dan ath-Thabrani dari Mu’awiyah)

Di antara akhlak-akhlak Rasulullah adalah baik dalam pergaulan, selalu berseri, bersenda gurau dengan keluarganya, lemah-lembut kepada mereka, memberikan keluasan nafkah, bercanda dengan isteri-isteri beliau sampai-sampai beliau berlomba dengan ‘Aisyah Ummul Mukminin dengan penuh kecintaan. Dalam hal ini, ‘Aisyah, berkata: “Rasulullah berlomba denganku, lalu aku memenangkannya dan di saat itu badanku belum gemuk. Kemudian aku berlomba dengannya dan beliau pun mengalahkanku di saat badanku mulai gemuk. Beliau bersabda, ‘Ini adalah untuk (kekalahan) yang lalu.’” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud.)

Beliau menghimpun isteri-isterinya setiap malam di rumah di mana beliau menginap, kadang-kadang beliau makan malam bersama mereka kemudian masing-masing kembali ke rumahnya. Beliau tidur bersama salah seorang isterinya dengan satu pakaian dalam (tidur), yaitu beliau melepaskan pakaian dari kedua pundaknya dan tidur dengan memakai kain. Jika beliau selesai shalat `Isya, beliau berbincang-bincang dengan keluarganya sesaat sebelum tidur, menghibur mereka dengan hal itu. Allah berfirman [yang artinya]: “Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (al-Ahzab: 21)

Firman Allah: fa in kariHtumuuHunna fa’asaa an tak-raHuu syai-aw wa yaj’alallaaHu fiiHi khairan katsiiran (“Kemudian Jika kamu tidak menyukai mereka, [maka bersabarlah] karera mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”) Artinya, boleh jadi kesabaran kalian dalam mempertahankan mereka dalam keadaan tidak menyukainya, mengandung banyak kebaikan bagi kalian di dunia dan di akhirat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu `Abbas tentang ayat ini, yaitu bersabar dengannya, lalu diberi karunia anak darinya. Lalu pada diri anak itu terkandung banyak kebaikan.

Diriwayatkan dalam hadits shahih tercantum : “Tidak sepatutnya seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (isteri), jika ia benci pada satu perangainya, ia pun ridha dengan perangainya yang lain.”

Firman-Nya: wa in aradtumus tibdaala zaujim makaana zaujiw wa aataitum ihdaaHunna qinthaaran falaa ta’khudzuu minHu syai-an ata’khudzuunaHu buHtaanaw wa itsmam mubiinan (“Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambil kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan [menanggung] dosa yang nyata?”) Artinya, jika salah seorang di antara kalian ingin menceraikan isterinya dan menggantinya dengan wanita lain, maka ia tidak boleh mengambil mahar yang pernah diberikannya di masa yang lalu sedikitpun. Sekalipun maharnya itu dalam ukuran qinthar (jumlah besar) dari harta. Pembicaraan mengenai qinthar sudah dibahas dalam surat Ali-‘Imran dan tidak perlu diulang.

Di dalam ayat ini terdapat dalil dibolehkannya mahar dengan harta yang banyak. Dahulu, `Umar bin al-Khaththab melarang mahar yang banyak, kemudian beliau menarik kembali larangannya. Imam Ahmad berkata, dikabarkan kepadaku dari Abu al-‘Ajfa’ as-Sulami yang berkata, aku mendengar `Umar bin al-Khaththab berkata: “Ketahuilah, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam mahar wanita, karena seandainya mahar itu merupakan kemuliaan di dunia atau ketakwaan di sisi Allah, maka Rasulullah saw lebih utama untuk melakukannya daripada kalian. Padahal beliau tidak memberikan mahar kepada isteri-isterinya atau untuk anak-anak puterinya lebih dari 12 uqiyah. Dan bahwasanya seseorang akan diuji dengan mahar isterinya hingga timbul permusuhan dalam dirinya terhadap isterinya sehingga dia mengatakan kepadanya: ‘Aku telah dibebani kesulitan yang berat untuk (mahar)mu berupa kantong air dari kulit.” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dari Ibnu Sirindan at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

Untuk itu Allah berfirman mengingkarinya: wa kaifa ta’khudzuunaHuu wa qad afdlaa ba’dlukum ilaa ba’dlin (“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul [bercampur] dengan yang lain sebagai suami-isteri.”) Artinya, bagaimana kalian mengambil mahar isteri, padahal kamu telah menggaulinya dan ia pun telah menggaulimu. Ibnu `Abbas, Mujahid, as-Suddi dan ulama lainnya berkata, “Yang dimaksud (bercampur) adalah jima.”

Di dalam ash-Shahihain tercantum bahwa Rasulullah saw bersabda kepada suami isteri yang saling melaknat, setelah selesai dari laknatnya: “Allah Mahamengetahui bahwa salah seorang kalian adalah pendusta. Maka, adakah di antara kalian yang bertaubat?” Beliau ucapkan hal tersebut tiga kali. Maka si suami berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah dengan hartaku?” -yakni maskawin yang telah diberikannya,- Rasulullah saw bersabda: “Tidak berhak harta ini untukmu. Jika engkau benar dalam hal ini, maka harta itu adalah untuk apa yang telah engkau halalkan dari farjinya. Dan jika engkau dusta terhadapnya, maka harta itu lebih jauh lagi darimu dan lebih dekat kepadanya.”

Di dalam Sunan Abi Dawud dan selainnya dari Nadhrah bin Abi Nadhrah bahwa ia mengawini seorang gadis pingitan, dan ternyata ia sedang hamil karena zina. Maka, ia mendatangi Rasulullah saw. dan menceritakannya. Lalu beliau menetapkan mahar untuk wanita itu, keduanya dipisahkan (diceraikan) dan beliau memerintahkan agar wanita itu dijild (dicambuk) dan beliau bersabda: “Anak menjadi abdimu, sedangkan mahar adalah berkenaan dengan bertemunya kemaluan”. Untuk itu Allah swt. berfirman: wa kaifa ta’khudzuunaHuu wa qad afdlaa ba’dlukum ilaa ba’dlin (“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul [bercampur] dengan yang lain sebagai suami-isteri.”)

Firman Allah swt: wa akhadna minkum miitsaaqan ghaliidhan (“Dan mereka [istri-istrimu] telah mengambil darimu perjanjian yang kuat.”) Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, Mujahid dan Sa’id bin Jubair bahwa yang dimaksud adalah akad. Sufyan ats-Tsauri berkata, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Ibnu `Abbas, ia berkata tentang firman Allah: wa akhadna minkum miitsaaqan ghaliidhan; yaitu mempertahankannya dengan ma’ruf atau melepasnya dengan ihsan.” Ibnu Abi Hatim berkata; “Pendapat ini diriwayatkan pula dari `Ikrimah, Mujahid, Abul ‘Aliyah, al-Hasan, Qatadah, Yahya bin Abi Katsir, adh-Dhahhak dan as-Suddi.”

Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Anas tentang ayat tersebut, menjadikan mereka isteri-isteri kalian dengan amanat dari Allah dan kalian telah menghalalkan farji mereka dengan menyebut kalimat Allah. Karena sesungguhnya yang dimaksudkan dengan kalimat Allah di sini ialah bacaan syahadat dalam khutbah nikah. (HR. Ibnu Abi Hatim).

Di dalam Shahih Muslim dari Jabir tentang khutbah haji wada’ bahwa saat itu Nabi saw bersabda: “Berwasiatlah dengan kebaikan untuk para wanita, karena kalian mengambil [memperistri] mereka dengan amanah Allah dan menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.”

Firman Allah: walaa tankihuu maa nakaha abaa-ukum minan nisaa-i (“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu.”) Allah mengharamkan (menikahi) isteri-isteri para bapak sebagai penghormatan dan pemuliaan serta penghargaan bagi mereka bahwasanya tidak layak digauli setelah mereka, sehingga hal itu diharamkan bagi seorang anak, walau hanya sekedar akad saja, dan ini merupakan perkara yang disepakati.

Ibnu Abi Hatim berkata, dari ‘Adi bin Tsabit, dari seorang laki-laki Anshar, ia berkata: “Ketika Abul Qais bin al-Aslat wafat, dan ia termasuk orang yang shalih di kalangan Anshar, maka puteranya yaitu Qais melamar isterinya itu. Maka, sang isteri berkata: “Aku menganggapmu seorang anak dan engkau termasuk orang shalih di kalangan Anshar, tetapi aku akan datang kepada Nabi saw.” Lalu aku bercerita kepada beliau: “Sesungguhnya Abul Qais telah wafat.” Beliau berkata: “Kebaikan,” kemudian aku lanjutkan: “Sesungguhnya Qais, puteranya, melamarku padahal ia adalah orang shalih di kaumnya dan aku menganggapnya sebagai anak, bagaimana pendapatmu?” Maka beliau bersabda: “Pulanglah ke rumahmu,” lalu turunlah ayat: walaa tankihuu maa nakaha abaa-ukum minan nisaa-i (“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu.”)

Untuk itu Allah berfirman: illaa maa qad salafa (“Kecuali yang telah lalu.”) Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Dan [diharamkan bagimu] menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah lampau.” (QS. An-Nisaa’: 23)

Sesungguhnya Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Dahulu orang-orang jahiliyyah mengharamkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah kecuali isteri ayah dan menghimpun dua orang saudari, maka Allah menurunkan ayat: walaa tankihuu maa nakaha abaa-ukum minan nisaa-i; dan: wa an tajma’uu bainal ukhtaini; Demikianlah perkataan `Atha’ dan Qatadah. Wallahu alam.

Bagaimanapun hal tersebut telah diharamkan bagi umat ini dan merupakan perkara yang amat keji. Untuk itu Allah berfirman: innaHuu kaana faahisyataw wa maqtaw wa saa-a sabiilan (“Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan [yang ditempuh]).” Sebagaimana Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan satu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’: 32)

Dalam ayat ini ditambahkan: wa maqtan (“Dan dibenci [Allah]”), maksudnya: bu’dlan (dibenci) yaitu perkara yang sangat besar pada dirinya dan membawa kebencian anak kepada ayahnya setelah menikahi isteri ayahnya itu. Karena pada umumnya seseorang yang mengawini seorang wanita, ia akan membenci suami sebelumnya. Untuk itu ibu-ibu kaum mukminin (Ummahaatul Muk-miniin) umat ini diharamkan, karena mereka adalah para ibu yang merupakan isteri-isteri Nabi saw, di mana kedudukan beliau seperti ayah, bahkan haknya lebih besar dari pada hak ayah berdasarkan ijma’. Bahkan juga, kecintaan kepada beliau harus lebih didahulukan di atas kecintaan pada diri sendiri. Semoga shalawat dan salam untuknya.

`Atha’ bin Abi Rabah berkata tentang firman-Nya: wa maqtan; artinya Allah mengutuknya. Wa saa-a sabiilan; artinya seburuk-buruk jalan yang ditempuh oleh seseorang. Barangsiapa yang tetap melakukannya setelah ini, maka berarti ia telah murtad dari agamanya. Dia harus dibunuh dan hartanya dijadikan harta (rampasan) bagi baitul maal. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlus Sunan dari riwayat al-Barra’ bin `Azib, dari pamannya yaitu Abu Burdah, (dalam satu riwayat, dari Ibnu `Umar, dalam riwayat lain dari pamannya), bahwa dia diutus oleh Nabi kepada seseorang yang mengawini isteri ayahnya setelah ayahnya meninggal untuk dibunuh dan disita hartanya.

Permasalahan:

Para ulama telah sepakat tentang haramnya wanita yang telah disetubuhi oleh ayahnya, baik dengan cara perkawinan, kepemilikan (perbudakan) atau syubhat. Dan mereka berbeda pendapat tentang wanita yang digaulinya (oleh sang ayah) dengan penuh syahwat tanpa disetubuhi atau memandang sesuatu yang tidak dihalalkan pada wanita tersebut, sekiranya wanita itu adalah wanita lain. Disebutkan dari Imam Ahmad bahwa wanita tersebut pun tetap diharamkan dengan hal tersebut.

Contoh subhat dalam hal ini: Seorang ayah telah menikahi seseorang wanita di sebuah desa dan tidak diketahui di mana keberadaan isterinya tersebut, maka anak ayahnya tidak dibolehkan menikahi wanita di desa tersebut (dikarenakan adanya syubhat)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 17-18

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 17-18“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. An-Nisaa’: 17) Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An-Nisaa’: 18)

Allah berfirman bahwa Ia menerima taubatnya orang yang melakukan perbuatan keji karena kebodohan, kemudian bertaubat walaupun Malaikat telah tampak untuk mencabut ruhnya sebelum sampai tenggorokan. Mujahid dan lain-lain berkata: “Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, baik keliru ataupun sengaja, berarti ia bodoh, hingga ia menghindari dosa ter-sebut.” `Abdurrazzaq berkata, Ma’mar telah mengabarkan kepada kami dari Qatadah, ia berkata: “Para Sahabat Rasulullah telah sepakat bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, maka berarti ia jahil, baik sengaja atau tidak.”

Tsumma yatuubuuna min qariib (“Kemudian mereka bertobat dengan segera”) Qatadah dari as-Suddi berkata: “Yaitu selama dalam keadaan sehatnya.” Itulah yang diriwayatkan dari Ibnu `Abbas. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Yaitu sebelum ruh sampai tenggorokan.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama (ruhnya) belum sampai tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata: “Hasan gharib”).

Sedangkan kapan saja seseorang mulai putus harapan hidup, Malaikat mulai datang menjemput, ruh mulai keluar ke tenggorokan, dada mulai terasa sesak dan mencapai tenggorokan, jiwapun mulai meluncur menuju leher, disaat itu taubat tidak lagi diterima dan tidak ada yang dapat meloloskan diri.

Untuk itu Allah swt. berfirman: wa laisatit taubatu lil ladziina ya’malus sayyi-aati hattaa idzaa hadlara ahadaHumul mautu qaala innii tubtul aana (“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan [yang] hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, [barulah] ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’”)

Demikian pula Allah menetapkan, tidak akan menerima taubatnya penghuni bumi di saat matahari terbit dari barat dalam firman-Nya, [yang artinya]: “Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. Al-An’aam: 158).

Firman-Nya: walal ladziina yamuutuuna waHum kuffaar (“Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran.”) Yaitu, bahwa orang kafir jika mati dalam kekufuran dan kesyirikannya, maka penyesalan dan taubatnya tidak bermanfaat serta tidak diterima tebusan apapun darinya, sekalipun sepenuh bumi.

Ibnu `Abbas, Abul `Aliyah dan ar-Rabi’ bin Anas berkomentar tentang firman Allah: walal ladziina yamuutuuna waHum kuffaar (“Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran.”) Mereka berkata, “Ayat ini turun tentang pelaku syirik.”

&