Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 58

9 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 58“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfaal: 58)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya: fa immaa takhaffanna min qaumin (“Dan jika engkau khawatir terjadinya pengkhianatan dari suatu golongan.”) Yang engkau telah mengambil perjanjian dari mereka. Khiyaanatan (“Pengkhianatan.”) Yang dimaksud dengan pengkhianatan di sini adalah pelanggaran terhadap perjanjian yang diadakan antara dirimu dan diri mereka.

Fanbidz ilaiHim (“Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka.”) Maksudnya, lakukan hal yang sama terhadap mereka. Artinya, beritahukan kepada mereka, bahwa engkau telah menyalahi perjanjian mereka, sehingga engkau dan juga mereka sama-sama mengetahui bahwa engkau menjadi lawan perang bagi mereka dan engkau mengetahui, bahwa mereka menjadi lawan perang bagimu. Selain itu, tidak ada lagi perjanjian antara dirimu dan mereka dalam perjanjian tersebut.

Dari Walid bin Muslim, mengenai firman-Nya: fanbidz ilaiHim ‘alaa sawaa-in (“Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur.”) Ia mengatakan: “Yaitu dengan pemberian waktu.”
innallaaHa laa yuhibbul khaa-iniin (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”)Hingga walau terhadap hak orang-orang Kafir sekalipun, Allah tidak menyukainya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salim bin `Amir, ia menceritakan: Mu’awiyah tengah berjalan di daerah Romawi. Antara dirinya dan mereka terdapat batas waktu akhir perjanjian, kemudian ia bermaksud mendekati mereka. jika batas waktu akhir itu terlampaui, maka ia akan menyerang mereka.
Tiba-tiba ada seorang yang sudah tua yang mengendarai binatang tunggangannya dan berkata: “Allahu Akbar (Allah Mahabesar), Allahu Akbar (Allah Mahabesar), tepatilah janji dan janganlah berkhianat. Sesungguhnya Rasululah pernah bersabda:
“Barangsiapa yang antara dirinya dengan suatu kaum terdapat perjanjian, maka hendaklah ia tidak melepaskan tali perjanjian itu dan tidak menguatkannya, sebelum habis batas waktu akhirnya, atau mengembalikan perjanjian tersebut kepada mereka dengan cara yang jujur.” (HR. Imam Ahmad)

Maka hal itu pun sampai di telinga Mu’awiyah dan kemudian ia mundur kembali. Ternyata orang tua tersebut adalah `Amr bin `Anbasah.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud ath-Thayalisi, dari Syu’bah. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya melalui beberapa jalan, dari Syu’bah.
Sedangkan at-Tirmidzi sendiri mengatakan, bahwa hadits tersebut hasan shahih.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: