Arsip | 15.19

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 18-19

12 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 18-19“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kebendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (QS. 17:18) Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaba ke arab itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalab orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS. 17:19)” (al-Israa’: 18-19)

Allah memberitahukan bahwa tidak semua orang yang mengejar dunia dan segala kenikmatan yang terdapat di dalamnya, ia akan mendapatkannya, dan hal itu akan didapat oleh orang-orang yang dikehendaki-Nya saja. Dan ayat ini membatasi pengertian yang ada pada ayat-ayat lain yang umum, di mana Dia berfirman: ‘ajjalnaa laHuu fiiHaa maa nasyaa-u liman nuriidu tsumma ja’alnaa laHuu jaHannama (“Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam.”) Yakni, di alam akhirat, akan memasukinya;
Yash-laaHaa (“Ia akan memasukinya”) yaitu memasukinya sehingga neraka itu menenggelamkannya dari semua sisi.
Madzmuuman (“Dalam keadaan tercela,”) yakni, dalam keadaan terhina atas tindakan dan perbuatannya yang buruk, di mana ia lebih memilih hal yang bersifat fana (sementara) daripada
yang bersifat baqa (abadi).
Mad-huuran (“Dan terusir.”) Yakni, terjauhkan dan tersisihkan dalam keadaan hina dina.

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Aisyah , di mana ia bercerita, Rasulullah bersabda: “Dunia ini adalah tempat tinggal bagi orang yang tidak mempunyai tempat tinggal, dan harta kekayaan bagi orang yang tidak mempunyai harta, dan padanya berkumpul orang-orang yang tidak berakal.”

Dan firman-Nya: wa man araadal aakhirata (“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat,”) yakni, menghendaki alam akhirat dan berbagai kenikmatan dan kebahagiaan yang ada di sana.
Wa sa’aa laHaa (“Dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh,”) yakni, mencari hal itu melalui jalannya sedang ia mengikuti Rasul-Nya. wa Huwa mu’min (“Sedang ia adalah mukmin,”) yakni, hatinya beriman, mempercayai adanya pahala dan balasan.
Fa ulaa-ika kaana ya’yuHum masy-kuuran (“Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 17

12 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 17“Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Rabbmu Mahamengetahui lagi Mahamelihat dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Israa’: 17)

Allah berfirman seraya memperingatkan orang-orang kafir Quraisy mengenai tindakan mereka mendustakan Rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa Dia telah membinasakan umat-umat yang duhulu pernah mendustakan para Rasul setelah Nuh as. Dan hal itu menunjukkan bahwa selama kurun antara Adam dan Nuh, mereka telah memeluk Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu `Abbas, bahwa masa antara Adam dan Nuh itu sepuluh kurun, yang semuanya memeluk agama Islam.

Artinya, bahwa kalian, hai sekalian para pendusta, tidak lebih mulia dari mereka (para Rasul) di hadapan Allah. Dan kalian telah mendustakan Rasul yang paling mulia dan makhluk yang paling terhormat, sehingga penimpaan siksaan kepada kalian itu memang merupakan suatu hal yang layak dan seimbang.

Dan firman-Nya: wa kafaa birabbika bidzunuubi ‘ibaadiHii khabiiran bashiiran (“Dan cukuplah Rabbmu Mahamengetahui lagi Mahanielihat dosa hamba-hamba-Nya.”) Maksudnya, Dia itu Mahamengetahui segala perbuatan mereka, yang baik maupun yang buruk. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, Mahasuci Dia lagi Mahatinggi.

Bersambung