Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 23-24

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 23-24“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS.17:23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.’ (QS. 17:24)” (al-Israa’: 23-24)

Allah berfirman seraya memerintahkan agar hamba-Nya hanya beribadah kepada-Nya saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Kata “qadhaa” dalam ayat ini berarti perintah. Mengenai firman-Nya: wa qadlaa (“Dan telah memerintahkan,”) Mujahid berkata: “Artinya berwasiat.” Demikian pula Ubay bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud dan adh-Dhahhak bin Muzahim membaca ayat tersebut dengan bacaan: wa washshaa rabbuka allaa ta’buduu illaa iyyaaHu (“Rabbmu berwasiat agar kamu tidak beribadah kecuali kepada-Nya semata.”)

Oleh karena itu Allah menyertakan perintah ibadah kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, di mana Dia berfirman: wa bilwaalidaini ihsaanan (“Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”) Maksudnya, Dia menyuruh hamba-Nya untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Yang demikian itu seperti firman-Nya dalam Surat yang lain, di mana Dia berfirman yang artinya: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku tempat kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Dan firman-Nya lebih lanjut: immaa yablughanna ‘indakal kibara ahaduHumaa au kilaaHumaa falaa taqul laHumaa uffin (“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’. “) Maksudnya, janganlah engkau memperdengarkan kata-kata yang buruk, bahkan sampai kata “ah” sekalipun yang merupakan tingkatan ucapan buruk yang paling rendah/ringan.

Wa laa tanHar Humaa (“Dan janganlah kamu membentak keduanya,”) maksudnya, jangan sampai ada perbuatan buruk yang kamu lakukan terhadap keduanya. Sebagaimana yang dikatakan `Atha’ bin Abi Rabah mengenai firman-Nya ini ia berkata: “Artinya, janganlah kamu meringankan tangan kepada keduanya.” Dan setelah Allah melarang melontarkan ucapan buruk dan perbuatan tercela, Allah, menyuruh berkata-kata baik dan berbuat baik kepada keduanya, di mana Dia berfirman: wa qul laHumaa qulan kariiman (“Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”) Yakni, dengan lemah lembut, baik, penuh sopan santun, disertai pemuliaan dan penghormatan.

Wakhfidl laHumaa janaahadz dzulli minar rahmati (“Dan rendahkan dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan,”) maksudnya, bertawadhu’lah kamu kepada keduanya melalui tindakanmu.
Wa qur rabbirham Humaa kamaa rabbayaanii shaghiiran (“Dan ucap-kanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.’”) Yakni, pada usia tuanya dan pada saatwafatnya.

Ibnu’Abbas mengatakan, kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat yang artinya: “Tidak sepatututnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, ” dan ayat seterusnya. (QS. At-Taubah: 113)

Mengenai masalah birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) ini, telah banyak hadits yang membahasnya. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan melalui jalan Anas dan juga yang lainnya, bahwasanya Rasulullah pernah menaiki mimbar, kemudian berucap: “Amin. Amin. Amin.” Lalu ditanyakan: “Ya Rasulullah, apa yang engkau aminkan tadi” Beliau menjawab: “Aku telah didatangi Jibril, lalu ia berkata: ‘Sungguh hina orang yang (namamu disebut di sisinya), namun ia tidak bershalawat kepadamu. Maka ucapkanlah amin.’ Maka Aku mengucapkan amin. Kemudian ia berkata lagi: ‘Sungguh hina orang yang masuk bulan Ramadhan, lalu ia keluar darinya dengan tidak mendapatkan ampunan. Maka ucapkanlah amin.’ Maka kuucapkan amin. Selanjutnya Jibril berkata: ‘Sungguh hina orang yang mendapatkan kedua atau salah satu orang tuanya, namun (kesempatan bakti kepada) keduanya tidak memasukkannya ke surga. Maka ucapkanlah amin.’ Maka kuucapkan amin.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda: “Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orang tuanya di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orang tuanya) tidak memasukkannya ke surga.”

Hadits terakhir shahih dari sisi ini, dan tidak ada yang meriwayatkannya kecuali Muslim. Selain itu, Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Usail, yakni Malik bin Rabi’ah as-Sa’idi, ia bercerita: Ketika aku sedang duduk di dekat Rasulullah tiba-tiba beliau didatangi oleh seseorang dari kaum Anshar, lalu ia bertanya: “Ya Rasulullah, masihkah ada sesuatu dari bakti kepada orang tuaku yang harus kulakukan setelah keduanya wafat?” Beliau menjawab: “Ya, masih, ada empat perkara, yaitu menshalatkan keduanya (shalat jenazah), memohonkan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, dan menghormati sahabat keduanya serta menyambung tali silaturahmi yang engkau tidak akan mempunyai hubungan silaturahmi kecuali melalui keduanya. Demikian itulah yang masih tersisa dari bakti kepada orang tua yang harus kamu lakukan setelah keduanya wafat.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami, bahwasanya Jahimah pernah datang kepada Nabi dan berkata: “Ya Rasulullah, aku ingin ikut perang dan aku datang kepadamu untuk meminta saran.” Maka beliau pun bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” “Ya, masih,” jawabnya. Maka beliau berkata: “Kalau begitu, temanilah ia, karena surga itu terletak di kedua kakinya.”

Kemudian hadits yang kedua, lalu ketiga di beberapa kedudukan, sama seperti ucapan beliau ini. Dan demikian itulah hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: