Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 33

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 33“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara dhalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al-Israa’: 33)

Allah berfirman seraya melarang pembunuhan terhadap jiwa tanpa adanya alasan yang dibenarkan oleh syari’at, sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak dihalalkan darah seorang muslim yang bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah kecuali dengan tiga alasan, yaitu: jiwa dengan jiwa, seorang laki-laki beristeri yang berbuat zina, dan orang yang meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari jama’ah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam kitab as-Sunan juga diriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda: “Bagi Allah, hilangnya dunia ini lebih ringan dibandingkan dengan pembunuhan terhadap seorang muslim.”

Dan firman-Nya: wa man qutila madhluuman faqad ja’alnaa li waliyyiHii sulthaanan (“Dan barangsiapa dibunuh secara dhalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya.”) Yaitu kekuasaan ahli waris untuk memilih dalam hukumannya bagi si pembunuh, bila ia kehendaki dapat dijatuhkan hukuman bunuh, juga dapat dimaafkan dengan membayar diyat (tebusan), dan juga dapat memaafkan tanpa tebusan, yakni dengan tidak menuntut ganti rugi. Sebagaimana hal itu telah ditegaskan dalam as-Sunnah.

Dan firman-Nya: wa laa yusrif fil qatli (“Tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh.”) Para ahli tafsir mengatakan, artinya, si wali tidak boleh berlebih-lebihan dalam membunuh si pembunuh tersebut, yakni dengan menuntut hukum qishash (hukum balas membunuh) kepada yang tidak membunuh.

innaHuu kaana manshuuran (“Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.”) Maksudnya, si ahli waris itu mendapat pertolongan atas si pembunuh keluarganya, baik menurut syari’at maupun menurut kebiasaan, juga menuntut ketetapan takdir.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: