Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 44

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 44“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Mahapenyantun lagi Mahapengampun.” (QS. Al-Israa’: 44)

Allah berfirman, tujuh lapis langit dan juga bumi seisinya yang terdiri dari berbagai makhluk telah bertasbih kepada Nya, mensucikan, mengagungkan, dan membesarkan-Nya dari apa yang dikatakan orang-orang musyrik. Semuanya itu memberikan kesaksian akan keesaan-Nya dalam Rububiyyah dan Ilahiyyah:

Dalam setiap sesuatu mempunyai tanda
Yang menunjukkan bahwa Dia itu adalah satu.

Dan firman-Nya: wa im min syai-in illaa yusabbihu bihamdiHi (“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya,”) maksudnya, tidak ada satu pun makhluk melainkan bertasbih seraya memuji Allah.
Wa laakil laa yafqaHuuna tasbiihaHum (“Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”) Maksudnya, kalian wahai sekalian manusia, tidak memahami tasbih mereka, karena ia mempunyai bahasa yang berbeda dengan bahasa kalian. Hal itu bersifat umum, berlaku pada hewan, benda-benda, dan juga tumbuh-tumbuhan. Dan yang demikian itu merupakan salah satu dari dua pendapat yang paling masyhur.

Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahih al-Bukhari, dari Ibnu Mas’ud, di mana ia pernah bercerita: “Kami pernah mendengar tasbih yang diucapkan makanan ketika ia tengah dimakan.”

Sedangkan dalam kitab Sunan an-Nasa i juga disebutkan, dan `Abdullah bin `Amr, ia bercerita, Rasulullah melarang membunuh katak seraya bersabda: “Bunyinya adalah tasbih.” Wallahu a’lam.

Dan firman-Nya: innaHuu kaana haliiman ghafuuran (“Sesungguhnya Dia adalah Mahapenyantun lagi Mahapengampun.”) Maksudnya, Dia tidak akan segera menimpakan siksaan terhadap orang-orang yang durhaka kepada-Nya, Dia akan mengakhirkan dan menangguhkannya, meskipun mereka terus-menerus dalam kekufuran dan keingkarannya. Dia akan mengadzab dengan adzab-Nya yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab ash-Shahihain, di mana Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah memberikan keleluasaan (penangguhan adzab) kepada orang dhalim sehingga apabila Dia menimpakan siksaan kepadanya, niscaya Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian Rasulullah membaca ayat berikut ini: “Dan begitulah adzab Rabbmu, apabila Diu mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dhalim.” (QS. Huud: 102)

Dan barangsiapa yang melepaskan diri dari kekufuran dan kemaksiatan serta kembali kepada Allah, dan bertaubat kepada-Nya, maka Dia pun akan menerima taubatnya; innaHuu kaana haliiman ghafuuran (“Sesungguhnya Dia adalah Mahapenyantun lagi Mahapengampun.”)

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: