Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 60

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 60“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Rabbmu meliputi semua manusia.’ Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam al-Qur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.” (QS. Al-Israa’: 60)

Mengenai firman Allah: wa idz qulnaa laka inna rabbaka ahaatha bin naasi (“Dan ingatlah ketika Kami wahyukan kepadamu, ‘Sesungguhnya (ilmu) Rabbmu meliputi semua manusia,’”) Mujahid, `Urwah bin az-Zubair, al-Hasan, Qatadah dan lain-lain mengemukakan: “Artinya, Dia melindungimu dari mereka.”

Dan firman-Nya: wa maa ja’alnal ru’yal latii arainaaka illaa fitnatal lin naasi (“Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia.”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, mengenai firman-Nya ini, ia mengatakan: “Yakni, penglihatan mata yang diperlihatkan kepada Rasulullah pada malam beliau diperjalankan (malam Isra’).”

Wasy-syajaratal mal’uunata fil qur-aani (“Dan begitu pula pohon kayu yang terkutuk dalam al-Qur’an,”) ialah pohon zaqqum. Demikian yang diriwayatkan oleh Ahmad, `Abdurrazzaq dan selain keduanya, dari Sufyan bin `Uyainah. Hal yang sama juga diriwayatkan al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas. Demikianlah Mujahid, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, Masruq, Ibrahim, Qatadah, `Abdurrahman bin Zaid, dan beberapa ulama lainnya menafsirkan hal itu dengan malam Isra’.

Illaa fitnatan (“Melainkan sebagai fitnah.”) Maksudnya, ujian. Sedangkan pohon yang terkutuk adalah pohon zaqqum. Hal itu didasarkan pada apa yang diberitahukan Rasulullah kepada mereka, bahwasanya beliau pernah melihat surga dan neraka, juga melihat pohon zaqqum. Tetapi mereka mendustakan hal itu. Bahkan Abu Jahal -la’natullah ‘alaih- berkata: “Berikanlah kepada kami kurma dan zubdah (kepala susu).” Kemudian ia memakan makanan yang satu (zubdah) dicampur dengan yang satu lagi (mentega) seraya berkata: “Makanlah zaqqum ini, kita tidak mengetahui zaqqum yang lain selain ini.” Kisah tersebut diceritakan Ibnu `Abbas dan beberapa ulama lainnya.

Dan firman-Nya lebih lanjut: wa nukhawwifuHum (“Dan Kami menakut nakuti mereka,”) yakni orang-orang kafir yang diancam dengan adzab dan siksaan. Famaa yaziiduHum illaa tughyaanan kabiiran (“Tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.”) Maksudnya, keingkaran yang disebabkan oleh kekufuran dan kesesatan yang mereka geluti. Dan hal itu merupakan bentuk penghinaan Allah Ta’ala terhadap mereka.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: