Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 101-104

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 101-104“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka, lalu Fir’aun berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir.’ (QS. 17:101) Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.’ (QS. 17:102) Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya, (QS. 17:103) dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu).’ (QS. 17:104)” (al-Israa’: 101-104)

Allah memberitahukan bahwa Dia telah mengutus Musa as. dengan sembilan ayat yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan yang merupakan dalil-dalil pasti yang menunjukkan benarnya kenabian Musa dan kebenarannya pada apa yang ia sampaikan dari Yang mengutusnya kepada Fir’aun. Kesembilan mukjizat Musa’ tersebut adalah tongkat, tangan, bukit Thur, laut, topan, belalang, kutu, katak dan darah. Semuanya itu merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang sudah terrerinci. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu `Abbas: “Tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raaf: 133)

Maksudnya, meskipun telah datang kepada mereka berbagai tanda-tanda kekuasaan tersebut dan bahkan secara langsung mereka melihatnya, namun mereka tetap kafir dan mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.

Demikian juga seandainya Kami penuhi orang-orang yang meminta kepadamu dan mengatakan: “Kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kamu memancarkan mata air bagi kami di muka bumi,” niscaya mereka tidak akan memenuhi seruan dan tidak pula beriman kecuali jika Allah menghendaki.
Sebagaimana yang dikemukakan Fir’aun kepada Musa as, sedang ia telah menyaksikan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan tersebut: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang
yang kena sihir.” Ada yang mengatakan, hal itu berarti tukang sihir. Wallahu a’lam.

Oleh karena itu, Musa pun berkata kepada Fir’aun: laqad ‘alimta maa anzala Haa-ulaa-i illaa rabbus samaawaati wal ardli bashaa-ira (“Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang rnenurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.”) Maksudnya, sebagai,hujjah dan dalil atas kebenaran apa yang aku (Musa) bawa kepadamu.
Wa innii la-adhunnuka yaa fir’auna matsbuuran (“Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.”) Maksudnya, seorang yang hancur binasa. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Sedangkan menurut Ibnu `Abbas, hal itu berarti orang yang terlaknat.

Semuanya itu menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dengan Sembilan tanda-tanda kekuasaan adalah apa yang telah disebutkan di depan. WallaHu a’lam.

Firman-Nya: fa araada ay yastafizzaHum minal aardli (“Kemudian [Fir’aun] hendak mengusir mereka [Musa dan pengikut-pengikutnya] dari bumi [Mesir] itu,”) yakni, akan menyingkirkan dan melenyapkan mereka dari negeri tersebut.

Fa aghraqnaaHu wa mam ma’aHu jamii’aw wa qulnaa mim ba’diHii li banii israa-iilas kunul ardla (“Maka Kami tenggelamkan dia [Fir’aun] serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya. Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini.’”)

Yang demikian itu merupakan berita gembira bagi Nabi Muhammad saw, mengenai pembebasan kota Makkah, padahal surat ini Makkiyyah dan turun sebelum Hijrah. Itulah yang terjadi, di mana penduduk Makkah berkeinginan keras untuk mengusir Rasulullah dari Makkah. Oleh karena itu, Allah , mewariskan Makkah kepada beliau, lalu beliau memasukinya kembali.

Demikian menurut dua pendapat yang masyhur, dan beliau mengalahkan penduduknya dan kemudian melepaskan mereka dengan penuh kasih sayang dan kemurahan. Sebagaimana Allah Ta’ala mewariskan bumi belahan barat dan timur kepada orang-orang mustadl’afiin (lemah) dari kalangan Bani Israil. Dan Dia mewariskan kepada mereka negeri, harta kekayaan, sawah, ladang, buah-buahan, dan berbagai simpanan Fir’aun. Sebagaimana yang difirmankan-Nya berikut ini: “Demikian halnya dan Kami anugerahkan semuanya itu kepada Bani Israil.” (QS. Asy-Syu’araa’: 59)

Sedangkan di sini Dia berfirman: wa qulnaa mim ba’diHii li banii israa-iilas kunul ardla wa idzaa jaa-a wa’dul aakhirati ji’naa bikum lafiifan (“Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur [dengan musuhmu].’”) Yakni, kalian dan musuh-musuh kalian secara keseluruhan. Ibnu `Abbas, Mujahid, Qatadah dan adh-Dhahhak mengatakan: “Kata lafiifan berarti jamii’an (semuanya).”

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: