Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 63-65

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 63-65“Rabb berfirman: ‘Pergilah, barangsiapa di antara mereka mengikutimu, maka sesungguhnya neraka jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (QS. 17:63) Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS. 17:64) Sesungguhnya hamba-hambaku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penjaga. (QS. 17:65)” (al-Israa’: 63-65)

Setelah iblis meminta tangguh, Allah berfirman kepadanya: idzHab (“Pergilah,”) sesungguhnya Aku telah memberikan tangguh kepadamu. Sebagaimana yang difirmankan dalam ayat lain: “Kalau begitu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr. 37-38)

Setelah itu Allah memberikan ancaman kepadanya dan juga anak cucu Adam yang mengikutinya berupa neraka Jahannam.

qaaladzHab faman tabi’aka minHum fa innama jaHannama jazaa-ukum (“Rabb berfirman: ‘Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, maka sesungguhnya neraka jahannam adalah balasanmu semua.”) Yakni, atas amal perbuatan kalian; jazaa-am maufuuran (“Sebagai suatu pembalasan yang cukup.”)
Mujahid mengatakan: “Yakni balasan yang melimpah.” Sedangkan Qatadah berkata: “Secara penuh diberikan kepada kalian tanpa pengurangan sedikit pun.”

Dan firman-Nya: wastafziz manistatha’ta minHum bishautika (“Dan hasunglah [kacaukanlah] siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.”) Ada yang berpendapat, yakni berupa nyanyian. Mujahid berkata: “Yakni dengan permainan dan nyanyian.” Artinya, hinakanlah mereka dengan hal itu.
Ibnu `Abbas mengatakan: “Yakni setiap ajakan yang menyeru kepada maksiat kepada Allah.” Hal itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Firman Allah Ta’ala selanjutnya: wa ajlib ‘alaiHim bikhailika wa rajilika (“Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki.”) Kata ar-rajilu merupakan jamak dari kata raajil, sebagaimana kata ar-rakibu merupakan jamak dari kata raakib, serta kata shuhub jamak dari kata shaahib. Artinya, kuasailah mereka semampu kalian. Dan yang demikian itu merupakan perintah yang bersifat qadari (takdir).

Hal itu adalah sama seperti firman-Nya yang lain:”Tidakkah kamu melihat, bahwa-sanya Kami telah mengirimkan syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?” (QS. Maryam: 83)
Maksudnya, yang menggoda mereka untuk berbuat maksiat dengan godaan yang menggiring mereka ke arah itu.

Mengenai firman Allah Ta’ala ini, Ibnu `Abbas dan Mujahid berkata: “Yakni semua orang yang menaiki kendaraan dan berjalan di dalam kemaksiatan kepada Allah.”

Firman-Nya lebih lanjut: wa syaarikHum fil amwaali wal aulaadi (“Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.”) Ibnu `Abbas dan Mujahid berkata: “Yakni, apa yang syaitan perintahkan kepada mereka berupa penginfakan harta benda di jalan maksiat kepada Allah Ta’ala.” `Atha’ mengemukakan: “Yakni riba.” Sedangkan al-Hasan mengatakan: “Yakni pengumpulan harta dari berbagai hal yang buruk dan penginfakannya untuk hal-hal yang haram.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh Qatadah.

Al-`Aufi menceritakan dari Ibnu `Abbas: “Adapun perserikatan Iblis dengan mereka adalah dalam semua harta mereka, yaitu yang mereka haramkan dari binatang ternak mereka, baik di lautan maupun di daratan, dan lain-lain semisalnya.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh adh-Dhahhak dan Qatadah. Ibnu Jarir mengatakan: “Yang paling tepat untuk dikatakan adalah bahwa ayat tersebut mencakup semuanya.”

Dan firman-Nya: wal aulaadi (“Dan anak-anak.”) Ibnu Jarir mengemukakan: “Pendapat yang paling tepat, bahwa setiap anak yang dilahirkan seorang wanita yang bermaksiat kepada Allah dengan memberikan nama yang dibenci Allah atau memasukkannya ke dalam agama yang tidak diridhai Allah Ta’ala, atau melakukan zina dengan ibunya, atau membunuhnya, atau menguburnya hidup-hidup, atau berbagai hal lainnya yang merupakan maksiat kepada Allah Ta’ala. Maka yang demikian itu sudah termasuk berserikat dengan Iblis dalam masalah anak, karena Allah tidak memberikan pengkhususan dalam firman-Nya, “Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.”

Arti berserikat dalam harta dan anak adalah dengan arti yang tertentu, yaitu semua bentuk maksiat kepada Allah dalam harta dan anak atau dengan menggunakan harta dan anak atau melakukan ketaatan kepada perbuatan syaitan pada harta dan anak atau dengan menggunakan harta dan anak, itu merupakan bentuk perserikatan dengan iblis. Setiap ulama dari ulama Salaf menafsirkan sebagian dari perserikatan. Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahih Muslim, dari’Iyadh bin Hamad, bahwa Rasulullah bersabda: “Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (selalu berpegang kepada kebenaran). Kemudian mereka didatangi oleh syaitan, lalu syaitan itu menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan bagi mereka apa yang Ku-halalkan bagi mereka.’” (HR. Muslim)

Dan dalam kitab ash-Shahihain disebutkan, bahwa Rasulullah juga bersabda: “Seandainya salah seorang dari mereka jika hendak mencampuri isterinya mengucapkan, ‘Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan, dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami,’ karena sesungguhnya jika dari (hubungan itu) ditetapkan antara keduanya mendapatkan seorang anak, maka anak itu tidak akan dicelakai syaitan untuk selamanya.”

Dan firman Allah Ta’ala: wa ‘idHum wamaa ya’idumusy syaithaanu illaa ghuruuran (“Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.”) Sebagaimana Allah Ta’ala memberitahu iblis bahwa Dia telah berfirman, jika kebenaran telah nyata pada hari ditetapkannya kebenaran, di mana syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya.” (QS. Ibrahim: 22).

Firman-Nya: inna ‘ibaadii laisa laka ‘alaiHim sulthaanun (“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka.”) Yang demikian itu merupakan pemberitahuan Allah Ta’ala tentang dukungan yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan pemeliharaan yang Dia berikan kepada mereka dan dijaganya dari syaitan yang terkutuk. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa kafaa birabbika wakiilan (“Dan cukuplah Rabmu sebagai Penjaga.”) Yakni, penjaga, pendukung dan penolong.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: