Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 80-81

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 80-81“Dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS. 17:80) Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. 17:81)” (al-Israa’: 80-81)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia menceritakan bahwa dahulu Nabi berada di Makkah, kemudian diperintahkan untuk hijrah, lalu Allah Ta’ala menurunkan: wa qur rabbi adkhilnii mudkhala shidqiw wa akhrijnii mukhraja shidqiw waj’allii mil ladunka sulthaanan nashiiran (“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku masukkanlah aku dehgan masuk yang benar dan keluarkan [pula] aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”) Imam at-Tirmidzi mengatakan, derajatnya hasan shahih.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Hasan al-Bashri mengemukakan, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari penduduk Makkah, ketika mereka berunding tentang Rasulullah, dengan tujuan membunuhnya atau mengusirnya atau mengikatnya, maka Allah berkehendak untuk membunuh penduduk Makkah. Lalu Allah menyuruh beliau untuk pergi ke Madinah. Dan itulah yang) difirmankan oleh Allah: wa qur rabbi adkhilnii mudkhala shidqiw wa akhrijnii mukhraja shidqiw waj’allii mil ladunka sulthaanan nashiiran (“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku masukkanlah aku dehgan masuk yang benar dan keluarkan [pula] aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”)

Qatadah mengatakan: wa qur rabbi adkhilnii mudkhala shidqin (“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku masukkanlah aku dehgan masuk yang benar.”) yakni Madinah.
“Dan keluarkan (pula) aku dengan keluar yang benar,” yakni kota Makkah.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Dan pendapat inilah yang merupakan pendapat paling masyhur.

Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu `Abbas, “Masukkanlah aku dengan masuk yang benar, “yakni kematian. “Dan keluarkan (Pula) aku dengan keluar yang benar, “yakni kehidupan setelah kematian. Ada juga beberapa pendapat lain selain itu. Tetapi pendapat pertama yang paling tepat, dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Dan firman-Nya: waj’allii mil ladunka sulthaanan nashiiran (“Dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”) Dalam menafsirkan ayat tersebut, al-Hasan al-Bashri mengemukakan, Rabbnya menjanjikan kepadanya untuk melepaskan kekuasaan bangsa Persia dan kemuliaannya dan Dia akan menyerahkan kepada beliau. Juga kekuasaan bangsa Romawi dan kemuliaannya dan Dia menjadikannya untuk beliau.”

Mengenai hal tersebut, Qatadah mengemukakan, “Sesungguhnya Nabiyyullah mengetahui bahwa dirinya tidak sanggup melakukan perintah tersebut kecuali dengan kekuasaan. Oleh karena itu, beliau memohon kekuasaan yang dapat menolong Kitab Allah, hukum-hukum-Nya dan semua kewajiban yang ditentukan-Nya serta untuk menegakkan agama-Nya. Sesungguhnya, kekuasaan itu merupakan rahmat dari Allah Ta’ala yang Dia tegakkan di tengah-tengah semua hamba-Nya. Kalau bukan karena kekuasaan tersebut, niscaya sebagian akan dengki kepada sebagian lainnya, sehingga yang kuat dari mereka akan memakan yang lemah.” Dan Ibnu Jarir memilih pendapat al-Hasan dan Qatadah, dan itulah yang lebih rajih (kuat).

Firman-Nya: wa qul jaa-al haqqu wa zaHaqal baathilu (“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.’”) Yang demikian itu merupakan ancaman keras bagi orang-orang kafir Quraisy. Sesungguhnya telah datang kepada mereka kebenaran yang tidak diragukan lagi. Yaitu al-Qur’an yang telah diturunkan kepada beliau, iman, dan ilmu yang bermanfaat. Dengan demikian, lenyap dan binasalah kebathilan mereka, karena kebathilan itu tidak akan pernah dapat berdiri tegak dan bertahan lama bersama kebenaran.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari `Abdullah bin Mas’ud, ia bercerita, Nabi saw. pernah memasuki kota Makkah sedang di sekitar Baitullah terdapat 360 patung. Maka beliau pun menghancurkannya dengan tongkat yang dibawanya seraya berucap: “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.” Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. “Kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan kembali lagi.” (QS. Saba’: 49)

Hal yang sama juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: