Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 8

15 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 8“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, baghal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak ketahui.” (QS. An-Nahl: 8)

Ini adalah bagian lain dari apa yang Allah ciptakan untuk hamba-Nya, Allah anugerahkan itu untuk mereka, yaitu kuda, baghal, dan keledai, yang Allah jadikan sebagai tunggangan dan perhiasan. Dan itu semua adalah tujuan yang paling besar. Dan ketika Allah merinci binatang-binatang ini dan menyebutkannya secara terpisah dari binatang-binatang ternak, sebagian ulama menjadikan hal itu sebagai dalil atas pendapat mereka bahwa daging kuda adalah haram, seperti Imam Abu Hanifah; dan para ulama fiqih yang sependapat dengan beliau, bahwa sesungguhnya Allah menyebutkannya bersamaan dengan baghal dan keledai, yang memang kedua-duanya adalah haram, seperti yang telah ditetapkan oleh Sunnah Nabawiyyah, ini adalah pendapat sebagian besar para ulama.

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, bahwa sesungguhnya Ibnu `Abbas memakruhkan daging kuda, keledai dan baghal. Dan beliau berkata: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu, padanya ada [bulu] yang menghangatkan dan berbagai manfaat dan sebagiannya kamu makan,’ berarti ini untuk di makan.”
“Dan Dia telah menciptakan kuda, baghal dan keledai agar kamu menungganginya.” Maka ini untuk di tunggangi. Begitu juga diriwayatkan melalui jalur Sa’id bin Jubair dan lainnya, dari Ibnu `Abbas dengan nada yang sama. Dan al-Hakam bin `Utaibah berkata seperti itu juga.

Lalu para ulama itu melanjutkan dalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, dari Khalid bin al-Walid, beliau berkata: “Rasulullah melarang makan daging kuda, baghal dan keledai.” Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits tersebut dari Shalih bin Yahya bin Miqdam, dan hadits tersebut perlu dikaji.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits tersebut dari jalan lain dengan nada yang lebih terbuka dan lebih jelas dalam menunjukkan dalil, lalu beliau berkata: “Dari Miqdam bin Ma’d Yakrab berkata: ‘Kami telah melakukan peperangan bersama Khalid bin al-Walid di negeri ash-Sha-ifah, lalu sahabat-sahabat kami mendatangi daging, lalu mereka meminta batu dariku lalu aku berikan batu kepada mereka dan mereka mengikatkan tali pada batu itu (untuk menyembelih) lalu aku berkata kepada mereka: ‘Tetaplah kalian di tempat kalian sehingga aku menemui Khalid untuk bertanya kepadanya,’ setelah aku temui dia dan bertanya kepadanya, lalu beliau berkata: `Kami telah berperang bersama Rasulullah dalam perang Khaibar, lalu orang-orang bergegas menuju kebun orang Yahudi, lalu Rasulullah menyuruhku untuk memanggil bahwa shalat telah didirikan, dan tidak masuk surga kecuali orang muslim,’ lalu Rasulullah bersabda: “Hai orang-orang, sesungguhnya kalian telah tergesa-gesa (untuk mengambil) kebun orang-orang Yahudi, ingatlah!!! Tidak halal hartanya orang-orang yang hidup di bawah perjanjian kecuali dengan haknya, dan haram atas kalian daging keledai jinak, kuda jinak dan baghal jinak, dan setiap binatang-binatang yang memiliki taring dari jenis binatang buas, dan setiap binatang yang memiliki kuku pencakar dari jenis burung.”

Seolah-olah kejadian ini terjadi setelah diberikannya kepada mereka (orang-orang Yahudi) perjanjian dan muamalah dengan syarat, wallahu a’lam.

Sekiranya hadits ini shahih, tentu akan menjadi nash dalam keharaman daging kuda, tetapi hadits ini tidak dapat menandingi apa yang telah ditetapkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jabir Ibnu `Abdillah berkata: “Rasulullah perbolehkan daging kuda.” Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dengan dua isnad yang masing-masing isnad atas syarat Imam Muslim, dari Jabir Ibnu Abdillah berkata: Kami menyembelih pada perang Khaibar kuda, baghal dan keledai, lalu Rasulullah melarang kami dari baghal dan keledai dan beliau tidak melarang kami dari kuda.

Dan riwayat dalam Shahih Muslim, dari Asma’ binti Abu Bakr radhiallahu ‘anha berkata: “Kami menyembelih kuda pada zaman Rasulullah, lalu kami memakannya, sedangkan kami (waktu itu) di Madinah.” Hadits-hadits ini merupakan dalil yang lebih jelas, lebih kuat dan lebih tetap. Maka sebagian besar para ulama, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, pengikut-pengikut mereka, dan sebagian besar ulama Salaf dan Khalaf (mengarah) kepada pemahaman itu. Wallahu a’lam.

Nash (ayat) di atas menunjukkan dalil atas diperbolehkannya menunggang binatang-binatang tersebut, di antaranya adalah baghal. Rasulullah pemah dihadiahi seekor baghal, dan waktu itu Rasulullah menungganginya, sedangkan beliau melarang perkawinan keledai atas kuda agar keturunan tidak putus.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: