Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 38-40

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 38-40“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’ (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, (QS. 16:38) agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. (QS. 16:39) Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah),” maka jadilah ia. (QS. 16:40)” (an-Nahl: 38-40)

Allah Ta’ala berfirman seraya memberi khabar tentang orang-orang musyrik, bahwa sesungguhnya mereka telah bersumpah dengan nama Allah dengan sebenar-benarnya sumpah. Maksudnya bersungguh-sungguh dalam sumpah, bahwa sesungguhnya Allah tidak membangkitkan orang-orang yang telah mati, maksudnya mereka menjauhkan keyakinan itu dan mendustakan para Rasul, ketika para Rasul itu memberi khabar kepada mereka dengan hal itu dan mereka bersumpah untuk melanggarnya, maka Allah berfirman seraya menyangkal dan menolak mereka: balaa (“Tidak demikian”) maksudnya bahkan akan ada; wa’dan ‘alaiHi haqqan (“sebagai suatu janji [pasti Allah akan membangkitkannya] yang benar dari Allah,”) maksudnya pasti ada.

Wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”) maksudnya karena kebodohan mereka, mereka menetang para Rasul, danmereka berada dalam kekafiran. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hikmah-Nya pada hari dikembalikannya semua makhluk, dan hari bangkitnya jasad-jasad, yaitu hari Kiamat. Maka Allah menjelaskan kepada mereka: liyubayyina laHum (“Agar Allah menjelaskan kepada mereka.”) maksudnya kepada manusia; alladzii yakhtalifuuna fiiHi (“Apa yang mereka perselisihkan itu,”) maksudnya dari setiap sesuatu.

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat, dan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, dan memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)

Wa liya’lamal ladziina kafaruu annaHum kaanuu kaadzibiin (“Dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta,”) maksudnya dalam sumpah mereka bahwasanya Allah tidak membangkitkan orang yang telah mati. Maka dari itu mereka akan digiring pada hari Kiamat ke neraka Jahannam, Malaikat Zabaniyah berkata kepada mereka:
“(Dikatakan kepada mereka): ‘Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.’ Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Ath-Thuur: 14-16)

Kemudian Allah Ta’ala memberi khabar tentang kekuasaan-Nya atas apa yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang mampu melemahkan-Nya baik di bumi maupun di iangit, akan tetapi perintah-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia berfirman: kun fayakuun (“Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu,”) dan kebangkitan manusia kelak apabila Allah menghendaki keadaan seperti itu, maka Dia memerintahkan dalam satu kali perintah, terjadilah sesuatu yang Dia kehendaki.

Innamaa qaulunaa lisyai-in idzaa aradnaaHu an naquula laHuu kun fayakuun (“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)!’ Maka jadilah ia.”) Maksudnya, Allah Ta’ala tidak membutuhkan pengukuhan terhadap apa yang Dia perintahkan, karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak ada yang mampu melarang dan tidak ada yang mampu menentang, karena Dia yang Mahaesa, Mahaperkasa dan Mahaagung, yang kerajaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan wibawa-Nya mengalahkan segala sesuatu. Maka tidak ada Ilah selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Dan berkata Ibnu Abi Hatim bahwa al-Hasan Ibnu Muhammad lbnu ash-Shabah menyebutkan, Hajjaj mengisahkan kepadaku dari Ibnu Juraij, ia berkata, ‘Atha’ memberi khabar kepadaku bahwa sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah ra. berkata, “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mencaci-maki Aku dan itu tidak layak baginya, dan anak Adam mendustai Aku dan itu tidak layak baginya. Adapun dustanya terhadap-Ku, maka Allah berfirman: ‘Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’”

Abu Hurairah berkata: “Aku (Allah) berfirman: ‘(Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Adapun cacimakinya terhadap-Ku, maka Allah berfirman: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,’ (QS. Al-Maa-idah: 73). Dan aku katakan: ‘Katakanlah: Dialah Allah yang Mahaesa, Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’ (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Demikianlah Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits secara mauquf, dan hadits itu diriwayatkan dalam ash-Shahihain secara marfu’ dengan lafazh yang berbeda.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: