Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 98-100

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 98-100“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. 16:98) Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. (QS. 16:99) Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. 16:100)” (an-Nahl: 98-100)

Ini merupakan perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad, yaitu jika mereka akan membaca al-Qur’an, maka hendaklah mereka meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Perintah ini bersifat anjuran, bukan kewajiban. Kesepakatan mengenai hal itu diceritakan oleh Abu Ja’far bin Jarir dan imam-imam lainnya. Hadits yang berkenaan dengan permohonan perlindungan ini telah kami kemukakan sebelumnya pada pembahasan pertama. Segala puji dan sanjungan hanya milik Allah.

Firman-Nya: innaHuu laisa laHuu sulthaanun ‘alal ladziina aamanuu wa ‘alaa rabbiHim yatawakkaluun (“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.”) Ats-Tsauri mengatakan bahwa syaitan itu tidak
memiliki kekuasaan atas mereka (orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya) untuk menjatuhkan mereka ke dalam dosa yang mereka tidak bisa bertaubat darinya. Sedangkan yang lainnya mengatakan, artinya, tidak ada hujjah bagi syaitan atas mereka. Yang lain lagi mengatakan, yang demikian itu sama seperti firman-Nya: “Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlish di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 40)

innamaa sulthaanuHuu ‘alal ladziina yatawallaunaHu (“Sesungguhnya kekuasaannya [syaitan] banyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin.”) Mujahid mengatakan: “Yakni, mentaatinya [syaitan].” Ulama lainnya mengatakan: “Mereka menjadikannya sebagai pelindung selain Allah:
walladziina Hum biHii musyrikuun (“Dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”) Maksudnya, mereka menyekutukan syaitan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Huruf ba’ bisa jadi sebagai ba’ sababiyyah, artinya, karena ketaatan mereka kepada syaitan, mereka menjadi musyrik kepada Allah Ta’ala.
Uama lainnya mengatakan bahwa artinya, syaitan itu bersekutu dengan mereka dalam harta benda dan anak-anak.

Bersambung

2 Tanggapan ke “Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 98-100”

  1. Monalissa anugerah 19 September 2017 pada 09.44 #

    Qs. Al hijr ayat 40 bukan elijr ayat 40

    • untungsugiyarto 24 September 2017 pada 13.28 #

      Terimakasih atas koreksinya. Semoga berkah. Aamiin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: