Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 126-128

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 126-128“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. 16:126) Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. 16:127) Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 16:128)” (an-Nahl: 126-128)

Allah Ta’ala memerintahkan untuk berlaku adil dalam pemberlakuan hukuman qishash dan penyepadanan dalam pemenuhan hak, sebagaimana yang dikatakan `Abdurrazzaq dari Ibnu Sirin, di mana dia berkata mengenai firman Allah Ta’ala: fa’aaqibuu bimitsli maa ‘uuqibtum biHii (“Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian.”) Artinya, jika salah seorang di antara kalian mengambil sesuatu, maka ambillah dengan kadar yang sama.

Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Ibrahim, al-Hasan al-Bashri, dan selain mereka, serta menjadi pilihan Ibnu Jarir.
Ibnu Zaid mengatakan: “Mereka diperintahkan untuk memberi maaf kepada kaum musyrikin.” Setelah pemberian maaf itu, banyak orang-orang kuat yang masuk Islam. Kemudian mereka berkata, “Ya Rasulullah, jika Allah mengizinkan, niscaya kami akan menuntut hak dari anjing-anjing itu.” Maka turunlah ayat ini, yang kemudian dinasakh dengan ayat jihad.

Firman-Nya: washbir wa maa shab-ruka illa billaaHi (“Dan bersabarlah [hai Muhammad] dan tidaklah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,”) sebagai tekanan dalam perintah untuk bersabar dan sebagai pemberitahuan bahwa (siapa pun) tidak akan mencapainya kecuali hanya dengan kehendak Allah dan pertolongan-Nya serta kekuatan-Nya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: wa laa tahzan ‘alaiHim (“Dan janganlah kamu bersedih Kati terhadap [kekafiran] mereka,”) maksudnya atas orang-orang yang menyalahimu, sesungguhnya Allah telah menentukan untuk itu; wa laa taku fii dlaiqin (“Dan janganlah kamu bersempit dada,”) maksudnya gundah-gulana; mimmaa yamkuruun (“Terhadap apa yang mereka tipu dayakan,”) maksudnya dari kesungguhan mereka dalam memusuhimu dan
menyebabkan keburukan terhadapmu, Allah Ta’ala sebagai Pemeliharamu dan Penolongmu, juga yang memberikan kekuatan kepadamu dengan memenangkan atas mereka.

Firman-Nya: innallaaHa ma’al ladziina taqaw wal ladziina Hum muhsinuun (“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”) Maksudnya, Allah bersama mereka dengan dukungan, bantuan, pertolongan, petunjuk, dan usaha-Nya. Ma’iyyah (kebersamaan) di atas adalah Ma’iyyah khusus. Penggalan ayat itu sama seperti firman-Nya:

“(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersamamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.’” (Al-Anfaal: 12).
Juga firman-Nya kepada Musa dan Harun:
“Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan Aku melihat.” (QS. Thaahaa: 46)

Demikian juga dengan sabda Nabi kepada Abu Bakar ash-Shiddiq ketika keduanya sedang berada di gua Hira: “Janganlah kamu bersedih, karena Allah selalu bersama kita.”

Sedangkan ma’iyyah yang bersifat umum adalah berupa pendengaran, penglihatan, dan pengetahuan. Sebagaimana firman-Nya: “Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadiid: 4)

Juga seperti firman-Nya: “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya, ” dan ayat seterusnya. (QS. Al-Mujaadilah: 7)

Dan juga sama seperti yang Dia firmankan: “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kamu,” dan ayat seterusnya. (QS. Yunus: 61)

Dan makna: alladziinat taqaw (“Orang-orang yang bertakwa,”) yakni, orang-orang yang meninggalkan segala macam larangan. Wal ladziina Hum muhsinuun (“Dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”) Yakni, yang mengerjakan ketaatan, mereka itulah orang-orang yang dipelihara, dilindungi, ditolong, diperkuat, dan dimenangkan oleh Allah atas musuh-musuh mereka dan orang-orang yang menentang mereka.

Demikianlah akhir dart penafisran surat an-Nahl. Segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah. Semoga shalawat dan dalam senantiasa dilimpahkan kepada Muhammad saw, keluarga, dan para Sahabatnya. Aamiin

Selesai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: