Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 89-93

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 89-93“89. dan Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.’ 90. sebagaimana (kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (kitab Allah) 91. (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi, 92. Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, 93. tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (al-Hijr: 89-93)

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya mengatakan kepada manusia: innii ana nadziirul mubiin (“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.”) Yang jelas peringatannya, pemberi peringatan bagi manusia dari adzab yang pedih yang akan menimpa mereka karena mendustakan Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu yang mendustakan para Rasul mereka dan apa yang diturunkan Allah kepada mereka berupa siksa dan pembalasan.

Firman Allah: almuqtasimiin (“Membagi-bagi,”) maksudnya, al-mutahaalifiin,yaitu bersumpah bersama-sama untuk bersekutu menentang, mendustakan dan menyakiti para Nabi, seperti firman Allah yang menceritakan tentang kaum Nabi Shalih as, bahwa `Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, ‘bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari.” (QS. An-Naml: 49)

Mujahid mengatakan bahwa mereka bersumpah dan bersekutu, seolah-olah setiap kali mereka mendustakan sesuatu dari dunia ini, mereka bersumpah, maka mereka disebut al-muqtasimiin.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan shahih Muslim sebuah hadits dari Abu Musa dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda:
“Perumpamaan aku dengan risalah yang telah ditupaskan Allah kepadaku itu seperti seorang yang datang kepada kaumnya lalu berkata: `Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah melihat tentara dengan kedua mataku, dan sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang tidak merahasiakan sesuatu, maka carilah keselamatan, carilah keselamatan. Lalu sebagian dari kaum itu mematuhinya, dan mereka pergi keluar pada malam hari. Mereka pun pergi perlahan-lahan, dan selamatlah mereka. Tetapi, ada sekelompok lain yang mendustakannya, dan mereka sampai pagi hari masih tetap di tempatnya, maka tentara pun menjumpai mereka pagi itu juga lalu mereka membinasakan dan dilindas oleh tentara tersebut. Itulah perumpamaan orang yang taat kepadaku dan mengikuti apa yang aku sampaikan, dan perumpamaan orang yang durhaka dan mendustakan kebenaran yang aku sampaikan.”

Firman Allah: alladziina ja’aluunal qur-aana ‘idliin (“[yaitu] orang yang telah menjadikan al-Qur’an itu terbagi-bagi.”) Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, ia berkata: “Mereka itu adalah Ahli Kitab yang membagi-bagi Kitab itu menjadi bagian-bagian, lalu mereka percaya kepada sebagian dan kafir kepada sebagian yang lain.”

Al-Hakam bin Abban meriwayatkan dari `Ikrimah dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, `Idliin’ adalah sihir.” `Ikrimah berkata al-`idl adalah sihir menurut bahasa orang Quraisy, mereka menyebut tukang sihir perempuan dengan al- Aadlihah. Mujahid mengatakan, Adlauhu a’dha’, mereka mengatakan: “Sihir,” ada yang mengatakan: “Kahanah” atau mistik, ada yang mengatakan: “Mitos orang-orang dahulu.”

`Athiyyah al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Umar tentang firman Allah: fa wa rabbika lanas-alannaaHum ajma’iin ‘ammaa kaanuu ya’maluun (“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”) Yaitu tentang Laa Ilaaha illallaah.

At-Tirmidzi, Abu Ya’la al-Mushili, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits dari Syarik al-Qadhi, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Basyir bin Nuhaik, dari Anas, dari Nabi: fa wa rabbika lanas-alannaaHum ajma’iin (“Maka demi Rabbmu pasti Kami akan menanyai mereka
semuanya,”) beliau bersabda, tentang Laa Ilaaha illallaah.

Ibnu Jarir meriwayatkan, Ahmad berkata kepada kami, Abu Ahmad berkata kepada kami, Syarik berkata kepada kami, dari Hilal, dari `Abdullah bin `Ukaim, ia mengatakan, -hadits itu diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya dari hadits Anas yang marfu’-, dan `Abdullah bin Mas’ud berkata: “Demi Allah yang tidak ada Ilah (yang haq) selain-Nya, setiap orang di antara kalian pasti akan berhadapan sendirian dengan Allah pada hari Kiamat seperti ia berhadapan sendirian dengan bulan pada waktu bulan purnama, maka Allah bertanya kepadanya: “Hai anak Adam, apakah ada sesuatu dari-Ku yang menipumu terhadap-Ku? Hai anak Adam, apakah yang telah kau lakukan tentang apa yang telah kau ketahui? Hai anak Adam, apakah jawabanmu kepada para Rasul?”

Abu Ja’far meriwayatkan dari ar-Rabi’, dari Abul `Aliyah tentang firman Allah: fa wa rabbika lanas-alannaaHum ajma’iin ‘ammaa kaanuu ya’maluun (“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”) dia mengatakan, “Allah menanyai hamba semuanya tentang dua hal pada hari Kiamat; Apa yang mereka sembah dahulu (waktu di dunia) dan apa jawaban mereka kepada para Rasul.

`Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah ini ia mengatakan: fa yauma-idzil laa yus-alu ‘an dzambiHi insuw walaa jaann (“Maka pada hari itu tidak ditanya manusia atau pun jin tentang dosanya,”) ia mengatakan, Allah tidak bertanya apakah kalian berbuat begini (atau begitu), karena Allah lebih mengetahui hal itu daripada mereka sendiri. Tetapi Allah bertanya kepada mereka: “Mengapa kalian berbuat begini dan begitu?”

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: