Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 31

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 31“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu al-Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka apakah orang-orang yang beriman itu tidak mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi (di) dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. ar-Ra’du: 31)

Allah berfirman, memuji al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan mengutamakannya di atas semua kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya: walau anna qur-aanan suyyirat biHil jibaalu ( “Dan sekiranya ada suatu bacaan [kitab suci] yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan.”) Maksudnya kalau di antara kitab-kitab suci terdahulu ada kitab yang dapat menggoncangkan gunung-gunung dari tempatnya, atau bumi dapat terbelah oleh karenanya orang-orang yang telah mati dapat berbicara dalam kuburnya tentu al-Qur’an itulah yang mempunyai hal seperti itu, bukan yang lain, lebih berhak bersifat demikian, karena mukjizat-mukjizat yang terkandung dalamnya. Walaupun demikian, orang-orang musyrik itu tetap kafir,tidak percaya dan mengingkarinya.

Bal lillaaHi amru jamii’an (“Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah.”) Maksudnya, segala urusan itu kembali kepada Allah, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak dikendaki-Nya pasti tidak terjadi. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.

Nama al-Qur’an terkadang digunakan untuk menyebut semua kitab terdahulu, karena asal kata Qur’an itu jama’, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra, ia mengatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Al-Qur’an itu meringankan bagi Dawud. la memerintahkan agar dipasangkan pelana pada kudanya, dan ia membaca al-Qur’an sebelum pelana itu terpasang, dan ia (Dawud) tidak makan kecuali dari hasil kerja tangannya.”
Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari. Sedangkan yang di-maksud dengan al-Qur’an di sini adalah kitab Zabur.

Afalam yai-asil ladziina aamanuu (“Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu rnengetahui,”) dari berimannya semua makhluk manusia dan mengetahui atau mengerti; al lau yasyaa-ullaaHu laHadan naasas jamii’an (“Bahwa seandainya Allah menghendaki semua manusia beriman tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Karena tidak ada alasan atau mukjizat yang lebih kuat dan lebih berguna akal dan jiwa daripada al-Qur’an ini, yang seandainya diturunkan kepada gunung pasti akan tunduk, luluh berantakan karena takutnya kepada Allah.

Disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Setiap Nabi pasti diberi oleh Allah apa yang (membuat) manusia percaya terhadap hal-hal seperti itu, tetapi apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu, yang diwahyukan Allah kepadaku, maka aku mengharapkan menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari Kiamat nanti.” (Muttafaq `alaih)

Maksudnya, mukjizat setiap Nabi itu habis (berakhir) setelah Nabi tersebut wafat, sedangkan al-Qur’an ini adalah hujjah (argumentasi) yang tetap kekal sepanjang masa yang tidak habis-habis keajaibannya. Tidak usang karena banyak diulang, dan ulama tidak akan merasa kenyang dengannya. Ia adalah pemisah antara yang haq dan yang bathil, bukan senda gurau. Barangsiapa yang meninggalkannya karena pengaruh orang yang dhalim, maka Allah pasti akan menghancurkannya, dan barangsiapa mencari petunjuk selain dari al-Qur’an, pasti Allah akan menyesatkannya.

Tentang firman Allah: bal lillaaHi amru jamii’an (“Sebenarnya segala urusan itu lalah kepunyaan Allah,”) Ibnu `Abbas mengatakan: “Maksudnya, Allah tidak berbuat dari hal-hal tersebut kecuali apa yang dikehendaki-Nya dan Allah tidak melakukannya (bila Dia tidak menghendaki).”

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan sanadnya dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, bahwa tidak sedikit dari ulama salaf yang mengatakan tentang firman Allah: Afalam yai-asil ladziina aamanuu (“Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu rnengetahui,”) Bahwa yaias di sini artinya mengetahui.

Walaa yazaalul ladziina kafaruu tushiibuHum bimaa shana’uu qaari’atun au tahullu qariibam min diyaariHim (“Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri, atau bencana itu terjadi didekat tempat kediaman mereka.”) Maksudnya, disebabkan oleh pendustaan mereka, bencana selalu menimpa mereka di dunia, menimpa orang-orang di sekitar mereka agar mereka mengambil nasehat pelaiaran darinya, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Kami hancurkan kampung-kampung yang ada di sekitarmu, dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda (kekuasaan Allah) berulang-ulang agar mereka bertaubat.” (Al-Ahqaaf: 27)

Oatadah meriwavatkan dari al-Hasan, ia mengatakan: au tahullu qariibam min diyaariHim (“Atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka.”) Maksudnya adalah bencana itu, dan inilah arti yang nampak dari susunan kalimat. Abu Dawud ath-Thayalisi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, tentang firman Allah Ta’ala: Walaa yazaalul ladziina kafaruu tushiibuHum bimaa shana’uu qaari’atun (“Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri.”) berkata, maksudnya serangan pasukan.

au tahullu qariibam min diyaariHim (“Atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka.”) Maksudnya, Muhammad saw. hattaa ya’tiya wa’dullaaHi (“Sehingga datanglah janji Allah,”) yaitu Fathu Makkah (penundukan kota Makkah). Demikian yang dikatakan oleh `Ikrimah
bin Jubair dan Mujahid menurut satu riwayat.

Sedangkan al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas mengatakan: Qari’ah maksudnya adzab dari langit yang turun menimpa mereka. au tahullu qariibam min diyaariHim (“Atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka.”) Maksudnya, Rasulullah turun kepada mereka dan memerangi mereka. Demikian pula dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah. `Ikrimah menurut satu riwayat mengatakan, dari Ibnu `Abbas: “Qari’ah artinya bencana.” Dan mereka semua mengatakan: hattaa ya’tiya wa’dullaaHi (“Sehingga datanglah janji Allah,”) Yaitu, Fathu Makkah (penundukan kota Makkah). Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yaitu datangnya hari Kiamat.”

Firman Allah: innallaaHa laa yukhliful mii’aad (“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”) Maksudnya yaitu, tidak melanggar janji-Nya kepada para Rasul untuk menolong mereka dan pengikut mereka di dunia dan akhirat.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: