Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 24-26

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 24-26“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS. 14:24) pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. 14:25) Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (QS. 14:26)” (QS. Ibrahim: 24-26)

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: matsalan kalimatan thayyibatan (“Perumpamaan kalimat yang baik”) ia mengatakan: “Yaitu kalimat laa ilaaHa illallaaH.” Kasyajaratin thayyibatin (“seperti pohon yang baik”) yaitu orang mukmin; ashluHaa tsaabitun (“akarnya teguh”) ia mengatakan: “Tidak ada ilah yang haq selain Allah.”dalam hati orang mukmin: wa far’uHaa fis samaa-i (“Dan cabangnya [menjulang] ke langit.”) ia mengatakan: “Dengan kalimat thayyibah itu, amal perbuatan orang mukmin diangkat ke langit.”

Adh-Dhahhak, Sa’id bin Jubair, `Ikrimah, Mujahid dan mufassir lainnya juga mengatakan, bahwa hal itu adalah perumpamaan amal perbuatan, perkataan yang baik dan amal shalih orang mukmin dan bahwa orang mukmin itu bagaikan pohon kurma; Amal baik orang mukmin itu senantiasa diangkat baginya pada setiap saat, pada setiap kesempatan, pada waktu pagi maupun petang.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Umar, ia berkata: “Kami sedang berada di samping Rasulullah saw, lalu beliau bersabda: “Sebutkanlah sebuah pohon yang serupa atau seperti orang muslim yang daunnya tidak berjatuhan pada musim panas dan musim dingin dan menghasilkan buah setiap saat dengan izin Rabbnya.”

Ibnu `Umar berkata: “Terdetik dalam hatiku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tetapi aku lihat Abu Bakar dan `Umar tidak berbicara, maka aku pun enggan berbicara. Karena tidak ada seorang pun yang menjawab, maka Rasulullah saw. bersabda: “Pohon itu adalah pohon kurma.”
Setelah kami semua berdiri, aku berkata kepada `Umar: “Wahai ayah, demi Allah, sesungguhnya telah terdetik dalam hatiku pohon yang dimaksud adalah pohon kurma.” `Umar bertanya: “Mengapa kamu tidak mengatakannya?” Aku menjawab: “Aku lihat kalian tidak ada yang berbicara, maka aku pun enggan berbicara atau mengatakan sesuatu.” `Umar berkata: “Sungguh, bila engkau mengatakannya, pasti aku lebih senang daripada begini dan begitu.”

Firman Allah: tu’tii ukuluHaa kulla hiinin (“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim.”) Tampak dari susunan kalimat tersebut bahwa orang mukmin itu seperti sebuah pohon yang selalu berbuah pada setiap waktu, pada musim panas dan musim dingin, baik pada malam hari maupun pada siang hari. Demikian pula seorang mukmin yang senantiasa diangkat baginya amal perbuatan yang baik sepanjang malam dan di penghujung siang pada setiap waktu, setiap saat.

Bi-idzni rabbiHaa (“Dengan seizin Rabbnya,”) yakni secara sempurna, banyak, bagus dan penuh berkah. Wa yadlribullaaHu amtsaala linnaasi ‘alallaHum yatadzakkaruun (“Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”)

Firman Allah: wa matsalu kalimatin khabiitsatin kasyajaratin khabiitsatin (“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk.”) ini merupakan perumpamaan kekafiran orang kafir yang tidak memiliki dasar dan keteguhan, bagaikan pohon al-hanzhal (yang buahnya pahit dan menyebabkan mencret) atau dinamakan juga asy-syaryan.

Firman Allah: ijtuts-tsat (“yang telah dicabut dengan akar-akarnya,”) diambil sampai akar-akarnya; min fauqil ardli maa laHaa min qaraar (“Dari permukaan bumi tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun.”) Maksudnya, pohon itu tidak lagi punya akar dan tidak bisa berdiri tegak dan teguh.

Demikian pula kekafiran, ia tidak punya dasar, tidak punya cabang dan amal orang kafir tidak dapat diangkat dan sama sekali tidak diterima Allah.

Bersambung

6 Tanggapan to “Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 24-26”

  1. Muhammad nasir 14 Juni 2016 pada 01.27 #

    Syukron kastiran,…. Izin copas uztaz/uztazah,…. Sangat bermanfaat

  2. faisal 9 Juli 2018 pada 20.32 #

    macam panjat pinang itu yaaa pohon nya di cabut dr akar2 trus di tanam kembali dan buah nya hadiah.. bisa jelasin yg lebih detail lagi ttg ayat ini terimakasih

  3. Choirul Anam 14 Desember 2018 pada 09.26 #

    Alhamdulillah saya sudah paham terimakasih atas penjelasannya , namun masih banyak orang” yg blm bisa merasakan kalau Allah sudah mencabut sampai akar”nya ,mereka itu juga muslim

  4. citra 14 April 2019 pada 09.45 #

    Subhanallah. jazakumullah… sangat bermanfaat. sy baru tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: