Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 44-46

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 44-46“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dhalim: ‘Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikutipara Rasul.’ (Kepada mereka dikatakan): ‘Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa, (QS. 14:44) dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendir telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.’ (QS. 14:45) sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. (QS. 14:46)” (QS. Ibrahim: 44-46)

Allah berfirman memberitahukan tentang orang-orang yang dhalim kepada diri mereka sendiri tatkala mereka menyaksikan adzab: rabbanaa akhkhirnaa ilaa ajalin qariibin nujib da’wataka wa nattabi’ rusula (“Ya Rabb, berilah tangguh kepada kami [kembalikanlah kami ke dunia] walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan memenuhi seruan-Mu dan akan mengikuti para Rasul.”) Seperti firman Allah yang lain: “Sehingga ketika maut datang kepada salah seorang di antara mereka, ia berkata: ‘Ya Rabb, kembalikanlah aku [ke dunia].’” (QS. Al-Mu’minuun: 99)

Allah menjawab kata-kata mereka itu: awalam takuunuu aqsamtum min qablu maa lakum min zawaal (“Bukankah kamu telah bersumpah dahulu [di dunia], bahwa kamu sama sekali tidak akan binasa?”) Maksudnya, tidakkah kalian telah bersumpah sebelum terjadi keadaan ini, bahwa keadaan kalian tidak akan punah dan tidak ada hari Kiamat serta hari pembalasan, maka rasakanlah ini. Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid dan ulama tafsir lainnya.

Maa lakum min zawaal (“Bahwa kamu sama sekali tidak akan binasa?”) Maksudnya, bahwa kalian tidak akan berpindah dari dunia ke akhirat, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan membangkitkan orang mati.’” (OS.An-Nahl:3 8)

Wa masakantum fii masaakiinil ladziina dhalamuu anfusaHum wa tabayyana lakum kaifa fa’alnaa biHim wa dlarabnal lakum amtsaal (“Dan kamu telah tinggal di tempat orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.”) Maksudnya, kalian telah melihat dan telah sampai kepada kalian berita tentang apa yang Kami timpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan Rasul mereka. Tetapi kalian tidak juga mengambil pelajaran dan peringatan dari apa yang telah terjadi pada mereka.

Al-‘Aufi meriwayatakan dari Ibnu `Abbas tentang firman Allah: in kaana makruHum litazuula minHul jibaal (“Dan sesungguhnya makar mereka itu [sangat besar] sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya,”) ia mengatakan: maksudnya, makar mereka tidak akan melenyapkan gunung-gunung. Demikian juga dengan pendapat al-Hasan al-Bashri, dan Ibnu Jarir menjelaskan bahwa yang mereka sendiri lakukan, seperti menyekutukan Allah dan kafir kepada-Nya, sama sekali tidak membahayakan gunung atau lainnya, tetapi akibat buruknya akan kembali menimpa diri mereka sendiri.

Aku (Ibnu Katsir) mengatakan, ini seperti firman Allah: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Israa’: 37)

Pendapat kedua mengenai penafsirannya adalah yang diriwayatkan dari `Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu `Abbas tentang: in kaana makruHum litazuula minHul jibaal (“Dan sesungguhnya makar mereka itu [sangat besar] sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya,”) MakruHum maksudnya adalah kemusyrikan mereka, seperti firman Allah: “Hampir saja langit pecah dari sebelah atasnya [karena kebesaran Rabb].” (QS. Asy-Syuura: 5). Demikian pula pendapat adh-Dhahhak dan Qatadah.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: