Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 24

26 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 24“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Rabbnya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Pendapat dan penafsiran ulama berbeda-beda dalam hal ini. Telah diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, Mujahid, Said bin Jubair dan sekelompok ulama salaf tentang hal ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan yang lain-lainnya, wallahu a’lam. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keinginan Yusuf terhadap wanita itu adalah apa yang terbersit dalam hatinya seperti yang diriwayatkan oleh al-Baghawi dari sebagian peneliti, lalu ia menyampaikan hadits dari `Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Hamam, dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Bila hamba-Ku berniat untuk berbuat baik, maka tulislah satu kebaikan baginya. Dan bila (kebaikan itu) dilakukannya, maka tulislah baginya sepuluh kebaikan. Bila ia bemiat untuk berbuat jahat tetapi tidak dilakukannya, maka tulislah satu kebaikan baginya, karena ia meninggalkannya (perbuatan jahat itu) karena Aku, dan bila ia melakukannya (kejahatan maka tulislah baginya satu kejahatan.’”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahih mereka.

Ada yang mengatakan: “Yusuf mau memukulnya.” Ada lagi yang mengatakan: “Yusuf mengharapkannya (kelak dikemudian hari-Ed.) sebagai istri.

Adapun tanda dari Rabb yang dilihatnya, terdapat beberapa pendapat. Ibnu jarir mengatakan: “Yang benar, bahwa Yusuf melihat tanda dari Allah yang mencegahnya untuk berbuat apa yang diinginkannya, bisa saja dalam bentuk Ya’qub, atau bentuk Malaikat atau tulisan yang melarang keinginannya. Tidak ada argumentasi pasti yang dapat menentukan bentuk dari tanda Allah yang dilihatnya. Jadi, yang benar adalah pertanda itu tetap mutlak sebagaimana firman Allah Ta’ala: kadzaalika linash-rifa ‘anHus suu-a wal fahsyaa-a (“Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian.”)

Maksudnya, sebagaimana Kami memperlihatkan kepadanya tanda yang memalingkannya situasi yang dihadapinya, demikian pula Allah menjauhkannya dari perbuatan jahat dan keji dalam segala urusannya.

innaHuu min ‘ibaadinal mukhlashiin (“Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”) Maksudnya, termasuk dari hamba-hamba pilihan suci bersih, semoga shalawat dan salam-Nya dilimpahkan kepadanya.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: