Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 67-68

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 67-68“Dan Ya’qub berkata: ‘Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan, namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) banyalah hak Allah, kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (QS. 12:67) Dan tatkala mereka masuk menurut apa yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya sesuatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (QS. 12:68)” (Yusuf: 67-68)

Allah memberitakan tentang Ya’qub as., bahwa dia menyuruh anak-anaknya, setelah mereka disiapkan bersama saudara mereka Bunyamin untuk pergi ke Mesir, agar mereka tidak masuk dari satu pintu, tetapi agar mereka masuk dari pintu yang berbeda-beda, karena sebagaimana dikatakan oleh Ibnu `Abbas, Muhammad bin Ka’ab, Mujahid, adh-Dhahhak, Qatadah, as-Suddi, dan lain-lain, Ya’qub mengkhawatirkan mereka tertimpa ain (terkena mata karena dengki dan hasad) dari orang lain. Sebab mereka mempunyai paras yang tampan, dengan profil dan penampilan yang bagus dan menarik. Maka ia khawatir mereka terkena mata orang yang dengki, karena `ain itu memang ada dan dapat menjatuhkan seorang penunggang kuda dari punggung kudanya.

Kata-kata Ya’qub: wa maa ughnii ‘ankum minallaaHi min syai-in (“Namun demikian aku tidak dapat melepaskan kalian sedikitpun dari takdir Allah”) maksudnya, memang kehati-hatian ini tidak dapat menolak takdir dan qadha’ dari Allah, karena jika Allah menghendaki sesuatu, maka tidak dapat ditentang atau dihalang-halangi, karena:

Inil hukmu illaa lillaaHi ‘alaiHi tawakkaltu wa ‘alaiHi falyatawakkalil mutawakkiluun. Wa lammaa dakhaluu min haitsu amaraHum abuuHum maa kaana yughnii ‘anHum minallaaHi min syai-in illaa haajatan fii nafsi ya’quuba qadlaaHaa (“Keputusan menetapkan sesuatu hanyalah hak Allah, kepada-Nyalah aku bertawakkal, dan hendaknya kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri. Dan tatkala mereka masuk seperti apa yang diperintahkan oleh ayah mereka, maka [cara yang mereka lakukan ini], tidaklah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanyalah keinginan dalam diri Ya’qub yang telah ditetapkannya”) yaitu menghindari terkena mata dan orang yang dengki.

Wa innaHuu ladzuu ‘ilmil limaa ‘allamnaaHu (“Dan sesungguhnya ia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkannya kepadanya.”)
Qatadah dan ats-Tsauri berkata: “la mempunyai pengetahuan tentang ilmu Allah.” Sedang Jarir berkata: “Mempunyai pengetahuan karena Kami telah mengajarkan kepadanya.”
Wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”)

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: