Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 41-43

30 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 41-43“Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.’ Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 11:41) Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ (QS. 11:42) Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang (dapat) melindungi (di) hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) yang Mahapenyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. 11:43)” (Huud: 41-43)

Allah berfirman seraya memberi kabar tentang Nuh as, bahwa sesungguhnya Allah berfirman kepada orang-orang yang diperintah membawanya (naik) ke dalam perahu bersamanya: irkabuu fiiHaa bismillaaHi majreeHaa wa mursaaHaa (“Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.”) Maksudnya, dengan (menyebut) nama Allah untuk perjalanannya di atas permukaan air dan dengan (menyebut) nama Allah untuk akhir perjalanannya, yaitu waktu pendaratannya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang dhalim’. Dan berdo’alah: ‘Ya Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat.’” (QS. Al-Mu’minuun: 28-29)

Untuk itu, disunnahkan membaca basmalah dalam permulaan segala sesuatu, baik ketika menaiki perahu maupun ketika menaiki binatang, sebagaimana keterangannya akan ditemui dalam Surat az-Zukhruf, insya Allah dan kepada-Nyalah kita yakin.

Firman-Nya: inna rabbii laghafuurur rahiim (“Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Hal ini berhubungan dengan penyebutan tentang pembalasan terhadap orang-orang kafir, yaitu dengan menenggelamkan mereka semuanya, Allah menyebutkan bahwa sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya Rabbku amat cepat siksa-Nya,dan sesungguhnya Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-A’raaf: 167)

Firman-Nya: wa Hiya tajrii biHim fii maujin kal jibaali (“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.”) Maksudnya, perahu itu berjalan membawa mereka di atas permukaan air yang (tingginya) telah melebihi semua daratan bumi hingga menutupi puncak-puncak gunung. Dan perahu ini berjalan di atas air dengan izin Allah, pengayoman-Nya, perlindungan-Nya, pertolongan-Nya dan anugerah-Nya.

Firman-Nya: wa naadaa nuuhunibnaHuu (“Dan Nuh memanggil anaknya,”) dan ayat seterusnya. Anaknya ini adalah anak yang ke empat yang bernama Yaam, dia adalah kafir, ayahnya memanggilnya untuk naik perahu dan beriman bersama-sama mereka dan agar tidak tenggelam sebagaimana orang-orang kafir tenggelam.

Qaala sa-aawii ilaa jabaliy ya’shimunii minal maa-i (“Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yan dapat memeliharaku dari air bah.’”) Dia yakin karena kebodohannya, bahwa air bah tidak akan sampai ke puncak gunung, dan bahwa dia akan aman di sana dari bahaya ketenggelaman. Maka ayahnya, Nuh as. berkata kepadanya: laa ‘aashimal yauma min amrillaaHi illaa mar rahim (“Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah, selain Allah [saja] yang Mahapenyayang.”) maksudnya, pada hari ini [hari ketika terjadinya air bah] tidak ada satupun yang dapat melindungi diri dari siksa Allah.

Dikatakan bahwa, kata “’Aashimun” [pelindung] mempunyuai arti “ma’shuumun” (yang dilindungi), sebagaimana dikatakan “thaa’imun” [pemberi makan] dan kalimat “kaasan” (pemberi pakaian) mempunyai arti “math’uumun” (yang diberi pakaian), dan “maksuu” [yang diberi pakaian].

Wa haala baina Humal mauju fa kaana minal mughraqiin (“Dan gelombang menjadi penghalang di antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”)

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: