Arsip | 06.45

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 116-117

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 116-117“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka dan orang-orang yang dhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (QS. 11:116) Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 11:117)” (Huud: 116-117)

Allah berfirman, apakah tidak ditemukan orang-orang baik dari sisa-sisa generasi terdahulu yang melarang kejahatan, kemungkaran dan kerusakan di muka bumi yang ada di antara mereka. Dan firman-Nya: illaa qaliilan (“Kecuali sebagian kecil.”) Maksudnya, telah ditemukan orang yang mempunyai sifat seperti ini, sedikit dan tidak banyak, mereka adalah orang-orang yang diselamatkan Allah di saat datang kemarahan-Nya dan tibanya siksaan-Nya, maka dari itu Allah menyuruh umat yang mulia ini, supaya ada di antara mereka yang menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-`Imran: 104)

Untuk itu Allah berfirman: falau laa kaana minal quruuni min qablikum uluu baqiyyatiy yanHauna ‘anil fasaadi fil ardli illaa qaliilam mimman anjainaa minHum (“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.”)

Dan firman-Nya: wat taba’al ladziina dhalamuu maa ut-rifuu fiiHi (“Dan orang-orang yang dhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka.”) Maksudnya, mereka selalu berada dalam perbuatan maksiat dan perbuatan mungkar dan tidak ada orang-orang yang menegur perbuatan ingkar mereka itu sampai adzab datang kepada mereka dengan serentak.

Wa kaanuu mujrimiin (“Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa,”) kemudian Allah Ta’ala memberitakan, bahwasanya Allah tidak membinasakan suatu negeri kecuali negeri itu berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri (melakukan maksiat). Dan adzab-Nya tidak menimpa suatu negeri yang baik (penduduknya orang-orang yang baik), kecuali mereka (penduduknya) sudah menjadi orang-orang yang dhalim.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 114-115

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 114-115“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. 11:114) Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 11:115)” (Huud: 114-115)

`Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: wa aqiimush shalaata tharafayin naHaari (“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dari petang]”) ia berkata: “Yakni shubuh dan maghrib,” begitu juga yang dikatakan oleh al-Hasan dan `Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam.

Al-Hasan berkata dalam riwayat Qatadah, adh-Dhahhak dan lain-lainnya: “Ia adalah shubuh dan ashar.” Dan Mujahid berkata: la adalah shubuh pada awal siang dan selanjutnya zhuhur dan ashar.”

Wa zulafam minal lail (“Dan pada bahagian permulaan daripada malam.”) Ibnu `Abbas, Mujahid, al-Hasan dan lain-lainnya berkata: “Yaitu shalat isya.”
Al-Hasan berkata dalam riwayat Ibnul Mubarak, dari Mubarak bin Fadhalah, darinya: Wa zulafam minal lail (“Dan pada bahagian permulaan daripada malam.”) yakni maghrib dan isya’.

Kemungkinan ayat ini turun sebelum diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’, karena sesungguhnya shalat yang diwajibkan hanyalah dua, yaitu shalat sebelum terbit matahari dan shalat setelah terbenamnya matahari. Pada pertengahan malam, wajib atasnya dan juga umatnya melaksanakan shalat qiyamul lail, lalu dihapuskan kewajiban tersebut dari umatnya, akan tetapi tetap kewajiban itu untuk beliau, juga ada yang berpendapat, dihapuskan pula kewajiban itu atas beliau setelah itu. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“Sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik menghapuskan [dosa] perbuatan perbuatan yang buruk.”) Allah berfirman: “Sesungguhnya melakukan kebaikan adalah menghapus dosa-dosa yang telah lewat.”

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ahli hadits dari Amirul Mukminin `Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Dulu aku mendengar suatu hadits dari Rasululah saw, maka Allah memberiku manfaat darinya dengan sebaik-baik manfaat, jika seseorang membicarakan hadits kepadaku, aku meminta ia untuk bersumpah. Dan jika ia telah bersumpah, aku mempercayainya. Abu Bakar membicarakan hadits kepadaku dan ia adalah seorang yang jujur, bahwasanya ia telah mendengar Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang melakukan dosa, kemudian ia berwudhu dan shalat dua rakaat, melainkan ia diampuni.”

Dalam ash-shahihain dari Amirul Mukminin `Utsman bin ‘Affan bahwasanya dia berwudhu seperti wudhunya Rasulullah di hadapan para sahabat, kemudian dia berkata: “Beginilah aku melihat Rasulullah berwudhu dan beliau saw. bersabda: ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku, kemudian ia shalat dua rakaat yang ia tidak membicarakan dirinya dalam shalatnya, maka diampuni dosanya yang telah lewat.’”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ja’far bin Jarir dari hadits Abu ‘Uqail Zahrah bin Ma’bad, bahwasanya dia mendengar al-Harits, budak yang dimerdekakan `Utsman, ia berkata: `Utsman pada suatu hari sedang duduk, kemudian kami duduk bersamanya, lalu datanglah seorang muadzdzin kepadanya, maka dia meminta air dalam bejana, saya kira air itu sebanyak mud, lalu dia berwudhu, kemudian berkata: “Aku telah melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau besabda: ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian berdiri dan melakukan shalat dhuhur, maka ia diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat dhuhur dan shalat shubuh. Kemudian ia shalat ashar, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat ashar dan shalat dhuhur. Kemudian ia shalat maghrib, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat maghrib dan shalat ashar. Kemudian ia shalat isya’, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat isya’ dan shalat maghrib. Kemudian barangkali ia mengotori kehormatannya pada malam harinya, kemudian jika ia bangun lalu berwudhu dan shalat shubuh, maka ia diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat shubuh dan isya’ dan itu semua adalah kebaikan yang menghapus keburukan.”

Dalam ash-shahih dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian, jika di pintu salah seorang di antara kalian ada sungai yang banyak airnya, ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apakah kotorannya masih ada yang tersisa?” Para sahabat menjawab: “Tidak wahai Rasulullah,” beliau bersabda: “Begitu juga shalat lima waktu, Allah akan menghapuskan dosa-dosa kesalahan-kesalahan dengannya.”

Muslim berkata dalam shahihnya dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda: “Shalat lima waktu, Jum’at hingga jum’at, Ramadhan hingga Ramadhan adalah menghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya selama dosa-dosa besar dihindari (dijauhi).”

Imam Ahmad berkata dari Syuraih bin `Ubaid, bahwa Ibrahim as-Sam’i pernah bercerita, bahwa Abu Ayyub al-Anshari bercerita kepadanya, bahwasanya Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya setiap shalat menghapus kesalahan yang ada di hadapannya.”

Abu Ja’far bin Jarir berkata dari Abu Malik al-Asy’ari dia berkata, Rasulullah bersabda: “Shalat itu dijadikan sebagai pelebur dosa yang ada di antaranya. Karena sesungguhnya Allah swt. berfirman: innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“Sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik menghapuskan [dosa] perbuatan perbuatan yang buruk.”)”

Imam al-Bukhari berkata dari Ibnu Mas’ud, bahwa seorang laki-laki telah mencium seorang perempuan, maka datanglah ia kepada Nabi saw. dan mengabarinya. Maka Allah menurunkan: wa aqiimish shalaata tharafayin naHaari wa zulafam minal laili innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“”Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.”) Maka berkatalah seorang laki-laki itu: “Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untukku?” Beliau menjawab: “Untuk umatku semuanya.” Begitulah ia meriwayatkannya dalam kitab ash-shalah dan juga dalam bab at-tafsir dari Musaddad, dari Zaid bin Zurai’ dengan hadits yang sama. Imam Muslim, Imam Ahmad dan ahlus sunan juga meriwayatkannya, kecuali Abu Dawud.

Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Jarir meriwayatkannya dengan lafazh dari berbagai jalur, dari Sammak bin Harb, bahwasanya dia mendengar Ibrahim bin Yazid meriwayatkan dari ‘Alqamah dan al-Aswad, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menemukan seorang perempuan di suatu kebun, lalu aku berbuat dengannya segala sesuatu, hanya aku tidak menyetubuhinya, aku menciumnya dan memeluknya dan aku tidak
melakukan selain itu, maka lakukanlah terhadapku apa yang engkau mau.’

Maka Rasulullah tidak berkata apa pun kepadanya, lalu orang laki-laki itu pergi. Maka `Umar berkata: `Sungguh Allah menutupinya, jika ia menutupi perbuatan dirinya.’ Maka Rasulullah mengarahkan pandangan kepadanya, kemudian berkata: `Kembalikanlah ia kepadaku,’ lalu mereka (para sahabat) membawanya kembali ke hadapannya dan beliau membacakan kepadanya: wa aqiimish shalaata tharafayin naHaari wa zulafam minal laili innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aati dzaalika dzikraa lidz dzaakiriin (“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”)

Maka Mu’adz berkata, -riwayat lain mengatakan- Umar: ‘Wahai Rasulullah, apakah (berita ini) hanya untuknya seorang atau untuk semua manusia?’ Maka beliau berkata: ‘Untuk manusia semuanya.’”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 112-113

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 112-113“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat besertamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dhalim yang menyebabkanmu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. 11:113)” (Huud: 112-113)

Allah memerintahkan Rasul dan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk teguh dan selalu tetap dalam istiqamah, itu merupakan sebab yang dapat memberikan pertolongan yang besar dalam meraih kemenangan atas musuh-musuh dan dapat menghindari bentrokan serta dapat terhindar dari perbuatan melampaui batas, karena melampaui batas itu merupakan kehancuran, meskipun terhadap orang musyrik dan Allah memberi tahu bahwa Allah adalah Mahamelihat kepada perbuatan hamba-hamba-Nya, Allah tidak lalai dan tidak tersamar sedikit pun (dari-Nya).

Firman-Nya: walaa tarkanuu ilal ladziina dhalamuu (“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dhalim.”)

`Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Janganlah kamu bermanis mulut.” Abul `Aliyah berkata: “Janganlah kamu rela dengan perbuatan mereka.” Ibnu Jarir berkata dari Ibnu `Abbas: “Janganlah kamu tertarik kepada orang-orang yang dhalim.” Ucapan ini adalah baik, maksudnya; “Janganlah kalian meminta tolong dengan kedhaliman, maka seolah-olah kamu rela dengan perbuatan mereka.”

Fatamassakumun naaru wa maa lakum min duunillaaHi min auliyaa-a tsumma laa tunsharuun (“Yang menyebabkan kamu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”)
Maksudnya, kamu tidak mempunyai penolong yang menyelamatkan dan menolong kamu dari siksa-Nya selain Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 109-111

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 109-111“Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang diibadahi oleh mereka. Mereka tidak beribadah melainkan sebagaimana nenek-moyang mereka beribadah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun. (QS. 11:109) Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepadaMusa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara inereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Makkah) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap al-Qur’an. (QS. 11:110) Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyempurnakan dengan cukup, (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 11:111)” (Huud: 109-111)

Allah berfirman: falaa taku fii miryatim mimmaa ya’budu Haa-ulaa-i (“Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang diibadahi oleh mereka.”) Orang-orang musyrik, sesungguhnya apa yang mereka ibadahi itu merupakan suatu kebathilan, kebodohan dan kesesatan, karena mereka hanyalah beribadah kepada apa yang diibadahi oleh bapak-bapak mereka sebelumnya, maksudnya mereka tidak mempunyai pegangan dalam apa yang mereka kerjakan kecuali hanyalah mengikuti bapak-bapak mereka dalam kebodohan dan Allah akan membalas perbuatan mereka dengan balasan yang paling sempurna, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang tidak pernah disiksakan kepada seorang pun, meskipun mereka mempunyai kebaikan dan Allah telah membalasnya di dunia sebelum di akhirat.

Sufyan ats-Tsauri berkata dari Jabir al-Ju’fi, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas: wa innaa lamuwaffuuHum nashiibaHum ghaira manquush (“Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan terhadap mereka tidak dikurangi sedikitpun.”) ia berkata: “Yaitu sesuatu yang dijanjikan kepada mereka, baik berupa kebaikan maupun keburukan.”

`Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Sungguh Kami menimpakan siksaan sebagai adzab bagi mereka tanpa dikurangi.” Lalu Allah menyebutkan tentang diberikannya Musa al-Kitab (Taurat), maka manusia ketika itu saling berbeda pendapat dalam menanggapi al-Kitab tersebut, sebagian orang mau beriman dan sebagian lagi menolaknya. Dengan demikian, hal sebagai contoh bagimu terhadap kejadian-kejadian para Nabi sebelummu nereka juga(mereka juga banyak yang mendustakan), maka pendustaan-pendustaan dari umatmu ya Muhammad, jangan membuatmu panik (emosi) dan jangan membuatmu bimbang.

Wa lau laa kalimatun sabaqat mir rabbika laqudliya bainaHum (“Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka.”) Ibnu Jarir berkata: “Seandainya penangguhan siksa belum diputuskan dalam waktu yang telah ditentukan, niscaya Allah menurunkan siksa di antara mereka dan dimungkinkan bahwa yang dimaksud dengan kata “al-kalimah”, bahwasanya Allah tidak menyiksa seseorang kecuali setelah Allah mendirikan hujjah dan mengutus seorang Rasul kepadanya, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (QS. Al-Israa’: 15)

Allah telah berfirman di ayat lain yang artinya: “Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada yang telah ditentukan, pasti (adzab) itu menimpa mereka. Maka sabarlah kamu atas yang mereka katakan.” (QS. Thaahaa: 129-130)

Kemudian, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Allah akan mengumpulkan dari mulai manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir dan Allah akan membalas amal-amal mereka. Jika baik, dibalas dengan kebaikan dan jika uruk dibalas dengan keburukan, maka Allah berfirman: wa inna kulla lammaa layuwaffiyannaHum rabbuka a’maalaHum innaHuu bimaa ya’lamuuna khabiir (“Dan sesungguhnya kepada masing-masing [mereka yang berselisih itu] pasti Rabbmu akan menyempurnakan dengan cukup, (balasan) pekerjaan mereka. “Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan.” Maksudnya, Allah Mahamengetahui tentang amal perbuatan mereka semua, baik yang bernilai tinggi maupun yang bernilai rendah, baik kecil maupun besar.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 108

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 108“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya adalah di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali Rabbmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud: 108)

Allah berfirman: wa ammal ladziina su’iduu (“Adapun orang-orang yang bahagia”) mereka adalah para pengikut Rasul. Fa fil jannati (“maka tempatnya adalah surga”) maksudnya tempat mereka adalah surga. Khaalidiina fiiHaa (“mereka kekal di dalamnya”) maksudnya mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya. maa daamatis samaawaatu wal ardlu illaa maa syaa-a rabbuka (“selama ada langit dan bumi. Kecuali jika Rabbmu menghendaki lain.”) Arti pengecualian di sini adalah, bahwa keabadian mereka dalam kenikmatan bukanlah sesuatu yang harus dilakukan oleh Allah , akan tetapi hal itu adalah diserahkan kepada kehendak Allah Ta’ala, maka hak Allahlah pemberian anugerah yang terus-menerus kepada mereka, maka dari itu mereka diilhami untuk bertasbih dan bertahmid sebagaimana mereka bernafas.

Adh-Dhahhak dan al-Hasan al-Bashri berkata: “Ayat itu menjelaskan tentang hak orang-orang ahli maksiat yang bertauhid yang semula mereka berada di neraka, kemudian dikeluarkan darinya, maka Allah melanjutkan firman-Nya: ‘athaa’an ghaira majdzuudz (“Sebagai karunia yang tiada putus putusnya”) maksudnya, tidak terputus.” Mujahid, Ibnu `Abbas, Abul `Aliyah dan yang lainnya mengatakan tentang ini (yaitu ayat: ‘Karunia yang tiada putus putusnya’)

Untuk tidak menjadikan keraguan (untuk meyakinkan) bagi orang-orang yang ragu setelah adanya pengecualian kehendak Allah, yang mana di sana menggambarkan adanya keterputusan, atau adanya kesamaran atau sesuatu pengertian yang lain. Akan tetapi dengan adanya keterangan ayat yang terakhir itu, menjelaskan bahwa Allah menekankan adanya kesinambungan dan tidak keterputusan, sebagaimana pula Allah menjelaskan di sana, bahwa adzab ahli neraka di dalamnya, kekal selama-lamanya. Kekekalan ini tertolak dengan adanya pengecualian kehendak-Nya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala dengan keadilan-Nya dan kebijaksanaan-Nya telah mengadzab mereka, itulah sebabnya Allah berfirman: inna rabbaka fa’-‘aalul limaa yuriid (“Sesungguhnya Rabbmu berbuat terhadap apa yang Dia kehendaki.”) Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 23)

Di sini, Allah Ta’ala menenteramkan hati dan menetapkan maksud dengan firman-Nya, ‘athaa’an ghaira majdzuudz (“Sebagai karunia yang tiada putus putusnya”) Telah ada hadits dalam ash-shahihain:
“Kematian didatangkan dengan bentuk kambing yang indah rupanya, kemudian ia disembelih antara surga dan neraka, kemudian dikatakan; ‘Wahai ahli surga, kekal-lah, tidak ada kematian. Dan wahai ahli neraka, kekal-lah tidak ada kematian.’”

Dan di dalam shahihain juga:
“Maka dikatakan; `Wahai ahli surga, sesungguhnya kamu akan hidup dan tidak akan mati selama-lamanya dan kamu akan selalu muda dan tidak akan tua selama-lamanya dan kamu akan sehat dan tidak sakit selama-lamanya dan kamu akan (merasa) menikmati dan tidak akan (merasa) kesulitan selama-lamanya.” (HR. Muslim, kitab al Jannah bab fii Dawaam na’iimi Ahlil Jannah)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 106-107

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 106-107“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan nafas dan menariknya dengan (merintih), (QS. 11:106) mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa yang Dia dikehendaki. (QS. 11:107)” (Huud: 106-107)

Allah Ta’ala berfirman: laHum fiiHaa zafiiruw wa saHiiq (“Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih].”) Ibnu `Abbas berkata: “Az-Zafair tempatnya di tenggorokan dan asy-SyaHiiq tempatnya di dada, maksudnya, mereka mengeluarkan nafas dengan merintih dan menarik nafas dengan sesak, karena siksaan yang menimpa mereka, semoga Allah melindungi kita dari siksa itu.

Khaalidiina fiiHaa maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”) Imam Abu Ja’far bin Jarir berkata: “Kebiasaan orang Arab, jika hendak memberi sifat kepada sesuatu dengan sifat abadi, mereka selalu berkata: ‘Ini kekal seperti kekalnya langit dan bumi,’ begitu juga mereka berkata: ‘Ia adalah tetap selama malam dan Siang silih berganti,’ dan ‘selama orang yang begadang berbicara sepanjang malam,’ juga `selama keledai menggerakkan ekornya,’ bahwa yang dimaksud dengan semua itu adalah abadi, Allah yang Mahaterpuji berbicara kepada mereka dengan sesuatu yang mereka saling mengetahuinya.

Maka Allah berfirman: Khaalidiina fiiHaa maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”) Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Dan bisa juga yang dimaksud dengan ‘selama langit dan bumi masih ada’ adalah jenisnya, karena di alam akhirat ada langit dan bumi.” Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “[Yaitu] pada hari [ketika] bumi diganti dengan bumi yang lain dan [demikian pula] langit.”) (QS. Ibrahim: 48)

Untuk itu al-Hasan al-Bashri berkata tentang firman-Nya: maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“selama ada langit dan bumi.”) ia berkata: yang bukan langit ini dan bumi yang bukan bumi ini, karena langit dan bumi itu adalah tidak kekal.”

Ibnu Abi Hatim berkata, disebutkan dari Sufyan bin Husain dari al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu `Abbas, bahwa firman-Nya: maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“selama ada langit dan bumi.”) Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Bahwa senantiasa bumi adalah bumi dan langit adalah langit.”

Firman-Nya: illaa maasyaa-a rabbuka inna rabbaka fa’-‘al limaa yuriid (“Kecuali jika Rabbmu menghendaki [yang lain]. Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa Allah kehendaki.”) Seperti firman-Nya yang artinya: “Neraka itu tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki (yang lain) Sesungguhnya Rabbmu Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-An’aam: 128)

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari pengecualian ini, mereka mempunyai banyak pendapat, hal ini menurut Syaikh Abu: Faraj bin al-Jauzi dalam kitabnya “Zadul Masir” dan ulama-ulama tafsir lainnya. Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullah telah banyak menukilnya dalam kitabnya dan ia memilih pendapat yang dinukilnya dari Khalid bin Ma’dan, adh-Dhahhak, Qatadah dan Ibnu Sinan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas dan juga al-Hasan, bahwa pengecualian itu adalah kembali kepada ahli maksiat dari ahli tauhid, yaitu orang-orang yang dikeluarkan oleh Allah dari neraka dengan syafaatnya orang yang memberi syafa’at, yaitu Para Malaikat, Para Nabi dan orang-orang mukmin, hingga mereka memberi syafa’at kepada para pelaku dosa besar.
Kemudian, datanglah rahmat Allah yang Mahapenyayang, maka dikeluarkanlah orang yang tidak melakukan kebaikan sama sekali dan ia berkata: “Suatu dalam suatu masa: `Laa Ilaaha Illallaah’.” Sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih yang masyhur dari Rasulullah tentang dari hadits Anas, Jabir, Abu Said, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat lainnya, yaitu: “Tidak ada dalam neraka setelah itu, kecuali orang yang harus kekal di dalamnya dan yang tidak ada keringanan lama sekali baginya.”

Qatadah berkata: “Allah lebih mengetahui dengan kandungannya.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 103-105

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 103-105“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada adzab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (QS. 11:103) Dan kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. (QS. 11:104) Dikala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (QS. 11:105)” (Huud: 103-105)

Allah berfirman, sesungguhnya dalam pembinasaan yang Kami lakukan terhadap orang-orang kafir dan penyelamatan Kami terhadap orang-orang mukmin; la aayatan (“Terdapat pelajaran.”) Maksudnya, sebagai nasehat dan pelajaran atas kebenaran janji Kami di akhirat. Dan firman-Nya: dzaalika yaumum majmuu’ul laHun naasu (“Hari kiamat itu adalah hari yang semua manusia dikumpulkan untuk [menghadapi]nya.”) Maksudnya, dikumpulkan dari mulai manusia yang pertama diciptakan sampai manusia yang terakhir. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Dzaalika yaumum masyHuud (“Dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan [oleh segala makhluk].”) Maksudnya, hari yang besar, yang dihadiri oleh para Malaikat dan berkumpul seluruh Rasul, di mana dikumpulkan seluruh makhluk mulai manusia, jin, burung, binatang buas, bahkan semua makhluk yang melata.

Dan firman-Nya: wa maa mu-akhkhiruHuu illaa li-ajalim ma’duud (“Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.”) Maksudnya, Kami tidak mengundurkan terjadinya hari Kiamat, karena telah terdahulu ketetapan Allah dalam mewujudkan manusia dengan jumlah yang telah ditentukan dari anak cucu Adam as. dan dalam masa yang telah ditentukan lamanya. Maka apabila waktu tersebut telah habis masanya dan keberadaan mereka yang keseluruhannya itu telah ditentukan dan telah terealisasi, maka terjadilah hari Kiamat.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: wa maa mu-akhkhiruHuu illaa li-ajalim ma’duud (“Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.”) maksudnya untuk masa yang sudah ditentukan, tidak diundur dan tidak dimajukan.

Yauma ya’ti laa yatakallamu nafsun illaa bi-idzniHi (“Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang bicara, melainkan dengan izin-Nya.”) Maksudnya, pada hari kedatangan hari Kiamat, tidak seorang pun dapat berbicara kecuali dengan izin Allah, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Rabb yang pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar.” (QS. An-Naba’: 38)

Dalam ash-shahihain dalam hadits tentang syafa’at: “Tidak berbicara pada hari itu kecuali para Rasul, dan do’anya para Rasul hari itu adalah: ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.”‘

Dan firman-Nya: wa minHum syaqiyyuw wa sa’iid (“Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia.”) maksudnya di antara mereka yang berkumpul ada yang velaka dan ada yang beruntung. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (QS. Asy-Syuura: 7)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 102

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 102“Dan begitulah adzab Rabbmu, apabila Allah mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Huud: 102)

Allah Ta’ala berfirman: sebagaimana Kami binasakan generasi-generasi terdahulu yang dhalim dan mendustakan utusan-utusan Kami, begitu juga Kami berbuat kepada orang-orang yang menyerupai mereka; inna akhdzaHuu aliimun syadiid (“Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih dan keras.”)

Dalam ash-Shahihain dari Abu Musa ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah menangguhkan [adzab] kepada orang dhalim, sehingga apabila Allah mengadzabnya, maka Dia tidak akan melepasnya.”
Kemudian Rasulullah membaca: kadzaalika akhdzu rabbika idzaa akhadzal quraa wa Hiya dhaalimatun…. (“Dan begitulah adzab Rabbmu, apabila Allah mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dhalim,..”) dan ayat seterusnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 100-101

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 100-101“Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. (QS. 11:100) Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka ilah-ilah yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab Rabbmu datang. Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS. 11:101)” (Huud: 100-101)

Ketika Allah telah menyebutkan kabar para Nabi dan apa yang dihadapi mereka bersama umatnya dan bagaimana Allah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mukmin, Allah berfirman: dzaalika min amba-il quraa (“Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri [yang telah dibinasakan].”) Maksudnya, kabar tentang mereka.
Naqshush-Hu ‘alaika (“Kami ceritakan kepadamu [Muhammad]”) di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya. ” Maksudnya, masih ada. Wa hashiid (“Dan ada [pula] yang telah musnah.”) Maksudnya, telah hancur.

Wa maa dhalamnaaHum (“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka,”) maksudnya jika Kami membinasakan mereka. Wa laakin dhalamuu anfusaHum (“Tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”) Dengan kedustaan dan kekafiran mereka terhadap utusan-utusan Kami. Wamaa aghnat ‘anHum aaliHatuHum (“Karena itulah tidak bermanfaat sedikit pun kepada mereka ilah-ilah mereka.”) Berhala-berhala mereka yang mereka beribadah dan berdo’a kepadanya; min duunillaaHi min syai-in (“Sesuatupun selain Allah.”) Berhala-berhala itu tidak berguna dan tidak menyelamatkan mereka ketika mereka dibinasakan.

Wamaa zaaduuHum ghaira tatbiib (“Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.”) Mujahid, Qatadah dan yang lainnya berkata: “Maksudnya, kecuali kerugian, itulah sebab kebinasaan dan kehancuran mereka, yaitu karena mereka mengikuti ilah-ilah itu, maka dari itu mereka rugi di dunia dan akhirat.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 96-99

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 96-99“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda [kekuasaan] Kami dan mukjizat yang nyata, (QS. 11:96) kepada Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Fir’aun, padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah [perintah] yang benar. (QS. 11:97) Ia berjalan di muka kaumnya di hari Kiamat, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi. (QS. 11:98) Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia dan (begitu pula) di bari Kiamat. Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. (QS. 11: 99)” (Huud: 96-99)

Allah berfirman seraya memberi kabar tentang kerasulan Musa as. dengan ayat-ayat-Nya dan bukti-bukti yang istimewa (mukjizat) kepada Fir’aun, raja Qibti dan pengikut-pengikutnya. Fat taba’uu amra fir’auna (“Tetapi mereka mengikuti Perintah Fir’aun,”) maksudnya, sistem, cara dan jalannya dalam kesesatan.

Wa maa amru fir’auna birasyiid (“Padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah [perintah] yang benar.”) Maksudnya, tidak ada pengarahan dan petunjuk di dalamnya, akan tetapi ia merupakan kebodohan, kesesatan, kekafiran dan kebencian, sebagaimana halnya mereka mengikutinya di dunia dan ia menjadi pemuka dan kepala mereka, begitu pula ia menjadi pendahulu mereka pada hari Kiamat menuju neraka Jahannam, maka ia memasukkan mereka ke dalamnya mereka meminum dari telaga yang ia pun meminumnya dan ia mendapatkan bahagian yang paling besar dari siksa yang paling dahsyat.

Allah Ta’ala berfirman: yaqdumu qaumaHu yaumal qiyaamati fa auradaHumun naara wabi’sal wirdul mauruud (“Ia berjalan di muka kaumnya di hari Kiamat, lalu memasukkan mereka dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi,”) begitu juga keadaan orang-orang yang diikuti, mereka mendapatkan siksaan yang banyak pada hari Kiamat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Masing-masing mendapatkan [siksa] yang berlipat ganda akan tetapi kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raaf: 38)

Firman-Nya: wa utbi’uu fii HaadziHii la’nataw wa yaumal qiyaamati… (“Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan [begitu pula] di hari Kiamat,…”) dan ayat seterusnya. Kami ikutkan kepada mereka, tambahan siksa neraka dengan laknat di dunia. Wa yaumal qiyaamati bi’sal wirdul maufuud (“Dan di hari kiamat. Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.”)

Mujahid berkata: “Ditambahkan bagi mereka laknat di hari kiamat. Maka bagi mereka ada dua kali laknat.” `Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: diberikan: bi’sal wirdul maufuud (“Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.”) ia berkata: “Itulah laknat dunia dan akhirat.” Begitu juga dengan pendapat adh-Dhahhak dan Qatadah.

Bersambung