Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 106-107

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 106-107“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan nafas dan menariknya dengan (merintih), (QS. 11:106) mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa yang Dia dikehendaki. (QS. 11:107)” (Huud: 106-107)

Allah Ta’ala berfirman: laHum fiiHaa zafiiruw wa saHiiq (“Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih].”) Ibnu `Abbas berkata: “Az-Zafair tempatnya di tenggorokan dan asy-SyaHiiq tempatnya di dada, maksudnya, mereka mengeluarkan nafas dengan merintih dan menarik nafas dengan sesak, karena siksaan yang menimpa mereka, semoga Allah melindungi kita dari siksa itu.

Khaalidiina fiiHaa maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”) Imam Abu Ja’far bin Jarir berkata: “Kebiasaan orang Arab, jika hendak memberi sifat kepada sesuatu dengan sifat abadi, mereka selalu berkata: ‘Ini kekal seperti kekalnya langit dan bumi,’ begitu juga mereka berkata: ‘Ia adalah tetap selama malam dan Siang silih berganti,’ dan ‘selama orang yang begadang berbicara sepanjang malam,’ juga `selama keledai menggerakkan ekornya,’ bahwa yang dimaksud dengan semua itu adalah abadi, Allah yang Mahaterpuji berbicara kepada mereka dengan sesuatu yang mereka saling mengetahuinya.

Maka Allah berfirman: Khaalidiina fiiHaa maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”) Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Dan bisa juga yang dimaksud dengan ‘selama langit dan bumi masih ada’ adalah jenisnya, karena di alam akhirat ada langit dan bumi.” Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “[Yaitu] pada hari [ketika] bumi diganti dengan bumi yang lain dan [demikian pula] langit.”) (QS. Ibrahim: 48)

Untuk itu al-Hasan al-Bashri berkata tentang firman-Nya: maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“selama ada langit dan bumi.”) ia berkata: yang bukan langit ini dan bumi yang bukan bumi ini, karena langit dan bumi itu adalah tidak kekal.”

Ibnu Abi Hatim berkata, disebutkan dari Sufyan bin Husain dari al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu `Abbas, bahwa firman-Nya: maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“selama ada langit dan bumi.”) Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Bahwa senantiasa bumi adalah bumi dan langit adalah langit.”

Firman-Nya: illaa maasyaa-a rabbuka inna rabbaka fa’-‘al limaa yuriid (“Kecuali jika Rabbmu menghendaki [yang lain]. Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa Allah kehendaki.”) Seperti firman-Nya yang artinya: “Neraka itu tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki (yang lain) Sesungguhnya Rabbmu Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-An’aam: 128)

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari pengecualian ini, mereka mempunyai banyak pendapat, hal ini menurut Syaikh Abu: Faraj bin al-Jauzi dalam kitabnya “Zadul Masir” dan ulama-ulama tafsir lainnya. Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullah telah banyak menukilnya dalam kitabnya dan ia memilih pendapat yang dinukilnya dari Khalid bin Ma’dan, adh-Dhahhak, Qatadah dan Ibnu Sinan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas dan juga al-Hasan, bahwa pengecualian itu adalah kembali kepada ahli maksiat dari ahli tauhid, yaitu orang-orang yang dikeluarkan oleh Allah dari neraka dengan syafaatnya orang yang memberi syafa’at, yaitu Para Malaikat, Para Nabi dan orang-orang mukmin, hingga mereka memberi syafa’at kepada para pelaku dosa besar.
Kemudian, datanglah rahmat Allah yang Mahapenyayang, maka dikeluarkanlah orang yang tidak melakukan kebaikan sama sekali dan ia berkata: “Suatu dalam suatu masa: `Laa Ilaaha Illallaah’.” Sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih yang masyhur dari Rasulullah tentang dari hadits Anas, Jabir, Abu Said, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat lainnya, yaitu: “Tidak ada dalam neraka setelah itu, kecuali orang yang harus kekal di dalamnya dan yang tidak ada keringanan lama sekali baginya.”

Qatadah berkata: “Allah lebih mengetahui dengan kandungannya.”

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: