Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 59-60

2 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 59-60“Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). (QS. 8:59) Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. 8:60)” (al-Anfaal: 59-60)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya: wa laa yahsabanna (“Janganlah engkau mengira,”) wahai Muhammad. Alladziina kafaruu sabaquu ( “Bahwa orang-orang kafir itu akan dapat lolos.”) Maksudnya, mereka dapat melepaskan diri dan Kami tidak sanggup melawan mereka. Tidak demikian, justru mereka berada di bawah kekuasaan Kami dan dalam genggaman kehendak Kami, hingga mereka tidak akan dapat menjadikan Kami lemah. Yang demikian adalah sama seperti firman Allah yang artinya berikut ini:
“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari adzab Kami? Amat buruk apa yang mereka tetapkan itu.”) (Qs. Al-‘Ankabuut: 4). Yaitu, yang mereka duga tersebut.

Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan untuk mempersiapkan perlengkapan perang guna memerangi mereka sesuai dengan kemampuan, fasilitas dan kesanggupan, di mana Allah berfirman: wa a-‘idduu laHum mastatha’tum (“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa saja yang kalian sanggupi.”) Artinya, sesuai dengan kemampuan yang ada pada kalian, yaitu: min quwwatiw wa mir ribaathil khaili (“Kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda yang ditambat untuk berperang.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abi `Ali Tsumamah bin Syafi saudara `Uqbah bin `Amir, di mana ia pernah mendengar `Uqbah menceritakan: aku pernah mendengar Rasulullah bersabda ketika beliau berada di atas mimbar:
“‘Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa saja yang kalian sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

Imam Malik meriwayatkan daii Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kuda itu untuk tiga orang; bagi seseorang, yang mana kuda itu sebagai pahala, bagi orang yang lain sebagai pelindung dan bagi yang lain lagi sebagai dosa. Kuda yang memberikan pahala kepada seseorang adalah kuda yang ditambat (digunakan) di jalan Allah, lalu ia menambatkannya di padang rumput kebun. Maka tidaklah setiap kali ia makan, melainkan menjadi kebaikan orang tersebut. Walaupun kuda itu berhenti dari merumput dan menaiki atau dua tempat yang tinggi, maka bekas telapak kakinya dan kotorannya menjadi kebaikan baginya. Jika kuda itu melintasi sungai lalu kuda itu minum dan ia (penunggangnya) tidak membawanya sengaja untuk memberi minum, maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dengan demikian itu, kuda memberi pahala kepadanya. Ada juga orang yang menambatkannya (menggunakannya) sebagai kekayaan dan kehormatan dirinya, tetapi tidak melupakan hak Allah yang ada pada leher dan punggungnya (dalam menggunakan memeliharanya.-Ed), maka kuda itu baginya sebagai pelindung. Dan ada orang yang menambatkan kuda dengan maksud membanggakan diri dan maka kuda itu baginya merupakan dosa.”

Kemudian Rasulullah pernah ditanya tentang keledai, maka beliau pun bersabda: “Allah tidak menurunkan ayat mengenai keledai itu melainkan di dalam ayat yang mencakup dan luar biasa ini: ‘Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat basalannya pula.'(QS. Az-Zalzalah: 7-8).”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, yang masing-masing bersumber dari Imam Malik.

Mayoritas (jumhur) ulama berpendapat, bahwa memanah itu lebih daripada menunggang kuda. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa menunggang kuda lebih baik daripada memanah. Pendapat jumhurul ulama lebih kuat berdasarkan hadits tersebut. Wallahu a’lam.

Dalam kitab Shabib al-Bukhari, diriwayatkan sebuah hadits dari ‘Urwah bin Abi al-Ja’d al-Bariqi, bahwa Rasulullah bersabda: “Pada ubun-ubun kuda itu telah ditetapkan kebaikan sampai hari Kiamat kelak, berupa pahala dan ghanimah.” (HR. al-Bukhari)

Firman-Nya: turHibuuna (“Kalian menggentarkan.”) Yaitu, menakut-nakuti. ‘aduwwallaaHi wa ‘aduwwakum (“[Dengan persiapan itu] musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian.”) Yaitu, dari kalangan orang-orang kafir.
Wa aakhariina min duuniHim (“Dan orang-orang selain mereka.”) Muqatil bin Hayyan dan Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang munafik.” Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala:
“Dan di antara orangorang Arab Badui yang di sekeliling kalian itu ada orang-orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kamilah yang mengetahui mereka.” (QS. At-Taubah: 101)

Firman-Nya: wa maa tunfiquu min syai-in fii sabiilillaaHi yuwaffa ilaikum wa antum laa tudh-lamuun (“Apa saja yang kalian nafkahkan di jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya [dirugikan].”) Maksudnya, apa pun yang kalian nafkahkan untuk jihad, maka Allah akan memberikan balasan bagi kalian secara sempurna dan utuh.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: