Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 61-63

2 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 61-63“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allahlah yang Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui. (QS. 8:61) Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Allahlah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang beriman. (QS. 8:62) Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Allah perkasa lagi Maha-bijaksana. (QS. 8:63)” (al-Anfaal: 61-63)

Allah berfirman, bahwa jika engkau khawatir terhadap pengkhianatan suatu kaum, maka langgarlah perjanjian mereka itu secara timbal balik. Dan jika ia masih terus memerangimu dan melanggar hakmu, maka seranglah mereka.
Wa in janahuu (“Dan jika mereka condong,”) yaitu cenderung. Lis silmi (“Kepada perdamaian.”) Yakni berdamai, perbaikan hubungan dan penghentian perang.
Fajnah laHaa (“Maka condonglah kepadanya.”) Maksudnya cerderunglah engkau kepada perdamaian tersebut dan terimalah tawaran mereka tersebut.

Oleh karena itu, ketika orang-orang musyrik menawarkan perdamaian genjatan senjata selama sembilan tahun antara mereka dengan Rasulullah pada saat diadakan Shulhul Hudaibiyyah (perjanjian Hudaibiyyah), maka beliau pun menerima tawaran tersebut dengan mengajukan beberapa syarat kepada mereka.

Ibnu `Abbas, Mujahid, Zaid bin Aslam, `Atha’ al-Khurasani, ‘Ikrimah, al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan: “Sesungguhnya ayat tersebut dimansukh (dihapus) oleh ayat saif (pedang) rang terdapat dalam surat Bara-ah (at-Taubah): “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari akhir.” (QS. At-Taubah: 29)
Tetapi pendapat ini perlu ditinjau juga, karena ayat yang terdapat dalam surat Bara-ah (at-Taubah) itu di dalamnya terdapat perintah untuk memerangi mereka, jika memungkinkan untuk itu. Tetapi jika musuh berjumlah banyak, maka diperbolehkan bagi kaum muslimin mengadakan perjanjian perdamaian. Sebagaimana hal itu telah ditunjukkan oleh ayat al-Qur’an dan sebagaimana hal itu pernah dilakukan oleh Rasulullah pada hari diadakannya perjanjian Hudaibiyyah. Dengan demikian, tidak ada pertentangan, tidak ada nasakh, serta tidak ada pula takhshish (pengkhususan). Wallahu a’lam.

Firman-Nya: wa tawakkal ‘alallaaHi (“Dan bertawakkallah kepada Allah.”) Maksudnya, berdamailah dengan mereka dan bertawakkallah kepada Allah, karena Allah yang memberikan kecukupan dan menolongmu. Dan seandainya mereka menawarkan perdamaian untuk sebuah tipu daya agar mereka dapat memperkuat diri dan membuat persiapan, maka hendaklah kalian berhati-hati dan berwaspada. Fa inna hasbakallaaH (“Maka sesungguhnya cukuplah Allah.”) Artinya, cukuplah Allah saja yang menjadi pelindung bagimu.

Setelah itu, Allah menyebutkan nikmat yang telah dianugerahkan kepada Nabi saw, yaitu berupa pertolongan Allah dan dukungan dari orang-orang yang beriman, (yaitu) kaum Muhajirin dan Anshar, di mana Allah berfirman: Huwal ladzii ayyadaka binash-riHii wa bil mu’miniin. Wa allafa baina quluubiHim (“Allah-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mukmin dan yang mempersatukan hati mereka [orang-orang yang beriman].”) Maksudnya, Allahlah yang menyatukan hati kalian dalam keimanan, ketaatan, serta memberikan pertolongan dan bantuan kepadamu.

Lau anfaqta maa fil ardli jamii’am maa allafta baina quluubihim (“Walaupun engkau membelanjakan semua [kekayaan]) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka.”) Maksudnya, yang demikian itu karena di antara mereka terdapat permusuhan dan kebencian. Sebenarnya, di kalangan kaum Anshar terdapat berbagai macam peperangan pada masa Jahiliyah antara suku Aus dan suku Khazraj, serta berbagai hal yang mengharuskan mereka berbuat kejahatan yang berkesinambungan. Kemudian, Allah memutuskan hal itu dengan cahaya keimanan.

Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: “Dan ingatlab akan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian dahulu (pada masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian sehingga dengan nikmat tersebut kalian menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali-‘Imraan: 103)

Dalam ash-Shahihain disebutkan sebuah hadits yang menceritakan tentang Rasulullah ketika berbicara dengan kaum Anshar mengenai permasalahan ghanimah dalam perang Hunain, beliau mengatakan kepada mereka: “Hai kaum Anshar sekalian, bukankah aku dahulu mendapati kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku. Aku menjumpai kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah memberimu kekayaan melalui diriku. Dan kalian dahulu ada dalam keadaan bercerai-berai, lalu Allah menyatukan kalian melalui diriku.” Setiap kali beliau mengatakan sesuatu, mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya paling banyak memberikan nikmat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa laakinnallaaHa allafa bainaHum innaHuu ‘aziizun hakiim (“Tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) Maksudnya, Allah Mahaperkasa sehingga Allah tidak menyia-nyiakan harapan orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya dan Allah Mahabijaksana dalam perbuatan dan hukum-hukum-Nya.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: