Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 67-69

2 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 67-69“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan, sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, (QS. 8:67) Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. (QS. 8:68) Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 8:69)” (al-Anfaal: 67-69)

Al-A’masy meriwayatkan dari `Abdullah, ia menceritakan, ketika terjadi perang Badar, Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana pendapat kalian mengenai para tawanan itu?” Abu Bakar berkata: “Ya Rasulullah, mereka itu adalah kaummu dan juga keluargamu. Biarkan saja mereka tetap hidup dan perintahkan mereka untuk bertaubat. Semoga Allah memberikan ampunan kepada mereka.” Sedangkan `Umar (bin al-Khaththab) berujar: “Ya Rasulullah, mereka telah mendustakan dan mengusirmu. Bawalah mereka ke depan dan penggallah leher mereka.” Lalu `Abdullah bin Rawahah menuturkan: “Ya Rasulullah, engkau sedang berada di lembah yang banyak kayu bakarnya, maka bakarlah lembah tersebut, kemudian lemparkanlah mereka ke dalamnya.” Maka Rasulullah saw. pun terdiam dan tidak memberikan tanggapan sama sekali terhadapan usulan dari mereka. Lalu beliau berdiri dan masuk.

Selanjutnya orang-orang berspekulasi, beliau pasti akan menerapkan pendapat Abu Bakar. Dan sebagian yang lain menduga, pasti beliau akan memilih pendapat `Umar bin al-Khaththab. Dan yang lain lagi beranggapan bahwa beliau akan memilih pendapat `Abdullah bin Rawahah. Setelah itu beliau pun keluar menemui mereka seraya bersabda:

“Sesungguhnya Allah melunakkan hati seseorang, sehingga menjadi yang lebih lembut dari susu. Dan sesungguhnya Allah juga akan mengeraskan seseorang, sehingga hati mereka itu menjadi lebih keras daripada batu. Sesungguhnya engkau, hai Abu Bakar adalah seperti Ibrahim as. yang ngatakan: ‘Barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya ia termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Mabapengampun lagi Mahapenyayang.’ (QS. Ibrahim: 36). Dan sesungguhnya permiisalanmu, hai Abu bakar adalah seperti `Isa as yang mengatakan: ‘Jika Engkau mengadzab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah bamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’ (QS. Al-Maaidah: 118).”

“Dan engkau, hai `Umar adalah seperti Musa as yang mengatakan: ‘Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sehingga mereka melihat adzab yang pedih.’ (QS. Yunus: 88). Dan sesungguhnya engkau, hai `Umar adalah seperti Nuh as yang mengatakan: ‘Ya Rabbku, janganlah Engkau berikan tempat tinggal bagi orang-orang kafir di bumi ini.” (QS. Nuh: 26). Sesungguhnya kalian merupakan satu ikatan keluarga yang tidak dapat dipisahkan, kecuali melalui tebusan atau penggalan leher.”

Ibnu Masud berkata, aku katakan: “Ya Rasulullah, kecuali Suhail Baidha’, karena ia pernah mengucapkan (kalimat) Islam.” Maka Rasulullah saw. pun terdiam. Engkau tidak pernah melihatku pada suatu hari yang padanya aku paling takut tertimpa batu dari langit kecuali pada hari itu, hingga beliau berkata: “Kecuali Suhail bin Baidha’.”

Maka Allah menurunkan firman-Nya: maa kaana linabiyyin ay yakuuna laHuu asraa hattaa yutskhina fil ardli turiiduuna ‘aradlad dun-yaa wallaaHu yariidul aakhirati (“Tidak sepatutnya bagi seorang Nabi mempunyai tawanan, sebelum ia melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk kalian). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”)

Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, hadits dari Abi Mu’awiyah, dari al-A’masy. Juga diriwayatkan oleh al-Hakim dalam bukunya al-Mustadrak. Dan al-Hakim mengatakan, bahwa hadits tersebut sanadnya shahih. Sedangkan al-Bukhari dan Muslim tidak iwayatkan.

Syu’bah menceritakan dari Mujahid, mengenai firman-Nya: lau laa kitaabum minallaaHi sabaqa (“Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah,”) ia mengatakan: “Ditetapkan bagi mereka untuk diberi ampunan.”
Hal yang sama juga diceritakan dari Sufyan ats-Tsauri rahimahullah. ‘Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas, mengenai firman-Nya: ini ia mengatakan: “Yaitu, di dalam Ummul Kitab yang pertama, yang menetapkan bahwa ghanimah dan tawanan itu halal bagi kalian.”

Lamas sakum fiimaa akhadztum (“Niscaya kaliann ditimpa, karena tebusan yang kalian ambil”) dari tawanan. ‘adzaabun ‘adhiim (“Siksaan yang berat”)

Fakuluu mimmaa ghanimtum halaalan thayyiban (“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu sebagai makanan yang halal lagi baik.”) Dan dapat diambil dalil dari pendapat ini dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam ash-Shahihain, darijabir bin `Abdillah berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Aku telah diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Nabi sebelumku: Aku dimenangkan melalui rasa takut (yang dirasakan oleh musuh) dalam jarak perjalanan satu bulan, dijadikannya bumi ini untukku sebagai masjid (tempat sujud) dan alat bersuci, dihalalkan bagiku harta rampasan perang, dimana hal itu tidak pernah dihalalkan bagi seorang pun sebelumku, diberikannya kepadaku (hak memberikan) Syafa’at dan Nabi terdahulu hanya diutus
kepada kaumnya saja, sedang aku diutus kepada manusia seluruhnya.” (HR Al-Bukhari)

Oleh karena itu Allah berfirman: Fakuluu mimmaa ghanimtum halaalan thayyiban (“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu sebagai makanan yang halal lagi baik.”) Pada saat itu, mereka pun mengambil tebusan dari Para tawanan.

Diriwayatkan pula oleh Imam Abu Dawud dalam sunannya, dari Abbas, bahwa Rasulullah menetapkan tebusan bagi kaum jahiliyah pada perang Badar sebanyak empat ratus dinar. Dan ketetapan hukum terhadap tawanan tersebut terus berlaku. Demikian menurut jumhurul ulama, yaitu bahwasanya seorang Imam (pemimpin) memiliki hak pilih dalam menetapkan hukuman bagi mereka, jika menghendaki, ia boleh membunuhnya sebagaimana yang dilakukan terhadap Bani Quraizhah.

Dan jika mengehendaki, ia juga boleh meminta tebusan dari mereka berupa harta benda, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap para tawanan perang Badar, atau bisa juga tebusan tersebut berupa pembebasan kaum muslimin yang menjadi tawanan mereka (tukar-menukar tawanan), sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah terhadap seorang budak wanita dan anaknya yang berada dalam tawanan Salamah bin Akwa’, dimana ia mengembalikan keduanya dan sebagai tebusannya ia mengambil beberapa kaum muslimin yang berada di tangan orang-orang musyrik.

Dan jika menghendaki, maka ia boleh juga menjadikan tawanan itu sebagai budak. Demikian yang menjadi pendapat madzhab Imam asy-Syafi’i dan beberapa orang ulama. Mengenai masalah ini masih terdapat perbedaan pendapat yang lain di antara para imam, yang semuanya telah dikemukakan dalam beberapa kitab Fiqih.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: