Arsip | 00.52

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 27

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 27“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (adzab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 27)

Ketika Allah memberi kabar tentang keadaan orang-orang yang beruntung, yang kebaikannya dilipatgandakan dan mereka diberi tambahan, Allah melanjutkan dengan menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka. Allah menyebutkan keadilan-Nya kepada mereka, bahwa Allah akan membalas kejahatan mereka yang sebanding dengannya, tidak menambahinya; wa tarHaquHum (“Dan mereka ditutupi.”) Maksudnya, kehinaan meliputi dan menguasai mereka, akibat dari kemaksiatan dan dosa yang mereka kerjakan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena merasa hina…” (asy-Syuraa: 45)

Firman-Nya: maa laHum minallaaHi min ‘aashim (“Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari [adzab] Allah.”) maksudnya penolak dan pelindung yang melindungi mereka dari siksa sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Pada hari itu manusia berkata: ‘Kemana tempat lari?’ Sekali-sekali tidak. Tidak ada tempat berlindung.” (al-Qiyaamah: 10-11)

Firman-Nya: ka annamaa ughsyiyat wujuuHuHum (“Seakan-akan muka-muka mereka ditutupi”) dan seterusnya. Ini adalah pemberitahuan tentang hitamnya wajah mereka di hari akhirat sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.’ Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, Maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Ali ‘Imraan: 106-107)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 26

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 26“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 26)

Allah memberi kabar, bahwa sesungguhnya orang yang memperbaiki amalnya di dunia dengan iman dan amal shalih, untuknya.”kebaikan di akhirat,” sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60)

Firman-Nya: wa ziyaadatun (“Dan tambahannya.”) Yaitu, pelipatgandaan pahala amal-amal dengan sepuluh kali lipat, hingga tujuh ratus kali lipat dan ditambahi juga dengan ‘tambahan’ untuk hal itu. Termasuk juga apa yang Allah berikan kepada mereka di surga, berupa istana, bidadari, keridhaan untuk mereka, juga apa yang dirahasiakan untuk mereka, berupa qurratu a’yun (macam-macam nikmat yang menyedapkan pandangan mata) dan yang paling istimewa adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Karena sesungguhnya hal itu adalah tambahan yang paling agung dari semua yang Allah berikan, mereka tidak berhak untuk mendapatkannya hanya karena amalnya, akan tetapi hanya karena karunia Allah dan rahmat-Nya.

Telah diriwayatkan tentang penafsiran kata “az ziyaadatu” (tambahan) dengan melihat wajah-Nya Yang Mulia, dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Hudzaifah bin al-Yaman, `Abdullah bin `Abbas, Qatadah, as-Suddi dan yang lainnya dari ulama salaf dan khalaf. Dan telah banyak hadits yang membicarakan hal itu dari Rasulullah saw. diantaranya adalah diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Shuhaib bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. membaca ayat ini: lilladziina ahsanul husnaa wa ziyaadatun (“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik [surga] dan tambahannya.”) beliau bersabda:

“Bila ahli surga telah memasuki surga dan ahli neraka telah memasuki neraka, maka ada seorang penyeru yang memanggil: ‘Hai ahli surga sesungguhnya kamu mempunyai apa yang telah dijanjikan di sisi Allah, Allah ingin memenuhinya untuk kalian.’ Maka mereka berkata: `Apa itu, bukankah Allah telah memberatkan timbangan (amal baik) kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’” Rasulullah saw. bersabda: “Matra dibukalah hijab untuk mereka, lalu mereka melihat kepada wajah-Nya, maka demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang Allah berikan kepada mereka yang lebih dicintai oleh mereka dan lebih menyenangkan mereka daripada melihat kepada wajah-Nya.” (HR. Muslim dan segolongan para Imam)

Firman-Nya: walaa yarHaqu wujuuHaHum qatarun (“Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam.”) Maksudnya, debu-debu hitam di padang Mahsyar, sebagaimana wajah-wajah orang kafir dan pendusta-pendusta yang penuh kotoran dan debu. Walaa dzillatun (“Dan tidak [pula] kehinaan.”) Maksudnya, hina dan rendah, yaitu mereka tidak mendapatkan kehinaan, baik yang bersifat bathin maupun lahir, akan tetapi mereka seperti yang difirmankan oleh Allah yang artinya:

“Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (QS. Al-Insaan: 11). Maksudnya, keceriaan di wajah mereka dan kebahagiaan di hati mereka. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka, dengan karunia dan rahmat-Nya. Amin.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 24-25

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 24-25“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (QS. 10: 24) Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS. 10:25)” (Yunus: 24-25)

Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan perumpamaan untuk kehidupan dunia dan perhiasannya, kecepatan habis dan hilangnya, diumpamakan dengan tumbuhan-tumbuhan yang Allah keluarkan dari bumi dengan adanya hujan yang diturunkan dari langit, berupa tanaman-tanaman dan buah-buahan yang berbeda-beda jenisnya dan tumbuhan-tumbuhan yang dimakan oleh binatang-binatang ternak, berupa rumput, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya.

hattaa idzaa akhadzatil ardlu zukhrufaHaa (“Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya.”) Maksudnya, perhiasannya yang bakal hilang. Wa zayyanat (“dan memakai pula perhiasannya.”) Maksudnya, ia indah dengan gundukan-gundukan tanah yang penuh dengan bunga yang elok, dengan berbagai macam bentuk dan warnanya. Wa dhanna aHluHaa (“Dan pemilik pemiliknya mengira.”) Yaitu, mereka yang menanam dan menancapkannya. annaHum qaadiruuna ‘alaiHaa (“bahwa mereka pasti menguasainya.”) Maksudnya, untuk memetik dan memanennya, maka seketika itu tiba-tiba petir atau angin kencang yang dingin membasahi daun-daunnya dan merusak buah-buahnya.

Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: ataaHaa amrunaa lailan au naHaaran faja’alnaaHaa hashiidan (“Tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang lalu Kami jadikan [tanaman-tanamannya] laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit.”) Maksudnya, kering setelah hijau subur. Ka allam yagna bil amsi (“Seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.”) maksudnya, seakan-akan belum pernah tumbuh dari waktu ke waktu.

Qatadah berkata: “Seakan-akan belum pernah tumbuh, yakni belum pernah dinikmati. Demikianlah sesuatu setelah hilangnya, seolah-olah tidak ada.

Hal itu seperti dalam hadits:
“Didatangkan orang yang paling nikmat kehidupannya di dunia, lalu dibenamkan ke dalam neraka (dibenamkan dengan kuat), lalu ditanyakan kepadanya: ‘Apakah kamu telah melihat kebaikan, sedikit saja? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan, sedikit saja?’ Maka dia menjawab: ‘Tidak.’ Dan didatangkan orang yang paling susah kehidupannya di dunia, lalu dibenamkan ke dalam kenikmatan surga dengan sangat, lalu ditanyakan kepadanya: ‘Apakah kamu mendapatkan kesusahan (siksaan), sedikit saja?’ Maka dia menjawab: ‘Tidak.’” (HR. Ibnu Majah: 4321-pentahqiq.)

Allah berfirman mengabarkan orang-orang yang binasa, yang artinya: “Lalu mereka mati bergelimpangan seolah-olah mereka tidak pernah berdiam di tempat itu.” (QS. Huud: 67-68)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: kadzaalika nufash-shilul aayaati (“Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda [kekuasaan Kami].”) maksudnya bukti-bukti dan dalil-dalil. Liqaumiy yatafakkaruun (“Kepada kaum yang berfikir”) sehingga mereka bisa mengambil pelajaran dari perumpamaan ini, yaitu tentang hilangnya dunia dengan cepat dari pemiliknya, tertipu mereka olehnya, penguasaan mereka dan larinya dunia itu dari mereka, karena memang pada dasarnya dunia itu lari dari orang yang mencarinya dan mencari orang yang lari darinya.

Allah Ta’ala telah membuat perumpamaan bagi dunia dengan tumbuhan-tumbuhan di bumi, dalam banyak ayat dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah berfirman dalam surat al-Kahfi yang artinya:
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagat air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuhan-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuhan-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 45)

Begitu juga dalam surat az-Zumar dan al-Hadid, Allah memberikan perumpamaan seperti itu, mengenai perumpamaan hidupan dunia.

Firman-Nya: wallaaHu yad’uu ilaa daaris salaami (“Allah menyeru [manusia] ke Darussalam [surge]…”) ketika Allah telah menyebutkan dunia dan kecepatan hilangnya, Allah menawarkan surga dan mengajak kepadanya, Allah memberinya nama “Daarus Salaam” (tempat tinggal yang penuh keselamatan). Maksudnya, selamat dari rintangan-rintangan, kekurangan-kekurangan dan musibah/bencana. Allah berfirman: wallaaHu yad’uu ilaa daaris salaami wa yaHdii may yasyaa-u ilaa shiraathim mustaqiim (“Allah menyeru [manusia] ke Darussalam [surga] dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus [Islam].”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 21-23

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 21-23“Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan Kami. Katakanlah: ‘Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu).’ Sesungguhnya para Malaikat Kami menuliskan tipu dayamu. (QS. 10:21) Allahlah yang menjadikanmu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dati segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata. (Mereka berkata): ‘Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’ (QS. 10:22) Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kedhaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kedhalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kedhalimanmu) itu hanyalah kenikmatan bidup duniawi, kemudian kepada Kamilah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 10:23)” (Yunus: 21-23)

Allah memberi kabar, bahwa sesungguhnya jika Allah memberikan rasa nikmat kepada manusia setelah bahaya menimpa mereka, seperti sejahtera setelah susah-payah, subur setelah kering, hujan setelah kemarau dan lain sebagainya.

Idzaa laHum makrun fii aayaatinaa (“Tiba-tiba mereka mempunyai tipu-daya dalam [Menentang] tanda-tanda kekuasaan Kami.”) Mujahid berkata: “Yaitu menertawakan dan mendustakan.” Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring duduk, atau berdiri…” (QS. Yunus: 12)

Diriwayatkan dalam kitab ash-Shahih, sesungguhnya Rasulullah saw. melakukan shalat shubuh bersama para sahabat (di Hudaibiyyah-Ed) setelah malamnya turun hujan. Ketika usai shalat, beliau menghadap para sahabat lalu bersabda: “Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan Rabb kalian tadi malam?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda: “Allah berfirman: ‘Saat pagi hari, sebagian hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barangsiapa berkata: ‘Kami-mendapat hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya,’ maka dia beriman kepada-Ku, kafir kepada bintang. Dan adapun yang berkata: ‘Kami diberi hujan oleh bintang ini dan bintang itu,’ maka dia kafir kepada-Ku, beriman kepada bintang.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Firman-Nya: qulillaaHu asra-‘u makran (“Katakanlah, Allah lebih cepat pembalasan-Nya [atas tipu daya itu]”) Maksudnya, sangat bertahap dan pelan-pelan, sehingga sebagian orang-orang yang durhaka menyangka bahwa dirinya tidak disiksa, padahal sebenarnya dia sedang berada dalam penangguhan, kemudian dia disiksa ketika sedang lalai. Malaikat juru-tulis yang mulia pun menulis segala sesuatu yang dikerjakannya, kemudian menyimpannya dan menyerahkannya kepada Dzat yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nampak. Maka Allah membalasnya, baik amal itu sepele maupun besar, bahkan (sekecil) bagian yang ada pada sebuah biji ataupun (setipis) kulit yang ada pada biji kurma.

Kemudian Allah Ta’ala memberi kabar, sesungguhnya Allah: Huwal ladzii yusarri-‘ukum fil barri wal bahri (“Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan.”) Maksudnya, Allah menjaga dan memeliharamu dengan penjagaan-Nya.

Hattaa idzaa kuntum fil fulki wa jaraina biHim biriihin thayyibatiw wa farihuu biHaa (“Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik dan mereka bergembira karenanya.”) Maksudnya, cepatnya perjalanan mereka bersama-sama dengan baik, kemudian pada saat itu tiba-tiba: jaa-atHaa (“Datanglah kepadanya.”) Maksudnya, kepada bahtera-bahtera itu. Riihun ‘aashifun (“Angin badai.”) Maksudnya, dengan kencang.

Wa jaa-a Humul mauju min kulli makaanin (“Dan datanglah gelombang dari segenap penjuru menimpanya.”) Maksudnya, lautan telah menggoncang mereka. Wa dhannuu annaHum uhiitha biHim (“Mereka yakin bahwa mereka terkepung [bahaya].”) maksudnya, mereka akan mati. Da’awullaaHa mukhlishiina laHuddiin (“Mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.”) Maksudnya, mereka tidak berdo’a kepada berhala dan tidak pula kepada patung, akan tetapi mereka mengkhususkan do’a dan permohonan kepada Allah.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, maka tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterimakasih.” (QS.Al-Israa’: 67)

Di sini Allah berfirman: Da’awullaaHa mukhlishiina laHuddiina la in anjaitanaa min HaadziHii lanakuunanna minasy syaakiriin (“Mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”) Maksudnya, kami tidak menyekutukan Engkau dengan seorang pun dan sungguh Kami benar-benar mengesakan Engkau dengan ibadah di sana. Sebagaimana kami mengesakan Engkau dengan do’a di sini.

Allah Ta’ala berfirman: falammaa anjaaHum (“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka.”) Maksudnya, dari bahaya itu. Idzaa Hum yabghuuna fil ardli bighairil haqqi (“Tiba-tiba mereka membuat kedhaliman di bumi tanpa [alasan] yang benar.”) Maksudnya, seolah-olah tidak pernah berdoa sama sekali.
Ka allam yad’unaa ilaa dlurrim massaHu (“Seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk [menghilangkan] bahaya yang telah menimpanya.”) (QS. Yunus :12)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: yaa ayyuHan naasu innamaa baghyukum ‘alaa anfusikum (“Hai manusia, sesungguhnya [bencana] kezhalinianmu akan menimpa dirimu sendiri.”) Maksudnya, yang merasakan bahaya dari kedhaliman ini hanyalah diri kalian sendiri dan tidak mengenai seseorang selain kalian, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Tidak ada suatu dosa pun yang Allah segerakan siksanya di dunia, bersamaan dengan disimpan untuk pelakunya (untuk disiksa) di akhirat, melainkan dosa kedhaliman dan pemutusan tali persaudaraan.” (HR Abu Dawud no. 4902)

Firman-Nya: mataa’al hayaatid dun-yaa (“[Hasil kedhaliman itu] hanyalah kenikmatan hidup di dunia.”) maksudnya untuk kalian kenikmatan dunia yang sedikit lagi hina. Tsumma ilainaa marji’ukum (“Kemudian kepada Kami lah kembalimu.”) Maksudnya, tempat kembali dan tempat berlindung kalian. Fa nunabbi-ukum (“Lalu Kami kabarkan kepadamu.”) Maksudnya, Kami mengabari kalian dengan semua amal kalian dan Kami balas amal-amal itu. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, hendaklah dia memuji Allah. Dan barangsiapa mendapati selain itu, maka janganlah dia menyesali kecuali karena dirinya sendiri.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 20

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 20“Dan mereka berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Rabbnya?’ Maka katakanlah: ‘Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah; sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu.’” (QS. Yunus: 20)

Maksudnya, mereka (orang-orang kafir) pendusta dan pembangkang berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad suatu tanda dari Rabbnya?” Yang mereka maksudkan adalah, sebagaimana Allah memberi kaum Tsamud seekor unta, atau agar Allah merubah gunung Shafa menjadi emas, atau Allah menghilangkan gunung Makkah dari mereka dan menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai di tempatnya dan hal lainnya, yang Allah mampu untuk menjadikannya. Akan tetapi Allah adalah Dzat yang Mahabijaksana dalam perbuatan-perbuatan-Nya dan perkataan-perkataan-Nya.

Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami) melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS. Al-Israa’: 59)

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya sunnah-Ku dalam makhluk ciptaan-Ku adalah, bahwa Aku akan menuruti apa yang mereka minta, jika mereka mau beriman, kalau tidak maka Kami segerakan mereka dengan siksa.”

Oleh karena itu, ketika Rasulullah disuruh memilih antara memberi mereka apa yang mereka minta jika mereka mau beriman, dan jika tidak, mereka disiksa dan antara menangguhkan mereka, maka Rasulullah memilih menangguhkan mereka, sebagaimana beliau berlaku murah hati dan sabar terhadap mereka berkali-kali.

Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman memberi petunjuk kepada Nabi-Nya untuk menjawab apa yang mereka pertanyakan; qul innamal ghaibu lillaaHi (“Maka katakanlah: ‘Sesungguhnya sesuatu yang ghaib itu hanyalah kepunyaan Allah.’”) Maksudnya, semua urusan adalah milik Allah dan Allah mengetahui akibat-akibat urusan itu.

Fantadhiruu innii ma’akum minal muntadhiriin (“Sebab itu tunggu [sajalah] olehmu, sesungguhnya aku bersamamu tennasuk orang-orang yang menunggu.”) Maksudnya, jika kalian tidak mau beriman kecuali jika kalian telah menyaksikan apa yang kalian minta, maka tunggulah hukum Allah mengenai diriku dan diri kalian.

Beginilah mereka, padahal mereka telah menyaksikan sebagian tanda-tanda kenabian beliau lebih besar dari apa yang mereka minta, ketika beliau menunjuk bulan di hadapan mereka, pada malam purnamanya, maka terbelahlah bulan itu menjadi dua, sebelah datang dari belakang gunung dan sebelah lagi datang dari depannya. Ini adalah lebih besar dari tanda-tanda bumi lainnya yang telah mereka minta, dari apa yang mereka belum minta. Seandainya Allah mengetahui bahwa mereka meminta itu untuk petunjuk dan penguat keimanan, niscaya Allah mengabulkannya. Akan tetapi Allah mengetahui bahwa sesungguhnya permintaan mereka itu hanyalah untuk menentang dan berkeras-kepala. Maka Allah biarkan mereka dalam hal yang membingungkan mereka dan Allah mengetahui, bahwa tidak akan beriman seorang pun mereka.

Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabb mu tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan.” (dan seterusnya). (QS. Yunus: 96-97)

Maka permintaan-permintaan seperti itu sedikit sekali akan dituruti, karena memang tidak ada faedahnya, sebab permintaan seperti itu hanya muncul atas kecongkakan dan kebencian mereka, karena mereka telah banyak melakukan kejahatan dan kerusakan. Maka dari itu Allah berfirman: Fantadhiruu innii ma’akum minal muntadhiriin (“Sebab itu tunggu [sajalah] olehmu, sesungguhnya aku bersamamu tennasuk orang-orang yang menunggu.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 18-19

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 18-19“Dan mereka beribadah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah: ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya, baik di langit dan tidak (pula) di bumi.’ Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu). (QS. 10:18) Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS. 10:19)” (Yunus: 18-19)

Allah mengingkari orang-orang musyrik yang (selain) beribadah kepada Allah, juga mereka beribadah kepada yang lain-Nya, mereka mengira bahwa ilah-ilah itu memberi syafa’at kepada mereka di sisi Allah, maka Allah Ta’ala mengabarkan, bahwa sesungguhnya ilah-ilah itu tidak memberi manfaat dan bahaya dan tidak pula memiliki sesuatu pun dan apa yang mereka sangka dari ilah-ilah itu, tidak akan terjadi sama sekali, maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: qul atunabbi-uunallaaHa bimaa laa ya’lamu fis samaawaati walaa fil ardli (“Katakanlah: ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya, baik di langit dan tidak pula di bumi?’”)

Ibnu Jarir berkata: “Artinya, apakah kalian akan memberitahu Allah dengan sesuatu yang tidak ada di langit dan di bumi?”

Kemudian Allah menyucikan diri-Nya yang mulia dari kemusyrikan dan kekufuran mereka, maka Allah berfirman: subhaanaHuu wa ta’aalaa ‘ammaa yusyrikuun (“Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).”)

Kemudian Allah mengabarkan, bahwa sesungguhnya kemusyrikan ini adalah hal yang baru pada manusia dan ada (terjadi) setelah sebelumnya tidak ada dan bahwa sesungguhnya manusia dulunya adalah berada pada satu agama, yaitu Islam.

Ibnu `Abbas berkata: “Antara Adam dan Nuh berjarak sepuluh abad, semuanya berada pada agama Islam, kemudian terjadi perpecahan di antara manusia dan diibadahilah berhala-berhala, sekutu-sekutu dan patung-patung, maka Allah mengutus beberapa Rasul dengan ayat-ayat-Nya, keterangan-keterangan-Nya, bukti-bukti-Nya yang pasti dan dalil-dalil-Nya yang nyata.

“Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula).” (QS. Al-Anfaal: 42)

Dan firman-Nya: wa lau laa kalimatun sabaqat mir rabbika (“Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulu,”) (dan ayat seterusnya).
Maksudnya, seandainya tidak ada ketetapan dari Allah Ta’ala bahwa Allah tidak akan menyiksa seseorang kecuali setelah ditegakkannya dalil kepadanya dan bahwasanya Allah telah menentukan ajal makhluk hingga batas yang ditentukan, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka dalam apa yang mereka perselisihkan, maka Allah akan membahagiakan orang-orang mukmin dan menyengsarakan orang-orang kafir.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 17

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 17“Maka siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya. Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.” (QS. Yunus: 17)

Allah berfirman, tidak ada seorang pun yang lebih dhalim, lebih sombong dan lebih berdosa; mimmanif taraa ‘alallaaHi kadziban (“Daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah,”) membuat kebohongan terhadap Allah dan mengaku bahwa Allah mengutusnya, padahal hal itu tidak benar, maka tidak ada seorang pun yang lebih besar dosanya dan lebih besar kedhalimannya daripada orang itu. Hal seperti ini, orang-orang bodoh pun mengetahuinya, maka apakah mungkin hal seperti itu tersamar di hadapan para Nabi?

Kalau ada orang mengatakan: “Ucapan ini benar atau bohong, Allah harus menegakkan dalil atas kebenarannya atau kebohongannya.” Ini adalah dalil yang paling jelas, lebih jelas dari matahari, karena sesungguhnya perbedaan antara Muhammad dan Musailamah al-Kadzdzab bagi orang yang menyaksikan keduanya adalah lebih jelas daripada perbedaan antara waktu dhuha dan tengah malam yang gelap-gulita. Bagi yang mengetahui moral, perbuatan dan ucapan masing-masing dari keduanya maka akan tahu secara jelas kebenaran Muhammad dan kebohongan Musailamah al-Kadzdzab, Sajjah dan al-Aswad al-‘Ansiy.

Hassan bin Tsabit berkata:
Seandainya ayat-ayat yang terang (mukjizat) tidak ada padanya
(Muhammad),
maka (dengan) penampilannya telah (pasti) mendatangkan kabar (bahwa dia adalah Nabi)

Adapun Musailamah, maka orang-orang yang mempunyai bashirah menyaksikannya, bahwa urusannya diketahui dan tidak diragukan lagi, ucapan-ucapannya adalah lemah lagi tidak fasih, perilakunya pun tidak baik bahkan buruk dan Qur’annya yang membuatnya abadi di neraka pada hari Kiamat, jauh berbeda antara firman Allah Ta’ala:
“Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur.” (hingga akhir ayat) (QS. Al-Baqarah: 255)

Dan di antara ucapan Musailamah [-mudah-mudahan Allah membuatnya jelek dan melaknatnya-]: “Hai kodok, betina anak dua kodok, bersihkanlah berapa banyak engkau membersihkan, bukan air yang kamu kotori, dan bukan orang minum yang kamu larang.”

Dan di antara ucapan Musailamah [-mudah-mudahan Allah membuatnya jelek dan melaknatnya-]:
“Sungguh Allah telah memberi nikmat kepada orang hamil, tiba-tiba dia melahirkan manusia yang berjalan, dari antara besar dan kecil.”

Dan ucapannya [-mudah-mudahan Allah membuatnya kekal di neraka jahannam-] dan sungguh telah dialaminya:
“Gajah, apa yang kamu ketahui tentang gajah, dia memiliki belalai yang panjang.”

Dan ucapannya -mudah-mudahan Allah menjauhkan rahmat-Nya darinya-:
“Demi perempuan-perempuan yang membuat adonan, demi perempuan-perempuan yang membuat roti, demi perempuan-perempuan yang menelan dan menyuapi suapan ihaalah dan samin, sesungguhnya orang-orang Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”

Dan lain sebagainya dari khurafat-khurafat dan rekaan-rekaan yang anak-anak kecil jijik untuk mengucapkannya, kecuali untuk mengejek dan mentertawakan, maka dari itu Allah memaksa dirinya, pada hari (pertempuran) abhadiqah (taman) yang membuatnya mati dan menyobek wibawanya. Teman-teman dan keluarganya pun melaknatnya. Mereka datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq untuk bertaubat dan masuk agama Allah dengan senang, maka Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah meminta mereka untuk membaca sebagian dari Qur’an Musailamah [-mudah-mudahan Allah melaknatnya-] kemudian mereka meminta agar beliau memaafkan mereka untuk tidak membacanya, maka beliau tolak, mereka harus membaca sesuatu dari Qur’an itu, agar orang-orang yang belum mendengarnya dapat mendengarnya mengetahui keutamaan hidayah dan ilmu yang ada pada mereka. Kemudian
mereka membacanya di hadapan beliau sebagian yang telah kami sebutkan tadi dan sejenisnya.

Ketika mereka telah selesai, Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepada mereka: “Celaka kalian! Di mana akal kalian? Demi Allah, ini adalah tidak keluar dari sumber yang sah dan benar.”

Para ulama menyebutkan, bahwa `Amr bin al-‘Ash adalah utusan kepada Musailamah, yang dulunya adalah teman Musailamah ketika zaman jahiliyyah, waktu itu `Amr belum masuk Islam, maka Musailamah berkata kepadanya: “Celaka engkau wahai `Amr, apa yang diturunkan kepada temanmu (maksudnya Rasulullah saw) dalam waktu dekat ini? Maka ‘Amr berkata: wal ‘ashri innal insaana lafii khusri.. (“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.”) (hingga akhir surat) (QS. Al-‘Ashr:1-2)

Maka Musailamah berfikir sesaat, lalu berkata: “Dan kepadaku telah turun yang seperti itu.” `Amr berkata: “Yang seperti apa itu?” Kemudian Musailamah mengucapkan: “Hai marmut, hai marmut, sesungguhnya kamu adalah kuping dan dada selebihmu adalah telapak kaki yang melobang.”

“Bagaimana pendapatmu hai `Amr?” Maka `Amr berkata kepadanya: “Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa aku adalah orang mengetahui bahwa sesungguhnya engkau berdusta.”

Jika ungkapan seperti ini keluar dari orang musyrik dalam kemusyrikannya, bahwa tidak tersamar baginya tentang keadaan Muhammad saw dan kejujurannya, dan keadaan Musailamah [-mudah-mudahan Allah melaknatnya dan mendustakannya-], maka bagaimana dengan orang-orang yang mempunyai bashirah dan kepintaran serta orang-orang yang mempunyai akal sehat lurus dan kecerdasan?

Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: ‘Telah diwahyukan kepadaku,’ padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya dan orang yang berkata: ‘Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.’” (QS. Al-An’aam: 93)

Allah berfirman dalam ayat yang mulia ini: faman adhlamu mimmanif taraa ‘alallaaHi kadziban au kadzdzaba bi-aayaatiHii innaHuu laa yuflihul mujrimuun (“Maka siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah? Sesungguhnya tiada lah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.”)

Begitu juga orang yang mendustakan kebenaran yang dibawa oleh para Rasul. Sesungguhnya telah tegaklah hujjah-hujjah itu atasnya, maka tidak ada seorang pun yang lebih dhalim darinya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 15-16

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 15-16“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: ‘Gantikanlah al-Qur’an yang lain daripada ini atau gantilah dia.’ Katakanlah: ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar.’ (Kiamat) (QS. 10:15) Katakanlah: `Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak akan membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?’ (QS. 10:16)” (Yunus: 15-16)

Allah mengabarkan tentang keresahan orang-orang kafir Quraisy yang mendustakan kebenaran dan berpaling darinya, sesungguhnya mereka jika Rasulullah kepada mereka, mereka berkata: i’ti biqur-aanin ghaira Haadzaa (“Datangkanlah olehmu al-Qur’an selain ini”) maksudnya kembalikanlah al-Qur’an ini dan datangkanlah kepada kami yang selainnya, atau gantilah ia dengan isi yang lain.

Allah berfirman kepada Nabi-Nya dan Rasul yang menyampaikan (risalah) dari Allah: qul maa yakuunu lii an ubaddilaHuu min tilqaa-ii nafsii (“Katakanlah: ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri.’”) maksudnya tidaklah seperti itu. Sesungguhnya aku hanyalah hamba yang diperintahkan dan Rasul yang (menyampaikan) risalah dari Allah.

In attabi’u illaa maa yuuhaa ilayya innii akhaafu in ‘ashaitu rabbii ‘adzaaba yaumin ‘adhiim (“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar [Kiamat].”)

Kemudian beliau bersabda seraya mendebat mereka tentang kebenaran kitab yang dibawanya kepada kepada mereka: qul lau syaa-allaaHu maa talautuHuu ‘alaikum walaa adraakum biHii (“Katakanlah: ‘Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak [pula] memberitahukannya kepadamu.’”) Maksudnya, sesungguhnya aku menyampaikannya kepadamu hanyalah dengan izin Allah, kehendak dan keinginan-Nya. Dan dalil bahwa sesungguhnya aku tidak mengucapkannya dari diriku sendiri, dan bahwa aku tidak mengada-ada adalah sesungguhnya kamu tidak mampu untuk menandingi dan bahwa kamu mengetahui kejujuranku dan amanahku semenjak aku dibesarkan di lingkunganmu, hingga Allah mengutusku, janganlah kamu memberikan penilaian buruk sedikit pun kepadaku, karena hal itu membuatku sangat sedih.

Oleh karena itu beliau berkata: faqad labits-tu fiikum ‘umuram min qabliHi afalaa ta’qiluun (“Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya, maka apakah kamu tidak memikirkan.”) Maksudnya, apakah kamu tidak mempunyai akal untuk membedakan antara kebenaran dan kebathilan?

Oleh karena ketika Heraklius Raja Romawi bertanya kepada Abu Sufyan dan kawan-kawannya, di antara pertanyaannya adalah tentang sifat Nabi saw. Heraklius berkata kepada Abu Sufyan: “Apakah kalian menuduhnya dengan kedustaan sebelum mengucapkan apa yang akan diucapkan?” Abu Sufyan menjawab: “Aku berkata: ‘Tidak!’” -Waktu itu Abu Sufyan adalah pemimpin orang-orang kafir dan pembesar orang-orang musyrik, meskipun demikian dia mengakui benaran. Dan keutamaan itu adalah yang dinyatakan musuh-.
Lalu Heraklius berkata kepada Abu Sufyan: “Aku telah mengetahui bahwa sesungguhnya dia tidak mengajak bohong kepada manusia kemudian pergi, lalu berbohong kepada Allah.”

Ja’far bin Abi Thalib pernah berkata kepada an-Najasyi raja Habasyah: “Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami ketahui kejujurannya, nasabnya dan amanahnya dan dia hidup bersama kami selama empat puluh tahun sebelum kenabian.”

Bersambung