Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 24-25

4 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 24-25“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (QS. 10: 24) Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS. 10:25)” (Yunus: 24-25)

Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan perumpamaan untuk kehidupan dunia dan perhiasannya, kecepatan habis dan hilangnya, diumpamakan dengan tumbuhan-tumbuhan yang Allah keluarkan dari bumi dengan adanya hujan yang diturunkan dari langit, berupa tanaman-tanaman dan buah-buahan yang berbeda-beda jenisnya dan tumbuhan-tumbuhan yang dimakan oleh binatang-binatang ternak, berupa rumput, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya.

hattaa idzaa akhadzatil ardlu zukhrufaHaa (“Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya.”) Maksudnya, perhiasannya yang bakal hilang. Wa zayyanat (“dan memakai pula perhiasannya.”) Maksudnya, ia indah dengan gundukan-gundukan tanah yang penuh dengan bunga yang elok, dengan berbagai macam bentuk dan warnanya. Wa dhanna aHluHaa (“Dan pemilik pemiliknya mengira.”) Yaitu, mereka yang menanam dan menancapkannya. annaHum qaadiruuna ‘alaiHaa (“bahwa mereka pasti menguasainya.”) Maksudnya, untuk memetik dan memanennya, maka seketika itu tiba-tiba petir atau angin kencang yang dingin membasahi daun-daunnya dan merusak buah-buahnya.

Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: ataaHaa amrunaa lailan au naHaaran faja’alnaaHaa hashiidan (“Tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang lalu Kami jadikan [tanaman-tanamannya] laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit.”) Maksudnya, kering setelah hijau subur. Ka allam yagna bil amsi (“Seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.”) maksudnya, seakan-akan belum pernah tumbuh dari waktu ke waktu.

Qatadah berkata: “Seakan-akan belum pernah tumbuh, yakni belum pernah dinikmati. Demikianlah sesuatu setelah hilangnya, seolah-olah tidak ada.

Hal itu seperti dalam hadits:
“Didatangkan orang yang paling nikmat kehidupannya di dunia, lalu dibenamkan ke dalam neraka (dibenamkan dengan kuat), lalu ditanyakan kepadanya: ‘Apakah kamu telah melihat kebaikan, sedikit saja? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan, sedikit saja?’ Maka dia menjawab: ‘Tidak.’ Dan didatangkan orang yang paling susah kehidupannya di dunia, lalu dibenamkan ke dalam kenikmatan surga dengan sangat, lalu ditanyakan kepadanya: ‘Apakah kamu mendapatkan kesusahan (siksaan), sedikit saja?’ Maka dia menjawab: ‘Tidak.’” (HR. Ibnu Majah: 4321-pentahqiq.)

Allah berfirman mengabarkan orang-orang yang binasa, yang artinya: “Lalu mereka mati bergelimpangan seolah-olah mereka tidak pernah berdiam di tempat itu.” (QS. Huud: 67-68)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: kadzaalika nufash-shilul aayaati (“Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda [kekuasaan Kami].”) maksudnya bukti-bukti dan dalil-dalil. Liqaumiy yatafakkaruun (“Kepada kaum yang berfikir”) sehingga mereka bisa mengambil pelajaran dari perumpamaan ini, yaitu tentang hilangnya dunia dengan cepat dari pemiliknya, tertipu mereka olehnya, penguasaan mereka dan larinya dunia itu dari mereka, karena memang pada dasarnya dunia itu lari dari orang yang mencarinya dan mencari orang yang lari darinya.

Allah Ta’ala telah membuat perumpamaan bagi dunia dengan tumbuhan-tumbuhan di bumi, dalam banyak ayat dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah berfirman dalam surat al-Kahfi yang artinya:
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagat air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuhan-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuhan-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 45)

Begitu juga dalam surat az-Zumar dan al-Hadid, Allah memberikan perumpamaan seperti itu, mengenai perumpamaan hidupan dunia.

Firman-Nya: wallaaHu yad’uu ilaa daaris salaami (“Allah menyeru [manusia] ke Darussalam [surge]…”) ketika Allah telah menyebutkan dunia dan kecepatan hilangnya, Allah menawarkan surga dan mengajak kepadanya, Allah memberinya nama “Daarus Salaam” (tempat tinggal yang penuh keselamatan). Maksudnya, selamat dari rintangan-rintangan, kekurangan-kekurangan dan musibah/bencana. Allah berfirman: wallaaHu yad’uu ilaa daaris salaami wa yaHdii may yasyaa-u ilaa shiraathim mustaqiim (“Allah menyeru [manusia] ke Darussalam [surga] dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus [Islam].”)

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: