Arsip | 01.05

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 53-54

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 53-54Dan mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah (adzab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: ‘Ya, demi Rabbku, sesungguhnya adzab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya).’ (QS. 10:53) Dan kalau setiap diri yang dhalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan adzab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. 10:54)” (Yunus: 53-54)

Allah berfirman, bahwasanya mereka akan mencari berita darimu (Muhammad): ahaqqun Huwa (“Benarkah [adzab yang dijanjikan] itu?”) Maksudnya, hari Kiamat dan kebangkitan dari kubur setelah mayat-mayat menjadi debu; qul ii wa rabbii innaHuu lahaqquw wa maa antum bimu’jiziin (“Katakanlah: ‘Ya, demi Rabbku, sesungguhnya adzab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput [daripadanya].’”) Maksudnya, keberadaanmu menjadi debu tidaklah membuat Allah tidak mampu (sulit) untuk mengembalikanmu, sebagaimana Allah menjadikanmu ada dari tidak ada, maka: “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Allah menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia.”) (QS. Yaasiin: 82)

Ayat ini (QS. Yunus: 53) tidak ada kesamaan dalam al-Qur’an kecuali pada dua ayat lainnya. Allah Ta’ala menyuruh Rasul-Nya untuk bersumpah dengan nama-Nya atas orang yang mengingkari hari Kiamat, dalam Surat Saba’: “’Dan orang-orang kafir berkata: ‘Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.’ Katakanlah: ‘Pasti datang, demi Rabbku sungguh ia akan mendatangi kalian.’”) (Saba’: 3)

Dan dalam Surat at-Taghaabun:
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghaabun: 7)

Kemudian Allah Ta’ala memberi kabar, bahwa sesungguhnya jika Kiamat telah datang, orang yang kafir lebih senang jika adzab Allah itu ditebus dengan emas sepenuh bumi; wa asarrun nadaamata lammaa ra-awul ‘adzaaba wa qudliya bainaHum bilqisthi (“Dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan adzab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil.”) Maksudnya, dengan haq. Wa Hum laa yudh-lamuun (“Sedang mereka tidak dianiaya.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 48

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 48-52“Mereka mengatakan: ‘Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika kamu orang-orang yang benar?’ (QS. 10:48) Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.’ Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. 10:49) Katankanlah: ‘Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?’ (QS. 10:50) Kemudian apakah setelah terjadinya (adzab itu), kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan? (QS. 10:51) Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang dhalim (musyrik) itu: ‘Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS. 10:52)” (Yunus: 48-52)

Allah berfirman, memberi kabar tentang kekufuran orang-orang musyrik, dalam permintaan mereka untuk disegerakannya siksa atas mereka, serta pertanyaan mereka tentang waktu siksaan itu sebelum ditentukannya, yang merupakan sesuatu yang tidak berfaedah untuk mereka. Maka dari itu Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada Rasul-Nya Muhammad untuk memberi jawaban kepada mereka, Allah berfirman:

Qul laa amliku linafsii dlarraw wa laa naf-‘an (“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dari tidak [pula] kemanfaatan kepada diriku….’”) Maksudnya, aku tidak berbicara melainkan apa yang telah diajarkan kepadaku dan aku tidak mampu atas sesuatu yang Allah sembunyikan, kecuali jika Allah telah memperlihatkannya kepadaku, aku adalah hamba-Nya dan utusan-Nya kepada kalian, tentang kedatangan hari kiamat dan bahwa hari ini hal itu pasti terjadi dan Allah tidak menunjuki waktunya kepadaku, akan tetapi: likulli ummatin ajal (“Tiap-tiap umat mempunyai ajal”) maksudnya tiap-tiap generasi memiliki masa dari umur yang telah ditentukan. Jika tiba ajal mereka; falaa yasta’khiruuna saa’ataw walaa yastaqdimuun (“Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak [pula] mendahulukan[nya].”)

Kemudian Allah menerangkan bahwa siksa Allah akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, firman-Nya: qul ara-aitum in ataakum ‘adzaabuHuu bayaatan au naHaaram maa dzaa yasta’jilu minHul mujrimuuna. Tsumma idzaa maa waqa’a aamantum biHii aal aana wa qad kuntum biHii tasta’jiluun (“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaan-Nya di waktu malam atau siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga, kemudian apakah setelah terjadinya [adzab] itu, kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayainya) padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?’”) Maksudnya, sesungguhnya mereka bila kedatangan siksa, mereka berkata, “Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar…” (QS. As-Sajdah: 12)

Tumma qiila lil ladziina dhalamuu dzuuquu ‘adzaabal khuldi (“Kemudian dikatakan kepada orang orang yang dhalim [musyrik] itu: ‘Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal.’”) Maksudnya, hal ini kelak dikatakan kepada mereka nanti pada hari Kiamat, sebagai celaan dan kecaman yang keras.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 46-47

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 46-47“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, (tentulah kamu akan melihatnya) atau Kami wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Kami jualah mereka kembali, dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan. Tiap-tiap umat mempunyai Rasul; maka apabila telah datang Rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” (QS. Yunus: 46-47)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya: wa immaa nuriyannaka ba’dlal ladzii na’iduHum (“Dan jika Kami memperlihatkan kepadamu sebagian dari [siksa] yang Kami ancamkan kepada mereka.”) maksudnya, Kami siksa/hukum mereka sewaktu kamu masih hidup, agar kamu merasa tenang. Au natawaffayannaka fa ilainaa marji-‘uHum (“Atau [jika] Kami wafatkan kamu [sebelum itu], maka kepada Kami jualah mereka kembali.”) maksudnya tempat kembali mereka, dan Allah adalah saksi atas perbuatan mereka setelah meninggalnya engkau.

Firman-Nya: wa likulli ummatir rasuulun fa idzaa jaa-a rasuuluHum (“Tiap-tiap umat mempunyai Rasul, maka apabila telah datang Rasul mereka.”) maksudnya hari kiamat; qudliya bainaHum bil qisthi (“diberi keputusan kepada mereka dengan adil”) Maka setiap umat di hadapkan kepada Allah di hadapan Rasul mereka dan buku catatan amal baik dan buruk mereka diletakkan sebagai saksi atas mereka. Dan para Malaikat yang menjaga mereka menjadi saksi juga, seperti juga suatu umat dan umat berikutnya. Umat mulia ini walaupun dalam penciptaannya adalah sebagai umat terakhir tetapi mereka adalah umat yang pertama di hari Kiamat yang diberikan keputusan dan diadili di antara mereka.

Sebagaimana sebuah riwayat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Rasulullah saw, sesungguhnya beliau bersabda: “Kami adalah generasi yang terakhir, tetapi yang pertama di hari Kiamat Yang diadili sebelum makhluk-makhluk lainnya.”

Maka umat ini mendapat giliran pertama karena kemuliaan Rasulnya, shalawatullaH wa Salaamuhu `alaiH (mudah-mudahan Allah menganugerahkan shalawat dan salam-Nya kepada beliau) terus-menerus hingga hari Kiamat.
Makna shalawat Allah kepada Nabi ialah, pujian atau sanjungan Allah kepada bellau di hadapan Para Malaikat-Nya. Sedangkan shalawat Malaikat dan orang-orang mukmin kepada beliau ialah, memohon yang demikian kepada Allah untuk beliau. Yang dimaksud adalah meminta ziyadah/tambahan, bukan sekedar shalawat (pujian), karena beliau memang telah terpuji di sisi Allah

Demikian Pula do’a: “Ya Allah, berilah barakah atas Muhammad.” Maksudnya adalah, meminta ziyadah kebaikan untuk beliau. Adapun barakah Allah kepada selain Nabi ialah, rahmat Allah kepada mereka. (Disadur dari buku Sifat Shalawat dan salam kepada Nabi, oleh Ust. `Abdul Hakim bin Amir bin `Abdat)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 45

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 45“Dan (ingatlah) akan hari yang (di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia), melainkan hanya sesaat saja di siang hari, di waktu itu mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. Yunus: 45)

Allah berfirman, mengingatkan manusia tentang datangnya hari Kiamat dan dibangkitkannya mereka dari kuburan-kuburan mereka menuju padang Mahsyar. Wa yauma yahsyuruHum (“Dan [ingatlah] akan hari [yang waktu itu] Allah mengumpulkan mereka…”). Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Naazi’aat: 46)

Ini semua adalah dalil atas pendeknya kehidupan dunia disbanding dengan kehidupan akhirat, sebagaimana firman-Nya yang artinya:
“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. Allah berman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mu’minuun: 112-114)

Firman-Nya: fata’aarafuuna bainaHum (“Mereka saling berkenalan.”) Maksudnya, anak-anak mengenal bapak-bapak dan sanak-kerabat saling mengenal satu dengan yang lainnya, layaknya mereka di dunia, akan tetapi masing-masing disibukkan dengan dirinya sendiri.

Dan firman-Nya: qad khasiral ladziina kadzdzabuu biliqaa-illaaHi wamaa kaanuu muHtadiin (“Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.”) Adalah seperti firman-Nya yang artinya: “Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Mursalaat: 15). Karena mereka membuat rugi diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari Kiamat. Ingatlah, itulah kerugian yang nyata dan tidak ada kerugian yang lebih besar dari kerugian orang yang dipisahkan antara dia dan kekasihnya pada hari duka cita dan penyesalan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 41-44

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 41-44“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: ‘Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diii terhadap apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.’ (QS. 10:4 1) Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar, walaupun mereka tidak mengerti. (QS. 10:42) Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah kamu dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan. (QS. 10:43) Sesungguhnya Allah tidak berbuat dhalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dhalim kepada diri mereka sendiri. (QS. 10:44)” (Yunus: 41-44)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad saw. “Jika orang musyrik mendustakanmu, maka berlepas dirilah dari mereka dan amal mereka.” fa qullii ‘amalii wa lakum ‘amalukum (“Maka katakanlah: ‘Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu.’”) Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan beribadah kepada apa yang kamu ibadahi…”) (QS. Al-Kaafiruun: 1-2)

Ibrahim dan pengikut-pengikutnya pun berkata kepada kaumnya yang musyrikin: “Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah….” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Firman-Nya: wa min Hum may yastami’u ilaika (“Dan di antara mereka ada yang mendengarkanmu.”) Maksudnya, mereka mendengarkan perkataanmu yang baik, al-Qur’an yang agung, hadits-hadits yang shahih, fashih, yang bermanfaat bagi hati, agama dan badan. Dan di sini sudah ada kecukupan yang agung/besar. Akan tetapi hat itu bukanlah urusanmu dan juga bukan urusan mereka, karena sesungguhnya kamu tidak mampu untuk membuat orang yang tuli menjadi mendengar, begitu juga untuk memberi petunjuk kepada mereka, kecuali jika Allah berkendak.

Wa min Hum may yandhuru ilaika (“Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu.”) Maksudnya, mereka melihat kepadamu dan kepada apa yang Allah berikan kepadamu, berupa ketenangan, perilaku yang baik dan akhlak yang mulia dan juga berupa bukti yang jelas atas kenabianmu, untuk orang-orang yang mempunyai pandangan dan akal, akan tetapi mereka memandang sebagaimana yang lainnya memandang, mereka tidak mendapatkan petunjuk sama sekali seperti yang telah didapatkan oleh yang lainnya. Akan tetapi orang-orang mukmin memandangmu dengan mata penghormatan dan orang-orang kafir memandangmu dengan mata penghinaan.
“Dan apabila mereka melihatmu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikanmu sebagai ejekan…” (QS. Al-Furqaan: 41)

Kemudian Allah Ta’ala memberi kabar, bahwa sesungguhnya Allah tidak mendhalimi seorang pun, meskipun Allah telah memberi petunjuk kepada orang yang diberi petunjuk karenanya (Muhammad), menjadikan penglihatan kepada orang yang buta karenanya, membuka mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, hati-hati yang lalai dan menyesatkan banyak orang karenanya, maka Allahlah Hakim yang mengatur dalam kerajaan-Nya, dengan kehendak-Nya, Allah tidak ditanya tentang apa yang Allah perbuat, bahkan merekalah yang ditanya, karena ilmu-Nya, hikmah dan keadilan-Nya.

Karena itu Allah berfirman: innallaaHa laa yadhlimun naasa syai-aw wa laakinnan naasa anfusaHum yadhlimuun (“Sesungguhnya Allah tidak berbuat dhalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dhalim kepada diri mereka sendiri.”)

Di dalam hadits dari Abu Dzar dari Nabi saw. apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya:
“Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kedhaliman atas diri-Ku. Aku menjadikannya haram di antara kamu, maka janganlah kamu saling mendhalimi, [-hingga akhir perkataan-Nya-] hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal-amalmu, Aku hitung untukmu, kemudian Aku membalasnya. Maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia menyesali kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 37-40

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 37-40“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. (QS. 10:37) Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.’ (QS. 10:38) Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang dhalim itu. (QS. 10:39) Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 10:40)” (Yunus: 37-40)

Ini merupakan pejelasan untuk kemukjizatan al-Qur’an, bahwa sesungguhnya manusia tidak mampu mendatangkan ayat-ayat yang serupa dengannya, sepuluh surat, bahkan satu surat pun. Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: wa maa kaana Haadzal qur-aanu ay yuftaraa min duunillaaHi (“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah.”) Maksudnya, yang seperti al-Qur’an ini, tidak ada kecuali dari sisi Allah dan ini tidak menyerupai perkataan manusia.

Wa laakin tashdiiqal ladzii baina yadaiHi (“Akan tetapi [al-Qur’an itu] membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.”) Maksudnya, kitab-kitab terdahulu, batu ujian terhadap itu dan penjelasan terhadap apa yang telah terjadi pada kitab-kitab berupa tahrif (penyelewengan), ta’wil dan perubahan.

Firman-Nya: wa tafshiilal kitaabi laa raiba fiiHi mir rabbil ‘aalamiin (“Dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya [turunkan] dari Rabb semesta alam.”) Maksudnya, keterangan hukum-hukum, halal dan haram, (diterangkan) dengan keterangan yang memuaskan, mencukupi, nyata dan tidak ada keraguan di dalamnya, diturunkan dari Rabb semesta alam.

Firman-Nya: am yaquuluunaf taraaHu qul fa’tuu bisuuratim mitsliHii wad’uu manis tatha’tum min duunillaaHi in kuntum shaadiqiin (“Atau [patutkah] mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya,’ Katakanlah: ‘[kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”)

Maksudnya, kalian mendakwakan, mendustakan dan meragukan, bahwa sesungguhnya al-Qur’an ini dari sisi Allah dan kalian berkata dengan bohong dan dusta: “Bahwa al-Qur’an ini adalah karangan Muhammad,” maka Muhammad adalah manusia sepertimu dan dia telah membawa al-Qur’an yang kamu tuduhkan itu; maka buatlah olehmu satu surat yang menyerupainya! Maksudnya, jenis al-Qur’an ini dan mintalah pertolongan kepada siapa saja yang kamu mampu, baik dari manusia ataupun dari kalangan jin.

Ini adalah peringkat yang ke tiga dalam hal tantangan, sesungguhnya Allah Ta’ala menantang dan mengajak mereka, jika mereka benar dalam dakwaannya, bahwa al-Qur’an itu adalah buatan Muhammad, hendaklah mereka mendebatnya, dengan hal yang sebanding dengan apa yang dia bawa itu hendaklah mereka meminta bantuan kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan Allah memberi kabar, bahwa sesungguhnya mereka tidak akan mampu dan tidak akan menemukan jalan untuk itu.

Maka Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, `Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.’” (QS. Al-Israa’: 88)

Kemudian Allah meringankan untuk mereka hingga sepuluh surat dari al-Qur’an, maka Allah berfirman di awal surat Huud yang artinya:
“Bahkan mereka mengatakan: ‘Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu.’ Katakanlah: ‘[Kalau demikian], maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup [memanggilanya] selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Huud: 13)

Kemudian Allah menguranginya lagi hingga satu surat saja, maka Allah berfirman dalam surat ini: am yaquuluunaf taraaHu qul fa’tuu bisuuratim mitsliHii wad’uu manis tatha’tum min duunillaaHi in kuntum shaadiqiin (“Atau [patutkah] mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya,’ Katakanlah: ‘[kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”)

Begitu juga dalam surat al-Baqarah, -yang mana surat itu termasuk surat Madaniyyah-, yang
menantang mereka dengan satu surat darinya. Dan Allah memberi kabar bahwa sesungguhnya mereka tidak akan bisa melakukan itu selarna-lamanya, Allah berfirman, “Maka jika kamu tidakdapat membuat(nya) danpasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka,” (QS. Al-Bagarah: 24)

Inilah al-Qur’an, padahal kefashihan adalah ciri khas mereka, dan mu’allaqat (sya’ir-sya’ir pilihan yang digantungkan) mereka adalah contoh yang paling kongkrit dalam hal ini, akan tetapi mereka didatangkan sesuatu dari Allah yang belum pernah dikatakan oleh seorang pun, maka itu berimanlah orang yang beriman dari mereka, karena telah mengetahui balaghahnya, manisnya, kebesarannya, keindahannya, faedahnya dan bagusnya.

Mereka adalah orang yang paling tahu, paling faham, paling mudah untuk mengikuti dan paling tunduk dalam masalah ini. Sebagaimana tukang-tukang sihir dengan ilmu mereka dalam masalah sihir mengetahui, bahwa yang dilakukan Musa as. tidak akan keluar kecuali dari orang yang diberi kekuatan, ditunjuki dan diutus dari Allah dan bahwa sesungguhnya ini tidak dapat dilakukan oleh manusia kecuali dengan izin Allah. Begitu juga `Isa as. diutus pada zaman kejayaan ilmu kedokteran dan pengobatan terhadap orang-orang sakit, waktu itu beliau menyembuhkan orang buta, orang berpenyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Hal seperti ini tidak dapat dilakukan dengan pengobatan dan obat-obatan, maka sebagian mereka mengetahui bahwa sesungguhnya dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari itu telah ada riwayat dalam kitab ash-Shahih dari Rasulullah saw. sesungguhnya beliau bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun dari para Nabi melainkan telah diberi tanda-tanda, yang manusia telah mempercayainya. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu, yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap agar aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya.” (Muttafaq `alaiH)

Firman-Nya: bal kadzdzabuu bimaa lam yuhiithuu bi’ilmiHii wa lammaa ya’tiHim ta’wiiluHu (“Bahkan sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.”) Allah berfirman, bahkan mereka mendustakan al-Qur’an, tanpa memahami dan mengetahuinya.

Wa lamma ta’tiHim ta’wiiluHu (“Padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.”) Maksudnya; mereka belum mendapatkan petunjuk dan agama yang benar darinya, sampai mereka mendustakannya, secara bodoh dan tolol.

Kadzaalika kadzdzabal ladziina min qabliHim (“Demikianlah orang orang yang sebelum mereka telah mendustakan [Rasul].”) Maksudnya, umat-umat terdahulu. Fandhur kaifa kaana ‘aaqibatudh dhaalimiin (“Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang dhalim itu.”) Maksudnya, maka perhatikanlah bagaimana Kami membinasakan mereka karena kedustaan mereka terhadap para Rasul Kami secara dhalim, sombong, kafir, menentang dan bodoh. Maka berhati-hatilah wahai para pendusta, bahwa kalian akan ditimpa apa yang telah menimpa mereka.

Firman-Nya: wa min Hum may yu’minu biHi (“Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an…”) Maksudnya, di antara mereka yang kamu diutus kepada mereka, hai Muhammad, ada yang beriman dengan al-Qur’an ini, dia mengikutimu dan mengambil manfaat dengan apa yang kamu diutus dengannya.

Wa min Hum mal laa yu’minu biHi (“Dan di antaranya ada [pula] orang-orang yang tidak beriman kepadanya.”) Bahkan dia mati dalam keadaan seperti itu dan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu Pula.

Wa rabbuka a’lamu bil mufsidiin (“Dan Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.”) Maksudnya, Allah lebih mengetahui siapa yang berhak mendapat petunjuk, maka Allah memberinya petunjuk. Dan siapa yang berhak mendapatkan kesesatan, maka Allah menyesatkannya. Allahlah yang Mahaadil yang tidak berbuat dhalim, akan tetapi Allah memberi masing-masing sesuai haknya, Mahasuci Allah Ta’ala Yang Mahatinggi dan Mahabersih, tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 34-36

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 34-36“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?’ Katakanlah: ‘Allahlah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada beribadah kepada selain Allah).’ (QS.10:34) Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran.’ Katakanlah: ‘Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran.’ Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk. Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS. 10:35) Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 10:36)” (Yunus: 34-36)

Ini merupakan pembatalan terhadap pengakuan mereka dalam hal penyekutuan mereka terhadap Allah dan (terhadap) peribadahan mereka kepada berhala-berhala dan sekutu-sekutu.

Qul Hal min syurakaa-ikum may yabda-ul khalqa tsumma yu’iiduHu (“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk? Kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali.’”) Maksudnya, siapakah yang memulai penciptaan langit dan bumi, kemudian menghidupkan makhluk-makhluk di dalamnya, membedakan bentuk langit dan bumi dan menggantinya jika terjadi kerusakan di dalamnya, kemudian mengembalikan suatu makhluk berupa makhluk baru?

qulillaaHu (“Katakanlah: ‘Allah.’”) Hanya Allahlah yang melakukan itu semuanya sendiri, hanya Dia saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Fa annaa tu’fakuun (“Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [kepada penyembahan kepada yang selain Allah].”) Maksudnya, bagaimanakah kamu dipalingkan dari jalan yang benar kepada jalan yang bathil.

Qul Hal min syurakaa-ikum may yaHdii ilal haqqi qulillaaHu yaHdii lilhaqqi (“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran. Katakanlah: ‘Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran.’”) Maksudnya, kamu mengetahui bahwa sesungguhnya sekutu-sekutumu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang tersesat. Akan tetapi yang memberi petunjuk kepada orang bingung, orang tersesat dan yang membolak-balikkan hati dari kesesatan kepada an adalah Allah, yang tiada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan hanya Dia.

Afa may yaHdii ilal haqqi ahaqqu ay yuttaba’a ammal laa yaHiddii illaa ay yuHdaa (“Maka apakah orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali [bila] diberi pentnjuk?”) Maksudnya, manakah yang diikuti, hamba yang menunjuki kepada kebenaran dan melihat setelah buta, ataukah yang tidak menunjuki kepada sesuatu pun kecuali ditunjuki karena kebutaan dan ketuliannya?

Sebagaimana Allah berfirman tentang Ibrahim, bahwa sesungguhnya dia berkata: “Wahai bapakku mengapa kamu beribadah kepada sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun.” (QS. Maryam: 42)
Dan dia berkata kepada kaumnya: “Apakah kamu beribadah kepada patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu?” (QS. Ash-Shaaffaat: 95-96). Dan beberapa ayat lainnya.

Firman-Nya: famaa lakum kaifa tahkumuun (“Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”) Maksudnya, bagaimanakah kamu berfikir dengan akalmu? Bagaimanakah kamu menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya, kamu berpaling dari yang ini ke yang itu dan kamu beribadah kepada ini dan itu (kepada Allah, juga kepada berhala-berhala) kenapa kamu tidak mengesakan Rabb Yang Mahaagung, Yang Mahamengetahui, Yang Mahamenghakimi, Yang Mahamemberi petunjuk dari kesesatan, dengan beribadah, mengikhlaskan do’a dan bertaubat hanya kepada-Nya saja.

Kemudian Allah Ta’ala menerangkan, bahwa sesungguhnya mereka menganut agama mereka ini bukan karena dalil dan bukti, akan tetapi hanyalah sangkaan saja, maksudnya dugaan dan khayalan. Maka dari itu tidak ada manfaat sama sekali bagi mereka.

innallaaHa ‘aliimum bimaa yaf’aluun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan.”) Ini merupakan ancaman yang keras untuk mereka. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi kabar bahwa sesungguhnya Allah akan membalas mereka dengan balasan yang setimpal atas semua itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 31-33

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 31-33“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan.’ Maka mereka pasti menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ (QS. 10:31) Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabbmu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran) (QS. 10:32) Demikianlah, telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman. (QS. 10:33)” (Yunus: 31-33)

Allah berhujjah atas orang-orang musyrik dengan pengakuan mereka terhadap Wahdaniyyah (keesaan-Nya) dan Rububiyyah-Nya atas Wahdaniyyah ketuhanan-Nya, maka Allah Ta’ala berfirman: qul may yarzuqukum minas samaa-i wal ardli (“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi?’”) Maksudnya, siapakah yang menurunkan air hujan dari langit, hingga menyirami bumi dengan kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya, maka keluarlah darinya: “Eiji-bijian, anggur, dan sayur sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun yang lebat dan buah-buahan serta rumput-rumput.” (QS. `Abasa: 28-3 1). Apakah ada Ilah selain Allah? Maka mereka akan menjawab: “Allah saja.”

Firman-Nya: ammay yamlikus sam’a wal abshaara (“Atau siapakah yang berkuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan?”) maksudnya yang memberimu kekuatan pendengaran dan kekuatan penglihatan ini. Jika Allah berkehendak niscaya menghilangkannya dan mencabutnya darimu.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Katakanlah: ‘Allah lah yang menciptakanmu dan menjadikan bagimu pendengaran dan penglihatan….” (QS. Al-Mulk: 23)

Firman-Nya: wa may yukhrijul hayya minal mayyiti wa yukhrijal mauta minal hayyi (“Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”) Maksudnya, dengan kekuasaan-Nya yang agung dan pemberian-Nya yang luas. Pembicaraan tentang perbedaan pendapat dalam masalah tersebut telah lewat. Dan ayat ini adalah umum untuk hal itu.

Firman-Nya: wa may yudabbirul amra (“Dan siapakah yang mengatur segala urusan?”) maksudnya siapakah Dzat yang di tangan-Nyalah kekuasaan atas segala sesuatu? Dan Dia melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi (adzab)-Nya, Dialah Yang mengatur dan Hakim yang tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya. Maka semua kerajaan adalah milik-Nya, baik yang di atas maupun yang di bawah dan juga apa yang ada di antara keduanya, dari Malaikat, manusia, jin, semuanya butuh kepada-Nya, sebagai hamba-Nya dan tunduk di hadapan-Nya.

fasayaquuluunallaaH (“Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’”) Maksudnya, mereka mengetahui hal itu dan mengakuinya. Faqul afalaa tattaquun (“Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]?’”) Maksudnya, apakah kamu tidak takut kepada-Nya, jika kamu menyekutukan-Nya dalam beribadah kepada-Nya dan hanya berdasarkan pendapatmu dan kebodohanmu.

Firman-Nya: fadzaalikumullaaHu rabbukumul haqqu (“Maka [Dzat yang demikian] itulah Allah, Rabbmu yang sebenarnya…”). Maksudnya, maka inilah yang kamu akui bahwa sesungguhnya Dialah yang melakukan itu semua, Dialah Rabb dan Ilah kalian yang sebenarnya, yang berhak untuk diesakan dalam peribadahan. Famaa dzaa ba’dal haqqi illadl-dlalaal (“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, selain Allah adalah bathil,”) tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Fa annaa tushrafuun (“Maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan [dari kebenaran]?”) maksudnya bagaimana kamu dapat dipalingkan dari beribadah kepada-Nya lalu beribadah kepada selain-Nya, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb yang menciptakan segala sesuatu dan mengaturnya.

Firman-Nya: kadzaalika haqqat kalimatu rabbika ‘alal ladziina fasaquu (“Demikianlah telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik…”) sebagaimana halnya orang-orang musyrik berbuat kufur dan mereka terus-menerus dalam kemusyrikan dan menyekutukan Allah dalam ibadah mereka, padahal mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allahlah Dzat Yang menciptakan, Yang memberi rizki, Yang mengatur dalam kerajaan-Nya seorang diri (dan juga) Yang mengutus para Rasul-Nya untuk mentauhidkan-Nya. Maka dari itu telah nyatalah kalimat Allah atas mereka, maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang celaka, di antara penghuni-penghuni neraka.

MakaSebagaimana firman-Nya yang artinya: “Mereka menjawab: ‘Benar [telah datang]’ tetapi pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir.’” (Az-Zumar. 71)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 28-30

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 28-30“[Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semua, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan [Allah]: ‘Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu.’ Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu itu: ‘Kamu sekali-sekali tidak pernah beribadah kepada kami. (QS. 10:28) Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang peribadatan kamu (kepada kami).’ (QS. 10:29) Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan. (QS. 10: 30)” (Yunus: 28-30)

Firman Allah: wa yauma nahsyuruHum (“[Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semua.”) Maksudnya, penduduk bumi seluruhnya dari golongan jin dan manusia yang baik dan yang jahat, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan satu pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Tsumma naquulu lilladiina asy-rakuu (“Kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah…”). Maksudnya, tetaplah kamu tempatmu dan untuk mereka ada tempat tersendiri yang berbeda dengan tempat orang-orang mukmin, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan (dikatakan kepada orang orang kafir): ‘Berpisahlah kamu dari orang-orang mukmin pada hari ini hai orang-orang yang berbuat jahat.” (QS. Yaasiin: 59)

Hal ini terjadi ketika Rabb Tabaraka wa Ta’ala datang untuk memutuskan hukuman. Dan Allah berfirman dalam ayat yang mulia ini, member kabar tentang apa yang diperintahkan kepada orang-orang musyrik dan patung-patung mereka pada hari Kiamat.
Makaanakum antum wa syurakaa-ukum fazayyalnaa bainaHum.. (“Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu,’ lalu Kami pisahkan mereka.”)
Sesungguhnya sekutu-sekutu itu mengingkari peribadahan mereka dan berlepas diri dari mereka, sebagaimana firman-Nya: “Sekali-sekali tidak, kelak mereka [ilah-ilah] itu akan mengingkari peribadahan [pengikut-pengikutnya] terhadapnya.” (QS. Maryam: 82)

Firman-Nya dalam ayat ini memberi kabar tentang ucapan ilah-ilah itu, hal yang mereka sanggah terhadap penyembah-penyembahnya ketika mereka mengaku menyembahnya. Fa kafaa billaaHi syahiidam bainanaa wa bainakum (“Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu.”) Maksudnya, kami tidak merasa dan tidak mengetahui adanya peribadahan, akan tetapi kamu beribadah kepada kami, sedangkan kami tidak tahu menahu denganmu dan Allah adalah saksi antara kami dan kamu, kami tidak mengajakmu untuk beribadah kepada kami, kami tidak pula menyuruhmu dan kami pun tidak rela untuk itu.

Disinilah celaan yang besar bagi kaum musyrikin yang beribadah kepada Allah beserta ilah yang lainnya, berupa sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak ada manfaatnya sama sekali dan tidak memerintahkan mereka, tidak ridha dan tidak butuh untuk itu semua, bahkan mereka membebaskan dirinya di saat penyembah-penyembahnya membutuhkannya.

Mereka telah meninggalkan ibadah kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang berdiri sendiri, Yang Mahamendengar, Yang Mahamelihat, Yang Mahakuasa dan Yang Mahamengetahui segala sesuatu. Allah telah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Kitab-Nya seraya memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan beribadah kepada yang lain-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan): `Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah tbaghut itu.’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.” (An-Nahl: 36)

Orang-orang musyrik itu bermacam-macam dan banyak kelompoknya. Allah telah menyebutkannya dalam Kitab-Nya, telah menerangkan perilaku dan ucapan mereka dan Allah telah membantah pemahaman mereka dengan sebaik-baik bantahan.

Firman Allah Ta’ala: Hunaalika tabluu kullu nafsim maa aslafat (“Di tempat itu [padang mahsyar] tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakan dahulu.”) Maksudnya, di tempat hisab pada hari Kiamat, tiap-tiap diri dan dia mengetahui apa yang telah dikerjakan dahulu, dari kebaikan dan kejahatan, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Pada hari dinampakkan segala rahasia.” (QS. Ath-Thaariq: 9)

Firman Allah Ta’ala: wa rudduu ilallaaHi maulaa Humul haqqi (“Dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya.”) Maksudnya, semua urusan dikembalikan kepada Allah, Hakim Yang Adil, mengadili semua urusan dan memasukkan ahli surga ke surga dan ahli neraka ke neraka.

Wa dlalla ‘anHum (“Dan lenyaplah dari mereka.”) Maksudnya, hilang dari orang-orang musyrik itu. Maa kaanuu yaftaruun (“Apa yang mereka ada-adakan”) maksudnya apa yang dahulu mereka ibadahi selain Allah karena mengada-ada.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 104-107

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 104-107“Katakanlah: ‘Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak beribadah kepada apa yang kamu ibadahi selain Allah, tetapi aku beribadah kepada Allah yang akan mematikanmu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman (QS. 10:104) dan (aku telah diperintah): ‘Hadapkanlah mukamu kepada agama yang tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. 10:105) Dan janganlah kamu beribadah kepada apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu jika begitu termasuk orang-orang yang dhalim.’ 10:106) Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Allah memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya antara hamba-hamba-Nya dan Allahlah yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 10:107)” (Yunus: 104-107)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya: “Katakanlah, wahai Muhammad: ‘Hai manusia, jika kamu ragu dalam kebenaran apa yang aku bawa kepadamu, yaitu agama yang lurus, yang Allah telah wahyukan kepadaku, maka tidak akan beribadah kepada ilah-ilah yang kamu ibadahi selain Allah, akan tetapi aku hanya beribadah kepada Allah saja, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Allahlah yang mematikanmu sebagaimana Allah menciptakanmu dan kepada-Nya kamu dikembalikan. Seandainya ilah-ilah yang kamu panggil selain Allah adalah benar, maka aku tidak akan beribadah kepadanya. Panggillah mereka agar mereka menyakitiku, maka sesungguhnya mereka tidak dapat memberi bahaya dan tidak dapat memberi manfaat, akan tetapi yang memiliki bahaya dan manfaat adalah hanya Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya dan aku diperintah agar aku termasuk orang-orang mukmin.”

Firman-Nya: wa an aqim wajHaka lid diini haniifan (“Dan [aku telah diperintahkan]: ‘Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas…’”) Maksudnya, murnikanlah ibadah hanya kepada Allah saja, secara hanif, maksudnya jauh dari kemusyrikan. Untuk itu Allah berfirman: wa laa takuunanna minal musyrikiin (“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik.”)
Dan ayat ini diathafkan (disambungkan/dihubungkan) kepada firman-Nya: wa umirtu an akuuna minl mu’miniin (“Dan aku telah diperintahkan agar termasuk orang yang beriman.”)

Sedangkan firman-Nya: wa iy yamsaskallaaHu bidlurrin (“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu,”) adalah sebagai penjelasan, karena sesungguhnya kebaikan, keburukan, manfaat dan bahaya hanyalah milik Allah Ta’ala saja, tidak ada seorang pun menyekutui-Nya dalam yang demikian, maka hanya Allah sajalah yang berhak diibadahi tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dan firman-Nya: wa Huwal ghafuurur rahiim (“Dan Allahlah yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Maksudnya, untuk orang yang bertaubat kepada-Nya walau dari dosa apa saja, hingga dari syirik sekalipun, maka Allah akan menerima taubat itu.
bersambung