Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 28-30

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 28-30“[Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semua, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan [Allah]: ‘Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu.’ Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu itu: ‘Kamu sekali-sekali tidak pernah beribadah kepada kami. (QS. 10:28) Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang peribadatan kamu (kepada kami).’ (QS. 10:29) Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan. (QS. 10: 30)” (Yunus: 28-30)

Firman Allah: wa yauma nahsyuruHum (“[Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semua.”) Maksudnya, penduduk bumi seluruhnya dari golongan jin dan manusia yang baik dan yang jahat, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan satu pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Tsumma naquulu lilladiina asy-rakuu (“Kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah…”). Maksudnya, tetaplah kamu tempatmu dan untuk mereka ada tempat tersendiri yang berbeda dengan tempat orang-orang mukmin, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan (dikatakan kepada orang orang kafir): ‘Berpisahlah kamu dari orang-orang mukmin pada hari ini hai orang-orang yang berbuat jahat.” (QS. Yaasiin: 59)

Hal ini terjadi ketika Rabb Tabaraka wa Ta’ala datang untuk memutuskan hukuman. Dan Allah berfirman dalam ayat yang mulia ini, member kabar tentang apa yang diperintahkan kepada orang-orang musyrik dan patung-patung mereka pada hari Kiamat.
Makaanakum antum wa syurakaa-ukum fazayyalnaa bainaHum.. (“Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu,’ lalu Kami pisahkan mereka.”)
Sesungguhnya sekutu-sekutu itu mengingkari peribadahan mereka dan berlepas diri dari mereka, sebagaimana firman-Nya: “Sekali-sekali tidak, kelak mereka [ilah-ilah] itu akan mengingkari peribadahan [pengikut-pengikutnya] terhadapnya.” (QS. Maryam: 82)

Firman-Nya dalam ayat ini memberi kabar tentang ucapan ilah-ilah itu, hal yang mereka sanggah terhadap penyembah-penyembahnya ketika mereka mengaku menyembahnya. Fa kafaa billaaHi syahiidam bainanaa wa bainakum (“Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu.”) Maksudnya, kami tidak merasa dan tidak mengetahui adanya peribadahan, akan tetapi kamu beribadah kepada kami, sedangkan kami tidak tahu menahu denganmu dan Allah adalah saksi antara kami dan kamu, kami tidak mengajakmu untuk beribadah kepada kami, kami tidak pula menyuruhmu dan kami pun tidak rela untuk itu.

Disinilah celaan yang besar bagi kaum musyrikin yang beribadah kepada Allah beserta ilah yang lainnya, berupa sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak ada manfaatnya sama sekali dan tidak memerintahkan mereka, tidak ridha dan tidak butuh untuk itu semua, bahkan mereka membebaskan dirinya di saat penyembah-penyembahnya membutuhkannya.

Mereka telah meninggalkan ibadah kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang berdiri sendiri, Yang Mahamendengar, Yang Mahamelihat, Yang Mahakuasa dan Yang Mahamengetahui segala sesuatu. Allah telah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Kitab-Nya seraya memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan beribadah kepada yang lain-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan): `Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah tbaghut itu.’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.” (An-Nahl: 36)

Orang-orang musyrik itu bermacam-macam dan banyak kelompoknya. Allah telah menyebutkannya dalam Kitab-Nya, telah menerangkan perilaku dan ucapan mereka dan Allah telah membantah pemahaman mereka dengan sebaik-baik bantahan.

Firman Allah Ta’ala: Hunaalika tabluu kullu nafsim maa aslafat (“Di tempat itu [padang mahsyar] tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakan dahulu.”) Maksudnya, di tempat hisab pada hari Kiamat, tiap-tiap diri dan dia mengetahui apa yang telah dikerjakan dahulu, dari kebaikan dan kejahatan, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Pada hari dinampakkan segala rahasia.” (QS. Ath-Thaariq: 9)

Firman Allah Ta’ala: wa rudduu ilallaaHi maulaa Humul haqqi (“Dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya.”) Maksudnya, semua urusan dikembalikan kepada Allah, Hakim Yang Adil, mengadili semua urusan dan memasukkan ahli surga ke surga dan ahli neraka ke neraka.

Wa dlalla ‘anHum (“Dan lenyaplah dari mereka.”) Maksudnya, hilang dari orang-orang musyrik itu. Maa kaanuu yaftaruun (“Apa yang mereka ada-adakan”) maksudnya apa yang dahulu mereka ibadahi selain Allah karena mengada-ada.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: