Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 37-40

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 37-40“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. (QS. 10:37) Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.’ (QS. 10:38) Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang dhalim itu. (QS. 10:39) Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 10:40)” (Yunus: 37-40)

Ini merupakan pejelasan untuk kemukjizatan al-Qur’an, bahwa sesungguhnya manusia tidak mampu mendatangkan ayat-ayat yang serupa dengannya, sepuluh surat, bahkan satu surat pun. Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: wa maa kaana Haadzal qur-aanu ay yuftaraa min duunillaaHi (“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah.”) Maksudnya, yang seperti al-Qur’an ini, tidak ada kecuali dari sisi Allah dan ini tidak menyerupai perkataan manusia.

Wa laakin tashdiiqal ladzii baina yadaiHi (“Akan tetapi [al-Qur’an itu] membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.”) Maksudnya, kitab-kitab terdahulu, batu ujian terhadap itu dan penjelasan terhadap apa yang telah terjadi pada kitab-kitab berupa tahrif (penyelewengan), ta’wil dan perubahan.

Firman-Nya: wa tafshiilal kitaabi laa raiba fiiHi mir rabbil ‘aalamiin (“Dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya [turunkan] dari Rabb semesta alam.”) Maksudnya, keterangan hukum-hukum, halal dan haram, (diterangkan) dengan keterangan yang memuaskan, mencukupi, nyata dan tidak ada keraguan di dalamnya, diturunkan dari Rabb semesta alam.

Firman-Nya: am yaquuluunaf taraaHu qul fa’tuu bisuuratim mitsliHii wad’uu manis tatha’tum min duunillaaHi in kuntum shaadiqiin (“Atau [patutkah] mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya,’ Katakanlah: ‘[kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”)

Maksudnya, kalian mendakwakan, mendustakan dan meragukan, bahwa sesungguhnya al-Qur’an ini dari sisi Allah dan kalian berkata dengan bohong dan dusta: “Bahwa al-Qur’an ini adalah karangan Muhammad,” maka Muhammad adalah manusia sepertimu dan dia telah membawa al-Qur’an yang kamu tuduhkan itu; maka buatlah olehmu satu surat yang menyerupainya! Maksudnya, jenis al-Qur’an ini dan mintalah pertolongan kepada siapa saja yang kamu mampu, baik dari manusia ataupun dari kalangan jin.

Ini adalah peringkat yang ke tiga dalam hal tantangan, sesungguhnya Allah Ta’ala menantang dan mengajak mereka, jika mereka benar dalam dakwaannya, bahwa al-Qur’an itu adalah buatan Muhammad, hendaklah mereka mendebatnya, dengan hal yang sebanding dengan apa yang dia bawa itu hendaklah mereka meminta bantuan kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan Allah memberi kabar, bahwa sesungguhnya mereka tidak akan mampu dan tidak akan menemukan jalan untuk itu.

Maka Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, `Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.’” (QS. Al-Israa’: 88)

Kemudian Allah meringankan untuk mereka hingga sepuluh surat dari al-Qur’an, maka Allah berfirman di awal surat Huud yang artinya:
“Bahkan mereka mengatakan: ‘Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu.’ Katakanlah: ‘[Kalau demikian], maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup [memanggilanya] selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Huud: 13)

Kemudian Allah menguranginya lagi hingga satu surat saja, maka Allah berfirman dalam surat ini: am yaquuluunaf taraaHu qul fa’tuu bisuuratim mitsliHii wad’uu manis tatha’tum min duunillaaHi in kuntum shaadiqiin (“Atau [patutkah] mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya,’ Katakanlah: ‘[kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”)

Begitu juga dalam surat al-Baqarah, -yang mana surat itu termasuk surat Madaniyyah-, yang
menantang mereka dengan satu surat darinya. Dan Allah memberi kabar bahwa sesungguhnya mereka tidak akan bisa melakukan itu selarna-lamanya, Allah berfirman, “Maka jika kamu tidakdapat membuat(nya) danpasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka,” (QS. Al-Bagarah: 24)

Inilah al-Qur’an, padahal kefashihan adalah ciri khas mereka, dan mu’allaqat (sya’ir-sya’ir pilihan yang digantungkan) mereka adalah contoh yang paling kongkrit dalam hal ini, akan tetapi mereka didatangkan sesuatu dari Allah yang belum pernah dikatakan oleh seorang pun, maka itu berimanlah orang yang beriman dari mereka, karena telah mengetahui balaghahnya, manisnya, kebesarannya, keindahannya, faedahnya dan bagusnya.

Mereka adalah orang yang paling tahu, paling faham, paling mudah untuk mengikuti dan paling tunduk dalam masalah ini. Sebagaimana tukang-tukang sihir dengan ilmu mereka dalam masalah sihir mengetahui, bahwa yang dilakukan Musa as. tidak akan keluar kecuali dari orang yang diberi kekuatan, ditunjuki dan diutus dari Allah dan bahwa sesungguhnya ini tidak dapat dilakukan oleh manusia kecuali dengan izin Allah. Begitu juga `Isa as. diutus pada zaman kejayaan ilmu kedokteran dan pengobatan terhadap orang-orang sakit, waktu itu beliau menyembuhkan orang buta, orang berpenyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Hal seperti ini tidak dapat dilakukan dengan pengobatan dan obat-obatan, maka sebagian mereka mengetahui bahwa sesungguhnya dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari itu telah ada riwayat dalam kitab ash-Shahih dari Rasulullah saw. sesungguhnya beliau bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun dari para Nabi melainkan telah diberi tanda-tanda, yang manusia telah mempercayainya. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu, yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap agar aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya.” (Muttafaq `alaiH)

Firman-Nya: bal kadzdzabuu bimaa lam yuhiithuu bi’ilmiHii wa lammaa ya’tiHim ta’wiiluHu (“Bahkan sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.”) Allah berfirman, bahkan mereka mendustakan al-Qur’an, tanpa memahami dan mengetahuinya.

Wa lamma ta’tiHim ta’wiiluHu (“Padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.”) Maksudnya; mereka belum mendapatkan petunjuk dan agama yang benar darinya, sampai mereka mendustakannya, secara bodoh dan tolol.

Kadzaalika kadzdzabal ladziina min qabliHim (“Demikianlah orang orang yang sebelum mereka telah mendustakan [Rasul].”) Maksudnya, umat-umat terdahulu. Fandhur kaifa kaana ‘aaqibatudh dhaalimiin (“Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang dhalim itu.”) Maksudnya, maka perhatikanlah bagaimana Kami membinasakan mereka karena kedustaan mereka terhadap para Rasul Kami secara dhalim, sombong, kafir, menentang dan bodoh. Maka berhati-hatilah wahai para pendusta, bahwa kalian akan ditimpa apa yang telah menimpa mereka.

Firman-Nya: wa min Hum may yu’minu biHi (“Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an…”) Maksudnya, di antara mereka yang kamu diutus kepada mereka, hai Muhammad, ada yang beriman dengan al-Qur’an ini, dia mengikutimu dan mengambil manfaat dengan apa yang kamu diutus dengannya.

Wa min Hum mal laa yu’minu biHi (“Dan di antaranya ada [pula] orang-orang yang tidak beriman kepadanya.”) Bahkan dia mati dalam keadaan seperti itu dan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu Pula.

Wa rabbuka a’lamu bil mufsidiin (“Dan Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.”) Maksudnya, Allah lebih mengetahui siapa yang berhak mendapat petunjuk, maka Allah memberinya petunjuk. Dan siapa yang berhak mendapatkan kesesatan, maka Allah menyesatkannya. Allahlah yang Mahaadil yang tidak berbuat dhalim, akan tetapi Allah memberi masing-masing sesuai haknya, Mahasuci Allah Ta’ala Yang Mahatinggi dan Mahabersih, tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: