Arsip | 22.45

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 35-37

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 35-37“35. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. 36. Sesungguhnya orang-orang yang kafir Sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. 37. mereka ingin keluar dari neraka, Padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal.” (al-Maa-idah: 35-37)

Allah berfirman untuk memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar bertakwa kepada-Nya. Lafadz ketakwaan apabila disertai dengan ketaatan kepada-Nya, yang dimaksud adalah tindakan menghindari segala hal yang haram, dan meninggalkan semua larangan. Setelah itu Allah berfirman: wabtaghuu ilaiHil wasiilata (“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.”) Sufyan ats-Tsauri mengatkan dari Thalhah, dari ‘Atha’, dari ibnu ‘Abbas: “Maksudnya ialah kedekatan.” Hal yang senada juga dikatakan Mujahid, Abu Wa-il, al-Hasan, Qatadah, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan beberapa ulama lainnya.

Adapun Qatadah berkata: “Artinya, hendaklah kalian mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan yang diridlai-Nya.”
Mengenai al-wasilah ini, Ibnu Zaid membaca ayat: ulaa-ikal ladiina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbiHimul wasiilata (“Orang-orang yang kamu seru itu, mereka sendiri mencari jalan [wasilah] kepada Rabb mereka.” (al-Isra’: 57) itulah yang dikemukakan oleh para imam yang di dalamnya tidak terdapat perbedaan pendapat di antara ahli tafsir.

Ibnu Jarir mengucapkan perkataan seorang penyair:
Bila lengah pengadu domba, kami kembali lagi berhubungan.
Maka kembalilah kejernihan antara kami dan juga seluruh jalannya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah/ Al-Bara’ah ayat 4

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

“Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. at-Taubah: 4)

Ini adalah pengecualian dari ketentuan masa penundaan selama empat bulan bagi mereka yang memiliki perjanjian yang tidak ditentukan waktunya. Diperbolehkannya berjalan di muka bumi, pergi menyelamatkan diri ke mana saja ia mau, kecuali orang yang memiliki perjanjian yang waktunya ditentukan, maka batasannya adalah waktu yang telah disepakati dalam perjanjian itu, di mana hadits-hadits yang menjelaskan tentang masalah ini telah disebutkan di atas. Barangsiapa yang memiliki perjanjian dengan Rasulullah saw, maka batasannya adalah waktu yang telah disepakati, dengan syarat orang tersebut tidak membatalkan isi perjanjian dan tidak membantu orang lain yang memusuhi kaum muslimin. Orang seperti inilah yang harus dilindungi dan ditepati janjinya hingga batas waktu yang telah disepakati. Dan oleh karena itulah Allah memberikan dorongan untuk menepatinya:

innallaaHa yuhibbul muttaqiin (“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”) Yakni, orang-orang yang menepati janjinya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah/ Al-Bara’ah ayat 3

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 3“Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, Maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (at-Taubah: 3)

Allah berfirman dan pemberitahuan; minallaaHi wa rasuuliHi (“Dari Allah dan Rasul-Ny”) dan peringatan kepada segenap manusia. Yaumal hajjil akbari (“pada hari haji akbar”) Yaitu, hari pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, yang merupakan hari pelaksanaan ibadah haji yang paling utama, paling menonjol dan paling agung.

annallaaHa barii-um minal musyrikiina wa rasuuluHu (“Bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.”) yakni, berlepas diri dari mereka juga. Kemudian menyeru mereka untuk bertaubat kepada Allah; fa in tubtum (“Jika kamu bertaubat.”) Yakni, dari perbuatan syirik dan kesesatan yang masih kamu lakukan. faHuwa khairul lakum wa in tawallaitum (“Maka yang demikian lebih baik bagi kamu dan jika kamu berpaling.”) Yakni, terus melakukan perbuatan tersebut. Fa’lamuu annakum ghairu mu’jizillaaHi (“Maka ketahuilah, bahwasanya kamu tidak mampu melemahkan Allah,”) akan tetapi Allahlah Dzat yang Mahamampu, kamu berada dalam genggaman, kekuasaan dan kehendak-Nya.

Wa basysyiril ladziina kaafaruu bi’adzaabin aliim (“Dan kabarkan kepada orang-orang kafir itu [bahwa mereka akan mendapat] adzab [siksa] yang pedih. “) Yakni, di dunia dengan kehinaan dan kesengsaraan dan di akhirat dengan rantai-rantai yang membelenggu.

Al-Bukhari rahimahullah berkata, `Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami, al-Laits bercerita kepada kami, ‘Uqail bercerita kepadaku, dari Ibnu Syihab, ia berkata, Humaid bin `Abdurrahman memberitahuku, bahwasanya Abu Hurairah berkata: “Aku diutus Abu Bakar pada haji tersebut orang-orang yang ditugasi menyampaikan berita pada hari penyembelihan kurban. Mereka menyampaikan berita di Mina, bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada seorang musyrik pun melakukan haji dan melakukan thawaf dengan telanjang.” Humaid berkata: “Kemudian Nabi menyambungnya dengan mengutus `Ali bin Abi Thalib dan menyuruhnya untuk menyampaikan berita pemutusan hubungan.”
Abu Hurairah berkata: “Lalu `Ali menyampaikan berita bersama kami kepada orang-orang di Mina pada hari penyembelihan kurban tentang pemutusan hubungan dan bahwa setelah tahun ini tidak musyrik pun yang boleh melakukan haji dan melakukan thawaf dengan telanjang.”

Al-Bukhari juga meriwayatkan, Abul Yaman bercerita kepada kami, Syu’aib memberitahu kami, dari az-Zuhri, Humaid bin `Abdurrahman memberitahuku, bahwa Abu Hurairah berkata: Abu Bakar mengutusku bersama orang-orang yang diutus untuk menyampaikan berita pada hari penyembelihan kurban di Mina, bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada seorang musyrik pun yang melakukan haji dan melakukan thawaf dengan telanjang. Haji Akbar adalah hari penyembelihan hewan kurban. Disebut Akbar untuk menjawab ucapan sebagian orang yang mengatakannya sebagai Haji Ashghar (paling kecil). Maka Abu Bakar bergabung bersama mereka pada tahun itu. Dan pada tahun pelaksanaan haji wada’ -yang mana pada saat itu Rasulullah saw. melakukan haji- tidak seorang musyrik pun yang ikut melakukan haji.” Inilah lafazh yang diterangkan oleh al-Bukhari dalam kitab al Jihad.

Imam Ahmad berkata dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah mengutusnya bersama Abu Bakar untuk menyampaikan berita pemutusan hubungan. Ketika sampai di Dzul Hulaifah, ia berkata, tidak ada yang menyampaikannya kecuali aku dan seorang laki-laki dari keluargaku. Maka ia diutus bersama `Ali bin Abi Thalib. Dan at-Tirmidzi meriwayatkannya juga dalam at-Tafsir, lalu berkata: “Hadits ini hasan gharib, dari hadits Anas ra.”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 101-103

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 101-103“Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan para Rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.’ (QS. 10:101) Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah: ‘Maka tunggulah, sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersamamu.’ (QS. 10:102) Kemudian Kami selamatkan para Rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman. (QS. 10:103)” (Yunus: 101-103)

Allah memberi pengarahan kepada hamba-hamba Nya untuk berfikir tentang nikmat-nikmat-Nya dan dalam apa yang Allah ciptakan di langit dan di bumi dari ayat-ayat yang agung untuk orang-orang yang mempunyai akal.
Yang di langit berupa bintang-bintang yang bersinar, yang tetap dan yang bergerak, matahari, bulan, malam dan siang, serta pergantian keduanya memasukkan yang satu ke dalam yang lain, hingga yang ini panjang dan yang ini pendek, kemudian memendekkan yang ini dan memanjangkan yang itu, meninggikan langit, membuatnya luas, indah, dan penuh hiasan.

Apa yang Allah turunkan darinya yang berupa hujan, maka ia menghidupkan bumi setelah matinya, mengeluarkan darinya pohon-pohon dan buah-buahan, tanaman-tanaman, bunga-bunga dan berbagai macam turnbuh-tumbuhan. Apa yang Allah ciptakan padanya dari binatang-binatang yang beragam bentuk, warna dan manfaatnya. Allah menciptakan di atasnya gunung-gunung, sungai-sungai, hutan, kota dan padang pasir. Allah menciptakan di lautan berupa keajaiban-keajaiban dan ombak-ombak, meskipun demikian ia tunduk dan jinak untuk orang-orang yang mengarunginya, membawa perahu mereka dan menjalankannya dengan lembut, dengan pengaturan-Nya, Dzat yang Mahakuasa, tiada Ilah selain Allah dan tiada Rabb selain-Nya.

Dan firman-Nya: wa maa tughnil aayaatu wan nudzuru ‘an qaumil laa yu’minuuna (“Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Para Rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”) Maksudnya, ayat mana lagi yang dibutuhkan oleh kaum yang tidak beriman selain ayat-ayat Allah yang ada di langit, di bumi, sedangkan Para Rasul juga lengkap dengan mukjizat-mukjizatnya, hujjah-hujjahnya, bukti-buktinya yang menunjukkan akan kebenarannya, sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman….” (QS. Yunus: 96), dan ayat seterusnya.

Qul fantadhiruu innii ma’akum minal muntadhiriina. Tsumma nunajjii rusulanaa wal ladziina aamanuu (“Maka tunggulah, sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersamamu.’”) Maksudnya, dan Kami binasakan orang-orang yang mendustakan Para Rasul; kadzaalika haqqan ‘alainaa nunjil mu’miniin (“Demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”) Benar, Allah mewajibkan atas diri-Nya yang mulia, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Rasulullah saw, yaitu beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menulis Kitab, maka Kitab itu berada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku telah mendahului murka-Ku.’”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 99-100

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 99-100“Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. (QS. 10:99) Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. 10:100)” (Yunus: 99-100)

Allah berfirman: walau syaa-a rabbuka (“Jikalau Rabbmu menghendaki,”) hai Muhammad! Niscaya Allah mengizinkan penduduk bumi semuanya untuk beriman kepada apa yang kamu bawa kepada mereka, lalu mereka beriman semuanya. Akan tetapi Allah mempunyai hikmah dalam apa yang dilakukan-Nya. Mahatinggi Allah.

Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: afa anta tukriHun naasa (“Maka apakah kamu [hendak] memaksa manusia.”) Maksudnya, kamu mewajibkan dan memaksa mereka. hattaa yakuunuu mu’miniin (“Supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”) Maksudnya, hal itu bukan tugasmu dan tidak dibebankan atasmu, akan tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. ” (QS. Faathir: 8)

Dan lain sebagainya dari ayat-ayat yang menunjukkan, bahwa sesungguhnya Allah-lah Dzat yang melakukan apa yang Dia kehendaki, Yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, karena pengetahuan-Nya, hikmah-Nya dan keadilan-Nya. Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: wa maa kaana linafsin an tu’mina illaa bi-idznillaaHi waj’alur rijsa ‘alal ladziina ya’qiluun (“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya,”) yaitu gila dan sesat, maksudnya terhadap hujjah-hujjah Allah dan dalil-dalil-Nya.

Allah adalah yang Mahaadil dalam segala sesuatu, dalam memberi petunjuk kepada siapa yang berhak ditunjuki dan menyesatkan siapa yang patut disesatkan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 98

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 98“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Allah berfirman, adakah suatu negeri dari umat-umat terdahulu, yang Kami mengutus para Rasul kepadanya, mereka beriman secara keseluruhan? Akan tetapi hai Muhammad, Kami tidak mengutus seorang Rasul, kecuali kaumnya atau sebagian dari mereka mendustakannya, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olok.” (QS. Yaasiin: 30)

Tujuan sesungguhnya adalah, bahwa tidak ada suatu negeri dari negeri-negeri yang dahulu, yang kaumnya beriman kepada Nabinya secara keseluruhan, kecuali kaumnya Yunus, mereka adalah penduduk Ninawa, keimanan mereka hanyalah karena takut datangnya siksa yang Rasul mereka telah ancamkan dengan siksa itu, setelah mereka melihat sebab-sebabnya. Kemudian Rasul itu meninggalkan mereka tanpa sepengetahuan mereka. Dan ketika mereka mendekatkan diri kepada Allah, berdo’a, tunduk, tenang, mereka membawa anak-anak, binatang-binatang, hewan-hewan peliharaan dan meminta kepada Allah Ta’ala, supaya Allah mengangkat siksa dari mereka, yang Rasul mereka ancamkan dengannya, seketika itu Allah memberi rahmat kepada mereka dan menghilangkan siksa dan mereka akhirkan, sebagaimana finman-Nya:

Illaa qauma yuunusa lammaa aamanuu kasyafnaa ‘anHum ‘adzaabal khizyi fil hayaatid-dun-yaa wa matta’naaHum ilaa hiin (“Selain kaum Yunus tatkala mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.”)

Ahli tafsir berbeda pendapat, apakah Allah mengangkat siksa akhirat dan siksa dunia dari mereka, atau hanya mengangkat siksa dunia? Ada pendapat:
Pertama, sesungguhnya itu hanyalah siksa dunia, sebagaimana hal terikat dalam ayat ini.
Kedua, adalah kedua-duanya, (yaitu Allah angkat dari mereka siksa dunia dan akhirat), karena firman Allah Ta’ala:
“Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih, lalu mereka beriman, kerena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. Ash-Shaaffaat: 147-148)

Iman yang Allah sebutkan di sini adalah mutlak. Dan iman itu menjadi penyelamat dari siksa akhirat, pendapat inilah yang kuat. Wallahu a’lam.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 94-97

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 94-97“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. 10:94) Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi. (QS. 10:95) Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman. (QS. 10:96) Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih. (QS. 10:97)” (Yunus: 94-97)

Qatadah bin Di’amah berkata, telah sampai kepada kami bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Aku tidak ragu dan aku tidak bertanya.”
Begitu juga Ibnu `Abbas, Sa’id bin Jubair dan al-Hasan al-Bashri berkata: “Di sini ada pengukuhan dan berita kepada umatnya, bahwa sesungguhnya sifat Nabi mereka (Muhammad saw) telah dalam kitab-kitab terdahulu yang ada di tangan Ahli Kitab.” Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (QS. Al-A’raaf: 157) dan ayat seterusnya.

Meskipun mereka mengetahui dari kitab-kitab mereka, sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, akan tetapi mereka campuradukkan semua itu, mereka rubah, mereka ganti, bahkan tidak beriman kepadanya.

Hujjah-hujjah atas mereka pun telah berdiri kokoh. Untuk itu Allah berfirman: innal ladziina haaqat ‘alaiHim kalimatu rabbika laa yu’minuuna. Walau jaa-atHum kullu aayatin hattaa yarawul ‘adzaabal aliim (“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih.”) Maksudnya, mereka tidak beriman dengan keimanan yang bermanfaat untuk mereka, bahkan ketika iman seseorang telah tidak bermanfaat lagi untuknya.

Untuk itu, ketika Musa as. berdakwah kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dia berkata:
“Ya Rabb binasakanlah harta benda mereka dan kuncimatilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksa yang pedih.” (QS. Yunus: 88)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman:

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 93

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 93“Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan, (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS. Yunus: 93)

Allah memberi kabar tentang apa yang Allah anugerahkan kepada Bani Israil, yang berupa kenikmatan agama di dunia. Dan firman-Nya: mubawwa-a shidqin (“Di tempat kediaman yang bagus.”) Sebagian pendapat mengatakan: yaitu negeri Mesir dan Syam, dari negeri-negeri yang dekat dengan Baitul Maqdis dan sekitarnya, karena sesungguhnya Allah Ta’ala ketika membinasakan Fir’aun dan pasukannya, kekuasaan negeri Musa telah kokoh di Mesir dengan keseluruhannya.”

Allah berfirman dalam ayat ini, akan tetapi mereka masih bergerak bersama Musa untuk mencari negeri Baitul Maqdis, yaitu negeri al-Khalil (Ibrahim as), Musa terus bergerak bersama mereka untuk mencari Baitul Maqdis dan pada waktu itu, di sana terdapat kaum dari bangsa yang berbadan besar, kemudian Bani Israil berpaling dari memerangi mereka, maka Allah Ta’ala mengusir mereka dalam kesesatan selama empat puluh tahun.

Dan firman-Nya: wa razaqnaaHum minath-thaayibaat (“Dan Kami beri mereka dari yang baik-baik.”) Maksudnya, yang halal dari rizki yang baik yang bermanfaat, yang baik secara alami dan syar’i. Dan firman-Nya: fa makhtalafuu hattaa jaa-a Humul ‘ilmu (“Maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan [yang tersebut dalam Taurat].”) Maksudnya, mereka tidak berselisih dalam suatu masalah kecuali setelah mereka mendapatkan ilmu, maksudnya, tidak ada perselisihan di antara mereka, karena Allah telah menjelaskan dan menghilangkan kesamaran.

Dan telah ada pula hadits yang meriwayatkan, bahwa sesungguhnya orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, orang-orang Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan di antaranya masuk surga dan tujuh puluh dua masuk neraka. Dikatakan: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab: “Yaitu orang yang mengikutiku dan para sahabatku.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya dengan lafazh ini dan hadits ini juga terdapat dalam kitab-kitab Sunan dan Musnad. (Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 203-204, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.)

Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: inna rabbaka yaqdlii bainaHum (“Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka. “Maksudnya, memisahkan di antara mereka; yaumal qiyaamati fiimaa kaanuu fiiHi yakhtalifuun (“Di hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 90-92

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 90-92“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: ‘Aku percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang diimani oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ (QS. 10:90) Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 10:9 1) Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. 10:92)” (Yunus: 90-92)

Allah menyebutkan cara-Nya dalam menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya, karena sesungguhnya Bani Israil ketika meninggalkan Mesir menemani Nabi Musa as. dikabarkan berjumlah enam ratus ribu pejuang selain kelompok pemuda-pemuda, mereka telah meminjam perhiasan yang sangat banyak dari kaum Qibthi. Kemudian mereka keluar dengan membawa perhiasan itu. Karena kemarahan Fir’aun terhadap mereka semakin keras, maka ia (Fir’aun) mengirimkan pasukan-pasukan perekrut ke seluruh negeri untuk mengumpulkan pasukan-pasukannya dari berbagai daerah, kemudian dia tambah lagi dengan pasukan-pasukan dan serdadu-serdadu yang jumlahnya sangat banyak. Kerena Allah Ta’ala ingin (membinasakan) mereka, maka tidak seorang pun dari mereka yang tinggal, termasuk orang yang mempunyai pemerintahan dan kekuasaan atas daerah-daerah sekitarnya, lalu mereka menyusul Musa dan pasukannya pada waktu matahari terbit.

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’” (QS. Asy-Syu’araa’: 61). Yaitu, ketika mereka telah sampai di pinggir laut dan Fir’aun di belakang mereka dan tidak ada waktu lagi untuk kedua pasukan itu kecuali bertempur. Pengikut-pengikut Nabi Musa as. terus-menerus melontarkan pertanyaan: “Bagaimana kami bisa lolos dari kepungan ini?” Maka Musa berkata: “Aku diperintah untuk melewati jalan ini.”
“Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy-Syu’araa’: 62)

Tatkala urusan telah sempit, maka urusan itu menjadi luas (dengan pertolongan Allah), lalu Allah menyuruhnya agar dia memukul lautan dengan tongkatnya, maka dia segera memukulnya, maka terbelahlah lautan dan belahan seperti gunung yang besar dan terbentuklah dua belas jalan setiap suku (satu jalan).. Lalu Allah menyuruh angin untuk mengeringkan tanahnya;
“Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tak usah takut (akan tenggelam).” (QS. Thaahaa: 77)

Dan air pun terbelah-belah di antara jalan-jalan itu, persis seperti jendela-jendela, agar tiap-tiap kaum dapat melihat kaum yang lainnya, supaya mereka tidak mengira bahwa mereka binasa. Bani Israil telah melewati lautan ketika rombongan terakhir mereka telah keluar dari laut, Fir’aun dan pasukannya telah sampai di tepi laut, di seberang yang lain. Dia bersama seratus pasukan, belum lagi pasukan yang belum tampak, ketika dia melihat kejadian itu, ia merasa takut, ingin mundur, gemetar dan memutuskan untuk kembali. Akan tetapi, usahanya itu sia-sia dan tidak ada tempat yang aman baginya, takdir telah ditentukan dan do’a telah dikabulkan. Jibril telah datang dengan menunggang kuda, kemudian dia lewat di samping kuda Fir’aun dan meringkik kepada kuda itu. Jibril memasuki lautan, maka kuda di belakangnya ikut masuk juga, akhirnya Fir’aun bingung dan tidak dapat mengusai dirinya sendiri, kemudian berusaha menyebarkan menteri-menterinya, lalu dia berkata kepada mereka: “Kita lebih berhak dengan lautan ini daripada Bani Israil,”

Maka mereka semua memasuki lautan hingga pasukan terakhir, sedangkan Mikail menggiring mereka hingga tidak tersisa satu pun dari mereka. Ketika mereka telah masuk ke dalam laut semuanya dan yang pertama telah menginginkan untuk keluar dari laut itu, Allah yang Mahakuasa menyuruh lautan untuk mengacaukan mereka, maka tidak satu pun dari mereka selamat dan ombak memutarbalikkan mereka dan ia bertubi-tubi menghatam Fir’aun.

Akhirnya dia menemui sakaratulmaut, di saat itu dia berkata: aamantu annaHu laa ilaaHa illal ladzii aamanat biHii banuu israa-iila wa ana minal muslimiin (“Akupercaya bahwa tidak ada Ilah melainkan Rabb yang diimani oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri [kepada Allah]”) maka dia beriman disaat iman itu sudah tidak bermanfaat lagi.

“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada ilah-ilah yang telah kami sekutukan dengan Allah.’ Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Mu’min: 84-85)

Maka dari itu Allah berfirman untuk menjawab Fir’aun ketika dia mengucapkan ucapannya dengan firman-Nya: aal aana wa qad ‘ashaita qablu (“Apakah sekarang [baru kamu percaya], padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu.”) Maksudnya, apakah saat ini kamu baru berkata, sedangkan kamu telah bermaksiat kepada Allah sebelum ini, dalam sesuatu yang (ada) di antara kamu dan Allah. Wa kunta minal mufsidiin (“Dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”) Maksudnya, di dunia yang mereka itu menyesatkan manusia.

Inilah yang Allah Ta’ala ceritakan tentang Fir’aun, tentang ucapannya dan tingkah lakunya, itulah sebagian rahasia-rahasia ghaib-Nya yang diberitakan kepada Rasul-Nya (Muhammad saw)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, berkata dari Ibnu `Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika Fir’aun berkata: ‘Aku beriman kepada Rabb yang tidak ada IlaH kecuali IlaH yang diimani oleh Bani Israil.’” Beliau bersabda: “Jibril berkata kepadaku; ‘Seandainya kamu melihatku, aku waktu itu mengambil lumpur laut yang hitam, kemudian aku sumbatkan ke mulut Fir’aun, karena dikhawatirkan dia akan mendapat rahmat.’” Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsir mereka. Dan at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan”.

Firman-Nya: fal yauma nunajjiika bibadanika litakuuna liman khalfaka aayatan (“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang.”)

Ibnu `Abbas dan lain-lain dari ulama salaf berkata: “Sesungguhnya sebagian Bani Israil meragukan kematian Fir’aun, maka Allah Ta’ala menyuruh lautan untuk melemparkan sekujur tubuhnya tanpa ruh ke daratan tinggi dan dia sedang mengenakan baju besinya yang terkenal, agar mereka yakin atas kematiannya.

Maka dari itulah Allah berfirman: fal yauma nunajjiika (“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu.”) Maksudnya, Kami angkat kamu ke atas gundukan tanah.
Bibadanika (“Badanmu.”) Mujahid berkata: “Dengan jasadmu.” Al-Hasan berkata: “Dengan badanmu tanpa ruh.” Dan Abdullah bin Syaddad berkata: “Masih dalam keadaan utuh dan tidak robek, agar mereka yakin dan mengetahui.”

Dan firman-Nya: litakuuna liman khalfaka aayatan (“Supaya kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu.”) Maksudnya, agar menjadi bukti kematianmu untuk Bani Israil dan bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa yang ubun-ubun setiap binatang melata berada di tangan-Nya dan bahwa sesungguhnya tidak ada yang bisa melawan jika Allah sedang murka.

Wa inna katsiiram minan naasi ‘an aayaatinaa laghaafiluun (“Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”) Maksudnya, mereka tidak mengambil nasihat dan pelajaran dengannya.

Hari kematian mereka adalah hari “Asyura” (10 Muharram), sebagaimana al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. datang ke Madinah, sedangkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa hari “Asyura”, lalu mereka berkata: “Hari apa ini, yang menyebabkan kalian berpuasa?” Maka mereka menjawab: “Ini adalah hari di mana Musa meraih kemenangan Fir’aun.” Kemudian Nabi bersabda kepada sahabat-sahabatnya: “Kamu
lebih berhak dengan Musa daripada mereka, maka berpuasalah kamu semua.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 88-89

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 88-89“Musa berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka kunci-matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.’ (QS. 10:88) Allah berfirman: ‘Sesungguhnya telah diperkenankan permohonanmu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan yang tidak mengetahui.’ (QS. 10:89)” (Yunus: 88-89)

Ini adalah kabar dari Allah tentang apa yang didakwahkan Musa untuk mengajak Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya dan ketika mereka enggan untuk menerima kebenaran dan mereka tetap pada kesesatan dan kekafirannya, dengan memusuhi dan mengingkari secara dhalim, sombong, congkak dan melampaui batas, Musa berkata: rabbanaa innaka aataita fir’auna wa mala-aHu ziinatan (“Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telab memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan.”) Maksudnya, perabotan dunia dan perhiasannya.

Wa amwaalan (“Dan harta kekayaan,”) maksudnya dengan sangat melimpah banyak. Fii (“Dalam,”) al hayaatid dun-yaa rabbanaa liyu-dlilluu ‘an sabiilika (“Kehidupan dunia, ya Rabb
kami, akibatnya mereka menyesatkan [manusia] dari jalan Engkau.”) Dengan “ya” berfathah, maksudnya Engkau memberi mereka itu semua, sedangkan Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya mereka tidak beriman dengan apa yang Engkau utus aku dengannya, sebagai penguluran/perdaya Engkau terhadap mereka.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya: linaftinaHum fiiHi (“Untuk Kami uji mereka dengannya.”) (QS. Thaahaa: 131)

Dan ulama-ulama lain membaca “liyu-dlilluu” dengan “ya” berdhammah, maksudnya agar orang yang Engkau kehendaki di antara makhluk-Mu, membuat fitnah dengan apa yang Engkau berikan kepada mereka, supaya orang yang Engkau perdaya mengira bahwa Engkau memberi mereka semua ini karena kecintaan dan perhatian Engkau kepada mereka, “Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka.”

Ibnu `Abbas dan Mujahid berkata: “Maksudnya hancurkanlah.” Adh-Dhahhak, Abul `Aliyah dan ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Allah menjadikannya batu yang berukir seperti bentuk semula.”

Dan firman-Nya: wasy-dud ‘alaa quluubiHim (“Dan kunci matilah hati mereka”) Ibnu `Abbas berkata: “Maksudnya tutuplah hati mereka itu.”

Falaa yu’minuu hattaa yarawul ‘adzaabal aliim (“Maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksa yang pedih.”) Do’a ini adalah dari Musa as. yang marah karena Allah dan karena agama-Nya, terhadap Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya yang menurutnya sudah jelas-jelas tidak ada kebaikan sama sekali dari mereka, sebagaimana Nuh berdo’a, maka dia berkata: “Ya Rabbku janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26)

Maka dari itu Allah Ta’ala mengabulkan do’a Musa as. terhadap mereka ini yang di aminkan oleh saudaranya, Harun. Maka Allah Ta’ala berfirman: qad ujiibat da’watukumaa (“Sesungguhnya telah diperkenankan permohonanmu berdua.”)

Abul `Aliyah, Abu Shalih, `Ikrimah, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Musa berdo’a dan Harun mengaminkan, maksudnya sungguh Kami telah mengabulkan apa yang kamu berdua minta, yaitu agar menghancurkan Fir’aun dan pengikutnya. Dengan ayat ini, ada orang berhujjah bahwa aminnya makmum atas bacaan al-Fatihah, dihitung sama dengan membacanya, orang itu berdalil dengan ayat ini, karena sesungguhnya Musalah yang berdo’a dan Harun yang mengaminkan.

Dan Dia berfirman: qad ujiibat da’watukumaa fastaqimaa (“Sesungguhnya telah diperkenankan permohonanmu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus..”) dan ayat seterusnya. Maksudnya, sebagaimana do’amu berdua dikabulkan, maka istiqamahlah kamu berdua atas perintah-Ku.

Ibnu Juraij berkata dari Ibnu `Abbas: “Maka istiqamahlah kamu berdua, maka laksanakanlah perintah-Ku, itulah istiqamah.”

Bersambung