Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 62-64

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 62-63“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 10:62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. 10:63) Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. 10:64)” (Yunus: 62-64)

Allah memberi kabar, bahwa wali-wali-Nya adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah menjelaskan keadaan mereka kepada diri mereka, maka barangsiapa yang bertakwa, jadilah dia wali Allah, maka: laa khaufun ‘alaiHim (“Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka.”) Maksudnya, dalam menghadapi ketakutan dan kengerian di akhirat.
Wa laa Hum yahzanuun (“Dan tidak [pula] mereka bersedih hati.”) Yaitu, atas sesuatu yang di belakang mereka di dunia.

`Abdullah bin Mas’ud, `Abdullah bin `Abbas dan sebagian ulama salaf berkata: “Wali Allah adalah orang-orang yang selalu mengingat Allah.”

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Malik al-Asy’ari, ia berkata, Rasulullah bersabda:
“Akan datang suatu kaum dari (antara) manusia-manusia dan suku-suku, di antara kaum itu belum pernah tersambung tali persaudaraan, mereka saling mencintai karena Allah dan berjuang (bersama-sama) karena Allah. Pada hari Kiamat, Allah menyediakan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya, kemudian Allah menyuruh mereka duduk di atasnya, pada saat orang-orang dalam keadaan ketakutan, mereka tidak dalam ketakutan, mereka adalah wali-wali Allah yang tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak pula bersedih.” (Hadits ini adalah potongan dari hadits yang panjang)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu ad-Darda’ dari Nabi saw. mengenai firman-Nya: laHumul busyraa fil hayaatid dun-yaa wa fil aakhirati (“Bagi mereka kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan [kehidupan] di akhirat,”) beliau bersabda: “Mimpi yang baik adalah, yang orang mukmin bermimpi dengannya, atau diperlihatkan untuknya.”

Imam Ahmad berkata dari Abu Dzar, sesungguhnya di berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah tentang seseorang yang mengerjakan suatu amal lalu orang-orang memuji dan menyanjungnya?” Maka Rasulullah bersabda: “Itulah kegembiraan seorang mukmin yang disegerakan.” (HR. Muslim)

Pendapat lain mengatakan, yang dimaksud dengan berita gembira adalah berita gembira dari Malaikat untuk orang mukmin, ketika dia dihadirkan ke surga dan diberi ampunan. Sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dam janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh di dalamnya yang kamu minta, sebagai hidangan (bagimu) dari Allah yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Fushshilat: 30-32)

Adapun kegembiraan mereka di akhirat adalah, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari Kiamat) dan mereka disambut oleh para Malaikat. (Malaikat berkata): ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Al-Anbiyaa’: 103)

Dan Allah Ta’ala pun berfirman:
“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.’” (QS. Al-Hadiid: 12)

Firman-Nya: laa tabdiila likalimaatillaaHi (“Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji janji) Allah.”) Maksudnya, janji ini tidak akan diganti, tidak diingkari dan tidak diubah, bahkan telah diputuskan, ditetapkan dan pasti terjadi.

Dzaalika Huwal fauzul ‘adhiim (“Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”)

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: